#30 tag 24jam
Legislator Jabar minta masyarakat waspada tawaran investasi bodong
Ketua Komisi III DPRD Jawa Barat Jajang Rohana meminta masyarakat untuk waspada sebelum memutuskan berinvestasi, terutama di tengah maraknya kasus investasi ... [241] url asal
#jajang-rohana #bandung #dprd-jabar #dprd #jabar #komisi-iii-drpd-jabar
Masyarakat harus teliti dan jangan langsung percaya. Pastikan legalitasnya terlebih dahulu
Bandung (ANTARA) - Ketua Komisi III DPRD Jawa Barat Jajang Rohana meminta masyarakat untuk waspada sebelum memutuskan berinvestasi, terutama di tengah maraknya kasus investasi bodong yang kembali mencuat.
Jajang mengatakan masyarakat perlu melakukan pengecekan kepada instansi berwenang sebelum menanamkan dana, serta tidak mudah tergiur iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat.
“Saat ini banyak penawaran investasi dengan janji keuntungan tinggi. Masyarakat harus teliti dan jangan langsung percaya. Pastikan legalitasnya terlebih dahulu,” ujar Jajang di Bandung, Kamis.
Jajang menegaskan salah satu langkah penting yang dapat dilakukan masyarakat adalah memastikan perusahaan atau lembaga investasi telah terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Silakan cek langsung ke OJK atau melalui kanal resmi yang tersedia. Jangan sampai karena tergiur imbal hasil besar, justru merugikan diri sendiri dan keluarga,” katanya.
Ia menambahkan kehati-hatian menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan finansial, sehingga masyarakat perlu meningkatkan literasi keuangan agar memahami risiko serta mekanisme investasi yang benar.
“Luangkan waktu untuk memeriksa secara rinci sebelum mengambil keputusan. Prinsipnya sederhana, lebih baik waspada sejak awal daripada menyesal kemudian,” kata Jajang.
Menurut dia, investasi yang sehat umumnya menawarkan keuntungan wajar dengan skema transparan. Jika terdapat penawaran yang tidak masuk akal atau terkesan tertutup, masyarakat disarankan berkonsultasi dengan pihak berwenang.
“Lebih baik meluangkan waktu untuk memeriksa legalitas dan skemanya secara rinci daripada menyesal di kemudian hari. Prinsipnya, waspada dan jangan terburu-buru,” ucapnya.
Pewarta: Rubby Jovan Primananda
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Ada Fenomena Rojali dan Rohana, Pengelola Mal Pede Transaksi Naik 15 Persen di Ramadan
Pengelola mal pptimistis transaksi meningkat pada Ramadan dan Idulfitri 2026. Meskipun, sebelumnya terdapat fenomena Rojali dan Rohana. [325] url asal
#rohana #rojali #belanja #kunjungan-ke-mal #pengelola-mal #mal #ramadan #idulfitri #appbi
(IDX-Channel - Economics) 15/02/26 13:11
v/137410/
IDXChannel - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) tetap optimistis transaksi meningkat pada momentum Ramadan dan Idulfitri 2026. Meskipun, sebelumnya terdapat fenomena Rombongan Jarang Beli (Rojali) dan Rombongan Hanya Nanya (Rohana) di masyarakat.
Ketua Bidang Program Promosi DPP APPBI, Agung Gunawan, menjelaskan fenomena Rojali dan Rohana sejatinya sudah lama ada dan sebelumnya dikenal dengan istilah window shopping.
Dia mengatakan bahwa tidak semua pengunjung mal datang dengan tujuan berbelanja, ada yang memanfaatkan pusat perbelanjaan sebagai tempat bertemu atau sekadar makan dan minum.
"Sebetulnya kalau kita melihat kata Rojali, Rohana, itu dari dulu juga sudah ada. Jadi buat kami fenomena Rojali, Rohana itu tidak terlalu signifikan karena pembelanjaan di mal itu masih tetap ada," ujar Agung saat dijumpai di Kota Kasablanka pada Jumat (13/2/2026).
APPBI justru optimistis menyambut momentum Ramadan dan Lebaran 2026. Asosiasi menargetkan peningkatan transaksi di pusat perbelanjaan sebesar 10-15 persen dibandingkan bulan biasa.
Agung menjelaskan, selama Ramadan pola konsumsi masyarakat cenderung meningkat, terutama di sektor makanan dan minuman.
Dia mengatakan, jika pada bulan biasa masyarakat umumnya melakukan satu kali makan siang dan satu kali makan malam di luar rumah, selama Ramadan aktivitas berbuka puasa bersama mendorong frekuensi kunjungan dan transaksi.
"Karena pertimbangannya kalau bulan biasa itu kan kita cuma 1 kali lunch, 1 kali dinner. Kalau bulan Ramadan, 1 kali lunch, 2 kali dinner. Karena biasanya yang buka puasa bersama itu banyak banget,” ujar Agung.
“Jadi otomatis kenaikan transaksi itu terdorong. Plus ada program seperti Midnight Sale dan THR. Jadi 10-15 persen itu pasti, more or less seluruh mal di Indonesia pasti tercapai," tambahnya.
Dari sisi trafik pengunjung, APPBI memperkirakan kenaikan hingga 20 persen selama bulan puasa. Peningkatan tersebut dinilai wajar mengingat pusat perbelanjaan menjadi salah satu lokasi favorit masyarakat untuk berbuka puasa bersama maupun bersantai menjelang waktu berbuka.
"Trafik itu biasanya bulan puasa naik 20 persen seperti itu. Karena mungkin banyak orang-orang yang kayak buka puasa bersama, seperti itu kan sudah hal yang lazimlah," tutur Agung.
(Febrina Ratna Iskana)
Peritel Sebut Rojali-Rohana Tak Signifikan Tekan Belanja di Mal
Fenomena Rojali-Rohana tidak signifikan menekan belanja di mal, menurut APPBI. Meski banyak yang hanya melihat-lihat, belanja tetap stabil, didukung promosi seperti midnight sale. [464] url asal
#rojali-rohana #belanja-di-mal #pusat-perbelanjaan #asosiasi-pengelola #window-shopping #program-promosi #midnight-sale #lebaran-2026 #perubahan-perilaku-konsumen #transaksi-ritel #daya-tarik-belanja
(Bisnis.Com - Ekonomi) 14/02/26 12:25
v/136812/
Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menilai fenomena Rojali (rombongan jarang beli) dan Rohana (rombongan hanya bertanya) tidak memberikan dampak signifikan terhadap kinerja pembelanjaan di pusat perbelanjaan.
Ketua Bidang Program Promosi Dewan Pimpinan Pusat APPBI sekaligus General Manager Mall Kota Kasablanka Agung Gunawan mengatakan fenomena Rojali–Rohana sejatinya bukan hal baru di industri ritel.
“Sebetulnya kalau kita melihat kata Rojali-Rohana itu dari dulu juga sudah ada. Cuma dulu namanya lebih keren,window shopping. Jadi sebenarnya fenomena itu udah lama ada di mal, cuma baru keangkat sekarang saja,” kata Agung dalam konferensi pers BINA (Belanja di Indonesia Aja) Lebaran 2026 di Mall Kota Kasablanka, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Menurut Agung, tidak semua pengunjung yang datang ke mal memiliki tujuan utama untuk berbelanja. Sebagian pengunjung memanfaatkan pusat perbelanjaan sebagai ruang bertemu, tempat menikmati kopi, atau sekadar makan dan minum, sehingga keberadaan pengunjung yang tidak bertransaksi merupakan bagian dari dinamika mal.
Untuk itu, dia menegaskan fenomena Rojali dan Rohana tidak secara signifikan menekan transaksi ritel di pusat perbelanjaan.
“Jadi buat kami fenomena Rojali-Rohana itu tidak terlalu signifikan karena pembelanjaan di mal itu masih tetap ada lah,” terangnya.
Untuk menjaga daya tarik belanja, khususnya menjelang Lebaran, Agung menyebut pusat-pusat perbelanjaan yang tergabung dalam APPBI telah menyiapkan berbagai program promosi. Salah satu strategi yang kembali diandalkan adalah programmidnight sale.
Dalam hal ini,midnight saledigelar sekitar dua minggu sebelum Lebaran, bertepatan dengan periode gajian atau pencairan tunjangan hari raya (THR). Program tersebut biasanya berlangsung selama dua hingga tiga hari dan diharapkan mampu mendorong konsumen berbelanja di mal.
“Itu salah satu peluru yang kita gunakan untuk para konsumen berbelanja dan menggerakkan perekonomian di Indonesia,” jelasnya.
Sebelumnya, Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menilai fenomena Rojali mencerminkan perubahan perilaku konsumen dalam berbelanja. Adapun, fenomena ini masih akan tetap mewarnai pergerakan konsumen di pusat perbelanjaan menjelang dan selama momentum Ramadan 2026.
Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah mengatakan saat ini, pengunjung tidak lagi langsung melakukan transaksi, melainkan terlebih dahulu melihat-lihat produk, membandingkan harga, mengambil foto, serta mengecek harga baik secara daring maupun di pusat perbelanjaan lain.
“Fenomena Rojali memang saat ini orang beda ya cara belinya, dia nggak langsung beli, tetapi lihat-lihat dulu cek harga, foto-foto produk, cek di online, cek di mal-mal sebelah, sehingga memang itu [fenomena Rojali] wajar namun yang pasti mereka akan ke mal tuh pasti akan melakukan lifestyle,” ujar Budihardjo kepadaBisnis, Selasa (3/2/2025).
Meski tidak langsung berbelanja, Budihardjo mengatakan kehadiran pengunjung tetap memberikan kontribusi ekonomi, khususnya makanan dan minuman (food and beverage/F&B).
Adapun, Budihardjo optimistis fenomena Rojali tidak menggerus optimisme pelaku ritel terhadap kinerja Ramadan tahun ini. Hippindo memproyeksikan kinerja ritel nasional tumbuh hingga 20% selama periode Ramadan hingga Lebaran 2026 dibandingkan tahun lalu, yang didorong oleh peningkatan penjualan di sektor F&B.
Menyambut “Rojali”, Memahami Era E-commerce Berbasis Kepercayaan
Jangan berfikir, fenomena 'Rojali' hanyalah efek ketidakmampuan ekonomi kelas menengah. Bisa jadi, ini adalah transisi menuju era the next commerce. [2,116] url asal
#e-commerce #belanja-online #rojali #rohana #showrooming
(Kompas.com - Money) 08/01/26 12:00
v/97042/
“Saya terlalu miskin untuk membeli barang yang salah. Karena itu, saya tidak takut harga agak tinggi. Saya hanya takut jika tertipu.”
KUTIPAN di atas adalah refleksi Alex (35), karyawan swasta tinggal di Jakarta, menggambarkan kebiasaan belanjanya di salah satu e-commerce langgananya.
Selama bertahun-tahun, ketakutan narasi ekonomi kita sederhana: in this economy, ketika inflasi naik, gaji tetap, biaya hidup mahal, investasi saham dan kripto nyangkut, daya beli turun, serta ekonomi makin ketat dengan berbagai efisiensinya: orang akan berhenti belanja.
Kita membayangkan pusat perbelanjaan sepi dan keranjang belanja di e-commerce hanya sebatas diklik tanpa checkout, ditinggalkan begitu saja. Namun, sebuah fenomena yang tergolong anomali justru sedang terjadi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company, pertumbuhan e-commerce di Indonesia justru tembus dua digit, atau 14 persen pada tahun 2025.
Angka ini menunjukkan percepatan signifikan dibandingkan pertumbuhan nilai transaksi 2024 yang tercatat sebesar 4,95 persen. Sekaligus mempertahankan posisinya sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Orang tetap belanja, hanya mereka makin selektif.
Nilai transaksi (GMV) untuk e-commerce Indonesia diperkirakan mencapai 71 miliar dollar AS pada tahun 2025. Secara keseluruhan, ekonomi digital Indonesia mendekati 100 miliar dollar AS.
Faktor pendorong fenomena ini adalah lonjakan video commerce yang mencatat kenaikan volume transaksi 90 persen secara tahunan (YoY) hingga mencapai 2,6 miliar transaksi. Jumlah penjual dan toko daring di platform digital juga meningkat pesat sebesar 75 persen YoY.
Tren yang sama dijelaskan dengan gamblang dalam riset Lazada dengan Cube Asia Study 2025. Laporan ini menggambarkan transisi besar e-commerce Asia Tenggara menuju era yang mereka namakan confidence commerce. Cirinya, faktor kepercayaan dan otentisitas menjadi penggerak utama keputusan belanja konsumen.
Dibuat dengan AI | KOMPAS.com/AMR Infografik Indonesia Raksasa Ekonomi Digital Asia TenggaraPergeseran ke value
Hingga satu dekade belakangan ini, kita menganggap e-commerce adalah pasar gelap digital terbaik untuk mencari barang black market. Tempat hunting barang KW atau tiruan dengan kualitas sebelas duabelas dengan barang aslinya.
Mencari barang paling miring harganya ya di e-commerce. Tempat adu murah yang dengan mudah sudah disortirkan algoritma, dan menciptakan predatory pricing bagi sesama sellers.
Sekali lagi, anggapan itu kini salah jika berdasarkan data riset tersebut. Pandangan Alex pada pembuka artikel ini mewakili potret profil kelas menengah Indonesia kini: gaji cukup, tapi berbagai cicilan bisa jadi pressure baginya untuk lebih smart dalam pengeluaran.
Teman-teman kantornya sedang sibuk berhemat dengan cara misalnya makan siang bawa bekal, langganan streaming diputus, dan beralih ke kopi kekinian yang lebih affordable.
Namun, di layar ponsel Alex, terjadi anomali. Saat notifikasi "Flash Sale" dari flagship store salah satu brand sepatu ternama di e-commerce favorit dia muncul, insting Alex bergerak cepat: wah, diskon sampai 60 persen.
Alex tahu ada outlet favorit yang menjadi official store dari brand idaman yang sudah dikurasi oleh e-commerce dengan label “Mall”. Tanpa ragu, jempolnya bergerak cepat. Bukan satu, bukan dua. Alex melakukan checkout empat pasang sepatu sekaligus.
Total transaksi Rp 1.200.000 untuk sepasang sepatu jika harga normal, atau Rp 4.400.000 untuk empat pasang. Namun, karena harga borongan plus diskon fantastis, dia hanya membayar Rp 2.400.000 untuk empat pasang.
“Saya beli empat, yang dua buat saya, yang dua lagi buat istri saya. Kami sama-sama suka sepatu,” kata Alex. Teman di sebelahnya melirik sinis, "Lex, gila lu? Kita lagi krisis, lu malah borong sepatu. Buat apa empat pasang? Lu mau jadi kelabang?"
Di permukaan, Alex terlihat seperti korban konsumerisme yang tidak peka krisis. Data menunjukkan, orang Indonesia sedang mengurangi belanja barang sekunder seperti fesyen. Tapi Alex justru melawan arus.
Alex tersenyum tenang. Dia bukan sedang "belanja". Dalam teori ekonomi, dia sedang melakukan hedging (lindung nilai) aset. Inilah pembelaan Alex ketika dituduh boros dan konsumtif.
"Waduh bukan begitu. Justru karena gue gak punya banyak duit, gue gak mampu beli barang KW murah yang berisiko rusak lebih cepat," kata Alex.
Bagi Alex, barang original berkualitas memiliki daya tahan lama dan merupakan investasi ke depan untuk tidak sering-sering beli sepatu karena barangnya cepat rusak. Alex tahu, e-commerce telah mengurasi outlet resmi dengan label “mal” yang menggaransi keaslian produk, sepatu dari brand yang ia inginkan 100 persen autentik.
Tidak ada risiko barang palsu. Ini penting. Bagi Alex, sepatu palsu adalah liabilitas (beban), sedangkan sepatu asli adalah aset utilitas.
“Untuk outlet di e-commerce dengan label ‘mall’, saya sudah percaya 98 persen,” kata Alex. Dua persennya sisanya ia sisihkan untuk kasus-kasus di luar kontrol toko, misal pengiriman oleh kurir suka ada masalah, seperti pengiriman lama atau rusak.
“Saya juga pernah beli ponsel terus dibawa kabur kurirnya, tapi uang kembali karena jaminan dari toko resmi tersebut,” kata Alex yang dari segi usia masuk generasi milenial.
Pengguna toko lainnya, Sabrina (20), Gen Z yang baru memasuki dunia kerja, mengiyakan strategi yang sama terkait kepercayaannya pada e-commerce saat ini. Baginya, tidak harus belanja di outlet berlabel "mall" resmi, asal belanjanya di e-commerce itu sudah menjamin keamanan.
"Saya sudah terbiasa pakai e-commerce karena kalau ada masalah mudah komplainnya dan ditanggapi," katanya. Dalam belanja baik di toko berlabel "mall" maupun tidak, yang terpenting bagi Sabrina adalah melihat rating dan ulasannya. Termasuk mengecek apakah ulasannya organik/natural ataukah fake/palsu.
Masalah yang saat ini Sabrina rasakan sebagai persoalan di e-commerce adalah bagaimana memberantas fake-review. Kemudian bagaimana mengedukasi orang tua untuk tidak tergiur belanja melalui marketplace berbasis media sosial yang tak memiliki sistem e-commerce.
"Ibu saya sering tertipu karena tergiur beli barang murah di marketplace, gak bisa dikomplain sudah pasti. Orang tua tak bia membedakan mana marketplace mana e-commerce, ini pe-er,sih, buat e-commerce untuk bisa edukasi buat emak-emak yang fomo belanja," kata Sabrina.
Pergeseran menarik dari mentalitas "asal murah" menjadi "ada harga ada rupa" sudah mulai kita rasakan akhir-akhir ini terutama bagi yang aktif di dunia olshop (online shopping).
Laporan Lazada x Cube Asia ini juga menyebutkan adanya tren trade-up, yaitu beralih ke produk yang lebih mahal atau berkualitas, yang sangat terlihat jelas di Indonesia.
Meskipun sensitivitas harga masih tinggi, konsumen Indonesia seperti Sabrina dan Alex di atas, kini lebih mencari produk yang memberikan nilai uang (value for money) yang lebih besar, bukan sekadar mencari harga termurah di pasar. Mereka rela bayar lebih sedikit demi jaminan barang asli dan awet.
Mal Online Simbol Kepercayaan
Berdasarkan data riset Lazada x Cube Asia, Alex adalah bagian dari 80 persen konsumen Indonesia tergolong "Active Mall Shoppers", atau lebih percaya pada ekosistem "Mal" yang telah diverifikasi ketat. Di Asia Tenggara, angkanya lebih besar lagi yaitu 86 persen konsumen yang percaya pada toko berlabel mall atau toko resmi.
Konsumen Indonesia juga beralih dari marketplace biasa (C2C) kemudian bergeser ke e-commerce dengan mencari akun yang memiliki label “mall” atau “official store”. Meskipun angka 80 persen di Indonesia ini tergolong tinggi, negara lain ternyata jauh lebih tinggi, misalnya Vietnam (93 persen) atau Thailand (91 pesen).
Angka di Indonesia ini bisa dibaca sebagai tanda bahwa masih ada ruang pertumbuhan bagi brand untuk meyakinkan sisa konsumen yang masih ragu.
Orang-orang yang disebut "Active Mall Shoppers" seperti ini tahu ada masalah "kesenjangan pasokan" di luar sana, di mana barang asli berkualitas susah dicari dan kemudian muncul fenomena banyak reseller nakal yang menjual tak sesuai janji di foto atau di deskripsi.
"Kalau gue beli di toko gak jelas, terus dikirim barang KW, proses returnya ribet. Waktu gue habis, emosi gue naik. Di official store, gue beli ketenangan pikiran. Garansi retur dan jaminan ori," kata Alex.
Perilaku Alex adalah bukti nyata pergeseran konsumen Indonesia. Di era pengetatan ekonomi, konsumen cerdas tidak mencari "harga terendah" absolut. Mereka mencari value atau nilai terbaik.
Bagi Alex, membeli empat pasang sepatu asli di mal daring bukan tentang gaya-gayaan. Itu adalah cara dia berkata: Saya terlalu miskin untuk membeli barang yang salah. Kepercayaan pada platform resmi memberinya keamanan untuk melakukan "investasi" jangka panjang tersebut.
“Saya tidak takut harga agak tinggi, saya takut tertipu. Saya lebih mengejar trust karena menjamin barang lebih berkualitas dan risiko penipuan minim. Saya pernah ditipu sekali, waktu belanja lewat media sosial, orangnya hilang setelah transfer. Jadi memang benar-benar harus lewat e-commerce,” kata Alex.
Fenomena ini diperkuat data yaitu pertumbuhan penjualan produk asli (branded/terverifikasi) di era yang dianggap ekonomi lesu justru tumbuh dari 12 persen di tahun 2020 menjadi 30 persen di 2025 dari total e-commerce. Ke depannya, angka ini terus diprediksi naik hingga mencapai 55 persen tahun 2030.
Lambat tapi pasti, kepercayaan kini telah menjadi mata uang baru. Faktor penentu konsumen membeli tak lagi sekadar harga, tapi juga bergantung pada ulasan (reviews), rating, dan otentisitas (keaslian).
Menurut studi Cube Asia x Lazada ini, kategori favorit yang menunjukkan pengeluaran terbesar terjadi pada kategori kecantikan dan perawatan pribadi. “Konsumen rela membayar lebih demi produk asli,” begitu penjelasan riset ini.
Toko Fisik Tetap Dibutuhkan
Hal yang menarik, ada tren yang disebut showrooming. Konsumen masih memerlukan toko luring atau offline. Lihat di toko fisik, kemudian baru beli di toko online. Begitu kisah kebanyakan orang-orang Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Jadi, belanja online dan offline kini saling melengkapi. “Saya ke toko sepatu dulu untuk memastikan kualitas material barangnya oke dan ukurannya sesuai, baru saya ke toko online untuk membelinya,” begitu pengakuan Alex.
Secara angka, 73 persen pembeli Asia Tenggara melakukan showrooming. Di Indonesia, jumlahnya lebih tinggi yaitu 77 persen, sama tingginya dengan Filipina, karena konsumen dua negara ini sensitif terhadap harga.
Showrooming paling sering terjadi pada produk kecantikan dan skincare (76 persen) karena konsumen ingin mencoba tekstur, warna, dan aroma dulu. Disusul produk elektronik (74 persen) karena konsumen ingin melihat ukuran fisik dan kualitas rakitan barang.
Kemudian kategori barang ibu dan bayi sebanyak 70 persen. Alasannya karena konsumen ingin memastikan keamanan dan kenyamanan produk untuk buah hati kesayangan.
Pemilik toko fisik harus memahami bahwa konsumen datang ke toko fisik untuk melihat, memegang, atau mencoba barang, tetapi transaksi akhirnya dilakukan secara online. Karena itu, pesannya jelas, yaitu toko fisik wajib memiliki akun berjualan di e-commerce yang bisa diandalkan.
Indonesia adalah pasar yang sensitif terhadap harga, karena itu konsumen mencari kepastian kualitas fisik di toko, lalu memburu harga yang lebih baik, mengejar promo, cari fasilitas freeongkir (gratis ongkos kirim) atau dapat poin/cashback di aplikasi e-commerce.
Apa yang Akan Terjadi di 2030?
Masa depan e-commerce bukan lagi sekadar berjualan lebih banyak, tetapi berjualan lebih baik atau istilah riset Lazada x Cube Asia ini sebagai selling better. Di 2030, logistik barang mewah akan muncul dengan keamanan tingkat tinggi untuk barang-barang premium agar tidak rusak atau hilang.
Terkait toko fisik, jangan khawatir karena 2030 nanti toko fisik tetap dibutuhkan. Hanya saja, fungsinya tidak lagi menumpuk stok melainkan menjadi ruang pameran atau experience center. Tempat nyaman para konsumen untuk mencoba dan berinteraksi dengan barang riil.
Ketika konsumen merasa nyaman dengan eksperimen di toko fisik, dia akan belanja online dan stok dikirim langsung dari gudang ke rumah konsumen.
Dibuat dengan AI | KOMPAS.com/AMR Tiga Kunci Pertumbuhan E-Commerce Masa DepanJadi, jika Anda saat ini pemilik toko dan merasa terganggu jika ada konsumen yang datang tapi tidak membeli, jangan lekas naik pitam karena bisa jadi mereka yang merasa puas akan order lewat online.
Toko fisik juga menjadi pembeda dengan toko-toko online yang tak memiliki toko fisik. Toko fisik kini dan kedepannya adalah sarana konsumen untuk memverifikasi kualitas produk dan dan memvalidasi kredibilitas dan trust sebuah toko.
Ke depannya, akal imitasi atau AI akan semakin seamless, mulus tak terasa memakai AI saking smooth-nya. AI makin berfungsi sebagai asisten pribadi dalam belanja online, sekaligus rekan belanja yang bisa memprediksi kebutuhan kita sebagai konsumen. Termasuk melayani purna jual produk, misal terkait komplain dan klaim garansi secara instan.
Ekosistem e-commerce di Indonesia dan Asia Tenggara sedang bergerak dari fase belantara bebas yang penuh risiko menuju fase confidence commerce (perdagangan penuh keyakinan). Konsumen menginginkan pengalaman belanja yang memadukan kenyamanan online, kepastian barang asli, dan pengalaman fisik yang memuaskan.
Jika Anda adalah pelaku e-commerce atau pemilik brand sebuah produk, untuk menargetkan pasar Indonesia wajib punya strategi omnichannel, ada di offline dan juga di online. Sambutlah dengan lapang dada kedatangan konsumen Indonesia ke toko fisik Anda, janga apriori, jangan negative thinking.
Pahamilah game changer terbaru ini: mereka yang datang ke toko fisik Anda bukan Rojali (rombongan jarang beli), bukan pula Rohana (rombongan hanya nanya), bukan juga Rohali (rombongan hanya lihat-lihat), maupun Rohalus (rombongan hanya elus-elus).
Jangan pula menganggap mereka Rotasi (rombongan tanpa transaksi). Mereka ini bisa jadi sedang menerapkan showrooming: memverifikasi produk secara fisik dan sensorik, memvalidasi trust, serta menjadi massa pemicu industri e-commerce bergerak ke arah aman, transparan, dan premium. Jadi, bersiaplah untuk menyambut mereka dengan layak.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarangFenomena Rojali-Rohana Merebak, Pengamat: 2025 Titik Kelam Pusat Perbelanjaan
Pusat perbelanjaan menghadapi tantangan besar di 2025 akibat fenomena rojali dan rohana, di mana pengunjung ramai namun transaksi rendah karena daya beli menurun. [627] url asal
#rojali-rohana #pusat-perbelanjaan #daya-beli-masyarakat #mal-ramai #transaksi-rendah #perdagangan-daring #pendapatan-menurun #aktivitas-berbiaya-rendah #belanja-online #program-diskon-belanja #pasar-k
(Bisnis.Com - Ekonomi) 27/12/25 13:15
v/85992/
Bisnis.com, JAKARTA — Pusat perbelanjaan alias mal menghadapi tekanan berat sepanjang 2025 seiring melemahnya daya beli masyarakat. Fenomena rombongan jarang beli (rojali) dan rombongan hanya bertanya (rohana) membuat transaksi tetap rendah, meski mal ramai dikunjungi.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai tekanan terhadap pusat perbelanjaan saat ini tidak hanya berasal dari maraknya perdagangan daring, melainkan juga dari penurunan pendapatan masyarakat. Alhasil, kondisi tersebut memicu fenomena rojali dan rohana dinilai merugikan pengelola pusat perbelanjaan.
“Dengan daya beli yang merosot, tahun 2025 seperti titik kelam pusat perbelanjaan hingga memunculkan fenomena rohana dan rojali,” kata Huda kepada Bisnis, Sabtu (27/12/2025).
Dia menilai, pelemahan daya beli masyarakat menjadi pemicu maraknya fenomena pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan tanpa melakukan transaksi.
Meski pendapatan masyarakat menurun, kebutuhan akan hiburan tetap ada. Namun, keterbatasan finansial membuat masyarakat memilih aktivitas berbiaya rendah, seperti berjalan-jalan tanpa melakukan pembelian.
Di sisi lain, sambung dia, ketika ingin berbelanja, konsumen justru cenderung beralih ke platform perdagangan daring yang menawarkan harga lebih kompetitif.
Menurutnya, program diskon belanja yang digulirkan pemerintah belum mampu mendorong konsumsi secara signifikan. Huda memandang, persoalan utama bukan pada harga, melainkan pada kemampuan beli masyarakat yang melemah akibat pendapatan yang turun dan terbatasnya lapangan kerja.
“Ketika pendapatan masyarakat turun, mereka tidak mampu untuk beli barang,” ujarnya.
Celios juga menyoroti sebagian kelompok rojali dan rohana berasal dari masyarakat yang belum terserap di pasar kerja. Huda melihat tambahan pendapatan musiman selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) dinilai belum memberikan dampak berarti bagi pusat perbelanjaan.
Lebih lanjut, Huda melihat adanya pergeseran fungsi pusat perbelanjaan. Mal, ujar dia, kini tak lagi semata menjadi tempat transaksi jual beli, melainkan ruang publik untuk bersosialisasi. Perubahan perilaku ini menuntut pengelola untuk menyesuaikan model bisnis agar tetap berkelanjutan.
Untuk itu, Celios mendorong pengelola pusat perbelanjaan untuk mengembangkan sumber pendapatan alternatif di luar tenant ritel konvensional, seperti melalui penyelenggaraan acara, festival, maupun konser berskala menengah dan besar guna
Di Daerah Tetap Ramai
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengeklaim pusat perbelanjaan alias mal di berbagai daerah ramai dikunjungi masyarakat selama libur Nataru.
Airlangga menuturkan lonjakan aktivitas belanja didorong oleh sejumlah program nasional, salah satunya Belanja di Indonesia Aja (BINA) yang digelar Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) di seluruh pusat perbelanjaan dengan transaksi yang diincar Rp30 triliun hingga 4 Januari 2026.
Pemerintah juga mengandalkan program Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) dengan target sekitar Rp35 triliun serta kampanye Every Purchase is Cheap (EPIC). Secara keseluruhan, pemerintah membidik nilai belanja masyarakat hingga akhir tahun mencapai kisaran Rp110 triliun.
Adapun, Airlangga menyebut hampir seluruh tenant menawarkan potongan harga hingga 50%, ditambah diskon lanjutan, serta cashback. Dia berharap skema ini mampu menggenjot daya beli masyarakat sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
“Menjelang acara ini hampir di semua mal itu ramai. Mudah-mudahan acara ini bisa berjalan dengan lancar dan mudah-mudahan ini juga akan mendorong kegiatan ekonomi,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Pondok Indah Mall 1, Jakarta Selatan, Jumat (26/12/2025).
Sementara itu, Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah mengatakan pola belanja masyarakat tahun ini menunjukkan perbedaan dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Budihardjo, peningkatan jumlah wisatawan turut memberikan dampak positif terhadap penjualan ritel, khususnya di daerah tujuan wisata seperti Bali. Dia menyebut, pembelian di Bali tercatat meningkat sekitar 30% seiring dengan tingginya belanja wisatawan.
Namun, Budihardjo mengakui peningkatan trafik pengunjung pusat perbelanjaan secara nasional pada awal periode libur masih berada di bawah 10%. Meski demikian, lonjakan signifikan mulai terlihat sejak 25 Desember 2025 atau pada momentum Natal 2025.
“Puncaknya itu justru mulai hari kemarin. Dari tanggal 25 itu naik sekali, semua teman-teman kita cek ramai, penjualan juga ada, restoran penuh,” ujar Budihardjo.
Ke depan, Hippindo memperkirakan peningkatan tersebut akan berlanjut hingga 4 Januari 2026, seiring masih berlangsungnya masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
KALEIDOSKOP 2025: Rojali dan Rohana, "Hidupkan" Mal tapi Menguji Daya Beli
Rojali adalah singkatan dari rombongan jarang beli dan rohana merujuk pada rombongan hanya nanya. [1,656] url asal
#konsumsi-rumah-tangga #daya-beli-masyarakat #indepth #rojali-adalah #rojali-dan-rohana #kaleidoskop-2025
(Kompas.com - Money) 25/12/25 10:00
v/85039/
JAKARTA, KOMPAS.com - Istilah rojali dan rohana semula terdengar seperti nama orang.
Namun demikian, sepanjang 2025, dua akronim itu menjadi bahasa baru di ruang publik, untuk menggambarkan perilaku konsumen yang ramai terlihat di pusat perbelanjaan: mal penuh, tetapi transaksi tidak selalu sebanding.
Rojali adalah singkatan dari rombongan jarang beli dan rohana merujuk pada rombongan hanya nanya, maksudnya pengunjung yang aktif bertanya harga, diskon, atau fitur, tetapi tidak berujung pembelian.
KOMPAS.com/Lidia Pratama Febrian Fenomena Rojali Bukan karena Malas Beli, Pengunjung Nilai Mal Tempat Aman dan NyamanDalam berbagai unggahan dan percakapan harian, rojali dan rohana menjadi cara cepat untuk merangkum satu pemandangan yang berulang: orang datang bergerombol, berjalan-jalan, menghabiskan waktu di area publik, bahkan membuat konten, tetapi pulang dengan tangan kosong.
Di titik itulah fenomena ini menarik. Keduanya berada di persimpangan antara hiburan murah, pergeseran pola belanja, dan tekanan ekonomi rumah tangga.
Ada yang membaca rojali dan rohana sebagai candaan sosial, tetapi ada pula yang memaknainya sebagai sinyal yang lebih serius, yakni tentang ketahanan daya beli masyarakat, biaya hidup perkotaan, dan kualitas pekerjaan.
Dari meme ke pembacaan ekonomi: ketika istilah viral jadi bahan respons pemerintah
Ketika istilah itu makin sering dipakai, respons pemerintah pun muncul. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menilai istilah tersebut tidak semestinya ditertawakan.
“Saya terus terang tidak terlalu gembira dengan istilah itu. Menurut pendapat saya, istilah itu jangan dijadikan sebagai sebuah joke atau lelucon. Itu adalah sebuah lecutan bagi kita bahwa memang masih banyak yang harus kita perjuangkan, masih banyak yang harus kita benahi," kata dia.
KOMPAS.com/Rahel Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) yang juga Jubir Presiden RI Prasetyo Hadi di Kompleks Istana, Jakarta, Selasa (5/8/2025).Prasetyo mengakui angka makro tidak selalu memotret kondisi semua kelompok.
Ia menyinggung bahwa meski pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2025 mencapai 5,12 persen, itu tidak bisa menggambarkan secara menyeluruh kondisi kelompok masyarakat tertentu.
Ia juga menyebut masih ada masyarakat pada desil 1 sampai 2 dan kelompok miskin ekstrem, yang dalam pandangannya ikut menjadi latar kemunculan istilah rojali dan rohana.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut rohana dan rojali hanyalah isu yang dibuat-buat di tengah pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 yang disebut mencapai 5,12 persen.
Menurut Airlangga, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,97 persen pada kuartal II 2025 dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Dari sisi kementerian teknis, Kementerian Perdagangan menjelaskan fenomena ini sebagai konsekuensi perubahan perilaku belanja.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti menyatakan rohana dan rojali muncul karena peralihan tren belanja masyarakat dari belanja secara langsung di mal ke belanja online.
Ia mengatakan belanja ritel masyarakat tetap terjaga, tapi tidak lagi dilakukan di mal.
Adapun Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menekankan solusi adaptasi kanal. Budi menyebut omnichannel, yakni penjualan yang mengintegrasikan luring dan daring, sebagai salah satu solusi menghadapi rojali dan rohana.
“Apakah dia membeli lewat online atau offline, itu kebebasan konsumen untuk memilih barang. Masalah belanjanya di mana, ya silahkan. Nah, fenomena ini akhirnya kita tangkap dengan hybrid dengan omnichannel,” tutur dia.
Apa yang sebenarnya dilakukan rojali dan rohana di mal?
Rojali adalah rombongan yang datang ke pusat perbelanjaan dalam jumlah besar, namun lebih banyak berjalan-jalan, melihat-lihat, berfoto, atau menikmati fasilitas tanpa transaksi.
freepik Fenomena rojali alias rombongan jarang beli ramai di mal. Meski pengunjung membludak, daya beli masih lesu. Apa kata pakar soal fenomena ini?Ciri-ciri rojali antara lain menghabiskan waktu lama di area publik (food court, lorong mal, spot foto), memanfaatkan fasilitas gratis seperti Wi-Fi dan pendingin ruangan, hingga merekam konten untuk media sosial.
Pada titik tertentu, perilaku “datang tanpa belanja” bukan hal baru. Yang membuatnya mencuat di 2025 adalah kombinasi dari:
- Keramaian mal yang kontras dengan keluhan penjualan tenant, dan
- Kecepatan media sosial mengubah pengamatan sehari-hari menjadi istilah bersama.
- Keramaian yang tidak otomatis menjadi penjualan
Bagi pelaku usaha ritel, kepadatan pengunjung biasanya identik dengan peluang omzet. Namun, fenomena rojali dan rohana menempatkan ritel pada situasi yang lebih rumit, yakni traffic tinggi tidak selalu berarti conversion tinggi.
Fenomena ini cukup mempengaruhi omzet pedagang dan pelaku usaha di pusat perbelanjaan karena jumlah pengunjung tampak tinggi, tetapi angka penjualan tidak selalu sebanding.
Dalam bahasa ritel, ini menggambarkan jarak antara “ramai” dan “laku”.
Pada level konsumen, motifnya berlapis. Sebagian datang untuk rekreasi murah, mal menyediakan ruang aman, ber-AC, toilet bersih, tempat duduk, dan akses makanan-minuman yang bisa dipilih sesuai kemampuan.
Sebagian lain menjadikan mal sebagai ruang sosial, seperti bertemu teman, mengajak keluarga, atau sekadar “cuci mata”.
Pada saat yang sama, banyak konsumen pada tahun 2025 juga makin terbiasa dengan strategi belanja yang lebih hati-hati. Mereka membandingkan harga, menunggu diskon, atau menjadikan kunjungan offline sebagai survei sebelum transaksi online.
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menyatakan fenomena rojali dan rohana di mal bukan sebuah masalah besar.
KOMPAS.com/NIRMALA MAULANA Ketua Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Selasa (20/5/2025).“Rojali itu enggak apa-apa. Yang penting datang dulu, kita sepakat itu,” terang dia.
Budihardjo menyebut tugas peritel ialah membuat konsumen mau bertransaksi, seperti membuat promosi, memberikan diskon, hingga pengalaman menarik lainnya.
Ia juga menggambarkan harapan agar setidaknya ada transaksi kecil, sembari mengakui sulitnya mendatangkan orang ke pusat perbelanjaan pascapandemi.
Kemudian, Budihardjo kembali menekankan perspektif traffic.
“Sektor luring (perdagangan) ini kan memang harus ada 'traffic', tidak apa-apa 'rojali' yang penting datang dulu. Jadi yang penting orang nongol dulu, baru kita bisa tawarkan barang-barang kita,” paparnya.
Kemiskinan perkotaan, setengah menganggur, dan biaya pangan: konteks yang ikut membentuk perilaku
Salah satu cara memahami mengapa datang tapi tidak belanja terlihat lebih sering adalah melihat tekanan yang dialami rumah tangga perkotaan.
Angka kemiskinan di perkotaan naik setelah tren penurunan sejak Maret 2023 terhenti. Mengutip data BPS, persentase penduduk miskin perkotaan pada Maret 2025 sebesar 6,73 persen, naik dari 6,66 persen pada September 2024.
Secara jumlah, penduduk miskin perkotaan bertambah 0,22 juta orang, dari 11,05 juta menjadi 11,27 juta.
Dikutip dari Kontan, Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Ateng Hartono membeberkan beberapa faktor. Salah satunya ialah meningkatnya setengah penganggur di perkotaan.
“Kalau rentan miskin, ketika daya belinya turun, maka dia akan mudah untuk jatuh ke bawahnya,” ungkap Ateng.
KOMPAS.COM/FIRMANSYAH Fenomena rojali dan rohana kembali jadi sorotan di pusat perbelanjaan. Pengunjung ramai, tapi transaksi minim. Apa penyebabnya?Harga sejumlah komoditas pangan di perkotaan mengalami kenaikan, misalnya minyak goreng, cabai rawit, dan bawang putih, yang menghambat daya beli, terutama untuk rumah tangga kelompok bawah atau miskin dan rentan miskin.
Dalam kondisi seperti ini, ruang-ruang rekreasi murah menjadi makin penting, sementara belanja non-esensial cenderung ditahan.
“Menahan belanja” bukan berarti “tidak punya uang sama sekali”
Fenomena rojali dan rohana tidak selalu identik dengan kemiskinan ekstrem.
Ada spektrum perilaku, yakni dari rumah tangga yang benar-benar ketat karena kebutuhan pokok, hingga kelas menengah yang “menahan” karena ketidakpastian, cicilan, atau prioritas lain.
Ada sinyal penguatan konsumsi pada awal kuartal IV 2025 melalui sejumlah indikator belanja. Kontan menyebut, Indeks Transaksi Belanja BCA hingga 21 Oktober 2025 menunjukkan pertumbuhan belanja 5,9 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dari September 2025 yang mencapai 4,9 persen (yoy).
Sementara itu, menurut Mandiri Spending Index per 19 Oktober 2025 tumbuh 2,3 persen secara mingguan dan melanjutkan tren peningkatan dua pekan sebelumnya.
Rojali dan rohana disebut sebagai semacam “barometer psikologis” konsumsi: ketika belanja membaik, ada harapan fenomena tersebut memudar.
Artinya, rojali dan rohana bisa muncul baik saat daya beli melemah maupun saat konsumen bersikap lebih kalkulatif, yakni datang untuk survei, menunggu promo, atau mengutamakan kebutuhan primer.
Perubahan cara belanja: mal sebagai showroom, transaksi pindah kanal
PEXELS/COTTONBRO STUDIO Ilustras belanja, belanja pakaian di mal.Di 2025, pola belanja semakin bercampur antara online dan offline. Kunjungan ke toko fisik sering menjadi proses “memastikan”, yaitu melihat barang asli, mencoba ukuran, memeriksa kualitas, menanyakan garansi.
Setelah itu, pembelian bisa terjadi di kanal lain, yakni marketplace, situs resmi, atau saat periode promo tertentu.
Istilah rohana menangkap perilaku ini, meski tidak selalu adil jika dilihat dari perspektif konsumen. “Bertanya” bisa berarti:
- Ingin memastikan nilai uangnya tepat
- Ingin membandingkan harga lintas toko
- Menunggu momen diskon agar pembelian sesuai anggaran.
Bagi tenant, perilaku itu menambah beban pelayanan (waktu staf, demonstrasi produk, konsultasi) tanpa kepastian transaksi. Bagi konsumen, bertanya adalah strategi mengurangi risiko salah beli di tengah anggaran yang lebih ketat.
Siasat ritel: mengubah keramaian menjadi transaksi, tanpa mengandalkan “sekadar ramai"
Di tengah fenomena ini, pelaku usaha umumnya memperkuat pendekatan yang lebih terukur:
- Promo yang lebih tajam dan tersegmentasi
- Bundling produk kebutuhan
- Program loyalti,
- Integrasi online-to-offline: pesan online ambil di toko, atau sebaliknya.
Dalam lanskap seperti itu, rojali bisa dipandang bukan semata-mata masalah, tetapi juga peluang.
Jika mal tetap menjadi tujuan, maka pekerjaan ritel adalah menaikkan konversi, membuat kunjungan berubah menjadi transaksi, atau setidaknya menjadi lead yang kembali saat gajian, saat diskon besar, atau saat ada kebutuhan spesifik.
Dok. Unsplash/Andrew Leu Ilustrasi orang di mall, fenomena rohana dan rojali.Dikutip dari Antara, APPBI DPD DKI Jakarta merumuskan strategi pusat belanja lewat konsep “Transformasi Rojali 2.0 – Rombongan Jadi Beli”.
“Konsep 'Rombongan Jadi Beli' menegaskan bahwa pengalaman berbelanja kini bukan hanya transaksi, tetapi perjalanan sosial yang menciptakan nilai bersama atau komunitas,” kata Ketua APPBI DPD DKI Jakarta Mualim Wijoyo.
Mualim juga menekankan perlunya strategi untuk merespons perubahan perilaku konsumen dan tantangan era digital, termasuk peran kolaboratif pusat belanja dengan Pemprov DKI Jakarta untuk memperkuat daya tarik ritel.
Kepala Dinas PPKUKM DKI Jakarta Elisabeth Ratu Rante Allo menyebut Pemprov DKI telah menyediakan wadah pelatihan dan pengembangan ratusan ribu UMKM, serta mendorong UMKM binaan melakukan studi banding ke pusat belanja di dalam dan luar negeri.
Ia mengatakan langkah itu diharapkan membantu UMKM menaikkan kualitas produk agar menarik dan disukai, yang pada akhirnya dibeli pengunjung pusat belanja.
Sementara itu, perwakilan APPBI DPD DKI Jakarta Ellen Hidayat menekankan pusat perbelanjaan perlu mengikuti tren dengan menggelar kegiatan kekinian dan/atau mengundang influencer untuk menaikkan traffic agar menjadi “Rojali 2.0 (Rombongan Jadi Beli).”
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
KALEIDOSKOP 2025: Rojali dan Rohana, "Hidupkan" Mal tapi Menguji Daya Beli
Rojali adalah singkatan dari rombongan jarang beli dan rohana merujuk pada rombongan hanya nanya. [1,656] url asal
#konsumsi-rumah-tangga #daya-beli-masyarakat #indepth #rojali-adalah #rojali-dan-rohana #kaleidoskop-2025
(Kompas.com - Money) 25/12/25 10:00
v/84652/
JAKARTA, KOMPAS.com - Istilah rojali dan rohana semula terdengar seperti nama orang.
Namun demikian, sepanjang 2025, dua akronim itu menjadi bahasa baru di ruang publik, untuk menggambarkan perilaku konsumen yang ramai terlihat di pusat perbelanjaan: mal penuh, tetapi transaksi tidak selalu sebanding.
Rojali adalah singkatan dari rombongan jarang beli dan rohana merujuk pada rombongan hanya nanya, maksudnya pengunjung yang aktif bertanya harga, diskon, atau fitur, tetapi tidak berujung pembelian.
KOMPAS.com/Lidia Pratama Febrian Fenomena Rojali Bukan karena Malas Beli, Pengunjung Nilai Mal Tempat Aman dan NyamanDalam berbagai unggahan dan percakapan harian, rojali dan rohana menjadi cara cepat untuk merangkum satu pemandangan yang berulang: orang datang bergerombol, berjalan-jalan, menghabiskan waktu di area publik, bahkan membuat konten, tetapi pulang dengan tangan kosong.
Di titik itulah fenomena ini menarik. Keduanya berada di persimpangan antara hiburan murah, pergeseran pola belanja, dan tekanan ekonomi rumah tangga.
Ada yang membaca rojali dan rohana sebagai candaan sosial, tetapi ada pula yang memaknainya sebagai sinyal yang lebih serius, yakni tentang ketahanan daya beli masyarakat, biaya hidup perkotaan, dan kualitas pekerjaan.
Dari meme ke pembacaan ekonomi: ketika istilah viral jadi bahan respons pemerintah
Ketika istilah itu makin sering dipakai, respons pemerintah pun muncul. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menilai istilah tersebut tidak semestinya ditertawakan.
“Saya terus terang tidak terlalu gembira dengan istilah itu. Menurut pendapat saya, istilah itu jangan dijadikan sebagai sebuah joke atau lelucon. Itu adalah sebuah lecutan bagi kita bahwa memang masih banyak yang harus kita perjuangkan, masih banyak yang harus kita benahi," kata dia.
KOMPAS.com/Rahel Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) yang juga Jubir Presiden RI Prasetyo Hadi di Kompleks Istana, Jakarta, Selasa (5/8/2025).Prasetyo mengakui angka makro tidak selalu memotret kondisi semua kelompok.
Ia menyinggung bahwa meski pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2025 mencapai 5,12 persen, itu tidak bisa menggambarkan secara menyeluruh kondisi kelompok masyarakat tertentu.
Ia juga menyebut masih ada masyarakat pada desil 1 sampai 2 dan kelompok miskin ekstrem, yang dalam pandangannya ikut menjadi latar kemunculan istilah rojali dan rohana.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut rohana dan rojali hanyalah isu yang dibuat-buat di tengah pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 yang disebut mencapai 5,12 persen.
Menurut Airlangga, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,97 persen pada kuartal II 2025 dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Dari sisi kementerian teknis, Kementerian Perdagangan menjelaskan fenomena ini sebagai konsekuensi perubahan perilaku belanja.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti menyatakan rohana dan rojali muncul karena peralihan tren belanja masyarakat dari belanja secara langsung di mal ke belanja online.
Ia mengatakan belanja ritel masyarakat tetap terjaga, tapi tidak lagi dilakukan di mal.
Adapun Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menekankan solusi adaptasi kanal. Budi menyebut omnichannel, yakni penjualan yang mengintegrasikan luring dan daring, sebagai salah satu solusi menghadapi rojali dan rohana.
“Apakah dia membeli lewat online atau offline, itu kebebasan konsumen untuk memilih barang. Masalah belanjanya di mana, ya silahkan. Nah, fenomena ini akhirnya kita tangkap dengan hybrid dengan omnichannel,” tutur dia.
Apa yang sebenarnya dilakukan rojali dan rohana di mal?
Rojali adalah rombongan yang datang ke pusat perbelanjaan dalam jumlah besar, namun lebih banyak berjalan-jalan, melihat-lihat, berfoto, atau menikmati fasilitas tanpa transaksi.
freepik Fenomena rojali alias rombongan jarang beli ramai di mal. Meski pengunjung membludak, daya beli masih lesu. Apa kata pakar soal fenomena ini?Ciri-ciri rojali antara lain menghabiskan waktu lama di area publik (food court, lorong mal, spot foto), memanfaatkan fasilitas gratis seperti Wi-Fi dan pendingin ruangan, hingga merekam konten untuk media sosial.
Pada titik tertentu, perilaku “datang tanpa belanja” bukan hal baru. Yang membuatnya mencuat di 2025 adalah kombinasi dari:
- Keramaian mal yang kontras dengan keluhan penjualan tenant, dan
- Kecepatan media sosial mengubah pengamatan sehari-hari menjadi istilah bersama.
- Keramaian yang tidak otomatis menjadi penjualan
Bagi pelaku usaha ritel, kepadatan pengunjung biasanya identik dengan peluang omzet. Namun, fenomena rojali dan rohana menempatkan ritel pada situasi yang lebih rumit, yakni traffic tinggi tidak selalu berarti conversion tinggi.
Fenomena ini cukup mempengaruhi omzet pedagang dan pelaku usaha di pusat perbelanjaan karena jumlah pengunjung tampak tinggi, tetapi angka penjualan tidak selalu sebanding.
Dalam bahasa ritel, ini menggambarkan jarak antara “ramai” dan “laku”.
Pada level konsumen, motifnya berlapis. Sebagian datang untuk rekreasi murah, mal menyediakan ruang aman, ber-AC, toilet bersih, tempat duduk, dan akses makanan-minuman yang bisa dipilih sesuai kemampuan.
Sebagian lain menjadikan mal sebagai ruang sosial, seperti bertemu teman, mengajak keluarga, atau sekadar “cuci mata”.
Pada saat yang sama, banyak konsumen pada tahun 2025 juga makin terbiasa dengan strategi belanja yang lebih hati-hati. Mereka membandingkan harga, menunggu diskon, atau menjadikan kunjungan offline sebagai survei sebelum transaksi online.
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menyatakan fenomena rojali dan rohana di mal bukan sebuah masalah besar.
KOMPAS.com/NIRMALA MAULANA Ketua Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Selasa (20/5/2025).“Rojali itu enggak apa-apa. Yang penting datang dulu, kita sepakat itu,” terang dia.
Budihardjo menyebut tugas peritel ialah membuat konsumen mau bertransaksi, seperti membuat promosi, memberikan diskon, hingga pengalaman menarik lainnya.
Ia juga menggambarkan harapan agar setidaknya ada transaksi kecil, sembari mengakui sulitnya mendatangkan orang ke pusat perbelanjaan pascapandemi.
Kemudian, Budihardjo kembali menekankan perspektif traffic.
“Sektor luring (perdagangan) ini kan memang harus ada 'traffic', tidak apa-apa 'rojali' yang penting datang dulu. Jadi yang penting orang nongol dulu, baru kita bisa tawarkan barang-barang kita,” paparnya.
Kemiskinan perkotaan, setengah menganggur, dan biaya pangan: konteks yang ikut membentuk perilaku
Salah satu cara memahami mengapa datang tapi tidak belanja terlihat lebih sering adalah melihat tekanan yang dialami rumah tangga perkotaan.
Angka kemiskinan di perkotaan naik setelah tren penurunan sejak Maret 2023 terhenti. Mengutip data BPS, persentase penduduk miskin perkotaan pada Maret 2025 sebesar 6,73 persen, naik dari 6,66 persen pada September 2024.
Secara jumlah, penduduk miskin perkotaan bertambah 0,22 juta orang, dari 11,05 juta menjadi 11,27 juta.
Dikutip dari Kontan, Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Ateng Hartono membeberkan beberapa faktor. Salah satunya ialah meningkatnya setengah penganggur di perkotaan.
“Kalau rentan miskin, ketika daya belinya turun, maka dia akan mudah untuk jatuh ke bawahnya,” ungkap Ateng.
KOMPAS.COM/FIRMANSYAH Fenomena rojali dan rohana kembali jadi sorotan di pusat perbelanjaan. Pengunjung ramai, tapi transaksi minim. Apa penyebabnya?Harga sejumlah komoditas pangan di perkotaan mengalami kenaikan, misalnya minyak goreng, cabai rawit, dan bawang putih, yang menghambat daya beli, terutama untuk rumah tangga kelompok bawah atau miskin dan rentan miskin.
Dalam kondisi seperti ini, ruang-ruang rekreasi murah menjadi makin penting, sementara belanja non-esensial cenderung ditahan.
“Menahan belanja” bukan berarti “tidak punya uang sama sekali”
Fenomena rojali dan rohana tidak selalu identik dengan kemiskinan ekstrem.
Ada spektrum perilaku, yakni dari rumah tangga yang benar-benar ketat karena kebutuhan pokok, hingga kelas menengah yang “menahan” karena ketidakpastian, cicilan, atau prioritas lain.
Ada sinyal penguatan konsumsi pada awal kuartal IV 2025 melalui sejumlah indikator belanja. Kontan menyebut, Indeks Transaksi Belanja BCA hingga 21 Oktober 2025 menunjukkan pertumbuhan belanja 5,9 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dari September 2025 yang mencapai 4,9 persen (yoy).
Sementara itu, menurut Mandiri Spending Index per 19 Oktober 2025 tumbuh 2,3 persen secara mingguan dan melanjutkan tren peningkatan dua pekan sebelumnya.
Rojali dan rohana disebut sebagai semacam “barometer psikologis” konsumsi: ketika belanja membaik, ada harapan fenomena tersebut memudar.
Artinya, rojali dan rohana bisa muncul baik saat daya beli melemah maupun saat konsumen bersikap lebih kalkulatif, yakni datang untuk survei, menunggu promo, atau mengutamakan kebutuhan primer.
Perubahan cara belanja: mal sebagai showroom, transaksi pindah kanal
PEXELS/COTTONBRO STUDIO Ilustras belanja, belanja pakaian di mal.Di 2025, pola belanja semakin bercampur antara online dan offline. Kunjungan ke toko fisik sering menjadi proses “memastikan”, yaitu melihat barang asli, mencoba ukuran, memeriksa kualitas, menanyakan garansi.
Setelah itu, pembelian bisa terjadi di kanal lain, yakni marketplace, situs resmi, atau saat periode promo tertentu.
Istilah rohana menangkap perilaku ini, meski tidak selalu adil jika dilihat dari perspektif konsumen. “Bertanya” bisa berarti:
- Ingin memastikan nilai uangnya tepat
- Ingin membandingkan harga lintas toko
- Menunggu momen diskon agar pembelian sesuai anggaran.
Bagi tenant, perilaku itu menambah beban pelayanan (waktu staf, demonstrasi produk, konsultasi) tanpa kepastian transaksi. Bagi konsumen, bertanya adalah strategi mengurangi risiko salah beli di tengah anggaran yang lebih ketat.
Siasat ritel: mengubah keramaian menjadi transaksi, tanpa mengandalkan “sekadar ramai"
Di tengah fenomena ini, pelaku usaha umumnya memperkuat pendekatan yang lebih terukur:
- Promo yang lebih tajam dan tersegmentasi
- Bundling produk kebutuhan
- Program loyalti,
- Integrasi online-to-offline: pesan online ambil di toko, atau sebaliknya.
Dalam lanskap seperti itu, rojali bisa dipandang bukan semata-mata masalah, tetapi juga peluang.
Jika mal tetap menjadi tujuan, maka pekerjaan ritel adalah menaikkan konversi, membuat kunjungan berubah menjadi transaksi, atau setidaknya menjadi lead yang kembali saat gajian, saat diskon besar, atau saat ada kebutuhan spesifik.
Dok. Unsplash/Andrew Leu Ilustrasi orang di mall, fenomena rohana dan rojali.Dikutip dari Antara, APPBI DPD DKI Jakarta merumuskan strategi pusat belanja lewat konsep “Transformasi Rojali 2.0 – Rombongan Jadi Beli”.
“Konsep 'Rombongan Jadi Beli' menegaskan bahwa pengalaman berbelanja kini bukan hanya transaksi, tetapi perjalanan sosial yang menciptakan nilai bersama atau komunitas,” kata Ketua APPBI DPD DKI Jakarta Mualim Wijoyo.
Mualim juga menekankan perlunya strategi untuk merespons perubahan perilaku konsumen dan tantangan era digital, termasuk peran kolaboratif pusat belanja dengan Pemprov DKI Jakarta untuk memperkuat daya tarik ritel.
Kepala Dinas PPKUKM DKI Jakarta Elisabeth Ratu Rante Allo menyebut Pemprov DKI telah menyediakan wadah pelatihan dan pengembangan ratusan ribu UMKM, serta mendorong UMKM binaan melakukan studi banding ke pusat belanja di dalam dan luar negeri.
Ia mengatakan langkah itu diharapkan membantu UMKM menaikkan kualitas produk agar menarik dan disukai, yang pada akhirnya dibeli pengunjung pusat belanja.
Sementara itu, perwakilan APPBI DPD DKI Jakarta Ellen Hidayat menekankan pusat perbelanjaan perlu mengikuti tren dengan menggelar kegiatan kekinian dan/atau mengundang influencer untuk menaikkan traffic agar menjadi “Rojali 2.0 (Rombongan Jadi Beli).”
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)
