Harga Minyak Tembus 110 Dollar AS, Bitcoin (BTC) Ikut Bergejolak

Harga Minyak Tembus 110 Dollar AS, Bitcoin (BTC) Ikut Bergejolak

Lonjakan tajam harga minyak dunia memicu tekanan pada pasar saham dan aset kripto, termasuk Bitcoin (BTC) yang sempat jatuh di bawah 66.000 dollar AS.

(Kompas.com) 09/03/26 12:44 159021

JAKARTA, KOMPAS.com – Gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar keuangan global.

Lonjakan tajam harga minyak dunia memicu tekanan pada pasar saham dan aset kripto, termasuk Bitcoin (BTC) yang sempat jatuh di bawah 66.000 dollar AS sebelum kembali stabil di kisaran 67.000 dollar AS.

Kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan konflik yang mengganggu pasokan energi global. Kondisi ini memicu gelombang volatilitas di berbagai kelas aset, dari komoditas energi hingga aset berisiko seperti kripto.

UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin bergerak sangat fluktuatif di tengah ketidakpastian pasar global akibat perang Iran. Meski sempat melonjak tajam, reli kripto terbesar di dunia itu mulai kehilangan momentum.

Dalam beberapa hari terakhir, kontrak minyak mentah melonjak hingga dua digit, sementara pasar saham global tertekan.

Di tengah gejolak tersebut, Bitcoin mengalami pelemahan jangka pendek, mencerminkan sensitivitas pasar kripto terhadap guncangan makroekonomi global.

Lonjakan harga minyak picu gejolak pasar

Lonjakan harga minyak dunia menjadi pemicu utama volatilitas pasar global. Dalam perdagangan terbaru, kontrak berjangka minyak mentah melonjak tajam hingga sekitar 20 persen.

Menurut data OilPrice.com pada Senin (9/3/2026) pukul 12.40 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2026 berada di level 107,2 dollar AS per barrel.

Kenaikan tersebut menjadikan harga minyak hampir dua kali lipat dibandingkan level pada awal 2026.

Sementara itu, acuan harga minyak dunia Brent berada di level 110 dollar AS per barrel.

THINKSTOCKPHOTOS Ilustrasi harga minyak, harga minyak mentah.

Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran eskalasi konflik yang berpotensi mengganggu pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Ketegangan geopolitik yang terus meningkat membuat pelaku pasar khawatir terhadap risiko gangguan distribusi energi global.

Lonjakan harga minyak tersebut langsung berdampak pada berbagai instrumen keuangan lain.

Pasar saham global tertekan karena investor menilai kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi serta memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Dikutip dari Bitget, kontrak berjangka indeks saham AS dilaporkan turun hampir 2 persen setelah lonjakan harga minyak tersebut.

Tekanan juga terlihat pada pasar saham Asia. Bursa Jepang, Korea Selatan, dan beberapa pasar regional lainnya mengalami penurunan tajam di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari lonjakan harga energi.

Harga minyak dunia yang melonjak tajam sering kali menjadi indikator meningkatnya ketegangan geopolitik serta potensi gangguan rantai pasok global.

Dalam situasi seperti ini, investor cenderung melakukan penyesuaian portofolio dengan mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Harga Bitcoin turun di bawah 66.000 dollar AS

Di tengah gejolak pasar global, Bitcoin ikut mengalami tekanan. Harga aset kripto terbesar di dunia tersebut sempat turun hingga di bawah 66.000 dollar AS.

CoinDesk melaporkan, Bitcoin diperdagangkan sekitar 2 persen lebih rendah dan berada sedikit di bawah level 66.000 dollar AS.

Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan turunnya berbagai aset berisiko lainnya, termasuk saham teknologi dan komoditas industri.

UNSPLASH/TRAXER Ilustrasi kripto.

Selain Bitcoin, sejumlah aset kripto lain juga mengalami koreksi harga. Ether dan Solana tercatat turun sekitar 1,4 persen dalam periode yang sama.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar kripto tetap sensitif terhadap dinamika makro global. Ketika ketidakpastian geopolitik meningkat dan harga energi melonjak, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset yang dianggap berisiko tinggi.

Meskipun demikian, koreksi yang terjadi pada Bitcoin relatif terbatas dibandingkan dengan beberapa aset lain di pasar keuangan.

Harga minyak dunia hari ini tembus 110 dollar AS

Pada perdagangan berikutnya, harga minyak bahkan melonjak lebih tinggi. Kontrak minyak mentah tercatat menembus level di atas 110 dollar AS per barrel.

Lonjakan harga minyak dunia tersebut dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, yang merupakan salah satu pusat produksi energi terbesar di dunia.

Gangguan terhadap jalur distribusi energi global berpotensi menciptakan kekurangan pasokan minyak, yang kemudian mendorong harga energi naik secara signifikan.

Beberapa analis pasar menilai, lonjakan harga minyak ini dapat memicu tekanan inflasi global jika berlangsung dalam waktu lama.

Pasar keuangan global pun merespons cepat. Bursa saham Asia mengalami penurunan tajam seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi.

Tekanan tersebut juga terlihat pada berbagai aset berisiko lainnya, termasuk saham teknologi dan aset digital.

Bitcoin stabil di kisaran 67.000 dollar AS

PIXABAY/MICHAELWUENSCH Ilustrasi bitcoin. Harga bitcoin turun hampir 30 persen dari rekor tertingginya. Data historis menunjukkan volatilitas bitcoin seperti ini merupakan pola yang berulang dalam setiap siklus bitcoin.

Meski sempat turun tajam, Bitcoin kemudian menunjukkan tanda stabilisasi. Harga aset kripto tersebut kembali diperdagangkan mendekati 67.000 dollar AS.

CoinDesk melaporkan, harga Bitcoin stabil di sekitar 67.000 dollar AS, meskipun pasar global sedang bergejolak.

Stabilitas relatif Bitcoin di tengah gejolak pasar global memicu diskusi baru di kalangan investor mengenai peran aset kripto dalam portofolio investasi.

Beberapa pelaku pasar melihat Bitcoin mulai menunjukkan karakteristik yang berbeda dibandingkan periode sebelumnya, ketika aset kripto cenderung bergerak lebih volatil mengikuti pasar saham.

Namun, dalam kondisi saat ini, Bitcoin masih menunjukkan korelasi tertentu dengan sentimen pasar global.

Geopolitik jadi faktor penentu

Lonjakan harga minyak tidak dapat dilepaskan dari situasi geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas. Konflik di kawasan tersebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi global.

Salah satu jalur penting adalah Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama transportasi minyak dunia.

Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur tersebut setiap harinya. Gangguan pada jalur ini dapat berdampak besar pada pasar energi internasional. ([Wikipedia][3])

Ketegangan geopolitik yang meningkat menyebabkan banyak perusahaan pelayaran dan energi menunda pengiriman melalui jalur tersebut.

Penurunan aktivitas pelayaran di kawasan itu kemudian memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi.

Akibatnya, harga minyak melonjak tajam dalam waktu singkat.

FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi harga minyak dunia.

Lonjakan harga energi seperti ini biasanya berdampak luas terhadap perekonomian global karena energi merupakan komponen utama dalam berbagai aktivitas industri dan transportasi.

Dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi

Kenaikan harga minyak sering kali menimbulkan efek domino terhadap inflasi global. Biaya energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya produksi serta harga barang dan jasa.

Situasi ini berpotensi memperumit kebijakan moneter di berbagai negara, terutama ketika bank sentral masih berupaya menekan inflasi.

Para ekonom menilai lonjakan harga energi dapat menambah tekanan pada inflasi global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi jika berlangsung dalam jangka panjang.

Konflik yang memicu lonjakan harga minyak juga meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global.

Pergerakan tajam pada harga energi, saham, serta aset kripto menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap risiko geopolitik.

Investor mencari aset aman

Dalam situasi ketidakpastian global, investor biasanya mencari aset yang dianggap lebih aman.

Aset seperti emas, obligasi pemerintah, dan mata uang tertentu sering menjadi pilihan ketika risiko geopolitik meningkat.

Namun, posisi Bitcoin dalam kategori aset tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan investor.

UNSPLASH/KANCHANARA Ilustrasi bitcoin.

Sebagian pelaku pasar melihat Bitcoin sebagai “digital gold” yang dapat berfungsi sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi.

Namun, pergerakan harga Bitcoin yang masih fluktuatif membuat sebagian investor tetap menganggapnya sebagai aset berisiko.

Volatilitas pasar diperkirakan berlanjut

Perkembangan geopolitik di Timur Tengah akan menjadi faktor penting yang menentukan arah pasar dalam waktu dekat.

Jika konflik terus meningkat dan gangguan pasokan energi berlanjut, harga minyak berpotensi tetap tinggi atau bahkan meningkat lebih jauh.

Kondisi tersebut dapat memicu volatilitas tambahan di pasar saham, komoditas, dan aset kripto.

Sejumlah analis pasar menilai bahwa investor kemungkinan akan tetap berhati-hati hingga ada kejelasan mengenai perkembangan konflik serta dampaknya terhadap pasokan energi global.

Lonjakan harga minyak dan pergerakan pasar keuangan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan betapa eratnya hubungan antara geopolitik, pasar energi, dan pasar keuangan global.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#pasar-saham #harga-minyak-dunia #harga-bitcoin #indepth #bitcoin-btc #harga-minyak-dunia-hari-ini

https://money.kompas.com/read/2026/03/09/124441526/harga-minyak-tembus-110-dollar-as-bitcoin-btc-ikut-bergejolak