The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Saham Global Tertekan
Pasar saham global melemah usai The Fed tahan suku bunga. Harga minyak naik dan inflasi AS memicu tekanan di Wall Street.
(Kompas.com) 19/03/26 04:54 168697
JAKARTA, KOMPAS.com — Pasar saham global melemah pada Rabu. Tekanan berlanjut setelah Federal Reserve menahan suku bunga.
Kenaikan harga minyak dan data inflasi Amerika Serikat turut membebani pasar.
Bank sentral AS memberi sinyal hanya satu kali penurunan suku bunga tahun ini sebesar 25 basis poin. Proyeksi inflasi akhir tahun naik menjadi 2,7 persen dari 2,4 persen pada Desember.
"Secara keseluruhan, investor mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka mendapatkan Fed yang sabar, mengakui bahwa ketegangan di Timur Tengah dapat memperumit lingkungan yang sudah tidak pasti dan mereka masih memproyeksikan satu kali penurunan suku bunga tahun ini meskipun ekspektasi inflasi meningkat, setidaknya berdasarkan proyeksi median," kata Anthony Saglimbene dari Ameriprise Financial.
"Namun sebenarnya ini tentang ketegangan di Timur Tengah, kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali dan apa risikonya terhadap pasokan minyak negara-negara Teluk. Itulah yang menjadi fokus pasar," sambungnya.
Wall Street kompak melemah
Seluruh sektor dalam indeks S&P 500 ditutup di zona merah.
Indeks Dow Jones turun 768,11 poin atau 1,63 persen ke 46.225,15. S&P 500 turun 91,33 poin atau 1,36 persen ke 6.624,76. Nasdaq merosot 327,11 poin atau 1,45 persen ke 22.152,42.
Tekanan pasar diperkuat lonjakan harga energi.
Minyak mentah AS naik 0,11 persen ke 96,63 dollar AS per barel atau sekitar Rp1,63 juta. Brent naik 3,83 persen ke 107,38 dollar AS per barel atau sekitar Rp1,81 juta.
Kenaikan Brent dipicu serangan terhadap ladang gas Pars di Iran. Serangan ini menjadi yang pertama terhadap infrastruktur energi di Teluk sejak konflik AS dan Israel melawan Iran.
Eskalasi tersebut mendorong Iran memperingatkan negara tetangga untuk mengevakuasi fasilitas energi.
Upaya pemerintah AS meredakan tekanan pasokan belum memberi dampak besar. Pemerintahan Donald Trump memberi pengecualian 60 hari terhadap Jones Act untuk memperlancar distribusi bahan bakar dan pupuk.
Inflasi kembali menekan
Data inflasi menunjukkan tekanan masih kuat.
Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index melonjak 0,7 persen pada Februari. Angka ini jauh di atas perkiraan 0,3 persen dan menjadi kenaikan tertinggi sejak Juli.
Secara tahunan, PPI naik 3,4 persen dari 2,9 persen pada Januari.
Data lain menunjukkan pesanan pabrik naik 0,1 persen setelah sebelumnya turun 0,4 persen pada Desember.
Indeks saham global MSCI turun 0,89 persen ke 1.004,00. Indeks STOXX 600 di Eropa turun 0,75 persen.
Perhatian pasar kini tertuju pada kebijakan bank sentral lain. Bank Sentral Eropa, Bank of England, dan Bank Nasional Swiss akan mengumumkan keputusan dalam waktu dekat.
Bank Sentral Australia lebih dulu menaikkan suku bunga menjadi 4,1 persen. Kenaikan dilakukan dua bulan berturut-turut untuk merespons risiko inflasi akibat perang Iran.
Bank Sentral Kanada menahan suku bunga, tetapi membuka ruang kenaikan jika tekanan inflasi berlanjut.
Imbal hasil dan dolar menguat
Imbal hasil obligasi AS meningkat tajam. Imbal hasil obligasi 10 tahun naik 6,3 basis poin ke 4,265 persen. Imbal hasil obligasi 2 tahun naik 10,2 basis poin ke 3,773 persen.
Sepanjang Maret, imbal hasil obligasi 10 tahun naik sekitar 30 basis poin. Obligasi 2 tahun naik 39 basis poin, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Oktober 2024.
Dolar AS ikut menguat. Indeks dolar naik 0,62 persen ke 100,17. Euro turun 0,62 persen ke 1,1467 dollar AS atau sekitar Rp19.420.
Terhadap yen Jepang, dolar menguat ke 159,81 per dollar AS atau sekitar Rp16.924 per yen. Level ini mendekati batas yang sebelumnya memicu intervensi otoritas Jepang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#wall-street #the-fed #suku-bunga-the-fed #pasar-saham-global