Cegah Penularan Campak pada Lebaran, Hindari Interaksi pada Bayi
Hindari interaksi bayi saat Lebaran untuk cegah campak. Imunisasi penting untuk perlindungan. Bayi rentan tertular di keramaian dan transportasi umum.
(Bisnis.Com) 20/03/26 10:45 169578
Bisnis.com, MALANG—Keramaian selama mudik hingga tradisi silaturahim keluarga dinilai berpotensi meningkatkan penyebaran penyakit menular, salah satunya campak sehingga menghindari interaksi pada bayi karena termasuk kelompok yang paling rentan terhadap infeksi tersebut..
Dosen Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus dokter spesialis anak, Pertiwi Febriana Chandrawati, mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap penularan campak, terutama pada anak-anak. Virus campak merupakan salah satu penyakit infeksi yang sangat mudah menyebar di lingkungan dengan interaksi sosial yang tinggi.
“Penularan campak dapat terjadi melalui percikan droplet ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara,” katanya, Kamis (19/3/2026).
Virus tersebut bahkan dapat bertahan di udara dalam waktu tertentu setelah penderita meninggalkan ruangan. Oleh karena itu, keramaian seperti perjalanan mudik, transportasi umum, hingga pertemuan keluarga besar berpotensi meningkatkan risiko penularan.
“Mobilitas masyarakat saat mudik memang dapat meningkatkan potensi penyebaran campak, terutama karena banyak interaksi di ruang tertutup seperti transportasi umum maupun kerumunan keluarga,” jelasnya.
Dia menambahkan, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terhadap penyakit ini. Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam tahap perkembangan sehingga belum mampu melawan infeksi virus secara optimal. Kondisi tersebut membuat anak lebih mudah tertular ketika berada di lingkungan yang padat interaksi.
Selain faktor imun, kondisi nutrisi juga memengaruhi ketahanan tubuh anak terhadap infeksi. Kekurangan nutrisi tertentu dapat memperburuk kondisi ketika anak terpapar virus campak. Pada beberapa kasus, penyakit ini dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga infeksi pada sistem saraf.
Di sisi lain, kebiasaan masyarakat saat Lebaran juga berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit. Banyak orang secara spontan menggendong atau mencium bayi ketika bertemu dalam acara silaturahmi. Menurut Pertiwi, kebiasaan tersebut sebaiknya mulai dibatasi demi melindungi kesehatan anak.
“Kebiasaan memeluk, menggendong, atau mencium bayi dapat meningkatkan peluang penularan penyakit yang menyebar melalui droplet,” ujarnya.
Apabila seorang anak terpapar virus campak, gejala biasanya tidak langsung muncul. Umumnya terdapat masa inkubasi sekitar 10 hingga 12 hari sebelum tanda penyakit terlihat. Setelah itu, anak dapat mengalami demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, hingga muncul ruam pada kulit.
Pada fase awal tersebut, anak sudah dapat menularkan virus kepada orang lain. Karena itu, orang tua perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala seperti demam, batuk, pilek, atau ruam yang mengarah pada campak.
Pertiwi menegaskan bahwa langkah pencegahan paling efektif adalah memastikan anak mendapatkan imunisasi campak secara lengkap sesuai jadwal. Imunisasi membantu tubuh membentuk perlindungan yang kuat terhadap virus campak serta menurunkan risiko komplikasi.
“Imunisasi campak adalah perlindungan terbaik agar anak memiliki imunitas yang kuat dan terhindar dari komplikasi berat,” tuturnya.(K24)
#campak #penularan-campak #cegah-campak #campak-pada-bayi #imunisasi-campak #risiko-penularan-campak #gejala-campak #virus-campak #infeksi-campak #pencegahan-campak #campak-saat-lebaran #bayi-rentan-ca