Dampak The Fed Tahan Suku Bunga, Ekonom Sebut Bikin Rupiah Rentan
The Fed pertahankan suku bunga, picu tekanan pada rupiah, pasar modal, namun emas tetap menarik. Josua Pardede ulas dampak keputusan ini bagi Indonesia.
(Kompas.com) 20/03/26 12:04 169645
JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Sentral AS Federal Reserve atau The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil pada Rabu waktu setempat.
Hal ini karena para pembuat kebijakan berupaya mengatasi angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, sinyal yang beragam di pasar tenaga kerja, dan konflik di Timur Tengah.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, untuk nilai tukar rupiah, hal ini berdampak cenderung berat dalam jangka pendek karena dollar Amerika Serikat tetap kuat ketika suku bunganya belum turun.
"Apalagi jika ketegangan global terus mendorong permintaan terhadap dollar," kata dia kepada Kompas.com, Jumat (20/3/2026).
Sementara itu, suku bunga The Fed yang belum bergerak juga akan berpengaruh pada emas yang arahnya masih cukup kuat.
Hal ini karena ketidakpastian global dan kekhawatiran inflasi biasanya membuat emas tetap dicari sebagai pelindung nilai. "Walau kenaikannya bisa tertahan bila dollar terlalu perkasa," imbuh dia.
Josua menjelaskan, pada pasar modal Indonesia, tekanan masih mungkin terasa pada saham dan surat utang karena dana asing akan lebih selektif, biaya dana global tetap tinggi, dan minat mengambil risiko belum pulih penuh.
Bahkan menurut dia, ruang penurunan suku bunga Indonesia praktis tertutup bila harga minyak rata-rata mencapai 75 dollar AS per barrel dan rupiah rata-rata berada di sekitar 16.750 per dollar AS.
Sedangkan risiko pengetatan kembali muncul bila harga minyak melampaui 80 dollar AS per barrel dan rupiah bergerak mendekati 17.000.
"Artinya, kombinasi yang paling mungkin dalam waktu dekat adalah rupiah tetap rentan, emas masih menarik, dan pasar modal domestik bergerak hati-hati dengan gejolak yang masih tinggi," jelas Josua.
Bagi Indonesia, keputusan menahan suku bunga di Amerika Serikat membuat ruang gerak Bank Indonesia menjadi lebih sempit.
Selisih suku bunga dengan Amerika Serikat harus tetap cukup menarik agar dana asing tidak mudah keluar dan rupiah tidak semakin tertekan.
Menurut Josua, kondisi ini yang membuat Bank Indonesia juga masih menahan suku bunga di 4,75 persen dan makin menekankan upaya stabilitas nilai tukar rupiah.
"Kami menilai ruang penurunan suku bunga di Indonesia pada 2026 kini semakin terbatas karena risiko global naik, premi risiko aset Indonesia meningkat, arus keluar dana membesar, dan rupiah berada di bawah tekanan," ucap dia.
Dengan kata lain, bila suku bunga Amerika Serikat bertahan tinggi lebih lama, maka fokus kebijakan di Indonesia kemungkinan besar tetap pada stabilitas nilai tukar dan ketahanan pasar keuangan, bukan pada pelonggaran yang cepat.
Sebagai informasi, berdasarkan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC), bank sentral Amerika Serikat menahan suku bunga acuannya pada kisaran 3,50 sampai 3,75 persen.
Arah kebijakannya saat ini masih cenderung menahan suku bunga tetap tinggi lebih lama, bukan segera menurunkannya.
Alasannya, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat masih cukup kuat, tingkat pengangguran relatif stabil di 4,4 persen, sedangkan inflasi pengeluaran konsumsi (PCE) masih 2,8 persen dan inflasi inti 3,0 persen.
Dalam proyeksi terbarunya, pejabat bank sentral Amerika Serikat masih melihat suku bunga dapat turun bertahap ke sekitar 3,4 persen pada akhir 2026 dan 3,1 persen pada akhir 2027, tetapi Fed chairman menegaskan jalur itu tidak otomatis dan bisa tertunda bila tekanan harga belum benar-benar mereda.
"Jadi pesan utamanya bukan suku bunga akan segera turun, melainkan menunggu lebih lama sambil mencermati inflasi dan dampak kenaikan harga energi," tutup Josua.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#pasar-modal-indonesia #suku-bunga-the-fed #harga-emas #nilai-tukar-rupiah