Strategi HRTA Jaga Kinerja Tetap Tumbuh Usai Cetak Rekor Laba 2025
PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) mencatat rekor laba 2025 dengan pendapatan Rp44,55 triliun, naik 144,39% YoY.
(Bisnis.Com) 30/03/26 17:41 176709
Bisnis.com, JAKARTA – PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) melalui 2025 dengan capaian all time high (ATH) performance kinerja keuangan.
Emiten perhiasan emas dan emas batangan ini meraih pendapatan Rp44,55 triliun atau tumbuh 144,39% secara year on year (YoY). Di sisi bottom line, HRTA mencatat laba bersih Rp978,49 miliar, naik 121,29% YoY dari Rp442,18 miliar di periode 2024.
Lonjakan pendapatan yang diraup perseroan sejalan dengan pergerakan harga emas global yang melambung hingga 60% year to date (YtD) sepanjang 2025. Kondisi ini mengerek average selling price (ASP) HRTA secara signifikan, dari Rp1,20 juta pada 2024 menjadi Rp1,89 juta di 2025.
Peluang menjaga performa positif di 2026 bagi HRTA masih terbuka mengingat harga emas global masih bertengger di level tinggi. Harga emas di pasar spot per 30 Maret 2026 menguat 0,77% ke US$4.529,79 per ons, mencerminkan pertumbuhan 4,67% YtD.
Direktur Investor Relation HRTA Thendra Crisnanda mengatakan bahwa di 2026 ini HRTA akan fokus pada penguatan ekosistem bisnis emas yang terintegrasi, termasuk peningkatan volume penjualan emas batangan HRTA Gold, optimalisasi jaringan distribusi dan ritel, serta penguatan kemitraan dengan institusi keuangan terutama dalam ekosistem bullion bank.
"Perseroan juga akan terus menjaga efisiensi operasional dan disiplin pengelolaan biaya untuk mempertahankan profitabilitas," ujarnya kepada Bisnis, Senin (30/3/2026).
Menilik rasio profitabilitas yang dicatat perseroan sepanjang 2025, return on assets (ROA) HRTA naik dari 7,42% menjadi 7,76%, mengindikasikan perseroan lebih efisien memanfaatkan aset untuk meraup pendapatan. Sementara itu, return on equity (ROE) meningkat dari 18,82% menjadi 30,29%, menunjukkan bagaimana perseroan dapat lebih memaksimalkan modal yang dimiliki untuk mengonversi pemasukan.
Untuk aksi korporasi yang akan dilakukan pada 2026 ini, Thendra menjelaskan bahwa HRTA akan terus mengeksplorasi peluang ekspansi melalui penguatan kapasitas produksi, pengembangan produk emas investasi, serta perluasan jaringan distribusi.
"Dari sisi pendanaan, perseroan akan tetap mengedepankan struktur pendanaan yang sehat melalui kombinasi fasilitas perbankan dan sumber pendanaan lainnya yang mendukung kebutuhan modal kerja dan ekspansi bisnis," ujarnya.
Adapun, HRTA pada 2025 menunjukkan perbaikan di sisi postur utang. Interest-bearing debt to equity atau rasio yang mengukur besaran utang berbunga dibandingkan dengan ekuitas HRTA turun dari 1,45 kali ke 1,39 kali, mengindikasikan eksposur utang berbunga terhadap ekuitas untuk membiayai bisnis berkurang.
Pada 2025 pendapatan HRTA didominasi dari segmen penjualan emas ke grosir dibandingkan ritel. Pangsanya bahkan meningkat signifikan dari 63,32% pada 2024 menjadi 87,57% pada 2025. Porsi ini termasuk juga mencakup kontribusi dari bullion bank sebesar 71,22%. Sisanya, ada segmen ritel dengan kontribusi sebesar 11,68% dan gadai sebesar 0,32%.
Memasuki tahun buku 2026, Thendra mengatakan peluang HRTA menggenjot kinerja keuangannya berasal dari meningkatnya minat masyarakat terhadap emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global, serta pengembangan ekosistem bullion bank dan permintaan dari institusi keuangan di Indonesia.
Sejumlah institusi keuangan yang sudah meneken kerja sama jual beli emas dengan perseroan pada kuartal I/2026 ini di antaranya PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) dan PT Bank BCA Syariah yang membeli emas batangan bermerek EMASKU dengan kadar 99,99%.
"Sementara itu, tantangan yang dihadapi antara lain volatilitas harga emas global, dinamika kebijakan moneter internasional, serta kondisi geopolitik yang dapat mempengaruhi sentimen pasar dalam jangka pendek," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama HRTA, Sandra Sunanto dalam keterangan resmi menjelaskan bahwa harga emas global sempat berfluktuasi di dua pekan terakhir bulan Maret 2026 ke level US$4.100 per ons. Dinamika tersebut disebabkan oleh kombinasi tekanan makroekonomi dan dinamika likuiditas jangka pendek.
Ketegangan geopolitik, terutama gangguan pasokan minyak, mendorong negara pengimpor energi untuk menggunakan cadangan devisa guna membiayai impor dibandingkan mengakumulasi aset seperti emas.
Di sisi lain, tekanan fiskal pada negara eksportir energi juga berpotensi mendorong penjualan emas dalam jangka pendek. Hal ini menciptakan tekanan sementara terhadap permintaan emas dari bank sentral, sementara investor ritel di pasar seperti India dan China juga cenderung melakukan likuidasi untuk menutupi peningkatan biaya hidup imbas dari inflasi bahan pokok.
"Namun secara fundamental prospek jangka panjang emas tetap positif. Konsensus analis global masih memperkirakan kenaikan harga emas pada tahun 2026, didukung oleh tren pembelian emas oleh bank sentral, ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, serta potensi penurunan suku bunga ke depan," ujarnya.
Survei Reuters memperkirakan estimasi rata-rata harga emas global tahun ini berada di kisaran US$4.700 per ons menurut survei Reuters. Sedangkan ramalan yang lebih bullish mencapai US$5.000 oleh JP Morgan, bahkan bisa melebihi level US$6.000 seperti yang diprediksi oleh UBS AG.
Menyambut peluang tersebut, Sandra menjelaskan bahwa saat ini HRTA sedang dalam tahap finalisasi proses sertifikasi LBMA atau London Bullion Market Association. Ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memenuhi standar kualitas dan tata kelola yang diakui secara global.
“Kami akan terus fokus pada penguatan ekosistem emas terintegrasi, penguatan ekuitas merek, optimalisasi jaringan distribusi, serta inovasi produk untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan sebagai salah satu pelaku utama di Industri Emas Nasional dan Bullion Bank," tandasnya.
#hrta #emas #laba-bersih #pendapatan-hrta #harga-emas-global #emas-batangan #ekosistem-bisnis-emas #bullion-bank #return-on-assets #return-on-equity #ekspansi-bisnis #struktur-pendanaan #penjualan-emas