Breaking! Neraca Dagang RI Surplus US$1,27 Miliar Februari 2026, 70 Bulan Beruntun

Breaking! Neraca Dagang RI Surplus US$1,27 Miliar Februari 2026, 70 Bulan Beruntun

Neraca perdagangan Indonesia surplus US$1,27 miliar pada Februari 2026, menandai 70 bulan berturut-turut surplus sejak Mei 2020 didorong oleh ekspor nonmigas.

(Bisnis.Com) 01/04/26 11:27 178482

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$1,27 miliar per Februari 2026. Dengan demikian, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Meski masih mencatatkan surplus, tapi realisasi tersebut lebih tinggi dari realisasi neraca dagang pada Januari yang senilai US$0,95 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan bahwa Indonesia mencatatkan ekspor Februari 2026 mencapai US$22,17 miliar atau naik 1,01% dibandingkan Februari 2025 (year on year/YoY). Nilai ekspor migas tercatat sebesar US$1,08 miliar atau turun 4,25%. sementara nilai ekspor nonmigas naik 1,30% dengan nilai pada Februari 2026 sebesar US$21,09 miliar.

Ateng menyebut peningkatan nilai ekspor Februari 2026 terutama didorong oleh ekspor nonmigas dari beberapa komoditas yaitu lemak/minyak nabati (HS 15), nikel dan barang daripadanya (HS 75), dan mesin/perlengkapan elektrik (HS 85).

Adapun, nilai impor Februari 2026 mencapai US$20,89 miliar atau naik 10,85% dibandingkan Februari 2025 (year on year/yoy). Nilai impor migas Februari 2026 mencapai US$ 2 miliar atau turun 30,36% secara yoy, sedangkan nilai impor nonmigas Februari 2026 mencapai US$18,90 miliar atau naik 18,24% secara yoy.

Ateng menyebut peningkatan impor Februari 2026 ini didorong oleh impor nonmigas dengan andil 15,47%.

"Pada Februari 2026, neraca perdagangan barang tercatat surplus sebesar US$1,27 miliar. Neraca perdagangan Indonesia dengan ini telah mencatat surplus selama 70 bulan berturut turut sejak Mei 2020," kata Ateng pada Senin (1/4/2026).

Surplus pada Februari 2026 lebih ditopang pada surplus komoditas nonmigas yaitu sebesar US$2,19 miliar dengan komoditas penyumbang surplus utama lemak dan minyak hewani nabati, kemudian bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah ekonom/analis memperkirakan tren surplus neraca dagang Indonesia masih akan berlanjut pada Februari 2026. Akan tetapi, nilainya diperkirakan lebih tipis dibandingkan dengan capaian bulan sebelumnya.

Surplus neraca perdagangan Indonesia diproyeksi menyempit ke angka US$0,84 miliar pada Februari 2026 dari US$0,95 miliar pada bulan sebelumnya, didorong oleh peningkatan impor yang lebih besar dibandingkan ekspor.

Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) Hosianna Evalita Situmorang menyampaikan bahwa pertumbuhan ekspor Tanah Air diperkirakan mencapai 5% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada bulan kedua tahun ini.

“Hal ini didukung oleh stabilisasi/perbaikan harga komoditas unggulan Indonesia seperti batu bara, CPO [crude palm oil/minyak sawit mentah], nikel, dan beberapa mineral olahan,” kata Hosianna saat dihubungi Bisnis, Selasa (31/3/2026).

Sementara itu, pertumbuhan impor Indonesia diperkirakan berada pada level 17,79% secara tahunan pada Februari tahun ini. Persentase tersebut sedikit lebih rendah dari realisasi pertumbuhan impor pada Januari 2026 yang sebesar 18,21% YoY.

Menurut Hosianna, impor diperkirakan tetap kuat mengingat kombinasi sejumlah faktor, antara lain kebutuhan bahan baku dan barang modal. Terdapat pula kontribusi faktor musiman seperti periode pasca-libur, serta persiapan aktivitas domestik.

Terkait adanya gejolak geopolitik di Timur Tengah imbas serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran, dia menyampaikan belum terdapat dampak signifikan terhadap ekspor dan impor Indonesia per Februari 2026. Hal ini dikarenakan eskalasi konflik baru dimulai pada awal Maret.

“Sehingga surplus neraca perdagangan diperkirakan menyempit ke sekitar US$0,84 miliar per Februari 2026,” ujar Hosianna.

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual memproyeksikan surplus neraca perdagangan Indonesia akan mencapai US$1,49 miliar pada Februari 2026, atau justru naik dari surplus bulan sebelumnya sebesar US$0,95 miliar.

David menjelaskan kenaikan surplus neraca dagang tersebut lebih dipengaruhi oleh penurunan impor yang tajam dibandingkan ekspor. Dia memproyeksikan ekspor dan impor pada Februari mengalami kontraksi dibandingkan Januari.

Ekspor diperkirakan terkontraksi 0,5% secara bulanan (month to month/MtM); sementara impor terkontraksi lebih dalam sebesar 3,1% MtM. "Ekspor dan impor sedikit lebih rendah dari Januari karena jumlah hari kerja di Februari yang lebih sedikit," jelas David kepada Bisnis, Senin (30/3/2026).

Sementara secara tahunan, ekspor diramal naik sebesar 0,46% year on year (YoY). Di sisi lain, impor diperkirakan naik lebih tinggi sebesar 8,93% YoY. Lebih lanjut, secara harga, David memaparkan bahwa komoditas impor terutama minyak naik lebih tinggi dibandingkan komoditas ekspor.

"Indikasi surplus dari big data maupun data negara lain relatif kecil, lebih rendah dari bulan-bulan sebelumnya," ujarnya.

#neraca-dagang #surplus-perdagangan #surplus-neraca-dagang #ekspor-indonesia #impor-indonesia #ekspor-nonmigas #ekspor-migas #ekspor-impor #bps #bps-neraca-dagang

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260401/12/1963567/breaking-neraca-dagang-ri-surplus-us127-miliar-februari-2026-70-bulan-beruntun