Rupiah Menguat Sentuh Rp16.983 per Dolar AS, Surplus Neraca Dagang Jadi Penopang

Rupiah Menguat Sentuh Rp16.983 per Dolar AS, Surplus Neraca Dagang Jadi Penopang

Rupiah menguat ke Rp16.983 per dolar AS didukung surplus neraca dagang Indonesia sebesar US$1,27 miliar pada Februari 2026.

(Bisnis.Com) 01/04/26 15:30 178886

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat ke level Rp16.983 pada perdagangan hari ini, Rabu (1/4/2026). Rupiah menguat bersama sejumlah mata uang Asia lainnya.

Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup menguat 0,34% ke Rp16.983 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS melemah 0,31% ke level 99,64.

Sejumlah mata uang Asia lainnya ditutup bervariasi sore ini. Mata uang yen Jepang menguat 0,01%, dolar Hong Kong menguat 0,02%, dolar Singapura naik 0,24%, dolar Taiwan menguat 0,28%, dan won Korea Selatan menguat 0,64%.

Lalu peso Filipina menguat 0,85%, yuan China menguat 0,24%, ringgit Malaysia naik 0,58%, dan baht Thailand menguat 0,23%.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menuturkan sentimen global datang dari Presiden AS Donald Trump yang mengatakan pada hari Selasa bahwa Washington dapat menarik diri dari konflik dalam waktu dua hingga tiga minggu. Dia juga menambahkan bahwa Iran tidak perlu membuat kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

Namun, sebuah laporan Wall Street Journal menyatakan bahwa Trump telah mengatakan kepada para ajudannya bahwa ia bersedia mengakhiri kampanye militer AS terhadap Iran bahkan jika Selat Hormuz tetap sebagian besar tertutup.

Di pihak Iran, media pemerintah melaporkan bahwa Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran siap untuk mengakhiri perang, sambil mengulangi tuntutan utama, memperkuat harapan bahwa negosiasi dapat muncul tetapi tetap bersyarat.

Terlepas dari sinyal diplomatik ini, reaksi pasar cenderung tenang, dengan para pedagang menyeimbangkan harapan akan gencatan senjata dengan kenyataan gangguan pasokan yang berkelanjutan.

Selat Hormuz, arteri penting untuk sekitar seperlima pasokan minyak global telah mengalami penurunan drastis lalu lintas kapal tanker di tengah konflik, yang secara tajam membatasi ekspor dan mempertahankan tekanan kenaikan harga.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$1,27 miliar per Februari 2026. Dengan demikian, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Realisasi tersebut lebih tinggi dari realisasi neraca dagang pada Januari yang senilai US$0,95 miliar.

Surplus pada Februari 2026 lebih ditopang pada surplus komoditas nonmigas yaitu sebesar US$2,19 miliar dengan komoditas penyumbang surplus utama lemak dan minyak hewani nabati, kemudian bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Indonesia juga mencatatkan ekspor Februari 2026 mencapai US$22,17 miliar atau naik 1,01% dibandingkan Februari 2025 (yoy). Adapun, nilai impor Februari 2026 mencapai US$20,89 miliar atau naik 10,85% dibandingkan Februari 2025.

Selain itu, Data Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia merosot ke level 50,1 pada Maret 2026, dari bulan sebelumnya yang berada di angka 53,8. Namun, angka ini masih berada di zona ekspansi. S&P Global melaporkan indeks yang menggambarkan aktivitas manufaktur nasional itu menunjukkan bahwa tidak ada perubahan berarti pada kondisi operasional.

Untuk perdagangan besok, Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah akan ditutup melemah pada rentang Rp16.980-Rp17.020 per dolar AS.

#rupiah-menguat #nilai-tukar-rupiah #dolar-as #surplus-neraca-dagang #mata-uang-asia #kurs-rupiah-hari-ini #ekspor-indonesia #impor-indonesia #harga-minyak-global #selat-hormuz #konflik-iran-as #perdag

https://market.bisnis.com/read/20260401/93/1963686/rupiah-menguat-sentuh-rp16983-per-dolar-as-surplus-neraca-dagang-jadi-penopang