Mengenal Karakteristik & Gejala Covid-19 Cicada, Sempat Hilang Lalu Muncul Lagi

Mengenal Karakteristik & Gejala Covid-19 Cicada, Sempat Hilang Lalu Muncul Lagi

Varian Covid-19 Cicada, subvarian BA.3.2, muncul kembali dengan karakteristik silent circulation dan immune escape, namun belum terbukti lebih menular atau berbahaya.

(Bisnis.Com) 03/04/26 12:47 180976

Bisnis.com, JAKARTA - Varian baru Covid-19 kembali mencuri perhatian global. Kali ini, subvarian BA.3.2 dari virus SARS-CoV-2 yang dijuluki “Covid-19 Cicada” tengah menjadi sorotan karena pola kemunculannya yang tidak biasa.

Penamaan “Cicada” pada varian ini bukan tanpa alasan. Julukan tersebut merujuk pada pola kemunculannya yang sempat “menghilang” atau tidak terdeteksi dalam kurun waktu tertentu, sebelum akhirnya kembali menyebar secara luas, mirip dengan siklus hidup serangga cicada.

Epidemiolog sekaligus pakar kesehatan lingkungan dari Griffith University Dicky Budiman menjelaskan bahwa varian ini memang memiliki karakteristik silent circulation. Varian ini pertama kali muncul pada 2024, kemudian tidak terpantau, dan kembali terdeteksi pada periode 2025 hingga 2026, terutama pada saat ini.

"Inilah yang membuatnya dianalogikan seperti serangga, karena sifatnya yang muncul secara periodik," katanya.

Dicky menyebut varian yang masih merupakan turunan dari Omikron ini juga secara umum juga memiliki karakteristik highly mutated variant. Artinya, terdapat hampir 75 mutasi pada bagian spike protein. Jumlah ini, katanya, jauh lebih banyak dibandingkan varian-varian sebelumnya.

Selain itu, varian ini juga menunjukkan kemampuan immune escape. Mutasi yang terjadi membuat antibodi seseorang yang terkena, baik dari vaksinasi maupun infeksi sebelumnya, menjadi kurang optimal dalam menetralisir virus.

Dengan kata lain, seseorang yang sudah divaksin atau pernah terinfeksi tetap berpotensi tertular kembali. Meski demikian, umumnya infeksi tidak berujung pada kondisi berat, karena vaksin masih terbukti efektif dalam mencegah keparahan dan kematian.

"Namun, penting diketahui juga di WHO, statusnya masih dikategorikan sebagai variant under monitoring. Jadi, belum masuk kategori berbahaya secara global," imbuhnya.

Dicky menyebut, dari sisi kecepatan penularan, hingga kini belum terdapat bukti ilmiah kuat yang menunjukkan bahwa BA.3.2 secara signifikan lebih menular dibandingkan varian Omikron lainnya. Meski begitu, potensi penyebarannya tetap tinggi, terutama karena banyaknya mutasi pada spike protein serta kemampuannya dalam menghindari respons imun (immune escape).

Sementara itu, dari segi gejala, juga belum ditemukan indikasi adanya peningkatan tingkat keparahan. Sebagian besar kasus masih tergolong ringan hingga sedang, tanpa lonjakan signifikan pada angka rawat inap maupun kematian.

Menurutnya, gejala dominan yang perlu diperhatikan meliputi nyeri tenggorokan, batuk, demam, kelelahan, serta hidung tersumbat. Perubahan yang terlihat bukan pada tingkat keparahan penyakit, melainkan pada dominasi gejala di saluran pernapasan bagian atas.

Dicky menambahkan, secara global varian ini telah ditemukan di lebih dari 23 negara dengan tren peningkatan sejak akhir Desember 2025. Di sejumlah wilayah Eropa, bahkan kontribusinya sudah mencapai sekitar 30 persen dari total kasus dibanding subvarian lain.

#covid-19-cicada #varian-baru-covid-19 #subvarian-ba-3-2 #sars-cov-2 #silent-circulation #highly-mutated-variant #immune-escape #variant-under-monitoring #gejala-covid-19-cicada #nyeri-tenggorokan #bat

https://lifestyle.bisnis.com/read/20260403/106/1964081/mengenal-karakteristik-gejala-covid-19-cicada-sempat-hilang-lalu-muncul-lagi