Harga Plastik Melonjak, Industri AMDK UMKM Terancam Tutup

Harga Plastik Melonjak, Industri AMDK UMKM Terancam Tutup

Kelangkaan dan kenaikan harga plastik hingga 70% mengancam bisnis UMKM Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Aspadin desak solusi cepat sebelum banyak industri gulung tikar.

(Kompas.com) 08/04/26 05:02 184541

JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) menyebut, terdapat anggotanya yang terancam tutup imbas kelangkaan dan kemahalan harga plastik.

Ketua Umum Aspadin Firman Sukirman, mengatakan, jika dalam waktu dua bulan ke depan plastik masih langka maka beberapa industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) skala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ambruk.

Firman mengatakan, produsen AMDK saat ini tidak hanya menghadapi kenaikan harga, namun juga kelangkaan.

“Bisa jadi dua bulan ke depan itu ada beberapa industri AMDK yang UMKM itu tidak bisa produksi karena tidak ada bahan baku,” kata Firman saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Pelaku industri AMDK sudah sangat merasakan dampak kenaikan harga plastik yang saat ini tidak lagi di angka 10-20 persen dari kondisi normal.

Beberapa jenis plastik bahkan sudah mengalami kenaikan sampai 70 persen. Akhirnya, industri AMDK tidak memiliki jalan selain menaikkan harga produk air kemasan.

“Mau tidak mau dengan harga yang tidak wajar, maka tidak mau kita melakukan penyesuaian harga. Kenapa? Tidak cukup lagi kita melakukan hanya efisiensi internal,” ujar Firman.

Menurut Firman, pelaku industri AMDK masih bisa melakukan penyesuaian internal jika kenaikan plastik hanya 2-3 persen.

Namun, karena harga plastik yang begitu mahal mereka kini telah menaikkan harga produk air dalam kemasannya.

Beberapa produk air dalam satu bundel kemasan plastik mengalami kenaikan berkisar Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu per kemasan.

Meski demikian, tidak menutup kemungkinan harga air kemasan semakin tinggi seiring fluktuasi harga plastik. “Ada yang naikin Rp 2 ribu, ada yang naikin Rp 3 ribu per karton berarti per dus itu,” kata dia.

Diketahui, plastik mahal dan langka karena pasokan 70 persen bahan bakunya, nafta yang dikirim dari negara-negara Teluk terhenti imbas perang.

Konflik di Asia Barat itu menutup Selat Hormuz, membuat distribusi minyak dan produk petrokimia terganggu.

Adapun nafta merupakan produk olahan dari bahan bakar fosil.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Reynaldi Sarijowan, menyebut harga plastik naik hingga 50 persen dari hari-hari sebelum perang.

“Jauh sebelum memasuki Ramadhan itu masih 10.000. Kemudian bertahap tuh selama sepekan, sepekan, sepekan naik Rp 500, naik Rp 700, naik macam-macam tuh sampai hari ini puncaknya itu naiknya di kita proyeksikan di 50 persen,” kata Reynaldi saat dihubungi Kompas.com, Senin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#aspadin #kelangkaan-plastik #harga-amdk #umkm-amdk

https://money.kompas.com/read/2026/04/08/050200226/harga-plastik-melonjak-industri-amdk-umkm-terancam-tutup