Harga Minyak Dunia Turun di Bawah 100 Dollar AS di Tengah Harapan Pembukaan Selat Hormuz
Harga minyak dunia terjun bebas usai Donald Trump umumkan gencatan senjata dua pekan dengan Iran. Harapan pembukaan Selat Hormuz menyelimuti pasar, namun ketegangan di Timur Tengah masih membayangi.
(Kompas.com) 09/04/26 08:14 185914
NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak mentah dunia anjlok tajam pada akhir perdagangan Rabu (8/4/2026) waktu setempat atau Kamis (9/4/2026) pagi WIB, usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump umumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent anjlok 14,52 dollar AS atau 13,29 persen ke level 94,75 dollar AS per barrel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot 18,54 dollar AS atau 16,41 persen menjadi 94,41 dollar AS per barrel.
Penurunan harga ini terjadi seiring harapan pasar terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap harinya.
"Harga minyak turun sebagai antisipasi pembukaan kembali selat dan pasokan energi yang telah menumpuk dapat melewati jalur pelayaran tersebut," ujar Pendiri Lipow Oil Associates, Andrew Lipow.
Trump sebelumnya memberikan tenggat waktu kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap infrastruktur sipilnya.
Namun, ia kemudian mengumumkan kesepakatan gencatan senjata.
"Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah!" tulis Trump di media sosialnya, setelah pada Selasa kemarin sempat memperingatkan bahwa "seluruh peradaban akan mati malam ini" jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Trump mengatakan bahwa AS akan bekerja sama dengan Iran dan membahas kemungkinan pelonggaran tarif serta sanksi terhadap Teheran.
Meski demikian, situasi di kawasan Timur Tengah masih memanas.
Israel dilaporkan melancarkan serangan besar ke Lebanon, meskipun kelompok Hizbullah yang didukung Iran menghentikan serangan ke wilayah Israel utara dalam kerangka gencatan senjata.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan sejumlah poin dalam proposal gencatan senjata telah dilanggar bahkan sebelum pembicaraan damai dimulai.
Ia menyebut pelanggaran tersebut mencakup serangan di Lebanon, masuknya drone ke wilayah udara Iran, serta penolakan terhadap hak Iran untuk memperkaya uranium.
Di sisi lain, sumber-sumber di perkapalan menyebut angkatan laut Iran masih mengancam kapal yang melintas tanpa izin, sehingga Selat Hormuz tetap tertutup.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan jalur tersebut berpotensi dibuka secara terbatas menjelang pertemuan pejabat AS dan Iran di Pakistan.
Analis Raymond James, Pavel Molchanov, menilai stabilitas pasokan menjadi kunci pergerakan harga minyak ke depan.
"Lalu lintas kapal yang aman di Selat Hormuz akan menjadi poin utama dalam pembicaraan. Harga minyak kemungkinan tetap tinggi dibandingkan sebelum perang hingga ada bukti normalisasi pengiriman," ucapnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#harga-minyak-anjlok #gencatan-senjata-iran #selat-hormuz #tensi-timur-tengah