Dilema Inovasi Ojol: Antara Ambisi AI Aplikator dan Keluhan 'Jarak Jemput' Driver
Grab meluncurkan 13 fitur AI untuk meningkatkan efisiensi dan pendapatan driver, namun driver berharap fitur lebih transparan dan menguntungkan.
(Bisnis.Com) 09/04/26 09:55 186024
Bisnis.com, JAKARTA — Aplikator ride hailing mengoptimalkan peran kecerdasan buatan (AI) guna membantu para mitra agar lebih efisien dan produktif dalam bekerja. Mitra driver memberi respons atas fitur tersebut.
Grab baru saja meluncurkan 13 fitur baru, yang masing-masing fitur dilengkap dengan sentuhan AI, yang diharapkan dapat membuat driver lebih sejahtera.
Chief Product Officer Grab, Philipp Kandal, menjelaskan setiap inovasi yang membuat layanan lebih mudah dan efisien pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan pendapatan mitra.
“Setiap kali kami membuat produk yang lebih mudah, lebih murah untuk konsumen, biasanya meningkatkan pendapatan dari driver,” kata Philipp dalam sesi tanya jawab GrabX di Jakarta pada Rabu (8/4/2026).
Grab melihat peningkatan efisiensi sebagai kunci baik melalui optimalisasi proses di sisi merchant maupun pengurangan waktu tunggu bagi pengemudi sehingga memungkinkan mereka mengambil lebih banyak order dalam waktu yang sama.
Selain itu, Grab juga memperkenalkan berbagai fitur berbasis AI, termasuk driver AI assistant yang memberikan rekomendasi real-time kepada pengemudi untuk memaksimalkan peluang pendapatan di lapangan.
“Driver AI assistant adalah teman yang pintar, dia akan memberi nasihat ke driver, di mana mereka harus bergerak, untuk memaksimalkan peluang,” kata Philipp.
Dalam ajang GrabX 2026, Grab memperkenalkan 13 fitur berbasis AI, yakni Group Ride untuk berbagi perjalanan hingga empat orang dalam satu kendaraan, Grab More yang memungkinkan penggabungan pesanan dari beberapa merchant tanpa ongkir tambahan, serta Grab AI Assistant sebagai asisten pintar untuk membantu kebutuhan harian pengguna.
Selain itu, ada GrabMaps for Consumers yang menghadirkan navigasi lebih cerdas termasuk prediksi perjalanan dan informasi lokasi penting, serta Cash Loan sebagai layanan pinjaman digital berbasis AI.
Untuk kebutuhan perjalanan, Grab menghadirkan Personalised Travel Experience yang mengintegrasikan pengingat perjalanan, GrabStays untuk pemesanan hotel, Discover by Grab untuk rekomendasi kuliner berbasis preferensi pengguna, serta GrabPay for Travel untuk pembayaran lintas negara via QR.
Sementara itu, untuk pemberdayaan usaha dan mitra, diperkenalkan Virtual Store Manager untuk memantau operasional merchant, Cloud Printer untuk otomatisasi pesanan, Tap to Pay yang menjadikan ponsel sebagai alat pembayaran, serta Driver AI Assistant yang membantu pengemudi dengan rekomendasi real-time guna meningkatkan efisiensi dan potensi pendapatan.
Melalui inovasi ini, Grab berharap dapat mendorong peningkatan penggunaan platform sekaligus memperkuat pendapatan baik bagi pengemudi maupun mitra merchant.
Mengenai Coach, asisten pintar bagi mitra pengemudi, Group CEO & Co-Founder Grab, Anthony Tan, mengatakan Coach dikembangkan melalui kolaborasi strategis bersama OpenAI. Saat ini, lebih dari 500.000 mitra pengemudi telah menggunakan sistem ini, dan perusahaan menargetkan ekspansi layanan tersebut kepada jutaan mitra lainnya dalam waktu dekat.
Anthony menekankan pentingnya aksesibilitas teknologi bagi seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, manfaat dari kecerdasan buatan tidak boleh terbatas pada mereka yang memiliki kemampuan teknis tinggi atau modal besar saja, melainkan seluruh pengemudi.
"Ini krusial karena kita hidup di dunia di mana manusia tanpa bantuan AI sangat mungkin tertinggal," ujar Anthony.
Suara Driver
Sementara itu mitra driver menaruh harapan adanya fitur perhitungan yang lebih transparan dan menguntungkan mereka. Ketua Umum Garda Raden Igun Wicaksono mengatakan driver butuh fitur yang benar-benar berdampak pada peningkatan pendapatan pengemudi, seperti pengaturan jam operasional, tarif jemput, pilihan jarak layanan, hingga fleksibilitas pembatalan order tanpa sanksi.
Mengenai fitur perhitungan jarak jemput, dia mencontohkan, ketika konsumen memesan layanan ride hailing dengan jarak antar lima kilometer, pengemudi yang menerima pesanan bisa saja harus menempuh jarak tiga kilometer untuk menjemput. Dengan demikian, total perjalanan mencapai delapan kilometer.
“Namun yang ditentukan sebagai tarif hanya berdasarkan jarak antar saja yaitu lima kilometer, sedangkan jarak jemput tidak dihitung dalam tarif apalagi apabila ternyata driver harus menunggu setelah sampai pada titik jemput,” kata Igun.
Menurut Igun, kondisi tersebut merugikan pengemudi karena harus mengeluarkan biaya operasional (operational expenditure/OPEX) lebih besar, sementara pendapatan masih dipotong biaya aplikasi yang dapat mencapai hampir 50%.
Selama ini, menurut Igun, mekanisme yang ada justru kerap merugikan pengemudi karena berujung pada pembatasan order. Dia juga menekankan perlunya peran pemerintah sebagai pengatur pasar yang adil sekaligus integrator ekosistem, termasuk menghadirkan dukungan investasi untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan platform dan pengemudi.
#ride-hailing #kecerdasan-buatan #ai-aplikator #fitur-ai #driver-sejahtera #grab-fitur-baru #peningkatan-pendapatan #efisiensi-driver #driver-ai-assistant #rekomendasi-real-time #grabx-2026 #group-ride