Cuaca dan Geopolitik Dorong Harga Kopi Brasil
Harga kopi dunia naik karena cuaca buruk di Brasil dan gangguan rantai pasok global. Penguatan mata uang Brasil dan konflik geopolitik juga mempengaruhi.
(Bisnis.Com) 14/04/26 16:20 191025
Bisnis.com, JAKARTA — Harga kopi dunia ditutup menguat pada awal pekan, didorong kekhawatiran penurunan produksi di Brasil serta gangguan rantai pasok global.
Kontrak kopi arabika untuk pengiriman Mei tercatat naik 0,25%, sementara kopi robusta menguat 0,81%. Kenaikan ini membawa harga arabika ke level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Salah satu faktor utama pendorong harga adalah kondisi cuaca di Brasil, sebagai salah satu produsen dan pemasok kopi terbesar di dunia. Laporan Somar Meteorologia sebagaimana dilaporkan Barchart, menunjukkan wilayah Minas Gerais, sebagai sentra produksi arabika terbesar, hanya menerima curah hujan 4,2 mm dalam sepekan, atau sekitar 20% dari rata-rata historis.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi penurunan hasil panen, sehingga menopang harga kopi secara keseluruhan di pasar global.
Selain faktor cuaca, penguatan mata uang Brasil juga turut mendorong harga. Real Brasil yang menguat ke level tertinggi dalam dua tahun terhadap dolar AS membuat eksportir cenderung menahan penjualan, sehingga memperketat pasokan di pasar internasional.
Dari sisi pasokan, kopi robusta justru mendapat dukungan tambahan akibat menipisnya stok. Persediaan robusta di bursa ICE turun ke level terendah dalam lebih dari satu tahun. Hal ini mencerminkan ketatnya ketersediaan komoditas tersebut.
Namun, tekanan masih membayangi kopi arabika seiring meningkatnya stok yang dipantau ICE ke level tertinggi dalam lebih dari enam bulan.
Gangguan logistik global akibat konflik geopolitik juga menjadi faktor penting. Penutupan Selat Hormuz turut meningkatkan biaya pengiriman, asuransi, dan bahan bakar, sehingga menambah beban bagi importir dan pelaku industri pengolahan kopi.
Meski demikian, prospek pasokan global dalam jangka menengah masih relatif kuat. Marex Group Plc. misalnya, memproyeksikan panen kopi Brasil 2026/2027 masih akan memecahkan rekor sebesar 75,9 juta karung, bahkan lebih tinggi dari perkiraan Sucafina sebesar 75,4 juta karung, naik 15,5% secara year-on-year (yoy).
Selain itu, StoneX sebelumnya juga telah menaikkan perkiraan produksi kopi Brasil 2026/2027 menjadi rekor 75,3 juta karung, naik dari perkiraan November sebesar 70,7 juta karung.
Sementara itu, StoneX juga memproyeksikan surplus kopi global 2026 akan meningkat menjadi 10 juta karung dari 1,8 juta karung pada tahun 2025, surplus terbesar dalam 6 tahun.
Dari sisi ekspor, Vietnam sebagai produsen robusta terbesar dunia mencatat peningkatan pengiriman. Menurut Kantor Statistik Nasional Vietnam per 3 April 2026, ekspor kopi negara tersebut pada kuartal I/2026 naik 14% secara tahunan, sehingga menambah tekanan terhadap harga robusta.
Sementara itu, ekspor kopi Brasil justru menunjukkan penurunan signifikan. Kementerian Perdagangan Brasil melaporkan pengiriman kopi hijau pada Februari 2026 turun 27% secara tahunan, diikuti penurunan ekspor pada Maret sebesar 31% yoy.
Secara keseluruhan, Layanan Pertanian Luar Negeri (FAS) USDA menyebutkan bahwa harga kopi saat ini masih mencerminkan tarik-menarik antara risiko jangka pendek, seperti cuaca dan gangguan logistik, dengan prospek pasokan global yang masih melimpah dalam jangka menengah.
#kopi-brasil #harga-kopi #cuaca-brasil #geopolitik-kopi #kopi-arabika #kopi-robusta #produksi-kopi-brasil #pasokan-kopi-global #mata-uang-brasil #stok-kopi-robusta #logistik-kopi #selat-hormuz #ekspor
https://market.bisnis.com/read/20260414/94/1966560/cuaca-dan-geopolitik-dorong-harga-kopi-brasil