Harga Plastik Melonjak Naik, Kemasan Guna Ulang Jadi Alternatif
Kenaikan harga bahan baku plastik dalam beberapa bulan terakhir mulai menekan berbagai sektor industri di dalam negeri.
(Kompas.com) 14/04/26 18:20 191218
JAKARTA, KOMPAS.com — Kenaikan harga bahan baku plastik dalam beberapa bulan terakhir mulai menekan berbagai sektor industri di dalam negeri.
Lonjakan harga plastik ini dipicu oleh tekanan harga minyak global, gangguan rantai pasok, serta ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri manufaktur dan kemasan, tetapi juga merambah ke produsen makanan dan minuman hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergantung pada penggunaan plastik.
KOMPAS.com/AZWA SAFRINA Para penjual plastik di Pasar Pucang Anom, Surabaya yang mengeluhkan harga plastik melambung tinggi.Pelaku usaha mulai merasakan peningkatan signifikan pada biaya kemasan, yang pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan harga produk di tingkat konsumen.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi UMKM yang memiliki keterbatasan dalam menyesuaikan biaya produksi.
Di sisi lain, persoalan lingkungan terkait sampah plastik juga terus menjadi perhatian pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Volume sampah yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan konsumsi memperparah beban pengelolaan sampah nasional.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat, timbunan sampah plastik menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2019, jumlah sampah plastik tercatat sekitar 9 juta hingga 10 juta ton. Angka tersebut meningkat menjadi 10,8 juta ton pada 2020, kemudian 11,6 juta ton pada 2022, 12 juta ton pada 2023, dan diperkirakan mencapai 12,4 juta ton pada 2025.
PIXABAY/STEFAN SCHWEIHOFER Ilustrasi sampah plastik, pengelolaan limbah.Dengan demikian, terjadi peningkatan sekitar 20 sampai 30 persen dalam kurun waktu lima tahun.
Pertumbuhan volume sampah ini disebut lebih cepat dibandingkan dengan kapasitas sistem pengelolaannya.
Secara keseluruhan, data SIPSN menunjukkan bahwa pengelolaan sampah baru mencapai 25 persen dari total 524 tempat pembuangan akhir (TPA) yang tercatat. Artinya, sekitar 75 persen sampah masih belum terkelola secara optimal.
Dalam konteks tersebut, kemasan guna ulang mulai dilihat sebagai salah satu alternatif solusi. Produk seperti galon guna ulang atau kemasan isi ulang untuk kebutuhan rumah tangga dinilai memiliki keunggulan dari sisi biaya dan dampak lingkungan.
Praktisi Komunikasi dan Dosen Periklanan Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia), Andre Donas, menyebutkan preferensi konsumen terhadap kemasan guna ulang masih terjaga.
"Sejumlah pengamatan menunjukkan bahwa konsumen tetap memilih galon guna ulang dalam aktivitas sehari-hari untuk kebutuhan rumah tangga dan tempat kerja," kata Andre dalam keterangannya, Selasa (14/4/2026).
Ia menjelaskan, konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan aspek keamanan dan higienitas air minum, tetapi juga dampaknya terhadap lingkungan. Menurut dia, penggunaan galon guna ulang menjadi relevan di tengah kenaikan harga plastik yang cukup tinggi.
"Pemakaian galon guna ulang dinilai menjadi solusi bagi kondisi yang terjadi saat ini di saat harga plastik mengalami kenaikan yang tinggi," ujarnya.
Tren peningkatan penggunaan kemasan guna ulang juga tercermin dalam hasil survei Pusat Riset Konsumen Ganesha (PRKG).
Peneliti Senior PRKG, Aan Rusdianto, mengatakan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap galon guna ulang berbahan polikarbonat terus meningkat.
DOK. Shutterstock. Ilustrasi galon isi ulang.Aan mengungkapkan, survei yang dilakukan terhadap organisasi media, perusahaan, dan institusi pemerintah menunjukkan tingkat penggunaan galon guna ulang di wilayah Jakarta, Bekasi, Depok, dan Tangerang mencapai 89,36 persen.
Sementara itu, hanya 5,32 persen responden yang masih menggunakan galon sekali pakai.
"Umumnya alasan mereka memakai galon guna ulang karena aman, praktis, tidak menimbulkan sampah tambahan dan tidak pernah ada keluhan selama bertahun-tahun menggunakan," kata Aan.
Sementara itu, lonjakan harga plastik di Indonesia tercatat mencapai 50 hingga 100 persen per April 2026. Kenaikan tersebut berdampak langsung pada biaya produksi barang, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap harga jual di tingkat konsumen.
Sejumlah pelaku usaha mulai mencari alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan untuk menekan biaya sekaligus merespons isu keberlanjutan. Upaya ini juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah.
Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), misalnya, melakukan pendampingan kepada pelaku UMKM untuk beralih ke kemasan ramah lingkungan.
Program ini mencakup skema pembelian kolektif langsung ke produsen lokal guna memotong rantai distribusi, serta pemanfaatan bahan berbasis serat alam.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati, mengatakan bahwa pihaknya mendorong penggunaan material lokal sebagai pengganti plastik.
"Kami mendorong penggunaan kemasan berbasis kearifan lokal seperti serat alam seperti mendong, pandan, kelapa yang melimpah di DIY sebagai pengganti plastik pelapis atau wadah," kata Yuna.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya untuk mengurangi ketergantungan pada plastik sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya lokal yang tersedia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#plastik #sampah-plastik #penggunaan-plastik #kemasan-guna-ulang #harga-plastik