Posisi kripto dinilai makin kuat di tengah dinamika geopolitik global
Pelaku pasar dalam negeri menyatakan posisi kripto semakin kuat di tengah dinamika geopolitik global sebagaimana terlihat dari melonjaknya harga Bitcoin 6 ...
(Antara) 15/04/26 15:33 192162
Kenaikan harga Bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan dinamika pasar menunjukkan bahwa kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai,
Jakarta (ANTARA) - Pelaku pasar dalam negeri menyatakan posisi kripto semakin kuat di tengah dinamika geopolitik global sebagaimana terlihat dari melonjaknya harga Bitcoin 6 persen hingga mendekati level 75.000 dolar AS pada Senin (13/4), menyusul fenomena short squeeze masif yang dipicu blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat (AS).
Kemudian, Iran merespons dengan kebijakan tak terduga, yakni mewajibkan pembayaran "Tol Bitcoin" bagi seluruh kapal tanker yang melintasi jalur tersebut.
Dinamika geopolitik ini, menurut Vice President Indodax Antony Kusuma dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, tidak hanya memicu likuidasi posisi short senilai ratusan juta dolar, tetapi juga mengukuhkan fungsi kripto sebagai alat strategis dalam ekonomi modern.
"Kenaikan harga Bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan dinamika pasar menunjukkan bahwa kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai," kata dia.
Fenomena seperti penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara, lanjutnya, menjadi sinyal bahwa adopsi kripto terus berkembang, tidak hanya di level ritel tetapi juga dalam konteks global yang lebih luas.
Langkah Iran mengenakan tarif setara 1 dolar AS per barel dalam bentuk Bitcoin menciptakan permintaan organik yang masif secara instan.
Sistem pembayaran berbasis blockchain ini digunakan Iran untuk memastikan transaksi tetap berjalan dan strategi untuk menghindari sanksi internasional dengan memanfaatkan sistem keuangan di luar jangkauan AS.
Di sisi lain, inflasi (CPI) Amerika Serikat yang naik ke 3,3 persen pada Jumat (10/4) menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tren 1 – 2 tahun terakhir yang rata-rata berada di kisaran 2,4 – 3 persen.
Kenaikan harga akibat konflik Timur Tengah meningkatkan ekspektasi bahwa inflasi akan tetap tinggi, sehingga mendorong investor melakukan diversifikasi ke aset alternatif seperti Bitcoin, serta memperkuat narasi sebagai safe haven di tengah tekanan pada nilai mata uang konvensional.
Pada kisaran harga 74.000 - 75.000 dolar AS saat ini, pergerakan Bitcoin menunjukkan penguatan turut didukung oleh arus masuk dana (inflow) ke ETF Bitcoin spot yang mencapai sekitar 1,94 miliar dolar AS sepanjang Maret hingga April.
Dukungan likuiditas ini memperkuat struktur harga dan menjaga momentum positif dalam jangka pendek.
Sentimen positif ini turut mendongkrak aset kripto lainnya, berdasarkan data CoinMarketCap, Ethereum (ETH) terdongkrak naik 8 persen ke level 2.380 dolar AS, diikuti Solana (SOL) yang menguat 5,2 persen ke 86,60 dolar AS, serta BNB yang naik 3,2 ke posisi 615,50 dolar As.
Menurut Antony, dinamika ini menunjukkan bahwa industri kripto mulai memasuki fase baru dalam adopsinya, jika sebelumnya kripto lebih banyak dipandang sebagai aset spekulatif, saat ini perannya mulai meluas ke ranah geopolitik dan perdagangan internasional.
"Ini adalah perkembangan yang penting, karena memperlihatkan bahwa teknologi blockchain memiliki relevansi yang semakin nyata dalam sistem ekonomi global," katanya.
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar kripto. Faktor lain seperti kebutuhan likuiditas menjelang Producer Price Index dan penjualan pajak di AS, serta perubahan kebijakan moneter berpotensi mempengaruhi pergerakan harga jangka pendek.
Oleh karena itu, lanjutnya investor diimbau untuk tetap mengedepankan manajemen risiko dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan sentimen sesaat.
Dikatakannya, secara historis, April merupakan bulan positif bagi Bitcoin, dengan rata-rata kenaikan 69 persen sejak 2013 ditutup di zona hijau.
Namun, tahun ini pergerakan pasar lebih dipengaruhi faktor geopolitik dan makroekonomi, serta dampak lanjutan dari koreksi harga tahun lalu, hingga kuartal kedua 2026, Bitcoin tercatat naik sebesar 8,64 persen.
Antony menilai perkembangan ini mencerminkan pergeseran peran kripto dari sekadar instrumen investasi menjadi bagian dari dinamika ekonomi global.
Pewarta: Subagyo
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
#kripto #geopolitik #bitcoin #indodax #aset-kripto #selat-hormuz