Korporasi Ragu Terapkan Agentic AI karena Masalah Perlindungan Data

Korporasi Ragu Terapkan Agentic AI karena Masalah Perlindungan Data

Perusahaan ragu adopsi agentic AI karena masalah keamanan data. Hanya 5% yang menerapkannya meski 85% sudah bereksperimen. Cisco dorong Zero Trust Access untuk keamanan.

(Bisnis.Com) 15/04/26 20:00 192529

Bisnis.com, JAKARTA — Transformasi perusahaan menuju tenaga kerja agentic menyimpan problematika besar pada sisi keamanan sehingga membuat perusahaan lambat dalam mengadopsi agen AI atau generasi selanjutnya dari kecerdasan buatan (AI).

Berdasarkan survei terbaru Cisco terhadap pelanggan enterprise utama, ditemukan fakta kontradiktif. Sebanyak 85% responden melaporkan telah bereksperimen dengan agen AI, tetapi hanya 5% yang benar-benar berani menerapkannya dalam lingkungan produksi.

Ketimpangan ini dipicu oleh keraguan mendalam mengenai tata kelola dan perlindungan data saat mesin mulai mengambil keputusan tanpa intervensi langsung manusia.

President dan Chief Product Officer Cisco Jeetu Patel mengatakan masalah utama dalam ekosistem agentic AI adalah ketidaksiapan infrastruktur keamanan lama dalam mengenali identitas non-manusia.

Sebagian besar perusahaan saat ini bahkan tidak mengetahui agen mana yang sedang berjalan di jaringan mereka, apalagi menentukan siapa pihak yang bertanggung jawab jika terjadi kegagalan atau penyalahgunaan tindakan.

Laporan 2025 Cisco Talos Year in Review menunjukkan penyerang secara dominan menargetkan komponen autentikasi dan perantara kepercayaan antar-sistem.

Fokus serangan terhadap identitas ini diprediksi meningkat seiring maraknya beban kerja berbasis agen. Sistem keamanan tradisional yang dirancang untuk pengguna manusia kini menghadapi titik buta karena tidak mampu memahami konteks di balik permintaan otomatis yang dilakukan oleh agen AI.

“Agen AI bukan hanya mempercepat pekerjaan yang sudah ada, mereka adalah tenaga kerja baru yang secara signifikan dapat memperluas pencapaian organisasi,” ujar Jeetu dikutip Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, untuk membuka adopsi agentic AI di korporasi, tim keamanan memegang kunci penting untuk memastikan tenaga kerja.

Adapun untuk mendorong adopsi agentic AI yang lebih halus di perusahaan, Cisco memperkenalkan perluasan konsep Zero Trust Access yang dikhususkan bagi agen. Melalui fitur Agent Identity Management pada Duo IAM, setiap agen kini diberikan identitas terverifikasi yang terhubung langsung dengan pemilik manusia yang bertanggung jawab. Hal ini memungkinkan setiap tindakan agen dapat dilacak secara akurat.

Langkah ini diperkuat dengan penerapan kebijakan Model Context Protocol (MCP). Protokol tersebut berfungsi sebagai gerbang (gateway) yang mengarahkan lalu lintas data agen, memastikan setiap izin yang diberikan bersifat sangat spesifik (fine-grained) dan hanya berlaku untuk tugas tertentu dalam waktu singkat. Strategi ini bertujuan menghilangkan celah manipulasi dari dunia luar terhadap logika internal agen.

Sementara itu, CISO North America di Insight Jeremy Nelson, berpendapat banyak organisasi sangat antusias mengadopsi AI, namun mereka perlu melakukannya tanpa menimbulkan celah perlindungan.

Tanpa perombakan fondasi keamanan yang mampu bergerak secepat mesin, ambisi perusahaan untuk mengintegrasikan agen AI dalam rantai bisnis utama berisiko terhenti pada tahap eksperimen semata. Efektivitas teknologi ini pada akhirnya sangat bergantung pada sejauh mana organisasi mampu memitigasi risiko otonomi mesin di dalam jaringan mereka.

"Zero Trust Access untuk agen AI memberikan visibilitas terhadap identitas agen dan membatasi akses hanya pada kebutuhan yang benar-benar diperlukan," ujarnya.

#agentic-ai #perlindungan-data #keamanan-ai #kecerdasan-buatan #tata-kelola-data #infrastruktur-keamanan #identitas-non-manusia #penyerang-autentikasi #beban-kerja-agen #sistem-keamanan-tradisional #ad

https://teknologi.bisnis.com/read/20260415/101/1966947/korporasi-ragu-terapkan-agentic-ai-karena-masalah-perlindungan-data