Azko (ACES) Bidik Pertumbuhan Positif SSSG 2-4% pada 2026, Ini Prospeknya
PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES) menargetkan pertumbuhan SSSG 2-4% pada 2026 setelah kinerja negatif 2025. Tantangan utama adalah pelemahan rupiah dan daya beli.
(Bisnis.Com) 16/04/26 14:54 193382
Bisnis.com, JAKARTA – Emiten ritel modern PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES) menargetkan pertumbuhan positif rata-rata penjualan toko di kisaran 2%-4% sepanjang 2026 setelah kinerja negatif sepanjang tahun lalu.
Peritel dengan jenama Azko tersebut melaporkan kinerja same store sales growth (SSSG) pada Desember 2025 sebesar -9,9% secara tahunan. Seperti yang dikutip dari riset CGS International Sekuritas Indonesia, kinerja negatif tersebut menambah tekanan hingga SSSG secara keseluruhan sepanjang 2025 menjadi -4,2% secara tahunan, yang mencerminkan basis tinggi tahun 2024 dan daya beli yang lebih lemah.
Pelemahan SSSG terjadi di semua wilayah pada Desember 2025 dengan Jakarta -8,3%, Jawa di luar Jakarta -10,7%, dan di luar Jawa -9,5%.
Head of Corporate Communications & Sustainability ACES Melinda Pudjo mengatakan akan terus mengupayakan kinerja fundamental tahun ini tetap tumbuh secara positif, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian di tengah dinamika daya beli masyarakat dan kondisi geopolitik global.
“Kami menargetkan pertumbuhan SSSG di kisaran 2% - 4% pada tahun ini, " ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Analis CGS International Sekuritas Indonesia Baruna Arkasatyo memperkirakan SSSG Azko sepanjang 2026 akan datar, dan kembali positif pada Feb-Mar 2026 didukung oleh basis yang lebih rendah dan pemulihan permintaan secara bertahap.
"Namun, masih terlalu dini untuk mengatakan apakah penjualan telah stabil secara struktural atau pulih,"tulisnya dalam riset tertulis.
Salah satu risiko utama yang membayangi ACES adalah pelemahan rupiah terhadap yuan China (RMB). Pasalnya, sekitar 75%–80% persediaan barang perusahaan masih berasal dari China hingga sembilan bulan pertama 2025.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya pengadaan, terutama jika apresiasi RMB terus berlanjut. Tantangan semakin besar apabila perusahaan tidak mampu meneruskan kenaikan biaya tersebut ke harga jual, di tengah daya beli yang masih lemah dan persaingan ketat dengan platform e-commerce.
Jika skenario tersebut terjadi, margin laba kotor (gross profit margin/GPM) berpotensi tertekan, khususnya pada paruh kedua 2026. Oleh karena itu, perbaikan kinerja operasional diperkirakan lebih dulu terlihat pada kuartal I/2026, dibandingkan ekspansi pertumbuhan yang lebih struktural pada semester I/2026.
Dari sisi valuasi, saham ACES saat ini diperdagangkan pada kisaran price to earnings (P/E) 8,6 kali untuk proyeksi 2026, yang mencerminkan bahwa pelemahan SSSG sepanjang 2025 telah terakomodasi dalam harga saham.
Di tengah tantangan tersebut, ekspansi gerai tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ACES pada 2026 dengan mengembangkan dua format toko, yakni Azko sebagai format utama dan NEKA sebagai konsep yang lebih baru.
Meski margin laba kotor NEKA masih di bawah AZKO, peningkatan produktivitas diyakini dapat mendorong margin operasional (operating profit margin/OPM) mendekati level AZKO dalam jangka panjang.
Analis pun mempertahankan rekomendasi add saham ACES dengan target harga Rp500 per saham, atau setara 10,2 kali P/E 2026, dengan asumsi pertumbuhan laba per saham (EPS) sekitar 12%. Selain itu, ACES juga dinilai menawarkan daya tarik dari sisi imbal hasil dividen yang diperkirakan mencapai 7%.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#azko-pertumbuhan-sssg #aces-target-2026 #same-store-sales-growth #azko-kinerja-2025 #daya-beli-masyarakat #pelemahan-rupiah #biaya-pengadaan-china #margin-laba-kotor #ekspansi-gerai-aces #format-toko