Sugar Co Rugi Rp 680 Miliar, Masalah Tak Hanya Gula Rafinasi

Sugar Co Rugi Rp 680 Miliar, Masalah Tak Hanya Gula Rafinasi

Sugar Co rugi Rp 680 miliar pada 2025. Pengamat soroti manajemen, ketergantungan bahan baku, hingga masalah struktural industri gula.

(Kompas.com) 16/04/26 18:17 193684

JAKARTA, KOMPAS.com - Kinerja PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) atau Sugar Co menjadi sorotan setelah mencatat kerugian Rp 680 miliar pada 2025.

Tekanan terhadap subholding gula milik PT Perkebunan Nusantara III (Persero) atau PTPN Group dinilai tidak hanya berasal dari maraknya gula rafinasi di pasar konsumsi.

Masalah juga terkait manajemen dan struktur industri gula nasional.

Gula rafinasi yang seharusnya untuk industri diduga masuk ke pasar konsumsi. Kondisi ini menekan daya saing gula produksi dalam negeri.

Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menilai kerugian tidak hanya dipicu faktor tersebut.

Ia menyoroti kinerja manajemen yang dinilai belum optimal. Sugar Co dibentuk pada 2022 melalui konsolidasi sejumlah pabrik gula milik PTPN Group.

Namun, kinerjanya dinilai belum menunjukkan perubahan signifikan.

Luas lahan perusahaan diperkirakan sekitar 51.000 hektare. Angka ini hanya mampu memenuhi sekitar 10 persen kebutuhan tebu. Sekitar 90 persen pasokan masih bergantung pada pihak eksternal, terutama petani.

“Jadi relatif meskipun sudah dikonsolidasi kinerjanya gak berubah. Sugar Co itu kalau digabung keseluruhannya lahan yang dimiliki, kalau saya gak salah ingat itu hanya 51.000. Nah itu kira-kira berapa persen dari kebutuhan tebu hanya 10 persen. Sisanya 90 persen,” ujar Khudori.

Ketergantungan ini membuat struktur bisnis belum mandiri dari sisi bahan baku.

Pada awal pembentukan, Sugar Co sempat menawarkan hingga 49 persen saham kepada investor. Namun, minat pasar dinilai belum terlihat signifikan.

Khudori juga menyoroti perubahan pola transaksi di tingkat petani sejak 2020.

Sistem beli putus semakin berkembang. Petani menjual tebu langsung ke pabrik dan menerima pembayaran di muka. Skema ini menuntut pabrik memiliki kemampuan finansial yang kuat.

Pabrik gula BUMN harus bersaing dengan swasta yang mampu menawarkan harga lebih tinggi.

“Sebenarnya petani itu apapun dia makhluk ekonomi yang rasional ya jadi kalau kebijakan pemerintah tidak memberikan kepastian tidak memberikan insentif ekonomi yang baik, pasti dia exit dari pemerintah,” pungkasnya.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen memiliki pandangan berbeda.

Ia membantah kerugian disebabkan oleh gula rafinasi. Menurutnya, persoalan utama terletak pada manajemen.

“Bukan karena gula impor, tetapi manajemennya tidak kreatif dan tidak mampu bekerja optimal,” ungkap Soemitro.

Ia mendorong evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Sugar Co. Soemitro juga menyinggung kegagalan swasembada gula selama bertahun-tahun.

Kondisi ini dinilai terkait kebijakan yang tidak rasional dan kurang memperhatikan kondisi petani.

Pandangan ini sejalan dengan Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (ID FOOD) Ghimoyo. Ia mengakui kualitas gula produksi BUMN belum optimal.

Kondisi ini dipengaruhi usia pabrik yang sudah tua dan membutuhkan revitalisasi.

Sebelumnya, Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria menyebut Sugar Co mencatat kerugian Rp 680 miliar pada 2025.

Menurut dia, kerugian dipicu harga yang tidak kompetitif dan impor gula rafinasi yang tidak terkendali.

“Sugar Co membukukan rugi Rp 680 miliar akibat harga yang tidak cukup baik, serta impor gula yang tidak terkontrol,” ucap Dony dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (8/4/2026).

Ia menilai kebocoran pasar harus segera diatasi. Tanpa perbaikan, industri gula nasional akan semakin tertekan.

“Kita harus melakukan transformasi di industri gula. Jika tidak ada perbaikan, perusahaan sebesar SGN saja bisa merugi, apalagi masyarakat,” katanya.

Pemerintah telah melakukan berbagai intervensi. Salah satunya melalui subsidi hingga Rp 1,5 triliun untuk menyerap gula dari petani.

Namun, langkah ini dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap perbaikan kinerja industri gula nasional.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#gula #gula-rafinasi #sugar-co

https://money.kompas.com/read/2026/04/16/181740626/sugar-co-rugi-rp-680-miliar-masalah-tak-hanya-gula-rafinasi