Petani Sawit di Pesisir Selatan Sumbar Berpotensi Rugi Rp 492 Miliar per Tahun, Potongan Jadi Biang Kerok
Petani sawit di Pesisir Selatan Sumbar bisa merugi Rp 492 miliar per tahun meski harga minyak sawit naik imbas perang di Timur Tengah.
(Kompas.com) 16/04/26 21:58 193924
KOMPAS.com - Petani sawit di pesisir selatan Sumatera Barat (Sumbar) bisa mengalami kerugian Rp 492 miliar per tahun.
Hal ini disebabkan selisih harga tanda buah segar (TBS) petani sawit di pesisir selatan paling rendah di Sumbar.
Tingginya potongan timbangan di pabrik kepala sawit juga semakin membebani petani.
"Kalau ditotal, kerugian petani bisa mencapai Rp 492 miliar per tahun hanya karena selisih harga," jelas anggota DPRD Kabupaten Pesisir Selatan, Novermal, dikutip dari Kompas.com, Kamis (16/4/2026).
Menurut Novermal, harga TBS kebun rakyat di Pesisir Selatan cuma di angka Rp 3.000 per kilogram.
Padahal di daerah lain misalnya Sijunjung mencapai Rp 3.600 per kilogram.
Lalu dengan hitungan luas kebun rakyat mencapai 41.000 hektar dan asumsi produksi minimal 1.000 kilogram per hektar, petani sawit diperkirakan mengalami kerugian Rp 41 miliar per bulan. Jika ditotal maka setahun berpotensi rugi Rp 492 miliar.
Sebetulnya, persoalan TBS di sana sudah berupaya diselesaikan melalui dua kali rapat dengan pendapat di DPRD meski belum ada hasilnya.
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 13 Tahun 2024 yang mengatur pembelian TBS kelapa sawit, baik untuk kebun plasma maupun kebun rakyat dinilai tak efektif di Pesisir Selatan Sumbar karena Peraturan Gubernur (Pergub) setempat belum ada.
"Pergub sebagai turunan aturan itu belum ada, sehingga implementasinya di lapangan belum berjalan," kata Novermal.
Novermal lantas meminta Pemerintah Provinsi Sumbar dan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan segera mengambil langkah konkret untuk melindungi petani sawit di sana.
Padahal adanya perang di Timur Tengah menaikkan harga komoditas termasuk minyak sawit.
Harga minyak sawit naik
Sementara itu, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengakui jika harga minyak goreng naik.
"Ya ada sedikit juga yang naik karena kan imbas dari, kan mereka kemasannya plastik semua," jelasnya, Kamis (16/4/2026).
Pemerintah menahan harga eceran tertinggi (HET) Munyakita di angka Rp 15.700 per liter meski harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) naik imbas perang di Timur Tengah.
"Sekarang kan masih bisa. Ya masih bisa, ya memang itu kan fungsinya untuk menstabilkan harga ya biar harga yang lain enggak naik," tuturnya.
Sebagaimana diketahui, harga CPO diproyeksikan terus meningkat hingga Juni 2026 mendatang.
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com dengan judul "Harga Rendah dan Potongan Tinggi, Petani Sawit Pesisir Selatan Sumbar Rugi Rp 41 Miliar Per Bulan" dan "Mendag Akui Harga Minyak Goreng Naik, Tapi Bantah Langka"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang