Ingin Kurangi Impor Petrokimia, Menperin: Stok Plastik Seharusnya Tak Ada Masalah

Ingin Kurangi Impor Petrokimia, Menperin: Stok Plastik Seharusnya Tak Ada Masalah

Kemenperin ingin kurangi impor petrokimia dan stok plastik seharusnya tak ada masalah.

(Kompas.com) 16/04/26 22:00 193926

KOMPAS.com - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan jika pemerintah ingin mengurangi secara bertahap impor bahan baku pembuatan plastik yakni petrokimia terutama dari Timur Tengah.

Adanya gejolak di Selat Hormuz membuat suplai bahan baku plastik tersendat.

"Peristiwa ini semakin menegaskan pentingnya membangun industri petrokimia nasional yang kuat dan mandiri, agar ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat terus dikurangi," kata Agus dikutip dari Kompas.com, Kamis (16/4/2026) saat bertemu dengan para pelaku industri hulu petrokimia.

Usaha untuk mengurangi impor bisa memanfaatkan sumber alternatif yang tersedia seperti CPO (Crude Palm Oil).

Kemenperin akan melihat seperti apa tantangan perekonomian bila menggunakan CPO sebagai bahan baku pembuatan plastik.

"Kita harus melihat seluruh potensi sumber daya nasional yang bisa menjadi alternatif bahan baku industri petrokimia, termasuk CPO, meskipun tantangan keekonomiannya masih perlu dihitung secara matang," jelasnya.

Bagi pelaku industri petrokimia, mereka menyampaikan agar diberikan kemudahan akses akan bahan baku yang berkualitas sehingga meningkatkan daya saing agar tak kalah dari produk impor.

Agus menanggapi positif usulan ini dimana pemerintah siap hadir menjaga ketahanan manufaktur nasional.

"Kemenperin akan terus hadir bersama pelaku industri dalam menjaga ketahanan sektor manufaktur nasional menghadapi dinamika global," jelasnya.

Agus menjelaskan jika stok plastik saat ini harusnya tak masalah.

"Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Saya garis bawahi kata seharusnya, karena pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat yang berdampak terhadap produksi dan stok subsektor ini," jelasnya.

Harga plastik melonjak

Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) menjelaskan jika pasar mulai menaikkan harga jual plastik.

"Harga bahan baku plastik yang sebelumnya sekitar 1.000 dolar AS per metrik ton, kini sudah naik hingga 1.800 dolar AS per metrik ton. Artinya kenaikannya hampir 80 persen," jelas Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono, Rabu (15/4/2026).

Kenaikan harga plastik mulai dirasakan di sektor hilir. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) paling merasakan kenaikannya.

"Selama hampir 20 hari kita fokus distribusi Lebaran. Begitu pasar kembali normal, harga langsung melonjak dan pelaku usaha kaget," katanya.

Menurut Fajar, saat ini yang penting ada suplai terlebih dahulu dan harga yang nantinya menyesuaikan.

Artikel ini pernah tayang di Kompas.com dengan judul "Kumpulkan Industri Hulu-Hilir Plastik, Menperin Komitmen Jaga Stabilitas Pasokan Nasional" dan "Harga Plastik Melonjak hingga 80 Persen, Industri Masuk Fase “Ganti Harga”

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#menperin #petrokimia #harga-plastik #stok-plastik

https://money.kompas.com/read/2026/04/16/220058726/ingin-kurangi-impor-petrokimia-menperin-stok-plastik-seharusnya-tak-ada