Negosiasi Kapal Pertamina di Selat Hormuz Alot, Ini Kendala yang Dihadapi RI
Dua kapal Pertamina masih tertahan di Selat Hormuz di tengah proses negosiasi yang belum menemui titik terang.
(Kompas.com) 23/04/26 09:00 200028
JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Indonesia masih terus berupaya menegosiasikan nasib dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang hingga kini belum dapat melintasi Selat Hormuz.
Kedua kapal tersebut, Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih tertahan di kawasan Teluk Arab di tengah dinamika keamanan jalur pelayaran strategis tersebut.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono mengungkapkan bahwa proses diplomasi terus dilakukan melalui Kedutaan Besar RI di Teheran.
“Tentu saja Kementerian Luar Negeri dalam hal ini Kedutaan Besar kita di Teheran juga terus melakukan pembicaraan,” kata Sugiono di Kantor KSP, Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Ia menjelaskan, salah satu kendala utama yang dihadapi Indonesia adalah situasi internal di Iran yang turut memengaruhi implementasi kebijakan di lapangan.
“Permasalahnya jadi semakin kompleks dengan situasi internal di Iran sendiri, karena kadang-kadang apa yang menjadi kebijakan dari atas tidak serta merta bisa diimplementasi di lapangan. Kemudian tentu saja ada perkembangan lagi tentang blokade Hormuz,” ujar Sugiono.
Pernyataan serupa juga disampaikan dalam konferensi pers lain, di mana ia menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya agar kapal Indonesia segera memperoleh izin melintas.
Negosiasi menyentuh isu blokade hingga syarat pelayaran
Sugiono juga menyebutkan bahwa pembahasan tidak hanya terbatas pada izin lintas kapal, tetapi juga mencakup dinamika blokade Selat Hormuz serta syarat-syarat pelayaran yang masih dinegosiasikan.
“Kemudian tentu saja ada perkembangan lagi tentang blokade Hormuz. Kemudian juga ada beberapa perkembangan terkait dengan syarat-syarat dari kapal boleh lewat dan sebagainya dan sebagainya, yang itu masih menjadi hal-hal yang kita negosiasikan dan kita bicarakan,” tutur dia.
Selain itu, muncul pula wacana terkait pungutan biaya bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz. Namun, usulan tersebut mendapat penolakan dari sejumlah negara.
“Jadi, saya mewakili Bapak Presiden hadir secara online itu daring di rapat tersebut. Yang intinya, pertama bahwa negara-negara yang ikut di dalam konferensi tersebut menolak segala jenis pemungutan fee atau tol bagi kapal-kapal yang lewat di Hormuz,” jelasnya.
Menurutnya, hal tersebut berkaitan dengan prinsip freedom of navigation yang menjadi dasar hukum pelayaran internasional.
GOOGLE MAPS Ilustrasi Selat Hormuz.Dampak kapal tertahan dan posisi energi nasional
Dari sisi operasional, dua kapal Pertamina yang tertahan tersebut membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah. Namun, pemerintah menilai jumlah tersebut masih relatif kecil dibandingkan kebutuhan energi nasional.
“Kalau misalnya disandingkan dengan kebutuhan energi kita merupakan satu kebutuhan yang relatif kecil. Jadi perbandingannya kurang lebih seperti itu. Jadi supaya kita tidak hilang gambaran. Jangan nanti kuman di seberang lautan kelihatan tapi gajah di pelupuk mata nggak kelihatan,” ujar Sugiono.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan menjaga pasokan energi nasional jauh lebih besar dibanding dampak keterlambatan dua kapal tersebut.
“Tanpa bermaksud mengecilkan permasalahan ini. Tapi saya ingin menempatkan ini dalam satu persepsi yang proporsional,” imbuhnya.
Sugiono juga memastikan bahwa kondisi energi nasional saat ini berada dalam keadaan aman.
“Yang perlu kita sama-sama ingat bahwa saat ini, satu, posisi energi kita relatif aman sesuai apa yang disampaikan oleh Kementerian ESDM,” kata dia.
Ia menambahkan bahwa pemerintah terus mencari sumber pasokan alternatif untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
“Suplai yang kita dapat juga tidak semuanya itu lewat Hormuz,” imbuhnya.
Lebih jauh, ia menyebut Pertamina telah memiliki berbagai sumber pasokan dari negara lain di luar Timur Tengah.
“Negara-negara lain yang dituju tentu saja kemarin Rusia, dan saya kira juga merupakan satu alternatif yang strategis ya,” tuturnya.
“Kemudian juga sumber-sumber dari Amerika waktu terakhir juga ada beberapa pembicaraan, saya ikuti, dalam kaitannya dengan pemenuhan suplai energi dan bahan bakar ini,” tambah Sugiono.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis yang melibatkan beberapa negara di sekitarnya, termasuk Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab (UAE).
Kondisi ini membuat setiap dinamika politik di kawasan tersebut berdampak langsung pada arus perdagangan energi global.
Kapal masih di Teluk Arab, koordinasi terus dilakukan
Di sisi lain, Pelaksana tugas Corporate Secretary PIS, Vega Pita, mengatakan perusahaan terus memantau situasi secara intensif.
“Dua kapal PIS yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro saat ini masih berada di Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz. PIS terus memonitor secara saksama perkembangan situasi yang sangat dinamis di Selat Hormuz,” ujar Vega.
Ia menambahkan, koordinasi dengan berbagai pihak terus dilakukan untuk memastikan keselamatan pelayaran sebelum kapal melanjutkan perjalanan.
“Kami terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk kementerian dan otoritas berwenang, sambil tetap menyiapkan perencanaan pelayaran (passage plan) yang aman,” kata dia.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judulMenlu Ungkap Kendala Negosiasi Kapal Pertamina yang Tertahan di Selat Hormuzdan Menlu Pastikan Pasokan Energi Aman meski Kapal Pertamina Tertahan di Hormuz
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#selat-hormuz #teluk-arab #kapal-pertamina #pasokan-energi #menteri-luar-negeri #menlu-sugiono #kapal-pertamina-di-selat-hormuz