Padi biosalin PGN-BRIN hasilkan produksi 176 ton di lahan 22 ha

Padi biosalin PGN-BRIN hasilkan produksi 176 ton di lahan 22 ha

Program budidaya padi biosalin di wilayah pesisir Kabupaten Jepara, Jawa Tengah yang merupakan kolaborasi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk/PGN, bersama ...

(Antara) 25/04/26 23:10 202901

Jakarta (ANTARA) - Program budidaya padi biosalin di wilayah pesisir Kabupaten Jepara, Jawa Tengah yang merupakan kolaborasi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk/PGN, bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Pemkab Jepara menghasilkan produksi 176 ton di lahan 22 hektare (ha).

Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria menjelaskan budidaya padi varietas biosalin dirancang untuk menjawab tantangan spesifik yang dihadapi lahan pertanian di wilayah pesisir yang mengalami peningkatan salinitas akibat intrusi air laut dan banjir rob serta perubahan iklim yang sering menyebabkan gagal panen.

"Keunggulan varietas Biosalin ini adalah mampu menghasilkan kurang lebih 9 ton per hektare dan memiliki masa tanam antara 84 hingga 107 hari. Yang tidak kalah penting varietas biosalin ini memiliki kelebihan tahan terhadap hama penyakit dan mampu bertahan di lahan marginal," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, realisasi panen kali ini yang mencapai 22 ha melampaui target yang ditetapkan semula 20 ha dengan produktivitas rata-rata 7 – 9 ton per hektare atau total produksi sekitar 176 ton gabah.

Dari sisi ekonomi, tambahnya capaian ini menghasilkan nilai sekitar Rp1,23 miliar, dengan asumsi harga gabah Rp7.000 per kilogram.

Dia menekankan bahwa pengembangan varietas padi biosalin bukan hanya untuk mendorong produksi namun juga dapat dimaknai sebagai pendekatan langkah mitigasi dan pemulihan pascabencana.

Untuk itu, Arief mengharapkan agar model seperti ini dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir lainnya di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa sehingga inovasi berbasis riset benar-benar menjadi pendorong dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Sementara itu Division Head Corporate Social Responsibility (CSR) PGN, Krisdyan Widagdo Adhi menegaskan keterlibatan perusahaan dalam program tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.

Ia menjelaskan, melalui program tersebut perusahaan tidak hanya melakukan pendampingan secara intensif, tapi juga mendorong peningkatan kapasitas, serta transfer pengetahuan agar petani mampu mengadopsi praktik pertanian adaptif secara mandiri pada musim tanam berikutnya.

“Artinya, keberhasilan hari ini menjadi fondasi agar petani dapat terus berproduksi tanpa ketergantungan pada intervensi program di masa depan,” jelas Krisdyan.

Program biosalin, lanjutnya, tidak hanya memberikan nilai tambah dari sisi produksi, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang terukur bagi petani dan ekosistem lokal.

"Kami berharap program ini dapat terus berkembang sebagai model pemberdayaan berbasis riset dan kolaborasi, sekaligus menjadi kontribusi perusahaan dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan pembangunan berkelanjutan,” kata Krisdyan.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo menyatakan program budidaya padi biosalin tidak hanya membantu menjaga produksi pertanian, tetapi juga memberikan kepercayaan diri bagi petani untuk tetap berproduksi di tengah ketidakpastian iklim.

“Keberhasilan panen ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, sektor pertanian tetap bisa tumbuh dan memberikan nilai ekonomi, bahkan di tengah tekanan cuaca ekstrem,” katanya.

Ke depan, pihaknya berharap inisiatif ini dapat terus diperluas dan menjadi model penguatan ketahanan pangan daerah berbasis riset dan kemitraan strategis.

Pewarta: Subagyo
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

#panen-padi #padi-biosalin #pgn #brin #jepara #lahan-pesisir

https://www.antaranews.com/berita/5542480/padi-biosalin-pgn-brin-hasilkan-produksi-176-ton-di-lahan-22-ha