Emas Jadi Pilihan, Pembiayaan Syariah Ikut Tumbuh di Tengah Ketidakpastian Global
Masyarakat perlu selektif memilih instrumen investasi
(Republika) 26/04/26 18:22 203258
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ketidakpastian geopolitik global mendorong masyarakat semakin selektif dalam memilih instrumen investasi. Di tengah kondisi ini, emas kembali menjadi pilihan utama untuk menjaga nilai aset.
Sejumlah survei menunjukkan tren tersebut. Instrumen berbasis emas dan aset fisik menjadi pilihan mayoritas masyarakat. Tingkat kepercayaan terhadap emas bahkan mencapai 80 persen, jauh di atas instrumen lain seperti saham, obligasi, maupun kripto.
Di level global, permintaan juga tetap kuat. Pembelian emas oleh bank sentral dunia tercatat menembus lebih dari 1.000 ton per tahun dalam beberapa tahun terakhir.
Digital Business & Product Management Division Head Bank Mega Syariah, Benadicto Alvonzo Ferary, mengatakan emas kini semakin dipandang sebagai instrumen perlindungan nilai di tengah tekanan ekonomi.
“Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, emas semakin dipandang sebagai alat proteksi nilai. Kami melihat adanya pergeseran perilaku investor, di mana emas kini menjadi instrumen utama dalam strategi investasi jangka panjang,” ujarnya dikutip Ahad (26/4/2026).
Menurut dia, emas memiliki karakteristik yang relatif stabil dan mampu menjaga daya beli dalam jangka panjang, terutama saat terjadi inflasi dan volatilitas pasar.
Seiring tren tersebut, pembiayaan emas berbasis syariah mulai diminati masyarakat. Skema ini memungkinkan kepemilikan emas secara bertahap tanpa harus menyediakan dana besar di awal.
Bank Mega Syariah menghadirkan pembiayaan emas Flexi Gold dengan tenor satu hingga lima tahun dan pilihan gramasi mulai dari 5 gram hingga 100 gram. Produk ini disusun sesuai prinsip syariah dan telah memperoleh persetujuan Dewan Pengawas Syariah.
Kinerja pembiayaan ini menunjukkan peningkatan signifikan. Hingga Maret 2026, penyaluran Flexi Gold tumbuh lebih dari 756 persen dibandingkan posisi Desember 2025.
Minat masyarakat tercatat tinggi di wilayah Jabodetabek dan sejumlah kota besar lain seperti Bandung, Semarang, Surabaya, hingga Makassar dan Medan.