Krakatau Steel (KRAS) Berbalik Laba Rp43 Miliar Kuartal I/2026
Krakatau Steel (KRAS) mencatat laba bersih Rp43 miliar di Q1 2026 berkat efisiensi dan pertumbuhan pendapatan 11,76%. Target laba bersih 2026 adalah Rp2 triliun.
(Bisnis.Com) 28/04/26 12:35 205072
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten baja pelat merah, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) tercatat membalikkan posisi rugi menjadi laba bersih pada kuartal I/2026 di tengah program efisiensi ketat yang dijalankan manajemen.
Berdasarkan laporan keuangan akhir Maret 2026, KRAS membukukan laba bersih sebesar US$2,58 juta (sekitar Rp43,60 miliar, dengan kurs Rp16.900 per dolar AS) pada kuartal I/2026. Capaian ini berbanding terbalik dari kuartal I/2025 yang mencatat rugi bersih US$46,90 juta (sekitar Rp793,61 miliar).
Pemulihan laba bersih ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan sebesar 11,76% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$262,36 juta (sekitar Rp4,43 triliun).
Pendapatan tersebut ditopang oleh segmen produk baja yang membukukan US$256,64 juta (sekitar Rp4,34 triliun), segmen sarana infrastruktur menyumbang US$77,47 juta (sekitar Rp1,31 triliun), dan segmen rekayasa dan konstruksi berkontribusi senilai US$3,3 juta (sekitar Rp55,77 miliar).
Di sisi lain, perseroan mampu menekan kenaikan beban pokok pendapatan yang hanya tumbuh tipis 1,07% YoY menjadi US$224,18 juta (sekitar Rp3,79 triliun). Alhasil, laba kotor KRAS melonjak drastis 194,74% secara tahunan menjadi US$38,18 juta (sekitar Rp645,24 miliar).
Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menyatakan hasil tersebut merupakan indikator bahwa program transformasi dan efisiensi perusahaan mulai memberikan dampak terhadap stabilitas keuangan dan operasional.
“Kinerja kami mulai meningkat secara bertahap di awal tahun ini. Namun, kami tetap memandang bahwa program efisiensi masih menjadi kunci penting dalam menjaga momentum ini agar selalu konsisten dan berkelanjutan,” ujar Akbar dalam diskusi yang diselenggarakan di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Hingga Maret 2026, total produksi Krakatau Steel mencapai 360.000 ton. Kontribusi utama berasal dari pabrik Hot Strip Mill (HSM) sebesar 230.000 ton dan pabrik Cold Rolling Mill (CRM) sebesar 130.000 ton.
Optimalisasi ini merupakan bagian dari komitmen perseroan dalam menjalankan program penguatan permodalan bersama Danantara. Dengan fondasi yang lebih sehat, emiten baja ini menargetkan laba bersih sebesar US$129 juta (sekitar Rp2,18 triliun) pada 2026.
Per Maret 2026, total aset perseroan kini tercatat sebesar US$2,91 miliar (sekitar Rp49,18 triliun) atau naik 5,23% (year to date/YtD). Rinciannya, liabilitas tumbuh 6,10% menjadi US$2,16 miliar (sekitar Rp36,50 triliun), sedangkan ekuitas mencapai US$745,67 juta (sekitar Rp12,60 triliun) atau naik 2,78%.
Sepanjang 2026, KRAS membidik pemulihan kinerja dengan target pendapatan Rp20 triliun dan torehan laba bersih minimum 10% dari total pendapatan.
Akbar menjelaskan target ditetapkan seiring rencana pengoperasian normal kembali fasilitas pabrik perseroan yang sempat terkendala. Menurutnya, jika operasional berjalan sesuai rencana, KRAS optimistis mampu mencatatkan standar minimum laba bersih sekitar Rp2 triliun.
“Dari pendapatan Rp20 triliun itu dikalikan 10% seharusnya menjadi standar minimum laba bersih daripada Krakatau Steel di tahun 2026,” pungkasnya.
Dari sisi volume, emiten baja pelat merah tersebut menargetkan penjualan domestik sebesar 1,2 juta ton per tahun. Meski secara kapasitas terpasang perseroan mampu mencapai 3 juta ton, Akbar menyebut manajemen tetap bersikap rasional dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#krakatau-steel #kras #laba-bersih #kuartal-i-2026 #program-efisiensi #pendapatan-krakatau-steel #produk-baja #sarana-infrastruktur #rekayasa-konstruksi #laba-kotor #transformasi-perusahaan #produksi-k