Inflasi Australia Tembus 4,6 Persen, Harga BBM Jadi Pemicu Utama
Inflasi Australia 4,6% didorong biaya transportasi, perumahan, dan makanan. Ini meningkatkan prospek kenaikan suku bunga oleh RBA menyusul lonjakan harga bahan bakar.
(Kompas.com) 29/04/26 18:46 206815
CANBERRA, KOMPAS.com - Tingkat inflasi Australia melonjak menjadi 4,6 persen secara tahunan pada kuartal I-2026.
Angka tersebut meningkatkan prospek kenaikan suku bunga oleh bank sentral Australia, Reserve Bank of Australia (RBA).
Inflasi Australia, terutama didorong oleh kenaikan biaya transportasi, perumahan, dan makanan.
PEXELS/FRANK SCHRADER Ilustrasi bendera Australia.Dilansir dari CNBC, angka inflasi 4,6 persen tersebut merupakan yang tertinggi sejak Australia mulai menerbitkan data indeks harga konsumen bulanan sejak 2025.
Data ini juga dirilis menjelang pertemuan kebijakan Bank Cadangan Australia (Reserve Bank of Australia) minggu depan.
Inflasi Australia masih bakal di atas target
Sebagai catatan, bank sentral menaikkan suku bunga menjadi 4,1 persen pada pertemuan Maret lalu.
Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak April 2025.
“Perkembangan di Timur Tengah tetap sangat tidak pasti, tetapi dalam berbagai skenario yang mungkin terjadi dapat menambah inflasi global dan domestik,” kata RBA setelah pertemuan Maret lalu.
Dewan mengatakan pihaknya memperkirakan inflasi akan tetap di atas target 2 hingga 3 persen untuk beberapa waktu.
Gubernur RBA Michelle Bullock mengatakan, anggota dewan sepakat suku bunga mungkin perlu dinaikkan lebih lanjut, meskipun mereka berbeda pendapat mengenai waktunya.
SHUTTERSTOCK/MONSTER ZTUDIO Ilustrasi suku bunga.Risalah rapat menunjukkan para pembuat kebijakan memandang inflasi masih terlalu tinggi dan mengatakan kenaikan dalam waktu dekat mungkin diperlukan.
“Kenaikan harga minyak semakin meningkatkan risiko inflasi akan tetap di atas target untuk jangka waktu yang lama,” tulis notula tersebut
Di sisi lain, ekonomi Australia tumbuh 2,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya pada kuartal keempat, laju tercepat dalam dua tahun terakhir, sekaligus melampaui ekspektasi.
Inflasi Australia dipengaruhi harga bahan bakar
Tingkat inflasi Australia meningkat tajam pada bulan Maret seiring dengan lonjakan harga bahan bakar yang berdampak pada perekonomian.
Hal tersebut memberikan pukulan baru bagi rumah tangga yang sudah terbebani oleh kenaikan biaya hidup sehari-hari.
Data yang diterbitkan oleh Biro Statistik Australia menunjukkan Consumer Price Index (CPI) atau Indeks Harga Konsumen menunjukkan lonjakan besar dari angka tahunan utama sebesar 3,7 persen pada Februari.
Namun angka tersebut tetap berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 4,8 persen, yang dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar.
Sebagai gambaran, harga bahan bakar otomotif melonjak 32,8 persen selama sebulan, mendorong biaya transportasi menjadi lebih tinggi.
Kepala Statistik harga Australian Bureau of Statistics (SBS) Sue-Ellen Luke mengatakan, kenaikan harga bahan bakar berkontribusi pada peningkatan CPI bulanan, yang meningkat sebesar 1,1 persen pada Maret 2026.
SHUTTERSTOCK/LIGHTSPRING Ilustrasi inflasi."Inflasi CPI tahunan adalah yang tertinggi sejak September 2023,” ujar dia dikutip dari Saving.com.
Ia menambahkan, biaya transportasi yang naik hingga 9,2 persen mencerminkan dampak awal konflik di Timur Tengah terhadap harga bahan bakar.
"Peningkatan di Maret merupakan peningkatan bulanan terbesar sejak data mulai dikumpulkan pada 2017,” ucap dia.
BBM dan perumahan jadi pendorong inflasi
Harga bensin eceran di Australia melonjak tajam sepanjang Maret seiring dengan meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Sementara itu, keringanan pajak bahan bakar sementara baru mulai berlaku pada tanggal 1 April.
Namun, dengan bobot tertinggi dalam CPI, perumahan menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan pada bulan Maret, atau naik 6,5 persen.
Sedangkan sektor transportasi berada di urutan kedua dengan 8,9 persen.
Inflasi perumahan dipicu oleh lonjakan harga listrik sebesar 25,4 persen seiring dengan berakhirnya subsidi pemerintah.
Dengan mengecualikan item-item yang mudah berubah seperti bahan bakar otomotif dari perhitungan, inflasi rata-rata yang disesuaikan tetap tidak berubah pada 3,3 persen.
Angka tersebut memang berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 3,5 persen, tetapi masih jauh di atas kisaran target bank sentral Australia sebesar 2 sampai 3 persen.
Kenaikan harga BBM baru terasa Maret 2026
Menurut ABS, dari bulan Februari hingga Maret, harga bahan bakar di seluruh Australia naik hingga 41 persen.
Harga rata-rata bensin tanpa timbal reguler melonjak 33 persen, atau naik dari 171 sen per liter pada Februari menjadi 228 sen per liter pada Maret 2026.
Freepik/jcomp Ilustrasi BBM.Sementara itu, harga bensin tanpa timbal premium naik 30 persen selama sebulan, dengan harga rata-rata mencapai 250 sen per liter.
Kemudian, harga solar melonjak lebih tajam lagi, atau naik 41 persen dari 181 sen per liter pada Februari menjadi 256 sen per liter pada Maret.
Selanjutnya, bahan bakar Diesel menyumbang sekitar 10 persen dari komponen bahan bakar otomotif dalam Indeks Harga Konsumen (CPI). Hal ini memperkuat dampaknya terhadap inflasi secara keseluruhan.
Ekonom senior Westpac, Justin Smirk memperkirakan, dampak guncangan harga bahan bakar akan terus mendorong inflasi pada bulan April dan kemudian mereda pada bulan Mei dan Juni.
“Harga bahan bakar kendaraan bermotor diperkirakan akan naik lagi pada bulan Juli, tetapi ini disebabkan oleh berakhirnya pengurangan sementara pajak bahan bakar yang baru-baru ini diberlakukan,” kata Smirk.
Dengan memperhatikan ketahanan dari ukuran yang mendasarinya, para ekonom memperingatkan kenaikan biaya energi menyebar jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.
“Data ini menegaskan bahwa biaya bahan bakar diteruskan ke perekonomian lebih cepat daripada pada guncangan sebelumnya,” kata Smirk.
Suku bunga acuan Australia diprediksi naik pada Mei 2026
Dalam Pernyataan Kebijakan Moneter Februari, bank sentral Australia memperingatkan risiko inflasi jangka pendek cenderung meningkat bahkan sebelum dampak penuh dari guncangan harga bahan bakar terlihat jelas.
SHUTTERSTOCK/JANEWS Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan.Pasar keuangan bereaksi terhadap hal ini dengan meningkatkan taruhan pada kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Bank-bank besar sekarang memperkirakan suku bunga acuan akan mencapai puncak yang lebih tinggi dan tetap ketat untuk jangka waktu yang lebih lama.
Sebagai gambaran, Westpac memperkirakan tiga kenaikan suku bunga lagi yakni pada Mei, Juni, dan Agustus.
Skenario ini akan membawa suku bunga acuan ke puncaknya di 4,85 persen.
Sedangkan perwakilan ANZ Adam Boyton mengungkapkan hanya satu kenaikan suku bunga acuan lagi di Mei.
“Kami memperkirakan RBA akan tetap berada di jalur sempitnya," kata dia.
Sedangkan, kepala ekonom NAB Group Sally Auld memperkirakan, bank sentral Australia akan menaikkan suku bunga pada Mei sebelum kemudian menunda kenaikan tersebut.
"Data kuartal pertama seharusnya mengkonfirmasi bahwa inflasi terlalu tinggi dan meluas sebelum guncangan Iran, tetapi kemungkinan besar tidak akan cukup untuk memicu kekhawatiran bank sentral Australia," tutup dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#harga-bahan-bakar #inflasi-australia #suku-bunga-rba #biaya-perumahan