Harga Minyak Berpotensi 140 Dolar Per Barel, Iran: Akibat Trump Percaya 'Nasihat Sampah' Menterinya
Harga minyak dunia di atas 110 dolar AS per barel pada pekan ini.
(Republika) 01/05/26 22:47 208861
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Harga minyak dunia berpotensi terus merangkak naik hingga 140 dolar AS per barel seiring sinyal dari Iran yang tak akan membuka Selat Hormuz dan kembali ke meja perundingan jika AS tidak mengakhiri blokade maritimnya. Menurut juru bicara Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, terkereknya harga minyak dunia akibat dari pemerintah AS yang menerima "nasihat sampah" dari orang seperti Menteri Keuangan Scott Bessent.
"Bessent yang mendorong teori blokade dan memicu harga minyak hingga 120 dolar AS. Pemberhentian selanjutnya 140 (dolar AS)," kata Ghalibaf dikutip Oil Price dari akun X-nya.
Ghalibaf juga mengejek Menteri Pertahanan dan pemerintah AS dengan unggahan lain lewat kalimat, "Semoga berhasil memblokade negara (Iran) dengan perbatasan seperti itu," ujar Ghalibaf merujuk pada sangat panjangnya garis perbatasan negara Iran.
"Jika anda membangun dua dinding, satu dari Kota News York ke Pantai Barat dan satu lagi dari Los Angeles ke Pantai Timur, total jaraknya akan mencapai 7.755 kilometer, yang mana masih 1.000 kilometer lebih pendek dari total panjang perbatasan Iran," kata Ghalibaf.
Diketahui, krisis di Selat Hormuz telah mendorong harga minyak dunia di atas 110 dolar AS per barel pada pekan ini. Sementara, Iran masih teguh dengan pendirian mereka dalam merespons blokade maritim AS, dan bahkan Pemimpin Tertinggi mereka, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dalam pesan yang dibacakan seorang presenter televisi Iran menyatakan bahwa, satu-satunya tempat bagi AS di Teluk Persia adalah "di bawah dasar laut."
#harga-minyak-dunia #selat-hormuz #selat-hormuz-ditutup #blokade-maritim-as