Tiga Orang Meninggal di Kapal Pesiar Atlantik Terinfeksi Hantavirus, Kenali Gejalanya
Tiga orang meninggal di kapal pesiar Atlantik akibat dugaan wabah hantavirus, penyakit zoonosis berbahaya yang disebarkan oleh hewan pengerat.
(Bisnis.Com) 05/05/26 07:25 211109
Bisnis.com, BANDA ACEH — Hantavirus menjadi sorotan setelah tiga orang meninggal dalam dugaan wabah di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di Samudra Atlantik dari Argentina menuju Cape Verde.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat satu kasus terkonfirmasi dan lima kasus suspek dalam kejadian tersebut. Seorang warga negara Inggris berusia 69 tahun dirawat di ruang perawatan intensif di Johannesburg, Afrika Selatan. Pejabat setempat kemudian menyatakan bahwa pasien itu terinfeksi virus tersebut.
Kapal tersebut dioperasikan oleh perusahaan tur Oceanwide Expeditions. Berdasarkan jadwal perjalanan di situs perusahaan, MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina selatan, pada 20 Maret dan dijadwalkan menyelesaikan pelayaran pada 4 Mei di Cape Verde.
Kapal tersebut memiliki kapasitas 170 penumpang di 80 kabin, serta membawa 57 awak, 13 pemandu, dan satu dokter. Juru bicara Kementerian Kesehatan Afrika Selatan Foster Mohale mengatakan, terdapat sekitar 150 wisatawan dari berbagai negara di kapal tersebut.
Pejabat kesehatan menyebut laki-laki itu tiba-tiba jatuh sakit dengan gejala demam, sakit kepala, nyeri perut, dan diare. Dia meninggal saat tiba di Pulau St Helena, wilayah Inggris di Atlantik Selatan.
Perempuan tersebut juga jatuh sakit di kapal dan dievakuasi ke Afrika Selatan. BBC melaporkan dia kemudian meninggal di rumah sakit di Johannesburg.
Kapal itu dilaporkan akan melanjutkan perjalanan ke Kepulauan Canary, Spanyol. WHO membantu koordinasi antara negara anggota dan operator kapal untuk evakuasi medis dua penumpang bergejala, penilaian risiko kesehatan masyarakat secara penuh, serta dukungan bagi orang-orang yang masih berada di kapal.
Apa Itu Hantavirus?
Kemenkes menjelaskan penyakit virus Hanta merupakan salah satu penyakit zoonosis berbahaya yang disebarkan oleh rodensia atau hewan pengerat. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari genus Orthohantavirus.
Hantavirus biasanya menular kepada manusia dari hewan pengerat melalui urine atau feses. Virus ini dapat menyebabkan penyakit pernapasan berat dan dalam kondisi jarang dapat menular antarmanusia.
Penularan juga dapat terjadi melalui gigitan atau cakaran hewan pengerat, tetapi kejadian itu jarang. Kemenkes menambahkan penularan dapat terjadi ketika saliva, urine, atau feses reservoir mengenai kulit yang luka, membran mukosa mata, mulut, dan hidung, maupun melalui aerosol berupa debu atau partikel halus yang terkontaminasi.
Tikus Jadi Reservoir Utama
Kemenkes menyebut tikus dan celurut menjadi reservoir utama penyakit virus Hanta. Di Indonesia, jenis tikus yang terkonfirmasi sebagai reservoir virus Hanta meliputi Rattus norvegicus atau tikus got dan Rattus tanezumi atau tikus rumah.
Kemenkes juga mencatat sejumlah jenis tikus lain sebagai reservoir, yakni Rattus tiomanicus atau tikus belukar, Rattus exulans atau tikus ladang, Rattus argentiventer atau tikus sawah, Mus musculus atau mencit rumah, Bandicota indica atau tikus wirok, dan Maxomys surifer.
Ciri-Ciri dan Gejala Hantavirus
US CDC menyebut HPS merupakan penyakit berat dan berpotensi mematikan yang menyerang paru-paru. Gejala HPS biasanya mulai tampak 1–8 minggu setelah kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi.
Gejala awal HPS menurut US CDC meliputi: Kelelahan, demam, dan nyeri otot, terutama pada kelompok otot besar seperti paha, pinggul, punggung, dan kadang bahu.
Sekitar separuh pasien HPS juga mengalami sakit kepala, pusing, menggigil, serta gangguan perut seperti mual, muntah, diare, dan nyeri perut. Empat hingga 10 hari setelah fase awal penyakit, gejala lanjutan HPS dapat muncul berupa batuk dan sesak napas.
Untuk HFRS, US CDC menyebut penyakit ini berat dan kadang mematikan karena menyerang ginjal. Gejalanya biasanya berkembang dalam 1–2 minggu setelah paparan, tetapi dalam kasus jarang dapat muncul hingga 8 minggu.
Gejala awal HFRS menurut US CDC meliputi: Sakit kepala hebat, nyeri punggung dan perut, demam atau menggigil, mual, dan penglihatan kabur.
Cara Pencegahan Hantavirus
Langkah pencegahan menurut Kemenkes meliputi:
- Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan.
- Menggunakan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, dan alas kaki saat membersihkan rumah atau lingkungan yang dilalui hewan pengerat.
- Membersihkan kotoran, urine, dan sekreta lain dari tikus dengan disinfektan.
- Tidak menyentuh hewan pengerat secara langsung, baik hidup maupun mati.
- Menggunakan disinfektan dan alat pelindung diri lengkap apabila terjadi kontak dengan hewan pengerat.
- Melakukan pengelolaan sampah dengan benar.
- Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 40–60 detik atau menggunakan cairan antiseptik selama 20–30 detik.
Kemenkes mengingatkan penyakit virus Hanta dapat berpotensi menyebabkan wabah apabila reservoirnya tidak dikendalikan. Karena itu, pengendalian tikus dan kebersihan lingkungan menjadi kunci pencegahan.
#hantavirus #hantavirus-gejala #hantavirus-penularan #hantavirus-pencegahan #hantavirus-kapal-pesiar #hantavirus-who #hantavirus-zoonosis #hantavirus-tikus #hantavirus-manusia #hantavirus-infeksi #hant