Manufaktur Kontraksi, Pelaku Industri Pasang Mode Bertahan
PMI manufaktur Indonesia April 2026 terkontraksi akibat lonjakan biaya produksi dan gangguan pasokan dari konflik Timur Tengah. Industri memasang mode survival.
(Bisnis.Com) 05/05/26 07:30 211110
Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja manufaktur Indonesia kembali terkontraksi pada April 2026 setelah 9 bulan bertahan di zona ekspansi, seiring lonjakan biaya produksi dan gangguan pasokan. Tekanan inflasi yang dipicu konflik Timur Tengah mulai menggerus aktivitas pabrik dan melemahkan permintaan, terutama dari pasar ekspor.
Di tengah kondisi itu, pelaku usaha masuk mode bertahan dengan utilisasi rendah. Sementara itu, ekonom melihat tekanan tersebut mengarah pada gejala stagflasi dan berisiko menahan pemulihan manufaktur dalam beberapa bulan ke depan.
Data S&P Global mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun menjadi 49,1 pada April 2026, dari level 50,1 pada bulan sebelumnya. Level itu menandai kontraksi pertama kalinya manufaktur Indonesia dalam 9 bulan terakhir.
“Sektor manufaktur Indonesia mulai merasakan tekanan inflasi yang semakin intensif di tengah perang Timur Tengah,” ujar Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti, Senin (4/5/2026).
Dia memerinci sejumlah faktor yang membuat PMI Manufaktur April 2026 di bawah batas netral. Faktor pemicu utama adalah melemahnya aktivitas produksi.
Menurutnya, volume output tercatat mengalami kontraksi selama 2 bulan berturut-turut, dengan laju penurunan yang semakin cepat dan menjadi yang terdalam dalam hampir 1 tahun terakhir. Pada saat itu, harga bahan baku melonjak, pasokan tersendat, dan biaya logistik ikut terdorong naik.
“Perusahaan mencatat kontraksi solid pada output pada bulan April dengan bukti anekdotal mengarah pada dampak kenaikan harga bahan baku dan kekurangan pasokan produksi,” jelas Bhatti.
Di sisi lain, permintaan baru hanya mencatatkan kenaikan tipis. Namun, peningkatan tersebut lebih didorong oleh aksi pembelian awal untuk mengantisipasi kenaikan harga dan potensi gangguan rantai pasok.
Perbaikan permintaan juga lebih banyak ditopang pasar domestik, sedangkan pesanan ekspor justru mengalami penurunan.
Produksi Tertahan
Dihubungi terpisah, Sekretaris Jenderal Indonesia Olefin, Aromatic and Plastic Industry Association (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan, konflik geopolitik di Timur Tengah yang telah mengganggu ketersediaan bahan baku menjadi salah satu faktor yang mendorong PMI manufaktur kembali masuk zona kontraksi. Apalagi, nafta, bahan baku utama industri plastik, selama ini sepenuhnya diimpor.
Dia menjelaskan, tekanan mulai terasa sejak awal April ketika harga bahan baku bergejolak menyusul terganggunya jalur distribusi global. Kondisi tersebut diperparah dengan momentum Lebaran yang membuat aktivitas industri lebih fokus pada distribusi barang ketimbang produksi.
Fajar menyebut, permintaan sejatinya masih ada, tetapi tertahan oleh ketidakpastian harga dan distribusi.
“Impaknya memang sampai di minggu pertama, minggu kedua, di bulan ini. Mudah-mudahan di bulan ini ada perbaikan,” ungkapnya kepada Bisnis, Senin (4/5/2026).
Untuk menjaga keberlangsungan produksi, pelaku industri mulai mencari alternatif pasokan bahan baku di luar Timur Tengah, seperti dari Amerika Serikat. Namun, opsi ini menghadapi tantangan waktu pengiriman yang lebih panjang, yakni hingga 50 hari.
“Terus kemudian kita hitung-hitung ini enggak cukup kalau nunggu sampai 50 hari. Akhirnya pada saat minggu pertama Mei kemarin kita running-nya ada di survival mode, di [utilisasi sekitar] 70%-an,” jelas Fajar.
Selain mencari sumber pasokan baru, industri juga mendorong penggunaan bahan baku alternatif seperti liquefied petroleum gas (LPG) untuk menggantikan sebagian nafta. Namun, upaya ini sempat terkendala bea masuk LPG sebesar 5%.
Fajar menyebut, pemerintah telah merespons dengan menurunkan bea masuk LPG menjadi 0% guna menjaga keberlangsungan industri. Akan tetapi, kebijakan tersebut katanya perlu diimbangi dengan pengaturan impor produk agar tidak menekan harga di pasar domestik.
Di sisi lain, tren harga bahan baku global mulai menunjukkan penurunan seiring sejumlah negara menemukan sumber alternatif. Kondisi ini diharapkan dapat membantu pemulihan kinerja industri dalam waktu dekat. “Kami berharap PMI di Mei bisa kembali ke atas 50,” harapnya.
Untuk jangka panjang, Inaplas menilai ketergantungan tinggi terhadap bahan baku berbasis minyak bumi perlu segera dikurangi. Industri mendorong pengembangan sumber alternatif seperti batu bara dan bio feedstock untuk memperkuat kemandirian sektor petrokimia nasional.
Setali tiga uang, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Farhan Aqil Syauqi mengakui bahwa keterbatasan bahan baku utama, khususnya mono ethylene glycol (MEG) dari Timur Tengah, menjadi faktor utama yang menahan produksi industri saat ini.
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha tidak dapat meningkatkan kapasitas produksi meskipun terdapat permintaan dari industri hilir seperti benang dan kain.
“Permintaan itu ada, tetapi kami tidak bisa memenuhi pesanan baru karena bahan baku masih terbatas. Saat ini, kami masih fokus menyelesaikan kontrak lama sambil menunggu pasokan masuk,” sebutnya kepada Bisnis.
Selain itu, harga bahan baku yang meningkat turut menjadi tantangan tambahan. Pelaku usaha bahkan mengindikasikan adanya penyesuaian harga jika membuka pesanan baru, seiring kenaikan biaya produksi.
Untuk menjaga keberlangsungan usaha, APSyFI mendorong pemerintah memberikan stimulus fiskal, khususnya berupa pembebasan atau pengurangan pajak pertambahan nilai (PPN), guna menjaga arus kas industri tetap sehat.
“Insentif seperti PPN sangat membantu untuk memutar cash flow industri, terutama di tengah tekanan biaya dan keterbatasan produksi saat ini,” sebut Aqil.
Sinyal Stagflasi
Sementara itu, ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai penurunan PMI manufaktur Indonesia pada April 2026 mencerminkan gejala yang lebih dalam.
“Biasanya pelemahan lebih didorong oleh turunnya permintaan, terutama ekspor. Sekarang justru tekanan biaya yang dominan, sementara permintaan belum sepenuhnya jatuh,” ujarnya.
Menurut Yusuf, kondisi tersebut tecermin dari mulai menyusutnya produksi di tengah pesanan baru yang masih bertahan. Permintaan yang relatif terjaga itu lebih banyak dipicu pembelian antisipatif pelaku usaha untuk menghindari kenaikan harga dan gangguan pasokan.
Di sisi lain, biaya input melonjak tajam dan diikuti kenaikan harga jual secara agresif. Tekanan biaya tersebut tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dipicu gangguan rantai pasok global, terutama akibat konflik di Timur Tengah.
“Kombinasi ini, mencerminkan tekanan mirip stagflasi, yakni situasi ketika biaya naik tetapi aktivitas ekonomi justru melemah,” sebutnya.
Dalam kondisi tersebut, jelasnya, industri membutuhkan waktu untuk menyesuaikan struktur biaya. “Sehingga PMI berisiko bertahan di bawah level 50 dalam beberapa bulan ke depan,” prediksi Yusuf.
Adapun, ekonom digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyebut, PMI yang anjlok ini sudah diprediksi beberapa bulan yang lalu terutama setelah perang di Timur Tengah bergejolak dan data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia (BI) melemah.
Faktor luar berupa gejolak perang yang membuat harga barang-barang impor menjadi lebih mahal sehingga perusahaan mengurungkan niat untuk ekspansi atau memesan barang. Dari dalam negeri, permintaan yang melemah menjadi trigger bagi perusahaan untuk menahan ekspansinya.
Dalam ekonomi yang lemah, menurutnya, sangat wajar perusahaan menahan ekspansinya. “Maka tidak heran PMI manufaktur Indonesia berada di bawah 50 basis poin,” tuturnya.
Nailul memprediksi ekonomi secara nasional untuk bisa bangkit menjadi jauh lebih berat. Tekanan dari luar jelas jadi pemicu. Namun, faktor dari dalam negeri jelas menjadi kunci.
Pelaku usaha saat ini enggan untuk ekspansi karena khawatir akan keberlangsungan bisnis dalam negeri. Sementara itu, pengelolaan fiskal yang tidak kredibel menjadi pemicu kekhawatiran pelaku usaha.
“Mereka khawatir jika pemerintah default, gagal bayar utang, hingga terjadi government shutdown. Jika benar mengarah ke sana, resesi ekonomi sangat mungkin terjadi,” prediksinya.
Oleh karena itu, dia menilai solusi untuk mencari alternatif impor bahan baku perlu dicari. Kemudian, perlu ada insentif dari pemerintah bagi pelaku usaha yang melakukan ekspor-impor, di samping pengelolaan fiskal yang tepat.
“Perketat anggaran prioritas seperti MBG [Makan Bergizi Gratis] dan KDKMP [Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih] sehingga kepercayaan investor jadi pulih,” tambahnya.
#manufaktur #pmi-manufaktur #industri-manufaktur #inaplas #tekstil