Bank Sentral Borong Emas di Tengah Ketidakpastian Global, Ada Apa?

Bank Sentral Borong Emas di Tengah Ketidakpastian Global, Ada Apa?

Pembelian emas oleh bank sentral dunia kembali menjadi sorotan pada awal 2026.

(Kompas.com) 05/05/26 08:18 211157

JAKARTA, KOMPAS.com — Pembelian emas oleh bank sentral dunia kembali menjadi sorotan pada awal 2026.

Di tengah ketidakpastian geopolitik, tekanan inflasi, serta dinamika suku bunga global, emas semakin menegaskan posisinya sebagai instrumen cadangan yang dianggap aman.

Laporan Gold Demand Trends Q1 2026 yang dirilis World Gold Council (WGC) menunjukkan bank sentral tetap aktif menambah cadangan emas, meskipun terjadi peningkatan aktivitas penjualan di sejumlah negara.

FREEPIK/wirestock Ilustrasi emas. Harga emas dunia turun ke level terendah hampir 4 pekan, seiring kembali memanasnya konflik di Timur Tengah.

Tren ini mencerminkan strategi diversifikasi cadangan devisa sekaligus respons terhadap risiko global yang masih tinggi.

Pembelian emas tetap solid di awal 2026

Pada kuartal I-2026, bank sentral secara global mencatat pembelian bersih emas sebesar 244 ton.

Angka ini naik sekitar 3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan meningkat 17 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

World Gold Council mencatat, capaian tersebut berada di atas rata-rata lima tahun terakhir, menunjukkan bahwa minat bank sentral terhadap emas masih kuat.

“Permintaan emas dari bank sentral dimulai dengan kuat pada tahun 2026, dengan perkiraan pembelian bersih sebesar 244 ton pada kuartal pertama,” tulis WGC dalam laporan tersebut, dikutip pada Selasa (5/5/2026).

Pembelian ini terutama dipimpin oleh negara-negara berkembang. Polandia menjadi pembeli terbesar dengan tambahan sekitar 31 ton, diikuti Uzbekistan sebesar 25 ton.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa bank sentral di negara-negara emerging markets masih melihat emas sebagai instrumen penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi, terutama di tengah volatilitas global yang meningkat.

DOK. Pixabay/hamiltonleen. Ilustrasi emas.

Tidak semua bank sentral membeli emas

Meski secara agregat pembelian tetap tinggi, laporan yang sama juga mencatat adanya peningkatan aktivitas penjualan emas oleh sejumlah bank sentral.

Turkiye, Rusia, dan Azerbaijan termasuk di antara negara yang melakukan penjualan emas pada periode tersebut.

Dalam kasus Turkiye, penjualan emas dilakukan sebagai bagian dari kebijakan stabilisasi mata uang domestik.

Data menunjukkan bahwa bank sentral Turkiye melepas sekitar 70 ton emas, atau sekitar 10 persen dari total cadangan resminya.

Langkah ini dinilai bersifat taktis, bukan perubahan strategi jangka panjang. Sebelumnya, Turkiye juga pernah melakukan langkah serupa pada periode tekanan ekonomi, sebelum kembali meningkatkan cadangan emas.

Fenomena ini menunjukkan bahwa emas tidak hanya berfungsi sebagai aset lindung nilai (safe haven), tetapi juga sebagai instrumen likuid yang dapat dimanfaatkan saat terjadi tekanan pasar.

Ketidakpastian global dorong permintaan emas

Salah satu faktor utama yang mendorong pembelian emas oleh bank sentral adalah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

World Gold Council menyebutkan, konflik geopolitik, termasuk ketegangan di Timur Tengah dan hubungan Amerika Serikat (AS) dengan China, menjadi faktor penting yang memengaruhi prospek permintaan emas sepanjang 2026.

“Geopolitik tetap menjadi fokus utama dalam prospek permintaan emas kami pada tahun 2026,” kata WGC dalam laporannya.

FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan, BI Rate.

Selain itu, dinamika kebijakan moneter global juga turut berperan. Ketidakpastian terkait arah suku bunga, terutama di AS, membuat bank sentral cenderung mencari aset yang tidak bergantung pada kebijakan negara tertentu.

Dalam konteks ini, emas menjadi alternatif karena tidak memiliki risiko kredit dan tidak terkait langsung dengan mata uang tertentu.

Diversifikasi cadangan devisa

Pembelian emas oleh bank sentral juga tidak lepas dari strategi diversifikasi cadangan devisa.

Selama beberapa tahun terakhir, terdapat kecenderungan bank sentral, khususnya di negara berkembang, untuk mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dollar AS dan meningkatkan porsi emas dalam cadangan devisa mereka.

Laporan World Gold Council menunjukkan bahwa tren ini masih berlanjut pada 2026.

Bahkan, pembelian emas oleh bank sentral diperkirakan tetap tinggi sepanjang tahun, meskipun mungkin tidak setinggi rekor beberapa tahun sebelumnya.

World Gold Council memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral berada di kisaran 700 hingga 900 ton sepanjang 2026.

Angka ini relatif stabil dibandingkan 2025, meskipun lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang sempat melampaui 1.000 ton per tahun.

Harga tinggi tidak menghentikan pembelian

Menariknya, tren pembelian emas oleh bank sentral tetap terjadi meskipun harga emas berada di level tinggi.

Pada kuartal I-2026, harga emas bahkan mencatat rekor rata-rata baru sekitar 4.873 dollar AS per ons, dengan puncak mencapai lebih dari 5.400 dollar AS per ons pada Januari 2026.

Kondisi ini menunjukkan bahwa keputusan pembelian oleh bank sentral tidak semata-mata didorong oleh harga, tetapi lebih pada pertimbangan strategis jangka panjang.

DOK. Pexels/Michael Steinberg. Ilustrasi emas. Penyebab harga emas naik-turun. Proyeksi harga emas.

Di sisi lain, harga yang tinggi justru menekan permintaan sektor lain, seperti perhiasan.

Permintaan perhiasan tercatat turun 23 persen secara tahunan, meskipun nilai belanjanya tetap meningkat.

Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran komposisi permintaan emas, di mana peran investor dan bank sentral menjadi semakin dominan.

Investor dan bank sentral saling melengkapi

Selain bank sentral, permintaan emas juga didorong oleh investor, terutama melalui pembelian emas batangan, koin, dan produk berbasis ETF.

Pada kuartal I-2026, permintaan emas batangan dan koin mencapai 474 ton, naik 42 persen secara tahunan dan menjadi salah satu level tertinggi dalam sejarah.

Kombinasi antara permintaan investor dan bank sentral ini menjadi faktor utama yang menopang pasar emas, bahkan ketika terjadi tekanan pada sektor lain.

World Gold Council mencatat, permintaan investasi sekarang jauh melebihi produksi, menunjukkan permintaan investasi telah melampaui penggunaan emas untuk kebutuhan industri maupun perhiasan.

Dengan kata lain, emas semakin dipandang sebagai aset keuangan dibandingkan komoditas konsumsi.

Peran emas sebagai aset lindung nilai

Di tengah berbagai ketidakpastian, emas kembali menegaskan perannya sebagai aset lindung nilai.

Ketika inflasi tinggi, volatilitas pasar meningkat, atau terjadi ketegangan geopolitik, emas cenderung menjadi pilihan bagi bank sentral untuk menjaga stabilitas cadangan mereka.

Laporan World Gold Council menekankan, kombinasi antara risiko geopolitik, inflasi yang tinggi, serta harga emas yang tetap kuat akan terus mendukung permintaan emas, termasuk dari bank sentral.

“Investasi dan permintaan bank sentral akan didukung oleh risiko geopolitik yang berkelanjutan,” ungkap WGC.

DOK. Shutterstock. Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini.

Namun demikian, laporan WGC juga mencatat bahwa dinamika pasar emas tetap kompleks.

Di satu sisi, permintaan tetap kuat, tetapi di sisi lain, harga yang tinggi dapat menjadi faktor pembatas bagi beberapa segmen pasar.

Pasokan meningkat, tetapi terbatas

Dari sisi pasokan, produksi emas global pada kuartal I-2026 tercatat meningkat 2 persen secara tahunan menjadi sekitar 1.231 ton.

Kenaikan ini didorong oleh peningkatan produksi tambang serta aktivitas daur ulang emas yang naik sekitar 5 persen.

Meski demikian, peningkatan pasokan ini relatif terbatas dibandingkan dengan pertumbuhan nilai permintaan yang melonjak hingga 74 persen menjadi 193 miliar dollar AS.

Kesenjangan antara pertumbuhan nilai dan volume ini menunjukkan bahwa faktor harga memainkan peran besar dalam dinamika pasar emas saat ini.

Outlook: pembelian emas oleh bank sentral tetap berlanjut

Ke depan, World Gold Council memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral akan tetap berlanjut, didukung oleh kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.

Selain faktor geopolitik, ketidakpastian kebijakan moneter global serta fluktuasi nilai tukar juga menjadi pertimbangan utama bagi bank sentral dalam mengelola cadangan devisa.

Meski terdapat kemungkinan penurunan volume pembelian jika harga emas terus meningkat, tren jangka panjang menunjukkan emas tetap menjadi komponen penting dalam strategi cadangan bank sentral.

Dengan kombinasi faktor tersebut, pembelian emas oleh bank sentral diperkirakan akan tetap menjadi salah satu pilar utama permintaan emas global sepanjang 2026.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#emas #emas-batangan #cadangan-emas #harga-emas #cadangan-devisa #pembelian-emas

https://money.kompas.com/read/2026/05/05/081800026/bank-sentral-borong-emas-di-tengah-ketidakpastian-global-ada-apa-