CNG Dinilai Bisa Tekan Impor LPG, tapi Infrastruktur Jadi Syarat Utama
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan, uji coba CNG untuk tabung 3 kg masih berjalan karena tekanan gas yang dihasilkan cukup besar.
(Kompas.com) 05/05/26 20:21 212252
JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah tengah menguji coba penggunaan compressed natural gas (CNG) dalam tabung 3 kilogram (kg) sebagai alternatif pengganti elpiji atau liquefied petroleum gas (LPG) bersubsidi.
Langkah ini diambil di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor elpiji yang konsumsinya mencapai 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi domestik hanya berkisar 1,6 juta hingga 1,7 juta ton.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, uji coba CNG untuk tabung 3 kg masih berjalan karena tekanan gas yang dihasilkan cukup besar. Tekanan CNG mencapai 200–250 bar atau setara 2.900–3.600 psi.
"Untuk ukuran 3 kilogram, tabungnya masih dalam tahap uji coba karena tekanannya cukup besar. Dalam dua hingga tiga bulan ke depan kami harapkan sudah ada hasilnya," kata Bahlil dikutip dari Antara, Selasa (5/5/2026).
Jika uji coba berhasil, harga CNG diperkirakan jauh lebih terjangkau. "Untuk yang 3 kilogramnya ini baru mau dibuat. Dan ini ongkosnya lebih murah 30–40 persen," ujar Bahlil saat menghadiri acara Himpunan Alumni IPB di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).
Kementerian ESDM juga tengah mengkaji skema subsidi, meski mekanisme dan volumenya masih dibahas. "Semua masih dikaji, termasuk kemungkinan subsidi dan besaran volumenya," ujar Bahlil.
Dorong Perluasan ke Berbagai Sektor
Langkah pemerintah mendapat dukungan dari Komisi XII DPR RI. Anggota Komisi XII dari Fraksi Partai Golkar, Jamaludin Malik, menilai pengembangan CNG sebagai solusi konkret yang patut diapresiasi.
"CNG dapat menjadi solusi konkret untuk menekan impor LPG sekaligus memperkuat ketahanan energi," ujar Jamaludin melalui keterangannya, Selasa (5/5/2026).
Ia mendorong agar pemerintah tidak berhenti pada skema tabung 3 kg, melainkan memperluas pemanfaatan CNG ke sektor transportasi, perhotelan, kawasan perumahan, apartemen, dan sektor komersial lainnya.
"Perluasan pemanfaatan ini penting untuk menciptakan skala ekonomi yang kuat, sehingga penggunaan gas domestik dapat berjalan optimal dan berkelanjutan," tegasnya.
Jamaludin juga menekankan perlunya percepatan pembangunan infrastruktur pendukung, mulai dari stasiun pengisian CNG, fasilitas kompresi, hingga sistem distribusi yang terintegrasi, sebagai faktor kunci keberhasilan kebijakan ini.
CNG Belum Siap untuk Rumah Tangga
Di sisi lain, Institute for Essential Services Reform (IESR) mengingatkan agar implementasi tidak dilakukan tergesa-gesa. Lembaga ini menilai CNG cocok sebagai substitusi LPG untuk segmen komersial, namun belum siap untuk rumah tangga.
"CNG bisa kurangi impor LPG dan emisi. CNG bagus sebagai substitusi LPG untuk pelanggan komersial, dapur besar, UMKM kuliner, hotel/restoran, dan kawasan yang pasokannya dekat dengan infrastruktur gas," tulis IESR di akun Twitter resminya, Minggu (3/5/2026).
"Tapi belum siap jadi pengganti langsung LPG 3 kg," lanjut IESR.
IESR menyoroti sejumlah tantangan teknis, yakni kebutuhan tabung bertekanan tinggi, kompor dan regulator khusus, distribusi yang lebih rumit, serta standar keselamatan yang ketat.
"Hitung biaya dan risikonya. Lakukan uji coba sebelum implementasi luas. Jangan gegabah, people safety should be no. 1," tegas IESR.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang