Commvault Fokus Perkuat Posisi di Pasar RI, Klaim Catat Pertumbuhan Pesat
Commvault memperkuat posisinya di Indonesia dengan menambah SDM dan kemitraan, menargetkan pertumbuhan pendapatan dan resiliensi siber melalui inovasi dan kolaborasi.
(Bisnis.Com) 08/05/26 11:37 215339
Bisnis.com, JAKARTA – Commvault, emiten global penyedia solusi manajemen dan perlindungan data, akan memperkuat posisinya di pasar Indonesia seiring dengan target ambisius yang digapai pada 2026.
Perusahaan berencana menambah sumber daya manusia serta penguatan jaringan kemitraan di Tanah Air.
Vice President Asia Pacific Commvault, Martin Creighan, mengatakan perusahaan menunjukkan tren pertumbuhan pesat di seluruh kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Dia menekankan bahwa pasar Asia Pasifik menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan tertinggi bagi Commvault.
“Platform kami terus berkembang dan berkembang dengan cepat di seluruh Asia Pasifik,” ujar Martin di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Dia menjelaskan Asia Pasifik memiliki keterkaitan erat dengan strategi bisnis perusahaan secara global. Indonesia secara spesifik menjadi geografi fokus bagi Commvault karena mencatatkan perkembangan sangat signifikan.
Martin tidak menyebutkan secara detail pencapaian di Indonesia, tetapi dia menyampaikan bahwa perusahaan akan terus meningkatkan penetrasi pasar dan menambah investasi pada sumber daya manusia.
“Kami mengembangkan tim kami di Indonesia dan lebih penting, kami juga mengembangkan ekosistem partner-partner yang kami bekerja dengan mereka,” tuturnya.
Pertumbuhan di tingkat regional ini sejalan dengan performa keuangan global perusahaan yang solid. Commvault menargetkan total pendapatan tahunan mencapai US$1,18 miliar atau naik 19% dibandingkan tahun sebelumnya.
Indikator utama kesehatan bisnis perusahaan, yakni Pendapatan Tahunan Berulang (Annual Recurring Revenue/ARR), yang ditargetkan tumbuh menjadi US$1,12 miliar, melonjak 21% secara tahunan (year-on-year/YoY). Dari sisi profitabilitas, Laba Operasional Tahunan (EBIT) tercatat sebesar US$74 juta dengan margin operasi di level 6,3%.
Untuk mencapai target pertumbuhan tersebut, Commvault menjalankan strategi ekspansi besar-besaran dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan teknologi global. Salah satu langkah utamanya adalah integrasi dengan Microsoft Security. Kerja sama ini bertujuan menghubungkan deteksi ancaman dengan sistem pemulihan data tepercaya secara lebih efisien.
Selain itu, perusahaan memperluas integrasi dengan CrowdStrike guna memberikan visibilitas dua arah melalui CrowdStrike Falcon Next-Gen SIEM.
Di sektor infrastruktur, Commvault menjalin aliansi strategis dengan NetApp untuk menghadirkan solusi terpadu perlindungan data perusahaan dan ketahanan siber yang lebih andal.
Langkah inovasi perusahaan juga diperkuat melalui aksi korporasi berupa akuisisi Satori, sebuah perusahaan keamanan data berbasis kecerdasan buatan (AI).
Akuisisi ini memungkinkan Commvault memperluas jangkauan ketahanan perusahaan ke area data terstruktur serta data berbasis AI, yang menjadi krusial di era transformasi digital saat ini.
Resiliensi Siber Indonesia
Commvault melihat banyak organisasi di Indonesia masih bergelut dengan tantangan operasional akibat penggunaan perangkat keamanan yang terfragmentasi. Pendekatan terpisah dalam perlindungan data, keamanan identitas, dan proses pemulihan sering kali membatasi visibilitas serta koordinasi, terutama di lingkungan kerja yang terdistribusi.
“Perusahaan di Indonesia saat ini menghadapi badai yang besar, ancaman siber yang tiada henti, diperparah oleh AI serta tantangan pemulihan yang berdampak pada pendapatan dan reputasi,” ujar kata Martin.
Perusahaan membutuhkan waktu lama untuk pulih dari serangan. Para petinggi di dunia berharap perusahaan dapat berjalan normal maksimal 7 hari setelah serangan, atau bahkan lebih cepat dari itu.
Faktanya, rerata waktu yang dibutuhkan untuk bisnis berjalan normal seperti biasa setelah terjadi serangan adalah 48 hari atau hampir 7x lipat lebih lama dari ekspektasi awal.
Hal ini yang coba dipangkas oleh Commvault dengan mendorong pendekatan resiliensi siber, yaitu proses bisnis tetap berjalan seperti biasa di tengah banjir serangan.
Martin menggarisbawahi urgensi perubahan paradigma di kalangan pelaku industri saat menghadapi krisis. “Saat ini, ketahanan bukan hanya soal perlindungan, tetapi tentang memastikan organisasi dapat pulih dengan kepastian dan menjaga kelangsungan bisnis dalam kondisi apa pun,” kata Martin.
Merespons kompleksitas tersebut, perusahaan secara resmi memperkenalkan platform Commvault Cloud Unity. Ekosistem ini mengintegrasikan inovasi perlindungan data, pemulihan siber, ketahanan identitas, serta arsitektur cloud-native ke dalam satu wadah terpadu. Berbekal teknologi AI, sistem ini mampu menemukan beban kerja (workload), mengklasifikasikan data, hingga merekomendasikan kebijakan perlindungan secara otomatis.
Melalui penyelarasan tata kelola, perlindungan, dan pemulihan pada satu platform, organisasi akan memperoleh kendali respons yang lebih komprehensif.
Sementara itu, Field CTO Security APAC Commvault Gareth Russell mengatakan jika Anda tidak memiliki visibilitas yang jelas mengenai data mana yang benar-benar bersih dan dapat dipercaya, maka proses pemulihan menjadi tidak pasti, dan di situlah letak risiko sebenarnya.
“Seiring organisasi memperluas penerapan AI, kompleksitas pada data, akses, dan lingkungan juga ikut meningkat,” kata Gareth.
#commvault-indonesia #manajemen-data #perlindungan-data #asia-pasifik #pertumbuhan-pasar #investasi-sumber-daya #ekosistem-partner #pendapatan-tahunan #integrasi-microsoft #crowdstrike-falcon #netapp-a