Perang Iran Dinilai Ubah Sistem Energi Dunia, Industri Migas Bersiap Hadapi Era Baru

Perang Iran Dinilai Ubah Sistem Energi Dunia, Industri Migas Bersiap Hadapi Era Baru

Perang Iran dan penutupan Selat Hormuz dinilai memicu perubahan besar sistem energi dunia dan strategi keamanan energi global.

(Kompas.com) 10/05/26 06:20 216779

KOMPAS.com-Perang Iran dan penutupan Selat Hormuz dinilai akan mengubah sistem energi dunia secara besar-besaran.

Pandangan tersebut disampaikan sejumlah kepala perusahaan minyak dan gas global dalam laporan keuangan mereka selama dua pekan terakhir.

Penutupan Selat Hormuz membuat distribusi energi global terganggu parah. Jalur laut strategis itu selama ini menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas dunia.

Akibat blokade tersebut, pasokan minyak global disebut kehilangan hampir satu miliar barel. Kekurangan pasokan diperkirakan terus membesar selama jalur itu belum kembali dibuka penuh.

Dilaporkan CNBC, kondisi ini membuat banyak negara dan perusahaan mulai mempertanyakan ketahanan sistem energi global saat ini.

Kepala Eksekutif SLB, perusahaan jasa ladang minyak terbesar dunia, Olivier Le Peuch, mengatakan krisis tersebut memperlihatkan rapuhnya rantai pasok energi global.

“Ini akan mendorong perubahan struktural mendasar di seluruh lanskap energi,” ujar CEO Baker Hughes Lorenzo Simonelli, pesaing utama SLB.

Menurut para eksekutif industri energi, pemerintah kini akan makin fokus pada isu keamanan energi.

“Bukan lagi sekadar bahan pembicaraan,” kata CEO Halliburton Jeffrey Miller.

Perusahaan jasa energi memperkirakan investasi eksplorasi dan produksi minyak akan meningkat setelah perang.

Investasi energi rendah karbon seperti panas bumi, energi nuklir, dan modernisasi jaringan listrik juga diprediksi terus bertambah.

“Ini bukan hanya tentang meningkatkan pasokan energi,” kata Simonelli.

“Ini tentang infrastruktur energi yang kuat dan tangguh serta redundansi yang lebih besar, diversifikasi infrastruktur, dan mengurangi ketergantungan pada satu aset skala besar,” lanjut dia.

Asia Dinilai Paling Rentan

Penutupan Selat Hormuz juga memperlihatkan besarnya ketergantungan negara-negara Asia terhadap minyak mentah dan gas alam cair dari Timur Tengah.

CEO Exxon Mobil Darren Woods mengatakan banyak negara kini mulai mengevaluasi ulang strategi keamanan energi mereka.

“Jelas, orang-orang akan menilai kembali keamanan energi mereka dan bagaimana mereka memastikan bahwa, ke depannya, mereka tidak memiliki paparan yang sama,” ujar Woods.

Pemerintah diperkirakan akan mempercepat diversifikasi sumber energi sekaligus memperbesar cadangan minyak nasional.

Cadangan energi strategis di banyak negara diketahui terkuras selama perang berlangsung.

“Akan ada peningkatan persediaan global di atas tingkat historis untuk memastikan keamanan energi menjadi prioritas utama,” kata Simonelli.

Minyak AS Makin Penting

Di tengah gangguan pasokan global, minyak mentah Amerika Serikat diperkirakan memainkan peran makin besar.

CEO Diamondback Energy Kaes Van’t Hof mengatakan ekspor minyak mentah AS melonjak ke level tertinggi selama perang berlangsung.

Menurut dia, minyak serpih AS kini menjadi salah satu penopang utama keamanan energi dunia.

Sementara itu, CEO Halliburton Jeffrey Miller menilai pasar minyak global kini berubah total.

“Pasar sekarang secara fundamental lebih ketat” akibat gangguan pasokan, ujarnya.

Sebelum perang, pasar memperkirakan surplus minyak global sepanjang tahun ini. Kondisi kini berubah menjadi ancaman defisit besar.

Pelaku industri memperkirakan harga minyak tetap tinggi bahkan setelah perang berakhir.

Kondisi itu diprediksi mendorong investasi besar di proyek minyak lepas pantai dan laut dalam, terutama di Afrika, Amerika, dan Asia.

“Afrika mewakili salah satu peluang jangka panjang yang paling menarik, dengan basis sumber daya minyak dan gas yang belum dikembangkan secara signifikan,” kata Le Peuch.

“Kami memperkirakan alokasi portofolio akan bergeser lebih menguntungkan ke wilayah ini seiring waktu,” lanjut dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#selat-hormuz #harga-minyak-dunia #perang-iran #industri-minyak

https://money.kompas.com/read/2026/05/10/062000126/perang-iran-dinilai-ubah-sistem-energi-dunia-industri-migas-bersiap-hadapi-era