Sinyal Bunga Kredit Turun, Bank Sampoerna Buka Suara
Bank Sampoerna akan menurunkan bunga kredit secara bertahap dan selektif, fokus pada UMKM, sambil menjaga keseimbangan profitabilitas dan kualitas aset.
(Bisnis.Com) 11/05/26 07:03 217276
Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Sahabat Sampoerna melihat ruang penurunan bunga kredit masih terbuka, tetapi prosesnya belum bisa berlangsung cepat di tengah tingginya biaya dana dan kehati-hatian industri menjaga kualitas aset.
Bank yang fokus pada segmen UMKM itu menyebut penyesuaian bunga kredit masih dilakukan secara bertahap dan selektif.
Direktur Finance & Business Planning Bank Sahabat Sampoerna Henky Suryaputra mengatakan penurunan bunga dana di level industri belum otomatis langsung menurunkan biaya dana masing-masing bank.
“Bank Sampoerna melakukan penyesuaian suku bunga kredit secara bertahap dan selektif,” ujar Henky kepada Bisnis.com, dikutip Minggu (10/5/2026).
Menurut dia, masih terdapat jeda waktu sebelum penurunan bunga dana benar-benar tercermin pada cost of fund perbankan, terutama karena kontrak deposito berjangka masih berjalan.
“Meskipun bunga DPK secara industri menurun, penurunan biaya dana di tingkat bank sering kali memiliki jeda (lag time),” katanya.
Bank Sampoerna saat ini juga fokus memperbesar komposisi dana murah atau CASA untuk memperluas ruang penurunan bunga kredit. Hingga akhir 2025, rasio CASA perseroan tercatat meningkat menjadi 22% dari sebelumnya 16%.
Henky mengakui langkah penurunan bunga kredit yang terlalu agresif dapat menekan margin dan mengurangi kemampuan bank membentuk pencadangan.
“Jika bunga kredit diturunkan terlalu agresif, margin bank bisa tergerus dan mengganggu kemampuan kami dalam membentuk cadangan kerugian (CKPN) yang memadai,” ujarnya.
Karena itu, katanya, Bank Sampoerna memilih menjaga keseimbangan antara daya saing bunga, profitabilitas, dan kekuatan permodalan.
Terkait tingginya undisbursed loan industri, Henky menilai tantangan penyaluran kredit saat ini bukan hanya berasal dari sisi permintaan, tetapi juga pertimbangan manajemen risiko internal bank.
“Di segmen UMKM yang menjadi fokus utama kami, permintaan sebenarnya tetap ada tetapi sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi makro,” katanya.
Di tengah ketidakpastian ekonomi, Bank Sampoerna menegaskan ekspansi kredit tetap akan dijalankan secara prudent demi menjaga kualitas aset.
“Bank Sampoerna tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) untuk memastikan kualitas aset terjaga. Kami tidak ingin sekadar melakukan ekspansi agresif jika profil risiko debitur belum sesuai dengan kriteria kesehatan bank,” ujar Henky.
Sebelumnya, OJK menyebut kondisi likuiditas perbankan nasional masih memadai untuk mendukung pembiayaan sektor riil meski dinamika ekonomi global dan domestik masih berkembang.
OJK juga melihat prospek ekonomi domestik masih berada di zona optimistis yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2026 sebesar 122,89 dan PMI Manufaktur Indonesia yang tetap ekspansif di level 50,1.
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, indikator tersebut menunjukkan konsumsi rumah tangga dan aktivitas manufaktur nasional masih terjaga sehingga dapat mendukung pertumbuhan kredit ke depan.
Namun, di tengah volatilitas ekonomi global dan pelemahan rupiah, OJK juga meminta perbankan memperkuat mitigasi risiko dan melakukan stress test secara berkala.
#bank-sampoerna #bunga-kredit-turun #penurunan-bunga-kredit #biaya-dana-bank #suku-bunga-kredit #bunga-dana-industri #cost-of-fund #dana-murah-casa #rasio-casa #margin-bank #cadangan-kerugian #daya-sai