Ngkaji Pendidikan di Jogja: Ketika Pendidikan Lupa Memahami Manusia

Ngkaji Pendidikan di Jogja: Ketika Pendidikan Lupa Memahami Manusia

GSM menggelar forum Ngkaji Pendidikan bertajuk “Membaca? See the Unseen di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya Yogyakarta.... | Halaman Lengkap

(SINDOnews Ekbis) 12/05/26 11:47 218808

YOGYAKARTA - Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) menggelar forum Ngkaji Pendidikan bertajuk “Membaca? See the Unseen” di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya Yogyakarta, Sabtu (9/5/2026). Kegiatan inidihadiri sekitar 500 guru dan pegiat pendidikan dari berbagai daerah seperti Kalimantan Selatan, Bontang, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, DI Yogyakarta, hingga Bali.

Berbeda dari seminar pendidikan pada umumnya, forum ini tidak dipenuhi pembahasan kurikulum , administrasi sekolah, atau strategi pembelajaran teknis. Yang dibicarakan justru sesuatu yang lebih mendasar: manusia, kesadaran, dan kemampuan melihat hal-hal yang selama ini tidak tampak di ruang kelas.

Muhammad Nur Rizal, pendiri GSM sekaligus dosen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam paparannya membuka kegelisahan yang selama ini diam-diam dirasakan banyak guru. ”Sekolah bertambah, tetapi kemampuan berpikir tidak tumbuh,” katanya. 20 Negara yang Penduduknya Paling Rajin Baca Buku, Ini Posisi Indonesia

Menurut data BPS, jumlah sekolah dari 100 ribuan (1970), naik menjadi 200 ribuan (2000) dan menjadi 300 ribuan (2020). Jumlah universitas dari kurang lebih 10–20 PT (1950-an), naik menjadi 1171 (1993) dan melesat diatas 4000 kampus (2022).

Jumlah mahasiswa juga meningkat dari 200 ribuan (1975), hari ini meningkat pesat menjadi 9.9 juta (2025). Sementara jumlah lulusan sarjana melonjak drastis, dari hanya 30.000-50.000 (1980-an), naik ke 1,3 juta-an (2025).

Namun di tengah ledakan kuantitas tersebut, kualitas berpikir tidak tumbuh secara sebanding. Data PISA 2022 yang dipublikasikan OECD pada 2023 menunjukkan skor Indonesia masih tertinggal sekitar 100-120 poin dari rata-rata OECD dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains. Mayoritas siswa Indonesia juga belum mencapai kompetensi minimum dalam tiga bidang tersebut.

Sementara itu, data PIAAC OECD (2014–2015) menunjukkan kemampuan literasi mayoritas lulusan sarjana di Jakarta masih setara dengan lulusan SMP di Jepang atau negara-negara Skandinavia. Temuan ini memperlihatkan bahwa lamanya seseorang bersekolah tidak otomatis berbanding lurus dengan kualitas berpikirnya.

Rizal juga menyoroti rapuhnya struktur mental peserta didik sebagai akibat dari lingkungan belajar yang tidak melatih ketahanan berpikir. Laporan OECD menunjukkan siswa Indonesia mengalami tingkat perundungan lebih tinggi dibanding banyak negara lain (41% Indonesia vs 23% OECD), sekaligus memiliki growth mindset yang jauh lebih rendah (29% Indonesia vs 63% OECD).

Fenomena inilah yang kemudian Rizal ungkapkan sebagai “Schooling Without Learning”. Sekolah berjalan, tetapi belajar tidak benar-benar terjadi. Untuk menjelaskan persoalan tersebut, Rizal tidak memulai dari teori pendidikan konvensional.

Ia mengajak peserta memahami konsep entropi dalam hukum kedua termodinamika: bahwa segala sesuatu yang dibiarkan akan bergerak menuju ketidakteraturan. Es mencair. Bangunan rusak. Sistem runtuh. Dan menurut Rizal, pendidikan pun dapat mengalami hal serupa.

Ketika proses belajar berjalan otomatis tanpa refleksi dan kesadaran, sekolah perlahan berubah menjadi sistem yang sibuk menghasilkan kepatuhan, tetapi gagal membangun manusia yang sadar. Manusia dilatih sekadar menjadi “mesin pengulang”.

Ia kemudian mengaitkannya dengan teori dua sistem berpikir dari Daniel Kahneman: Sistem 1 yang cepat, otomatis, impulsif, dan berjalan seperti autopilot; serta Sistem 2 yang lambat, reflektif, dan sadar.

Menurut Rizal, pendidikan hari ini terlalu sering melatih sistem pertama: hafalan, pengulangan, jawaban tunggal, serta kepatuhan tanpa refleksi. Akibatnya, manusia terbiasa menjawab cepat, tetapi tidak terbiasa memahami pikirannya sendiri. “Padahal, masa depan pendidikan seharusnya adalah melatih kesadaran,” demikian salah satu pesan utama yang disampaikan Rizal dalam forum tersebut.

Sebagai respons atas kondisi tersebut, Rizal memperkenalkan konsep “Saklar Kognitif”, yakni kemampuan manusia untuk mengamati pikirannya sendiri atau metakognisi. Konsep itu dijelaskan melalui tiga tahap.

Pertama, Interrupt (menghentikan respons otomatis). Kedua, Observe (mengamati proses berpikir sendiri). Ketiga, Reconstruct (memperbarui cara berpikir dan bertindak secara sadar). Dalam forum tersebut, konsep itu tidak diposisikan sekadar sebagai metode belajar, melainkan sebagai fondasi kesadaran manusia.

Ngkaji Pendidikan GSM Sebut Pendidikan Kehilangan Fondasi Kemanusiaan

Bagi banyak peserta, forum tersebut terasa sangat personal. “Ngkaji Pendidikan adalah kompas pendidikan bagi kami para guru Indonesia,” ungkap Rivai, seorang guru muda dari Yogyakarta.

Aji, seorang profesional yang turut hadir dalam forum tersebut, menyebut Ngkaji Pendidikan sebagai ruang yang langka dan unik, yang sulit ditemukan saat ini. Menurutnya, forum ini bukan sekadar tempat transfer materi, tetapi juga transfer energi, makna, dan harapan baru bagi siapa pun yang hadir di dalamnya.

Ia menilai Ngkaji Pendidikan mampu membangun imajinasi konstruktif. Peserta tidak hanya memahami persoalan pendidikan secara intelektual, tetapi juga menemukan makna terdalam melalui pengalaman batinnya masing-masing.
(poe)

#gerakan-sekolah-menyenangkan-gsm #pendidikan-indonesia #kurikulum-pendidikan #kualitas-pendidikan #belajar-mengajar

https://edukasi.sindonews.com/read/1705947/212/ngkaji-pendidikan-di-jogja-ketika-pendidikan-lupa-memahami-manusia-1778558701