Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.541 Usai Pengumuman MSCI, Dolar AS Makin Perkasa
Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.541,5 per dolar AS setelah pengumuman rebalancing MSCI, sementara dolar AS menguat.
(Bisnis.Com) 13/05/26 09:43 219820
Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah ke posisi Rp17.541,5 pada perdagangan hari ini, Rabu (13/5/2026), usai lembaga penyedia indeks global MSCI Inc. mengumumkan hasil rebalancing Mei 2026. Di sisi lain, pergerakan greenback mengalami apresiasi.
Berdasarkan data pasar, rupiah dibuka melemah 13 poin atau 0,07% ke Rp17.541,5 per dolar AS. Adapun, indeks dolar AS menguat 0,01% ke 98,30.
Sementara itu, mayoritas mata uang di Asia dibuka melemah. yen Jepang terdepresiasi 0,05% bersama won Korea sebesar 0,29%. Peso Filipina dan rupee India masing-masing juga melemah 0,03% dan 0,34% terhadap dolar AS.
Rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan, usai menembus psikologis baru di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global.
Research and Development ICDX, Tiffani Safinia menjelaskan terperosoknya rupiah hingga melampaui Rp17.500 mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dan domestik. Dari sisi global, keperkasaan greenback masih didorong oleh ekspektasi suku bunga tinggi Federal Reserve yang bertahan lebih lama.
"Ada peningkatan permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah serta kenaikan harga minyak dunia. Pasar juga menanti arah data inflasi AS yang akan menentukan kebijakan moneter The Fed ke depan," ujarnya.
Dari sisi domestik, pelemahan rupiah turut dipengaruhi oleh aliran modal asing dan persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Tiffani menilai, isu transparansi dan struktur pasar modal yang sebelumnya disoroti MSCI meningkatkan kehati-hatian investor global terhadap aset domestik.
Selain itu, pasar mencermati kekhawatiran terkait kapasitas fiskal pemerintah, terutama besarnya beban subsidi saat rupiah melemah. Tekanan makin berat seiring dengan meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri korporasi yang biasanya mencapai siklus puncak pada periode April–Mei.
Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat depresiasi rupiah menjadi lebih dalam dibandingkan mata uang regional lainnya.
Ke depan, Tiffani melanjutkan bahwa dampak pelemahan kurs perlu diwaspadai dari sisi inflasi impor (imported inflation). Kenaikan biaya impor bahan baku dan energi berpotensi mendorong kenaikan harga domestik secara bertahap.
Bagi APBN, pelemahan kurs memperberat beban subsidi energi dan pembayaran utang valas. Sementara di sektor riil, korporasi dengan kewajiban dolar AS namun pendapatan berbasis rupiah akan menghadapi tekanan pada arus kas.
“Namun, pelemahan ini memberi sisi positif terbatas bagi eksportir karena meningkatkan daya saing harga produk di pasar internasional,” tambahnya.
Tiffani menggarisbawahi bahwa Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang stabilisasi melalui intervensi pasar valas dan optimalisasi instrumen moneter.
Namun, lanjutnya, selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi, volatilitas rupiah diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek.
Sebelumnya, lembaga penyedia indeks internasional, MSCI Inc. baru saja mengumumkan hasil rebalancing saham hari ini.
Berdasarkan MSCI May 2026 Index Review, tidak ada tambahan saham Indonesia baru dalam MSCI Global Standard Index. Sebaliknya, MSCI menghapus enam saham Indonesia dari indeks tersebut, yakni AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT.
Namun, MSCI memasukkan saham AMRT ke dalam MSCI Small Cap Index setelah sebelumnya saham tersebut dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index.
Di sisi lain, terdapat 13 saham Indonesia yang dicoret dari MSCI Small Cap Index. Saham-saham tersebut meliputi ANTM, AALI, BANK, dan BSDE.
Kemudian, MSCI juga menghapus DSNG, SIDO, MIDI, serta MIKA dari MSCI Small Cap Index.
Selanjutnya, saham MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG juga keluar dari indeks tersebut.
BRI Danareksa dalam riset belum lama ini, menilai saham yang keluar dari MSCI berisiko mengalami tekanan jual akibat rebalancing institusi asing dan ETF berbasis MSCI. Volatilitas diprediksi meningkat menjelang akhir Mei seiring dengan penyesuaian portofolio investor institusi.
Selain itu, tidak adanya saham baru yang masuk ke MSCI Standard juga dinilai menjadi sentimen tersendiri bagi pasar RI.
Adapun pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup melemah 0,92% ke level 6.905,5. Tekanan jual asing masih dominan pada angka Rp659 miliar di pasar reguler.
Tidak hanya di Indonesia, mayoritas bursa di Asia turut melemah seiring kenaikan harga minyak mentah, selepas Presiden AS Donald Trump menolak proposal damai Iran. Rupiah bahkan bergerak di atas level Rp17.400 per dolar AS dan menambah tekanan di pasar RI.
”Sentimen pasar sempat membaik setelah penundaan rencana kenaikan tarif royalti tambang, namun kembali tertekan setelah pemerintah memastikan penyesuaian royalti tetap berlaku mulai Juni 2026,” katanya.
#rupiah-melemah #dolar-as #nilai-tukar-rupiah #msci-rebalancing #greenback-apresiasi #mata-uang-asia #tekanan-rupiah #suku-bunga-federal-reserve #ketegangan-geopolitik #inflasi-impor #bank-indonesia-in