Kepastian Investasi Gim Bergantung pada Konsitensi Regulasi PP Tunas
Konsistensi regulasi penting untuk investasi gim di Indonesia. PP Tunas dan IGRS harus selaras untuk menghindari duplikasi aturan dan mendukung ekosistem yang aman.
(Bisnis.Com) 13/05/26 19:39 220647
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) menegaskan konsistensi regulasi merupakan fondasi utama untuk menciptakan ekosistem industri gim yang sehat dan menarik bagi investor.
Direktur Gim Kemenparekraf Luat Sihombing menyatakan iklim investasi serta kemudahan berusaha hanya dapat terwujud apabila kebijakan pemerintah berjalan secara berkesinambungan bagi seluruh pelaku industri.
Hal ini bersinggungan dengan pemerintah yang sedang fokus pada penciptaan ruang digital yang aman melalui PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang perlindungan anak atau PP Tunas dan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 11 Tahun 2016 terkait Indonesia Game Rating System (IGRS).
"Teman-teman pelaku industri (gim) butuh konsistensi terhadap kebijakan karena iklim investasi hanya bisa didapat ketika ada konsistensi berulang," ujar Luat dalam acara Bisnis Indonesia Forum Rabu, (13/5/2026).
Dia mengatakan dengan kehadiran PP Tunas, maka developer, publisher, dan produk game yang beredar di Indonesia saat ini dikenakan oleh dua regulasi yaitu PP Tunas dan IGRS. Hal ini menimbulkan pertanyaan di industri gim mengenai potensi duplikasi beban administratif.
Selain itu, Luat menambahkan terdapat potensi tumpang tindih antara aturan IGRS dengan PP Tunas, terutama pada gim yang memiliki fitur komunikasi atau sosial. Pemerintah berupaya memastikan fitur tersebut tetap fungsional namun aman bagi pengguna di bawah usia 16 tahun.
Melalui aturan ini, produk gim akhirnya dikelompokkan berdasarkan tiga profil risiko, yakni rendah, menengah, dan tinggi yang ditentukan oleh batasan usia serta fitur di dalamnya. Pendekatan tersebut mendorong para pengembang dan penerbit gim untuk menerapkan prinsip compliance by design sebelum memasarkan produk mereka di pasar Indonesia
Luat menilai hal tersebut penting agar pelaku industri, termasuk investor asing, memiliki pemahaman jelas mengenai standar konten yang berlaku di pasar domestik.
Selain aspek regulasi, Kementerian Ekraf menyoroti tantangan konsumsi produk lokal yang saat ini baru menyerap 0,5% dari total pangsa pasar gim di tanah air.
Sementara itu, Implementasi regulasi gim di Indonesia dinilai cukup progresif dan menjadi salah satu yang terdepan di kawasan Asia Tenggara. Indonesia tercatat lebih dahulu menerapkan pedoman klasifikasi dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Di sisi lain, efektivitas regulasi ini sangat bergantung pada tingkat literasi digital dan kesadaran masyarakat. Permasalahan utama yang masih dihadapi adalah rendahnya kemampuan orang tua dalam memverifikasi serta memvalidasi konten di internet.
Meski platform digital telah menyediakan fitur kontrol orang tua (parental control), banyak masyarakat yang belum memahami fungsinya secara optimal. Ketidakpahaman terhadap risiko dan peruntukan konten menjadi tantangan dalam memberikan perlindungan bagi anak di tingkat rumah tangga. Penyelarasan teknis ini diharapkan dapat memperkuat daya saing pelaku lokal sekaligus menjamin keamanan ekosistem digital nasional.
"Tujuannya sangat baik, tapi kita harus memberikan informasi yang lebih pasti terhadap industri supaya terjadi keseimbangan antara perlindungan dan kemampuan berbisnis," pungkas Luat.
#investasi-gim #konsistensi-regulasi #ekosistem-industri-gim #iklim-investasi #kebijakan-pemerintah #pp-tunas #indonesia-game-rating-system #regulasi-gim-indonesia #industri-gim-lokal #investor-asing #n-a