Cegah Masalah Tulang di Usia Senja dengan Gaya Hidup
Gaya hidup sehat dan olahraga dapat mencegah masalah tulang di usia lanjut. Konsultasi dokter penting sebelum olahraga untuk menghindari cedera.
(Bisnis.Com) 07/06/26 16:37 242690
Bisnis.com, JAKARTA - Bagi pasien dengan gangguan sendi lutut, keberhasilan layanan orthopaedi tidak hanya diukur dari tindakan medis yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuan untuk kembali berjalan, bergerak, bekerja, beribadah, berolahraga, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.
Banyak dari pasien ortopedi yang merasa kesulitan melakukan aktivitasnya, sehingga harus menjalani operasi untuk kesembuhannya.
dr. Henry Suhendra, Sp.OT, Subsp.CO(K), Founder Siloam Hospitals Mampang, menambahkan bahwa layanan orthopaedi tidak selalu harus berujung pada operasi.
“Teknologi penting untuk meningkatkan presisi dan keamanan tindakan, tetapi tujuan utama kami adalah membantu pasien kembali bergerak dan hidup lebih baik," ujarnya.
Dia mengatakan, dalam banyak kondisi, terapi konservatif, rehabilitasi terarah, dan pemantauan berkelanjutan juga memiliki peran penting dalam perjalanan pemulihan pasien.
Selain itu, katanya, olahraga juga bisa memperkuat tulang sehingga tidak mengalami masalah gangguan ortopedi di usia lansia.
Menurutnya, seseorang bisa tetap aktif dan bebas dari masalah ortopedi jika menerapkan gaya hidup yang sehat, termasuk olahraga.
Dia memaparkan, meski demikian lansia juga harus berkonsultasi dengan dokter sebelum melakukan olahraga. Tujuannya agar tidak salah dalam melakukan dan memilih jenis olahraga yang justru bisa berbahaya.
Menurutnya, pasien dengan umur 70 tahun atau 80 tahun ketika massa otot nambah maka bisa lebih kuat tulangnya.
"Obat juga bisa dihilangkan dan digantikan dengan gaya hidup yang sehat dan benar," katanya.
Adapun, lanjutnya, olahraga yang bisa dilakukan di usia 50 tahun ke atas beragam, salah satunya angkat beban.
Meski demikian, menurutnya saat olahraga angkat beban juga harus progresive overload.
Semisal, kalau awal olahraga bebannya hanya 1 kg, maka olahraga selanjutnya bisa ditambah bebannya lagi.
Prof. Dr. dr. Andri M. T. Lubis, Sp.OT, Subsp.CO(K), Founder Siloam Hospitals Mampang, menekankan bahwa perkembangan orthopaedi perlu diterjemahkan menjadi praktik klinis yang lebih baik dan aman bagi pasien.
“Melalui Siloam Orthovolution 2026, kami ingin membangun ruang pembelajaran yang ilmiah dan aplikatif, agar inovasi dalam teknologi, teknik operasi, dan pemulihan pasien dapat diterapkan secara tepat,” ujar Prof. Andri dalam Siloam Orthovolution 2026: Symposium & Live Surgery untuk pertama kalinya pada Sabtu, 6 Juni 2026, dengan tema “Transforming Orthopaedic Care Through Innovation.”
Jika nyeri lutut terus mengganggu aktivitas harian atau bahkan semakin parah meski berbagai langkah pengobatan sudah dicoba, operasi penggantian sendi lutut (total knee replacement/TKR) sering kali menjadi pilihan untuk meredakan nyeri dan memulihkan fungsi lutut.
Prosedur TKR kini semakin berkembang dengan adanya teknologi pendamping bedah yang dapat membantu dokter memberi hasil lebih optimal. Sistem asistensi ini disebut dengan robotic assisted surgery.
Dilansir dari laman resmi Siloam, robotic assisted surgery adalah sistem asistensi bedah yang memadukan pemetaan anatomi tiga dimensi (3D), pelacakan posisi secara real-time, dan lengan robotik yang membantu menstabilkan penggunaan alat-alat bedah. Melalui kombinasi gambar praoperatif dan sensor intraoperatif, teknologi ini memberikan informasi navigasi secara terus-menerus saat prosedur berlangsung.
Prosedur operasi penggantian sendi lutut dengan robotic assisted surgery pada dasarnya sama seperti operasi total knee replacement/TKR pada umumnya, hanya saja dilengkapi dengan alat bantu robotik. Teknologi ini dirancang untuk mendukung ahli bedah dalam melakukan pemotongan tulang serta penempatan implan dengan tingkat presisi yang lebih konsisten dibandingkan metode manual.
Penting untuk dipahami bahwa robot tidak bekerja sendiri dan tidak akan bergerak tanpa arahan dari dokter. Sehingga, sepanjang operasi dokter tetap berada di ruang bedah dan tetap menjadi pengambil keputusan utama pada setiap langkah prosedur.
Iskandar Abubakar, salah satu pasien Total Knee Replacement (TKR) di Siloam Hospitals Mampang, yang sebelumnya mengalami keterbatasan gerak akibat keluhan pada lututnya.
“Bagi saya, keputusan untuk menjalani tindakan TKR bukan keputusan yang mudah. Ada rasa khawatir, tetapi sejak awal saya mendapatkan penjelasan yang jelas dan dukungan yang baik. Yang paling berarti bagi saya adalah merasa didampingi, bukan hanya saat tindakan, tetapi juga dalam proses untuk bisa kembali bergerak dan beraktivitas dengan lebih baik,” ujar Iskandar.
Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Vera, pasien bilateral knee replacement di Siloam Hospitals Mampang, yaitu tindakan penggantian sendi lutut pada kedua kaki. Dalam waktu tiga bulan pascaoperasi, Vera telah kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman, bahkan mengikuti kompetisi olahraga dan berhasil meraih kemenangan.
#tulang-sehat #gaya-hidup-sehat #masalah-ortopedi #olahraga-lansia #operasi-lutut #robotic-assisted-surgery #terapi-konservatif #rehabilitasi-ortopedi #sendi-lutut #total-knee-replacement #teknologi-or