Efek Samping BI Rate Naik: Kredit Berpotensi Melambat, Dunia Usaha Waspada
BI Rate naik menjadi 5,75 persen. Ekonom menilai biaya kredit baru mulai naik dan dunia usaha perlu lebih cermat berekspansi.
(Kompas.com) 19/06/26 09:27 254209
JAKARTA, KOMPAS.com - Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,75 persen dinilai mulai berdampak pada biaya pembiayaan.
Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global. Namun, biaya pembiayaan bagi dunia usaha dan masyarakat berpotensi meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai dampak kenaikan suku bunga mulai terlihat dari kenaikan bunga kredit baru yang disalurkan perbankan.
"Kenaikan BI-Rate memang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi, tetapi konsekuensinya adalah biaya dana perbankan akan meningkat sehingga secara bertahap akan diteruskan ke suku bunga kredit," ujar Josua kepada Kompas.com, Jumat (19/6/2026).
Data BI menunjukkan rata-rata suku bunga dasar kredit (SBDK) perbankan masih relatif stabil pada Mei 2026 di level 8,7 persen.
Meski begitu, suku bunga kredit baru naik menjadi 9,31 persen dari sebelumnya 8,95 persen.
Kenaikan tersebut menunjukkan transmisi kebijakan moneter mulai berjalan.
Josua mengatakan, permintaan kredit baru berpotensi melambat jika tren kenaikan bunga berlanjut.
Tekanan terutama berisiko terjadi pada segmen yang sensitif terhadap suku bunga. Segmen tersebut meliputi kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor (KKB), kredit konsumsi, hingga pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Kenaikan suku bunga biasanya memiliki jeda waktu sebelum berdampak penuh ke perekonomian. Risiko yang perlu diwaspadai adalah perlambatan pertumbuhan kredit dan tertundanya keputusan investasi dari pelaku usaha," katanya.
Meski demikian, Josua menilai kondisi perbankan nasional masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan kredit.
Kredit perbankan tumbuh 11,51 persen secara tahunan pada Mei 2026. Angka itu lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang sebesar 9,98 persen.
Pertumbuhan kredit ditopang kredit investasi yang melonjak 21,95 persen, kredit modal kerja 8,09 persen, dan kredit konsumsi 5,89 persen.
"Fundamental perbankan masih solid. Likuiditas juga masih memadai sehingga dalam jangka pendek dampak kenaikan suku bunga terhadap penyaluran kredit kemungkinan masih terbatas," ujarnya.
Josua mengingatkan, dunia usaha mulai berhitung lebih cermat terhadap rencana ekspansi bisnis.
Pertimbangannya bukan hanya biaya pinjaman yang lebih mahal, tetapi juga ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.
Josua menilai tantangan terbesar bukan hanya kenaikan bunga. Dunia usaha juga menghadapi kombinasi biaya pembiayaan yang meningkat, tekanan nilai tukar, dan perlambatan permintaan global.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi prospek usaha.
Karena itu, Josua menilai langkah BI mempertahankan kebijakan makroprudensial yang longgar menjadi keputusan tepat untuk mengimbangi dampak pengetatan moneter.
"Insentif likuiditas makroprudensial perlu terus diarahkan ke sektor-sektor produktif yang memiliki efek berganda besar terhadap perekonomian, seperti manufaktur, ketahanan pangan, ekspor, dan UMKM," ujarnya.
Josua juga menegaskan, upaya menjaga pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan moneter.
Pemerintah perlu memastikan kebijakan fiskal tetap kredibel, menjaga daya beli masyarakat, serta mempercepat belanja produktif.
Langkah tersebut diperlukan agar dampak kenaikan suku bunga terhadap aktivitas ekonomi dapat ditekan.
"Keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan menjadi kunci. BI saat ini fokus menjaga stabilitas rupiah, sementara pemerintah perlu memastikan momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga melalui kebijakan fiskal yang tepat sasaran," katanya.
Josua memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen hingga akhir tahun jika tekanan terhadap rupiah mereda dan inflasi tetap berada dalam rentang sasaran bank sentral.
Meski begitu, pelaku usaha tetap perlu mewaspadai potensi biaya pembiayaan yang lebih tinggi.
Risiko itu muncul sebagai konsekuensi dari periode suku bunga tinggi yang diperkirakan berlangsung lebih lama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang