Sekitar Bandara Kertajati Masuk Zona Merah Kekeringan
Majalengka menetapkan siaga darurat kekeringan dan karhutla hingga Oktober 2026. Kertajati dan wilayah utara rawan kekeringan, berdampak pada pertanian dan air bersih.
(Bisnis.Com) 23/06/26 12:38 257226
Bisnis.com, MAJALENGKA-Pemerintah Kabupaten Majalengka menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama lima bulan, mulai 2 Juni hingga 31 Oktober 2026.
Salah satu wilayah yang kembali menjadi sorotan adalah Kecamatan Kertajati, kawasan yang berkembang pesat seiring keberadaan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, namun masih masuk dalam peta daerah rawan kekeringan saat musim kemarau.
Penetapan status siaga darurat tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Majalengka Nomor 100.3.3.2/KEP.567-BPBD/2026. Kebijakan itu diambil sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi penurunan curah hujan selama musim kemarau tahun ini berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka Agus Tamim mengatakan, wilayah utara Majalengka, termasuk Kertajati, merupakan kawasan yang secara historis kerap terdampak kekeringan.
Selain Kertajati, daerah rawan lainnya meliputi Kecamatan Jatitujuh, Ligung, dan Sumberjaya.
“Prediksi BMKG menunjukkan adanya potensi penurunan curah hujan yang signifikan. Karena itu kami harus mengantisipasi dampak kekeringan, baik terhadap sektor pertanian maupun kebutuhan air bersih masyarakat,” ujar Agus, Selasa (23/6/2026).
Menurut dia, karakteristik wilayah utara Majalengka yang didominasi dataran rendah dan lahan pertanian membuat kawasan tersebut sangat bergantung pada ketersediaan air irigasi.
Ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang, pasokan air untuk pertanian berpotensi berkurang dan memengaruhi produktivitas lahan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian tersendiri di Kertajati yang dalam beberapa tahun terakhir berkembang sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat.
Keberadaan bandara internasional, kawasan industri, serta berbagai proyek penunjang investasi dinilai belum sepenuhnya menghapus persoalan mendasar terkait kerentanan terhadap kekeringan.
BPBD mencatat, ancaman kekeringan di Majalengka tidak hanya berdampak pada lahan pertanian, tetapi juga dapat memicu krisis air bersih bagi masyarakat di sejumlah wilayah. Karena itu, pemerintah daerah mulai memperkuat langkah mitigasi sejak awal musim kemarau.
Agus mengatakan, BPBD telah menyusun rencana kontinjensi dan meningkatkan kesiapsiagaan personel maupun logistik untuk menghadapi kemungkinan bertambahnya wilayah terdampak.
Pemerintah daerah juga meminta seluruh camat dan kepala desa melakukan pemetaan secara berkala terhadap wilayah yang mulai mengalami kekurangan air.
"Data tersebut akan digunakan sebagai dasar penyaluran bantuan air bersih agar distribusinya lebih tepat sasaran ketika kondisi darurat terjadi," ujarnya.
Selain ancaman kekeringan, Pemkab Majalengka juga mewaspadai potensi meningkatnya kejadian karhutla selama musim kemarau. Risiko kebakaran diperkirakan terjadi di kawasan hutan negara, wilayah sekitar Gunung Ciremai, serta lahan-lahan kering milik masyarakat.
BPBD mengajak masyarakat mulai menghemat penggunaan air bersih dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membakar lahan maupun membuang puntung rokok sembarangan.
“Jika terdapat wilayah yang mulai mengalami krisis air bersih atau ditemukan titik api, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada BPBD agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” kata Agus.
#kekeringan-kertajati #bandara-kertajati #zona-merah-kekeringan #majalengka-kekeringan #siaga-darurat-kekeringan #bmkg-prediksi-hujan #bpbd-majalengka #lahan-pertanian-majalengka #krisis-air-bersih #mi