Pemburu Peluang Ekspor di Balik Jaringan BNI Xpora

Pemburu Peluang Ekspor di Balik Jaringan BNI Xpora

BNI Xpora memfasilitasi UMKM di Jawa Tengah untuk memperluas pasar ekspor melalui business matching dan dukungan pembiayaan fleksibel.

(Bisnis.Com) 23/06/26 16:30 257525

Bisnis.com, SEMARANG — Layar ponsel Taufan Prakoso memunculkan notifikasi. Di aplikasi pesan, muncul pemberitahuan tentang kebutuhan dari buyer asal Kanada yang sedang mencari barang kerajinan berbahan rotan dan pakaian bergaya Bali.

Menerima umpan tersebut, Taufan segera menyebar jala. Sebagai Analis Bisnis Small di BNI Kantor Wilayah (Kanwil) Semarang, ia meneruskan pesan itu kepada para tim marketing yang tersebar di 11 kantor cabang. Tim kemudian mencocokkan dengan data nasabah yang sesuai dan meminta mereka segera menyiapkan dokumen yang dibutuhkan.

Salah satu penerima pesan itu adalah Salmon Tarihoran, Marketing Supervisor yang ditugaskan BNI di Kabupaten Jepara. Salmon baru saja mengunjungi nasabah Xpora yang bergerak di bisnis furnitur, sebuah agenda rutin untuk menjaga relasi sekaligus memberikan info-info terbaru.

BNI Kanwil Semarang menangani sejumlah debitur UMKM Xpora yang bergerak di bisnis ekspor. Sebagian besar berasal dari Jepara dan Kendal, dua wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis furnitur ekspor Jawa Tengah. Banyak di antara mereka sudah memiliki jalur pasar sendiri.

Untuk segmen seperti ini, peran tim advisor Xpora bukan sekadar membuka akses pembiayaan, tetapi memastikan likuiditas tetap terjaga ketika pesanan besar datang atau ekspansi usaha dibutuhkan. Pada saat yang sama, jaringan ini juga mendorong pelaku usaha memperluas pasar melalui berbagai agenda pertemuan dengan buyer.

Di luar itu, Xpora juga menyasar eksportir pemula yang masih merintis jalur ke pasar global. Di segmen ini, kesempatan bertemu buyer menjadi kebutuhan utama.

“Ada agenda business matching yang kami prioritaskan untuk nasabah Xpora. Bisa dalam format online maupun offline bertemu langsung dengan calon buyer,” ujar Taufan saat ditemui di kantornya, Senin (22/6/2026).

Guna menjaga aliran peluang tersebut, tim advisor Xpora di kantor pusat BNI secara berkala mengirimkan informasi permintaan pasar global ke 17 wilayah operasional BNI. Setiap pesan yang masuk segera direspons dengan langkah taktis di tingkat regional.

Pada tahap ini, tim lapangan mengumpulkan company profile dan sampel produk dari nasabah yang dinilai siap. Dokumen tersebut kemudian disaring sebelum diteruskan kepada buyer. Skema ini berjalan berdampingan dengan agenda business matching, yang menjadi ruang pertemuan langsung antara UMKM dan pembeli internasional.

Hidden Gem

Tim advisor Xpora tidak hanya mendampingi eksportir yang sudah aktif. Mereka juga menelusuri data transaksi nasabah untuk menemukan pelaku usaha yang berpotensi naik kelas menjadi eksportir kelas kakap. Dalam penelusuran data internal ini, fokus utama tertuju pada rekam jejak mutasi nasabah BNI yang memiliki kapasitas untuk ekspor namun belum memaksimalkan ceruk pasar internasional.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, industri furnitur dan olahan kayu konsisten menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan nonmigas, dengan tujuan utama pasar Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia Timur. Tingginya aktivitas ekspor di koridor ini tercermin dari catatan BNI di lapangan.

Salmon menyebut, sekitar 65% nasabah BNI di Jepara adalah pengusaha furnitur. Dari total nasabah UMKM furnitur itu, sebagian di antaranya telah terbiasa melakukan ekspor. “Nasabah saya di Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara telah berpengalaman ekspor sejak pertengahan 1990-an, namun baru masuk ke ekosistem Xpora pada 2023,” ujarnya.

Menurut Salmon, dibutuhkan strategi khusus untuk menarik pemain senior ekspor agar masuk menjadi nasabah Xpora. Segmen nasabah ini tentu diperebutkan oleh industri perbankan karena sudah bankable dan berpotensi menjadi nasabah prioritas.

Di lapangan, tim marketing menjaga relasi secara langsung. Di sisi lain, analis kredit bekerja dari balik layar untuk membaca mutasi, arus transaksi, hingga pola pembayaran. Ketika kepercayaan mulai terbentuk, keduanya akan bertemu di satu titik untuk mengatur struktur pembiayaan.

Dalam menilai fasilitas kredit ekspor, analis tidak hanya melihat omzet atau stok barang, tetapi juga dokumen pendukung seperti purchaseorder dan data buyer yang dapat diverifikasi.

“Keunggulan Xpora adalah fleksibilitas. Pembiayaan bisa disesuaikan, baik dalam skema pre-financing maupun post-financing, sesuai kebutuhan eksportir,” ujar Salmon.

Taufan menambahkan, keunggulan lain yang diberikan kepada nasabah Xpora adalah keringanan dalam penyediaan agunan. Bagi nasabah Xpora kategori prima platinum, bank hanya mensyaratkan agunan senilai minimal 30% dari total pembiayaan. Kategorisasi nasabah didasarkan pada nilai saldo mengendap, fasilitas pembiayaan yang sudah diambil, dan data historis transaksi.

Melalui fleksibilitas pembiayaan dan kejelian membaca data di lapangan, BNI Kanwil Semarang tidak sekadar bertindak sebagai penyalur modal kerja. Jaringan advisor ini telah menjelma menjadi penghubung yang memastikan produk-produk unggulan Jateng memiliki daya saing kuat di pasar global. Selama permintaan dari buyer asing terus datang, dering notifikasi di ponsel para pemburu peluang ekspor ini tidak akan pernah senyap.

#ekspor-umkm #bni-xpora #peluang-ekspor #bisnis-furnitur #pasar-global #buyer-internasional #business-matching #eksportir-pemula #jaringan-bni #nasabah-xpora #pembiayaan-ekspor #pasar-internasional #in

https://semarang.bisnis.com/read/20260623/535/1982734/pemburu-peluang-ekspor-di-balik-jaringan-bni-xpora