Arah Wall Street Pekan Ini: Pasar Cermati Daya Beli AS pada Akhir Tahun
Investor Wall Street fokus pada daya beli konsumen AS jelang akhir tahun, di tengah penurunan indeks S&P 500 dan kekhawatiran ekonomi.
(Bisnis.Com) 24/11/25 05:26 47511
Bisnis.com, JAKARTA — Investor mengalihkan fokus ke daya beli konsumen AS memasuki musim belanja akhir tahun seiring dengan melemahnya sentimen pasar saham AS sepanjang November 2025.
Melansir Reuters pada Senin (24/11/2025), Reli saham terhenti pada November 2025 setelah indeks acuan S&P 500 turun lebih dari 4% sepanjang bulan.
Kinerja kuartalan kuat dari raksasa semikonduktor Nvidia Corp pada Kamis (21/11/2025) gagal meredakan kegelisahan pasar yang diguncang kekhawatiran valuasi tinggi dan pertanyaan soal imbal hasil dari investasi korporasi besar-besaran di infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Belanja konsumen, yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS, kini menjadi fokus utama Wall Street.
Pekan perdagangan akan terpotong oleh libur Thanksgiving pada Kamis, disusul Black Friday dengan diskon besar-besaran, kemudian Cyber Monday serta rangkaian promosi belanja akhir tahun.
Sejumlah data terbaru menunjukkan penurunan sentimen konsumen, sementara indikator lainnya tertunda akibat penutupan pemerintahan. Kondisi ini membuat sinyal belanja saat musim liburan menjadi lebih krusial dari biasanya.
Chris Fasciano, Chief Market Strategist Commonwealth Financial Network menuturkan, dari sisi sentimen, pembacaan data awal Black Friday dan Cyber Monday akan penting karena minimnya rilis yang tersedia.
“Keseluruhan periode belanja akhir tahun akan menjadi tolok ukur penting tentang kondisi konsumen dan implikasinya terhadap ekonomi," jelasnya.
Indeks S&P 500 masih naik 11% (year to date/YtD), tetapi telah terkoreksi lebih dari 5% dari rekor tertingginya pada akhir Oktober. Indeks volatilitas Cboe pada Kamis mencatat penutupan tertinggi sejak April.
Performa pasar saham berpotensi memengaruhi belanja akhir tahun, terutama bagi kelompok berpendapatan tinggi yang memiliki eksposur besar di ekuitas. Meski mengalami gejolak, S&P 500 telah melesat lebih dari 80% sejak bull market terbaru dimulai tiga tahun lalu.
“Jika terjadi koreksi, sebagian besar kekayaan kelompok berpendapatan tinggi berada di pasar saham. Akan menarik melihat apakah mereka tetap belanja seperti sebelumnya,” kata Global Equity Strategist Wells Fargo Investment Institute, Doug Beath.
Bulan ini, National Retail Federation memperkirakan penjualan liburan AS untuk pertama kalinya menembus US$1 triliun. Namun, proyeksi pertumbuhan 3,7%—4,2% pada November—Desember lebih lambat dibanding 4,3% pada 2024.
Michael Pearce, Deputy Chief U.S. Economist Oxford Economics menyebut, neraca rumah tangga berada pada posisi yang sangat kuat, tetapi pertumbuhan lapangan kerja yang melambat dapat menekan belanja liburan.
“Faktor paling penting bagi belanja konsumen adalah kesehatan pasar tenaga kerja,” katanya.
Data dari laporan ketenagakerjaan bulanan yang tertunda dan dirilis Kamis menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS menguat pada September. Namun tingkat pengangguran justru naik ke level tertinggi empat tahun, yakni 4,4%.
Inflasi yang tetap tinggi, termasuk akibat kenaikan tarif impor, juga dapat membebani belanja, tambah Pearce.
Musim belanja akhir tahun sangat krusial bagi peritel. Walmart pada Kamis menaikkan proyeksi tahunannya, sebagai sinyal optimisme jelang akhir tahun. Namun, laporan dari peritel lain pekan ini menunjukkan hasil yang beragam.
Indikator lain soal konsumen akan terlihat dari rilis penjualan ritel AS untuk September pada Selasa, yang tertunda akibat penutupan pemerintah federal selama 43 hari.
Masuknya tumpukan data yang tertahan dalam beberapa pekan ke depan berpotensi meningkatkan volatilitas pasar ketika investor menilai kesehatan ekonomi dan peluang Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga pada pertemuan 9—10 Desember 2025.
Setelah laporan pekerjaan September—yang menjadi rilis terakhir sebelum pertemuan The Fed berikutnya—futures dana Fed pada Kamis malam mencerminkan peluang 67% bahwa bank sentral mempertahankan suku bunga stabil pada Desember, setelah dua kali pemangkasan masing-masing 25 bps pada pertemuan sebelumnya.
Ekonom Morgan Stanley menyatakan mereka tidak lagi memperkirakan pemangkasan suku bunga pada Desember, namun memproyeksikan tiga kali penurunan pada 2026.
“Jalur kebijakan suku bunga sangat bergantung pada data. Menurut kami, laporan yang bercampur membuat komite ingin melihat data tambahan sebelum mengambil langkah berikutnya," tulis para ekonom Morgan Stanley.
#wall-street #daya-beli #pasar-saham #sentimen-pasar #belanja-akhir-tahun #indeks-s-amp-p-500 #nvidia-corp #kecerdasan-buatan #belanja-konsumen #black-friday #cyber-monday #sentimen-konsumen #ekonomi-a