Strategi LNSW Topang APBN: Cegah Kebocoran Penerimaan hingga Efisiensi Logistik

Strategi LNSW Topang APBN: Cegah Kebocoran Penerimaan hingga Efisiensi Logistik

LNSW optimalkan APBN dengan integrasi sistem digital untuk cegah kebocoran penerimaan dan efisiensi logistik melalui Simbara dan Single Submission QC.

(Bisnis.Com) 04/12/25 19:00 61226

Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga National Single Window (LNSW) Kementerian Keuangan berupaya optimalisasi kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya dengan penutupan celah kebocoran penerimaan hingga efisiensi ekosistem logistik lewat pengintegrasian sistem.

Kepala LNSW Oza Olavia menjelaskan bahwa meskipun lembaganya tidak melakukan pemungutan penerimaan negara secara langsung, ekosistem digital yang dibangun LNSW yaitu Indonesia National Single Window (INSW) menjadi kunci dalam memastikan kepatuhan pengguna jasa kepabeanan dan pelabuhan.

Salah satu instrumen andalannya adalah Sistem Informasi Mineral dan Batu Bara (Simbara). Sejak diluncurkan pada 2022, sambung Oza, sistem ini telah mengintegrasikan proses bisnis dari hulu hingga hilir, sehingga meminimalisir peluang pelaku usaha untuk menghindari kewajiban pembayaran pajak maupun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Simbara akan mencatat informasi mulai dari single identity dari wajib pajak dan wajib bayar, proses perizinan tambang, rencana penjualan, verifikasi penjualan, ekspor, proses clearance di pelabuhan untuk pengangkutan atau pengapalan, hingga pemenuhan kewajiban PNBP dan devisa hasil ekspor.

"Kalau dulu, orang bisa enggak ketahuan PNBP-nya tidak bayar, kemudian dia bisa melakukan ekspor dengan data berbeda. Kalau sekarang tidak bisa lagi," ujarnya dalam media briefing di Jakarta Pusat, Kamis (4/12/2025).

Oza menekankan bahwa dengan Simbara, data pembayaran kewajiban negara akan terkunci otomatis. Sistem akan mendeteksi apakah pelaku usaha telah melunasi PNBP sesuai dengan volume yang ditambang sebelum izin ekspor diterbitkan.

"Nanti pada saat ekspor dia ketahuan bahwa dia sudah membayarkan penerimaan negara bukan pajak untuk minerba yang dia tambang," tambahnya.

Efisiensi Logistik

Selain pengamanan penerimaan, LNSW juga fokus pada efisiensi biaya dan waktu logistik nasional melalui Single Submission Quarantine Customs (SSm QC).

Mekanisme ini memangkas redundansi pemeriksaan fisik barang oleh Bea Cukai dan Karantina. Jika sebelumnya pemeriksaan dilakukan secara terpisah dengan waktu berbeda sehingga memicu biaya tinggi maka kini pemeriksaan dilakukan secara bersamaan.

"Dengan single submission QC ini, waktunya sama, pelaksanaan langsung berbarengan, jadi biayanya murah, waktunya akan lebih singkat. Jadi penerimaan negara kita juga sama-sama periksa, enggak ada pemeriksaan yang beda," jelas Oza.

Efisiensi juga didorong melalui penerapan Single Billing, di mana pelaku usaha kini cukup membayar satu tagihan untuk berbagai layanan pelabuhan seperti biaya tunda kapal dan biaya terkait lainnya, yang sebelumnya harus dibayar terpisah di tiga tempat berbeda.

Di sisi lain, untuk menjaga neraca perdagangan, LNSW telah menerapkan Neraca Komoditas yang mencakup data persediaan, kebutuhan impor, hingga kuota. Saat ini, terdapat 8 komoditas yang sudah masuk dalam skema wajib (mandatory) Neraca Komoditas.

Adapun dalam ranah perdagangan internasional, Oza menyebut pihaknya telah mengintegrasikan pertukaran data Electronic Certificate of Origin (e-COO) dengan negara mitra, terutama implementasi ATIGA e-Form D (A3) yang sudah berjalan dengan negara-negara Asean beserta China, Jepang, dan Korea Selatan.

"Semuanya agar kepatuhan dari pengguna jasa meningkat sehingga pada akhirnya mendukung penerimaan negara," pungkasnya.

#lnsw-apbn #efisiensi-logistik #kebocoran-penerimaan #indonesia-national-single-window #simbara-sistem #pnbp-pembayaran #efisiensi-biaya-logistik #single-submission-quarantine-customs #single-billing-p

https://ekonomi.bisnis.com/read/20251204/9/1934299/strategi-lnsw-topang-apbn-cegah-kebocoran-penerimaan-hingga-efisiensi-logistik