#30 tag 24jam
Harga Minyak Tembus 110 Dollar AS, Bitcoin (BTC) Ikut Bergejolak
Lonjakan tajam harga minyak dunia memicu tekanan pada pasar saham dan aset kripto, termasuk Bitcoin (BTC) yang sempat jatuh di bawah 66.000 dollar AS. [1,222] url asal
#pasar-saham #harga-minyak-dunia #harga-bitcoin #indepth #bitcoin-btc #harga-minyak-dunia-hari-ini
(Kompas.com - Money) 09/03/26 12:44
v/159021/
JAKARTA, KOMPAS.com – Gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar keuangan global.
Lonjakan tajam harga minyak dunia memicu tekanan pada pasar saham dan aset kripto, termasuk Bitcoin (BTC) yang sempat jatuh di bawah 66.000 dollar AS sebelum kembali stabil di kisaran 67.000 dollar AS.
Kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan konflik yang mengganggu pasokan energi global. Kondisi ini memicu gelombang volatilitas di berbagai kelas aset, dari komoditas energi hingga aset berisiko seperti kripto.
UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin bergerak sangat fluktuatif di tengah ketidakpastian pasar global akibat perang Iran. Meski sempat melonjak tajam, reli kripto terbesar di dunia itu mulai kehilangan momentum.Dalam beberapa hari terakhir, kontrak minyak mentah melonjak hingga dua digit, sementara pasar saham global tertekan.
Di tengah gejolak tersebut, Bitcoin mengalami pelemahan jangka pendek, mencerminkan sensitivitas pasar kripto terhadap guncangan makroekonomi global.
Lonjakan harga minyak picu gejolak pasar
Lonjakan harga minyak dunia menjadi pemicu utama volatilitas pasar global. Dalam perdagangan terbaru, kontrak berjangka minyak mentah melonjak tajam hingga sekitar 20 persen.
Menurut data OilPrice.com pada Senin (9/3/2026) pukul 12.40 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2026 berada di level 107,2 dollar AS per barrel.
Kenaikan tersebut menjadikan harga minyak hampir dua kali lipat dibandingkan level pada awal 2026.
Sementara itu, acuan harga minyak dunia Brent berada di level 110 dollar AS per barrel.
THINKSTOCKPHOTOS Ilustrasi harga minyak, harga minyak mentah.Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran eskalasi konflik yang berpotensi mengganggu pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Ketegangan geopolitik yang terus meningkat membuat pelaku pasar khawatir terhadap risiko gangguan distribusi energi global.
Lonjakan harga minyak tersebut langsung berdampak pada berbagai instrumen keuangan lain.
Pasar saham global tertekan karena investor menilai kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi serta memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Dikutip dari Bitget, kontrak berjangka indeks saham AS dilaporkan turun hampir 2 persen setelah lonjakan harga minyak tersebut.
Tekanan juga terlihat pada pasar saham Asia. Bursa Jepang, Korea Selatan, dan beberapa pasar regional lainnya mengalami penurunan tajam di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari lonjakan harga energi.
Harga minyak dunia yang melonjak tajam sering kali menjadi indikator meningkatnya ketegangan geopolitik serta potensi gangguan rantai pasok global.
Dalam situasi seperti ini, investor cenderung melakukan penyesuaian portofolio dengan mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Harga Bitcoin turun di bawah 66.000 dollar AS
Di tengah gejolak pasar global, Bitcoin ikut mengalami tekanan. Harga aset kripto terbesar di dunia tersebut sempat turun hingga di bawah 66.000 dollar AS.
CoinDesk melaporkan, Bitcoin diperdagangkan sekitar 2 persen lebih rendah dan berada sedikit di bawah level 66.000 dollar AS.
Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan turunnya berbagai aset berisiko lainnya, termasuk saham teknologi dan komoditas industri.
UNSPLASH/TRAXER Ilustrasi kripto.Selain Bitcoin, sejumlah aset kripto lain juga mengalami koreksi harga. Ether dan Solana tercatat turun sekitar 1,4 persen dalam periode yang sama.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar kripto tetap sensitif terhadap dinamika makro global. Ketika ketidakpastian geopolitik meningkat dan harga energi melonjak, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset yang dianggap berisiko tinggi.
Meskipun demikian, koreksi yang terjadi pada Bitcoin relatif terbatas dibandingkan dengan beberapa aset lain di pasar keuangan.
Harga minyak dunia hari ini tembus 110 dollar AS
Pada perdagangan berikutnya, harga minyak bahkan melonjak lebih tinggi. Kontrak minyak mentah tercatat menembus level di atas 110 dollar AS per barrel.
Lonjakan harga minyak dunia tersebut dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, yang merupakan salah satu pusat produksi energi terbesar di dunia.
Gangguan terhadap jalur distribusi energi global berpotensi menciptakan kekurangan pasokan minyak, yang kemudian mendorong harga energi naik secara signifikan.
Beberapa analis pasar menilai, lonjakan harga minyak ini dapat memicu tekanan inflasi global jika berlangsung dalam waktu lama.
Pasar keuangan global pun merespons cepat. Bursa saham Asia mengalami penurunan tajam seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi.
Tekanan tersebut juga terlihat pada berbagai aset berisiko lainnya, termasuk saham teknologi dan aset digital.
Bitcoin stabil di kisaran 67.000 dollar AS
PIXABAY/MICHAELWUENSCH Ilustrasi bitcoin. Harga bitcoin turun hampir 30 persen dari rekor tertingginya. Data historis menunjukkan volatilitas bitcoin seperti ini merupakan pola yang berulang dalam setiap siklus bitcoin.Meski sempat turun tajam, Bitcoin kemudian menunjukkan tanda stabilisasi. Harga aset kripto tersebut kembali diperdagangkan mendekati 67.000 dollar AS.
CoinDesk melaporkan, harga Bitcoin stabil di sekitar 67.000 dollar AS, meskipun pasar global sedang bergejolak.
Stabilitas relatif Bitcoin di tengah gejolak pasar global memicu diskusi baru di kalangan investor mengenai peran aset kripto dalam portofolio investasi.
Beberapa pelaku pasar melihat Bitcoin mulai menunjukkan karakteristik yang berbeda dibandingkan periode sebelumnya, ketika aset kripto cenderung bergerak lebih volatil mengikuti pasar saham.
Namun, dalam kondisi saat ini, Bitcoin masih menunjukkan korelasi tertentu dengan sentimen pasar global.
Geopolitik jadi faktor penentu
Lonjakan harga minyak tidak dapat dilepaskan dari situasi geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas. Konflik di kawasan tersebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi global.
Salah satu jalur penting adalah Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama transportasi minyak dunia.
Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur tersebut setiap harinya. Gangguan pada jalur ini dapat berdampak besar pada pasar energi internasional. ([Wikipedia][3])
Ketegangan geopolitik yang meningkat menyebabkan banyak perusahaan pelayaran dan energi menunda pengiriman melalui jalur tersebut.
Penurunan aktivitas pelayaran di kawasan itu kemudian memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi.
Akibatnya, harga minyak melonjak tajam dalam waktu singkat.
FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi harga minyak dunia.Lonjakan harga energi seperti ini biasanya berdampak luas terhadap perekonomian global karena energi merupakan komponen utama dalam berbagai aktivitas industri dan transportasi.
Dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi
Kenaikan harga minyak sering kali menimbulkan efek domino terhadap inflasi global. Biaya energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya produksi serta harga barang dan jasa.
Situasi ini berpotensi memperumit kebijakan moneter di berbagai negara, terutama ketika bank sentral masih berupaya menekan inflasi.
Para ekonom menilai lonjakan harga energi dapat menambah tekanan pada inflasi global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi jika berlangsung dalam jangka panjang.
Konflik yang memicu lonjakan harga minyak juga meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global.
Pergerakan tajam pada harga energi, saham, serta aset kripto menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap risiko geopolitik.
Investor mencari aset aman
Dalam situasi ketidakpastian global, investor biasanya mencari aset yang dianggap lebih aman.
Aset seperti emas, obligasi pemerintah, dan mata uang tertentu sering menjadi pilihan ketika risiko geopolitik meningkat.
Namun, posisi Bitcoin dalam kategori aset tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan investor.
UNSPLASH/KANCHANARA Ilustrasi bitcoin.Sebagian pelaku pasar melihat Bitcoin sebagai “digital gold” yang dapat berfungsi sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi.
Namun, pergerakan harga Bitcoin yang masih fluktuatif membuat sebagian investor tetap menganggapnya sebagai aset berisiko.
Volatilitas pasar diperkirakan berlanjut
Perkembangan geopolitik di Timur Tengah akan menjadi faktor penting yang menentukan arah pasar dalam waktu dekat.
Jika konflik terus meningkat dan gangguan pasokan energi berlanjut, harga minyak berpotensi tetap tinggi atau bahkan meningkat lebih jauh.
Kondisi tersebut dapat memicu volatilitas tambahan di pasar saham, komoditas, dan aset kripto.
Sejumlah analis pasar menilai bahwa investor kemungkinan akan tetap berhati-hati hingga ada kejelasan mengenai perkembangan konflik serta dampaknya terhadap pasokan energi global.
Lonjakan harga minyak dan pergerakan pasar keuangan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan betapa eratnya hubungan antara geopolitik, pasar energi, dan pasar keuangan global.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
NYDIG: Meski Sering Ikuti Saham, Investasi Bitcoin (BTC) Tetap Efektif Jadi Diversifikasi Portofolio
NYDIG menilai bitcoin tetap memiliki nilai sebagai diversifikasi portofolio meski pergerakannya belakangan sering mengikuti saham. [259] url asal
(WE Finance - New Economy) 09/03/26 07:46
v/158636/
Warta Ekonomi, Jakarta -Pergerakan harga bitcoin yang belakangan sering mengikuti arah pasar saham dari Amerika Serikat (AS). Namun hal tersebut tidak serta merta menghilangkan peran aset kripto tersebut sebagai instrumen diversifikasi portofolio.
NYDIG Head of Research, Greg Cipolaro mengatakan korelasi antara bitcoin dan indeks saham memang meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa indeks yang menunjukkan korelasi tersebut antara lain S&P 500 dan Nasdaq 100.
Kenaikan korelasi ini membuat sebagian pelaku pasar menilai bitcoin kini bergerak seperti saham teknologi. Namun Cipolaro menilai pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Menurutnya, meskipun korelasi saat ini berada dalam kisaran 0,5, secara statistik hal itu berarti hanya sekitar 25% pergerakan harga bitcoin yang dipengaruhi oleh faktor pasar saham. Sementara sekitar 75% sisanya ditentukan oleh faktor unik dalam ekosistem kripto.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan bitcoin secara independen antara lain arus dana ke produk investasi berbasis bitcoin, perubahan posisi dalam pasar derivatif kripto, tingkat adopsi jaringan blockchain dan perkembangan regulasi industri kripto.
Menurut Cipolaro, keselarasan pergerakan antara bitcoin dan saham kemungkinan lebih dipengaruhi oleh kondisi makro global saat ini. Baik bitcoin maupun saham berbasis pertumbuhan sama-sama sensitif terhadap likuiditas pasar dan selera risiko investor.
Cipolaro juga menilai bitcoin tetap memiliki karakteristik berbeda dibanding aset tradisional seperti saham.
“Perbedaan tersebut mendukung peran bitcoin sebagai instrumen diversifikasi portofolio,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa nilai bitcoin berasal dari jaringan global yang terdesentralisasi, netral secara politik, serta memiliki karakteristik teknis dan ekonomi seperti kelangkaan digital dan kemampuan transfer nilai tanpa sensor.
Karakteristik tersebut membuat bitcoin dapat beroperasi secara independen dari pemerintah, institusi keuangan, maupun otoritas moneter mana pun.
Harga Bitcoin (BTC) Hari Ini (9/3): Tertekan Dolar hingga Minyak
Harga bitcoin tertekan menyusul penguatan dolar dan ketegangan di Timur Tengah. Kenaikan harga minyak dan inflasi menekan aset berisiko. [264] url asal
(WE Finance - New Economy) 09/03/26 04:35
v/158536/
Warta Ekonomi, Jakarta -Harga bitcoin kembali mengalami tekanan setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam pada akhir pekan. Ia diproyeksi akan mengalami tekanan untuk beberapa waktu, termasuk di Senin (9/3).
Dikutip dari Coinmarketcap, harga bitcoin sempat turun hingga sekitar US$66.000. Pergerakan ini melanjutkan pola yang berulang dalam beberapa bulan terakhir, di mana aksi jual mendorong harga kripto mendekati batas bawah rentang perdagangannya.
CEO Aurelion, Björn Schmidtke menyebut penurunan ini terjadi menyusul penguatan dolar dari Amerika Serikat (AS). Penguatan dolar dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang lebih tinggi akibat lonjakan harga energi serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
“Ketika ketegangan meningkat pekan lalu, investor bergerak cepat menuju dolar sebagai aset aman. Penguatan dolar terjadi karena pasar mulai memperhitungkan kenaikan harga energi dan potensi inflasi yang lebih tinggi, yang bisa menunda pemangkasan suku bunga The Fed,” ujarnya.
Penguatan dolar membuat peluang pemangkasan suku bunga semakin kecil dalam waktu dekat. Hal tersebut turut menekan sentimen terhadap bitcoin.
Tekanan terhadap pasar kripto juga dipicu oleh meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sebelumnya menyatakan tidak akan ada kesepakatan dengan Iran.
Ketegangan geopolitik tersebut mendorong harga minyak dunia melonjak, memicu kembali kekhawatiran inflasi global. Akibatnya, berbagai aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto mengalami tekanan.
Bitcoin sendiri dalam beberapa waktu terakhir cenderung bergerak searah dengan saham teknologi, sehingga ketika pasar saham melemah, pasar kripto juga ikut tertekan.
Tekanan pasar juga datang dari sektor keuangan global. BlackRock dikabarkan mulai membatasi penarikan dana dari salah satu produk private credit senilai US$26 miliar. Hal tersebut akibat meningkatnya permintaan redemption dari investor.
Strategi Ubah Yield dan Bitcoin Sebagai Sumber Passive Income
Ciptakan passive income dengan strategi investasi Barbell. Padukan stabilitas USD Yield dan potensi bitcoin yang mengulang pola 2021 untuk profit maksimal. [1,077] url asal
#strategi-passive-income-bitcoin #passive-income-crypto #cara-mendapatkan-passive-income-dari-bitcoin #strategi-investasi-bitcoin-2026 #strategi-barbell-investasi #yield-dolar-investasi #investas
Jakarta: Bagi investor yang memprioritaskan aliran kas (cash flow) dan ketenangan pikiran, lanskap ekonomi tahun ini menghadirkan tantangan yang cukup pelik. Di satu sisi, siklus kebijakan moneter global yang mulai melonggar (Fed Pivot) perlahan mulai menggerus imbal hasil pada instrumen pasar uang dan deposito tradisional.Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik yang terus membayangi nilai tukar mata uang fiat menjadikan inflasi sebagai ancaman nyata bagi daya beli jangka panjang dari setiap nilai rupiah.
Banyak investor strategis kini mulai meninggalkan pola pikir "simpan dan lupakan" yang konvensional. Mereka beralih menuju pendekatan yang lebih dinamis, yang sering disebut sebagai strategi "Barbell". Strategi ini tidak lagi hanya mengandalkan satu instrumen pendapatan tetap, melainkan menggabungkan stabilitas kas dengan aset yang memiliki kelangkaan tinggi seperti Bitcoin.
Menariknya, data on-chain saat ini menunjukkan bahwa Bitcoin sedang mereplikasi pola akumulasi tahun 2021, sebuah fase dimana harga bersiap untuk ekspansi vertikal setelah periode konsolidasi yang stabil.
Membaca Pola Bitcoin 2021
Bagi pengamat aset safe haven, kemiripan pola harga Bitcoin saat ini dengan kuartal keempat tahun 2020 adalah sinyal teknikal yang sulit diabaikan. Beberapa analis menyoroti bahwa fase konsolidasi di rentang USD60,000-USD70,000 saat ini memiliki struktur volatilitas yang hampir identik dengan periode akumulasi institusional masa lalu. Fenomena ini disebut sebagai "Fractal Mirroring".Secara visual, anatomi grafik Bitcoin saat ini menyerupai sebuah "pegas" yang sedang ditekan kuat. Jika ditarik mundur ke kuartal keempat 2020, Bitcoin menghabiskan waktu berbulan-bulan bergerak mendatar (sideways), terjepit dalam rentang harga yang semakin menyempit sebelum akhirnya menembus resistensi dan melesat ke level tertinggi baru.
Hari ini, pola yang sama persis sedang terbentuk. Setiap kali harga terkoreksi mendekati batas bawah (support) di area USD60.000, terjadi penyerapan volume jual yang sangat masif oleh pasar, yakni sebuah indikasi kuat bahwa institusi (melalui Spot ETF) sedang melakukan akumulasi diam-diam untuk menjaga level harga.
Akibat dari penyerapan ini, grafik secara konsisten membentuk pola higher lows (titik terendah harga yang terus meninggi dari waktu ke waktu) di tengah volume perdagangan yang cenderung mengecil (volatility squeeze). Dalam analisis teknikal institusional, penyempitan rentang harga di area puncak ini bukanlah tanda kejenuhan tren, melainkan proses pengumpulan energi kinetik yang padat sebelum pasar memicu ekspansi harga vertikal yang agresif ke atas.
Bitcoin telah bertransformasi dari sekadar aset spekulatif menjadi Strategic Reserve Asset. Namun, bagi investor pencari imbal hasil pasif (passive income), tantangan utamanya adalah volatilitas. Bagaimana cara tetap tenang saat pasar bergerak menyamping? Jawabannya terletak pada optimalisasi aset di setiap lini portofolio, baik pada saldo kas maupun pada aset crypto itu sendiri.
Optimalisasi Imbal Hasil Yield dan Crypto
Pertama, untuk saldo dalam denominasi Dolar AS, investor dapat memanfaatkan fitur USD Yield dari beberapa platform seperti Pluang. Dengan tingkat imbal hasil mencapai 3,38% p.a., kas cadangan Anda tetap memberikan pertumbuhan yang stabil di tengah tren penurunan suku bunga bank konvensional. Ini adalah solusi cerdas untuk menjaga daya beli Dolar Anda sembari menunggu konfirmasi momentum pasar.Kedua, bagi Anda yang sudah memiliki Bitcoin, strategi "HODL" kini bisa menjadi lebih produktif melalui fitur Pluang Cuan. Fitur ini memungkinkan investor mendapatkan imbal hasil tambahan sebesar 1% p.a. pada aset Bitcoin mereka (dengan batas maksimal hingga 0,1 BTC). Meskipun terlihat sederhana, bagi investor jangka panjang, akumulasi unit tambahan ini secara konsisten merupakan kunci untuk memperbesar compounding effect di masa depan. Anda dapat mengecek detail mekanismenya melalui Pluang Cuan.
Strategi Barbell untuk Dapatkan Passive Income
Pendekatan Barbell membagi portofolio menjadi dua sisi yang saling melengkapi, memastikan Anda tidak hanya mendapatkan "passive income" setiap bulan, tetapi juga perlindungan terhadap inflasi sistemik.- Sisi Defensif (Income-Seeking): Fokus pada aliran kas stabil melalui USD Yield. Ini memberikan bantalan likuiditas yang cukup kuat untuk membiayai kebutuhan atau gaya hidup tanpa harus mengganggu investasi pada aset utama.
- Sisi Agresif (Inflation Hedge): Menempatkan porsi modal pada Bitcoin untuk menangkap potensi kenaikan harga vertikal yang menyerupai siklus 2021, sekaligus mendapatkan imbal hasil pasif dari unit Bitcoin tersebut melalui Pluang Cuan.
| Faktor Katalis | Kondisi Ekonomi & Dampak | Strategi Eksekusi Profesional |
| Kebijakan Fed | Pelonggaran (Easing) | Optimalkan kas di USD Yield untuk imbal hasil di atas deposito. |
| Geopolitik | Permintaan Safe Haven | Gunakan Bitcoin sebagai pelindung nilai terhadap risiko mata uang fiat. |
| Adopsi ETF | Arus Modal Institusional | Menciptakan lantai harga (price floor) yang kuat dan stabil. |
| Pluang Cuan | Optimalisasi Aset BTC | Mendapatkan 1% p.a. (maks. 0,1 BTC) untuk menambah jumlah unit. |
Eksplorasi Crypto Emas
Investor yang sukses di tahun 2026 adalah mereka yang mengabaikan narasi spekulatif jangka pendek dan fokus pada data fundamental. Angka alamat aktif dan volume transaksi harian Bitcoin terus meningkat, menandakan adopsi organik yang kuat. Bagi mereka yang memiliki profil risiko lebih konservatif namun tetap ingin eksposur pada teknologi blockchain, Crypto Emas (PAXG atau XAUT) menawarkan jalan tengah yang menarik.Crypto Emas memberikan Anda stabilitas harga emas fisik (dengan jaminan emas London Good Delivery) namun dengan efisiensi pajak crypto di Indonesia yang bersifat final. Hal ini menjadikannya pelengkap ideal bagi posisi Bitcoin Anda, memberikan diversifikasi aset yang sangat efisien dari sisi fiskal dibandingkan emas fisik tradisional.
"Investor di siklus 2026 tidak boleh lagi pasif. Pemenangnya adalah mereka yang mampu mengelola risiko secara dinamis. Integrasi instrumen seperti USD Yield untuk kas dan Pluang Cuan untuk Bitcoin dirancang agar setiap sen modal Anda tetap produktif, bahkan saat pasar sedang dalam fase konsolidasi," kata Head of Investment Research Pluang, Jason Gozali, dalam keterangan tertulis, Jumat, 6 Maret 2026.
Kemudahan Investasi dengan Pluang Plus
Efisiensi modal adalah penentu utama alpha (keuntungan di atas rata-rata). Layanan seperti Pluang Plus kini menyediakan fasilitas yang memungkinkan investor ritel memiliki kapasitas eksekusi setara institusi besar:- USD Direct Deposit: Memindahkan dana USD langsung dari rekening bank pribadi (min. $10,000) untuk menghindari selisih kurs konversi yang merugikan.
- OTC FX: Fasilitas konversi IDR ke USD dengan rate kompetitif (min. $20,000) bagi mereka yang ingin melakukan akumulasi aset dalam skala besar dengan biaya friksi minimal.
- Crypto Futures: Memberikan fleksibilitas untuk tetap menjaga nilai portofolio saat pasar terkoreksi melalui strategi lindung nilai (hedging).
Navigasi Menuju Siklus Bitcoin Berikutnya
Bitcoin saat ini berada pada persimpangan jalan sejarah yang menyerupai periode paska-akumulasi 2021. Dengan dukungan infrastruktur profesional, Anda memiliki semua instrumen yang dibutuhkan untuk menjaga daya beli pendapatan pasif Anda. Jangan biarkan modal Anda menganggur dalam mata uang yang nilainya terus menyusut dimakan waktu.Kunci keberhasilan di fase ini adalah kemampuan untuk bertindak cepat dan presisi. Gunakan teknologi untuk mengotomatisasi pendapatan pasif Anda, dan biarkan data sejarah memandu strategi pertumbuhan jangka panjang Anda. Pastikan setiap unit aset Anda, baik itu Dolar maupun Bitcoin, bekerja sekeras mungkin untuk masa depan Anda.
(ANN)
5 Sinyal Waktu Tepat Membeli Bitcoin Menurut Arthur Hayes
Arthur Hayes menyarankan membeli Bitcoin saat The Fed mengubah kebijakan moneter, terutama saat suku bunga dipangkas, dan memperhatikan sinyal makro serta volatilitas pasar. [853] url asal
#bitcoin #membeli-bitcoin #arthur-hayes #sinyal-membeli-bitcoin #kebijakan-moneter #federal-reserve #suku-bunga #likuiditas-pasar #aset-kripto #volatilitas-bitcoin #harga-bitcoin #konflik-geopolitik
(Bisnis.Com - Market) 06/03/26 16:19
v/157215/
Bisnis.com, JAKARTA — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang semakin meningkat dinilai berpotensi memberi keuntungan bagi Bitcoin. Pendiri bursa kripto BitMEX, Arthur Hayes, menilai situasi geopolitik tersebut dapat memicu perubahan kebijakan moneter yang menguntungkan aset berisiko seperti kripto. Lalu, kapan momentum yang tepat untuk membeli Bitcoin?
Mengutip Benzinga, Hayes mengatakan bahwa semakin lama pemerintahan Donald Trump terlibat dalam konflik Iran, semakin besar kemungkinan Federal Reserve memangkas suku bunga. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi meningkatkan minat terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Hayes menekankan bahwa faktor kunci bukan semata-mata eskalasi geopolitik, melainkan bagaimana kebijakan moneter Amerika Serikat merespons situasi tersebut, terutama terkait likuiditas di pasar keuangan.
Belakangan ini, harga Bitcoin menunjukkan respons yang beragam terhadap ketegangan di Timur Tengah. Pada awalnya, harga sempat turun dari sekitar US$66.000 ke kisaran US$63.000 sebelum akhirnya kembali menguat dan sempat diperdagangkan di level tertinggi dalam sebulan, sekitar US$73.000.
Dalam beberapa bulan terakhir, Hayes juga berkali-kali memprediksi bahwa Federal Reserve pada akhirnya akan melonggarkan kebijakan moneter, sebuah langkah yang menurutnya dapat mendorong kenaikan harga Bitcoin.
Pada Januari, dia menyebut kemungkinan operasi militer pemerintahan Trump di Venezuela sebagai salah satu pemicu. Sementara pada bulan berikutnya, Hayes menilai krisis keuangan yang dipicu oleh perkembangan teknologi AI juga dapat menjadi faktor yang mendorong perubahan kebijakan tersebut.
Bahkan pada Desember lalu, Hayes memperkirakan harga Bitcoin bisa mencapai US$200.000. Prediksi itu didorong oleh rencana pembelian manajemen cadangan yang diumumkan oleh The Fed pada awal bulan tersebut.
Lantas, kapan waktu yang tepat untuk membeli Bitcoin? Hayes menyarankan investor untuk memperhatikan sejumlah sinyal makro yang biasanya mendahului reli di pasar kripto.
Waktu yang Tepat Membeli Bitcoin Menurut Arthur Hayes
1. Menunggu Perubahan Arah Kebijakan The Fed
Menurut Hayes, reli besar di pasar kripto sering terjadi setelah Federal Reserve mulai memangkas suku bunga atau meningkatkan likuiditas di sistem keuangan.
Dalam perspektif makroekonomi, kebijakan moneter yang lebih longgar membuat biaya uang menjadi lebih murah dan mendorong investor untuk mengambil risiko yang lebih besar, termasuk berinvestasi di aset kripto. Karena itu, fokus investor sebaiknya tertuju pada perubahan kebijakan moneter, bukan sekadar berita konflik harian.
Ia juga menyarankan pendekatan “wait and see” hingga tanda-tanda perubahan kebijakan benar-benar terlihat. Dengan menunggu konfirmasi tersebut, investor dapat mengurangi risiko salah timing saat kondisi pasar masih rentan.
2. Konflik Berpotensi Mendorong Likuiditas
Hayes menilai konflik geopolitik dapat meningkatkan kebutuhan belanja pemerintah serta menambah tekanan fiskal.
Jika tekanan tersebut memengaruhi sentimen ekonomi dan pasar, bank sentral biasanya akan mempertimbangkan kebijakan yang lebih akomodatif guna meredam dampaknya. Pada fase inilah aset berisiko, termasuk kripto, sering memperoleh dorongan dari sisi likuiditas.
Dia juga mengaitkan pola ini dengan beberapa kejadian sebelumnya ketika ketidakpastian geopolitik muncul bersamaan dengan kebijakan moneter yang lebih longgar.
Dalam konteks ini, penting bagi investor untuk membedakan antara peristiwa konflik dan respons kebijakan. Konflik memang dapat memicu volatilitas, tetapi reli yang lebih berkelanjutan biasanya memerlukan dukungan likuiditas dari kebijakan moneter.
3. Perhatikan Level Harga Bitcoin
Per Jumat (6/3/2026), harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$72.605 atau sekitar Rp1,22 miliar.
Hayes sebelumnya menyebutkan dua kemungkinan skenario pergerakan harga, yaitu koreksi lanjutan atau pemulihan menuju rekor tertinggi sebelumnya. Oleh karena itu, level harga menjadi acuan penting bagi pelaku pasar.
Area US$60.000 hingga US$63.000 dinilai sebagai zona tekanan jika sentimen pasar memburuk, sedangkan level US$126.000 dipandang sebagai target pemulihan yang memerlukan dukungan likuiditas besar.
Level-level tersebut biasanya digunakan trader untuk membaca kondisi teknikal, seperti support, breakdown, atau retest. Meski begitu, Hayes menegaskan bahwa level harga bukanlah kepastian arah pasar, melainkan hanya alat untuk memetakan potensi risiko.
4. Pisahkan Strategi Masuk dan Manajemen Risiko
Bagi investor pemula, pendekatan yang relatif aman adalah memisahkan strategi masuk pasar dengan manajemen risiko.
Strategi masuk dapat didasarkan pada sinyal makro, misalnya setelah The Fed benar-benar memangkas suku bunga. Sementara itu, manajemen risiko diperlukan agar investor tidak menempatkan seluruh dana pada satu titik harga.
Langkah ini penting karena pasar kripto dikenal sangat responsif terhadap berita, tetapi juga dapat berbalik arah dengan cepat setelah euforia mereda.
Hayes juga mengingatkan agar berhati-hati menggunakan leverage ketika sinyal kebijakan masih belum jelas. Beberapa investor memilih melakukan pembelian secara bertahap dibandingkan mencoba menebak satu harga terendah. Pendekatan ini lebih menekankan pengelolaan probabilitas daripada mengejar kepastian.
5. Volatilitas Tetap Tinggi
Meski kebijakan moneter longgar secara historis menguntungkan aset berisiko, kenaikan harga tidak selalu terjadi secara mulus.
Pasar Bitcoin dan kripto tetap rentan terhadap penurunan tajam, terutama ketika likuiditas global berubah atau ketika ketegangan geopolitik memicu aksi penghindaran risiko secara tiba-tiba.
Karena itu, sinyal kebijakan sebaiknya dipahami sebagai konteks pasar, bukan jaminan hasil investasi.
Walaupun narasi tentang “waktu terbaik untuk membeli” sering terdengar sederhana, keputusan investasi tetap bergantung pada jangka waktu, toleransi risiko, serta kedisiplinan investor dalam menjalankan strategi.
Kerangka analisis dari Hayes dapat membantu memahami dinamika likuiditas pasar, tetapi setiap investor tetap perlu menyesuaikannya dengan rencana investasi pribadi. Bagi pemula, langkah paling rasional adalah memahami berbagai skenario, menetapkan batas risiko, dan tidak bergantung pada satu prediksi saja.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual aset kripto. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Volatilitas Meningkat Dampak Perang Iran, Bitcoin Sulit Jaga Reli
Bitcoin mengalami volatilitas tinggi akibat konflik Iran, sulit menjaga reli. Meski turun 40% sejak Oktober, sentimen pasar kripto mulai positif dengan arus masuk ETF. [467] url asal
#bitcoin-volatilitas #bitcoin-reli #harga-bitcoin #pasar-kripto #aset-kripto #konflik-iran #pasar-global #investor-kripto #regulasi-kripto #sentimen-pasar #arus-dana-etf #bitcoin-vs-emas #altcoin-kapit
(Bisnis.Com - Market) 06/03/26 10:11
v/156810/
Bisnis.com, JAKARTA — Bitcoin kesulitan mempertahankan momentum penguatan di tengah volatilitas pasar global akibat konflik yang terus memanas di Iran.
Melansir Bloomberg pada Jumat (6/3/2026), harga aset kripto terbesar di dunia itu sempat turun hingga 3,7% ke level US$70.650, setelah sebelumnya melonjak sekitar 9% pada perdagangan sehari sebelumnya selama sesi AS. Sejak konflik memanas, harga Bitcoin hampir setiap hari bergerak liar antara kenaikan dan penurunan tajam.
Sepanjang pekan ini, pelaku pasar kripto sempat terlihat lebih optimistis dibandingkan investor di aset lain seperti saham dan emas, yang mengalami aksi jual signifikan ketika pasar kembali dibuka usai serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu.
Senior Research Strategist Pepperstone Ltd. Michael Brown mengatakan arus berita terkait konflik tersebut memperparah kondisi pasar yang sebelumnya sudah terlalu sensitif terhadap aksi pengurangan risiko dan pelepasan leverage yang terjadi pada Selasa.
“Ketika sentimen sudah bergerak ke level sangat pesimistis, pasar biasanya tidak membutuhkan katalis yang terlalu besar atau konkret untuk memicu pembalikan arah yang signifikan,” tulis Brown dalam catatannya terkait dinamika makro global.
Bitcoin telah anjlok sekitar 40% sejak mencapai puncaknya di atas US$126.000 pada awal Oktober. Penurunan tersebut dipicu ketidakpastian geopolitik serta belum jelasnya rencana Amerika Serikat terkait regulasi baru untuk aset kripto.
Menurut data CoinGecko, lebih dari US$1,8 triliun nilai pasar seluruh mata uang kripto yang beredar telah menguap sejak saat itu.
Meski demikian, sejumlah sinyal positif mulai muncul bagi kelas aset ini. Setelah berbulan-bulan mengalami arus keluar dana, exchange-traded fund (ETF) berbasis Bitcoin di Amerika Serikat mencatat arus masuk lebih dari US$1,1 miliar sepanjang Maret hingga saat ini, termasuk US$462 juta pada Rabu (4/3/2026).
Arus dana masuk maupun keluar dari produk ETF tersebut kerap dipandang sebagai indikator utama kepercayaan investor terhadap pasar kripto.
Co-founder Orbit Markets Caroline Mauron mengatakan sentimen di pasar kripto mulai kembali mengarah ke positif.
“Sentimen kembali bullish di dunia kripto,” ujarnya.
Dalam beberapa hari terakhir, Bitcoin bahkan mampu mengungguli kinerja emas—aset yang kerap dibandingkan dengan kripto tersebut. Sejak Jumat lalu, sehari sebelum serangan terjadi, harga emas turun hampir 2%, sementara Bitcoin justru naik lebih dari 10% dalam periode yang sama.
Padahal, hingga pekan ini tren beberapa bulan terakhir menunjukkan arah sebaliknya, ketika emas berulang kali mencetak rekor harga tertinggi sementara Bitcoin justru tertekan.
Di luar Bitcoin, sejumlah aset kripto lain juga menunjukkan ketahanan relatif di tengah gejolak geopolitik, menurut analis kripto Sylvain Olive.
Indikator yang dikenal sebagai Total 3—yang merepresentasikan total kapitalisasi pasar seluruh altcoin di luar Ether—tercatat naik sekitar 12% sejak awal Februari, tulis Olive dalam catatannya untuk CryptoQuant pada Kamis.
“Perkembangan ini cukup menonjol mengingat kondisi global yang masih rapuh. Dalam situasi penuh ketidakpastian seperti ini, pemilihan posisi investasi secara cermat menjadi krusial dengan mengandalkan sinyal pasar yang mulai muncul," ujar Olive.
Harga Bitcoin Naik Turun Tajam, Pasar Masih Dibayangi Perang Iran
Harga Bitcoin bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian pasar global akibat perang Iran. Meski sempat melonjak, reli bitcoin mulai kehilangan momen [559] url asal
#aset-kripto #perang-iran #harga-bitcoin #pasar-kripto #harga-btc #perang-iran-amerika-israel
(Kompas.com - Money) 06/03/26 06:45
v/156634/
KOMPAS.com – Pergerakan harga Bitcoin (BTC) kembali tersendat setelah reli tajam yang terjadi sehari sebelumnya. Gejolak pasar global akibat perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel masih membayangi sentimen investor dan membuat harga kripto bergerak sangat fluktuatif.
Pada Kamis (5/3/2026), harga Bitcoin sempat turun hingga 3,7 persen ke level 70.650 dollar AS. Penurunan ini terjadi setelah sehari sebelumnya mata uang kripto terbesar di dunia itu melonjak sekitar 9 persen.
Sejak perang Iran-AS dan Israel memicu ketegangan geopolitik, pergerakan harga Bitcoin cenderung naik-turun tajam hampir setiap hari. Volatilitas tinggi ini terjadi seiring investor global terus menilai dampak perang terhadap ekonomi dan pasar keuangan dunia.
Meski demikian, sepanjang pekan ini pelaku pasar kripto terlihat lebih optimistis dibandingkan investor di aset lain seperti saham dan emas.
Kedua aset tersebut justru mengalami tekanan jual besar ketika pasar kembali dibuka setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu.
Dikutip dari Bloomberg, Jumat (6/3/2026), Senior Research Strategist Pepperstone Ltd Michael Brown mengatakan arus berita geopolitik turut memicu pembalikan arah pasar yang sebelumnya terlalu agresif dalam mengurangi risiko.
“Ketika sentimen pasar sudah berada pada tingkat yang sangat pesimistis, biasanya tidak dibutuhkan katalis yang terlalu besar untuk memicu pembalikan arah yang cukup kuat,” tulis Brown dalam catatannya mengenai pergerakan makro global pada Kamis (5/3/2026).
Walaupun sempat menguat, harga Bitcoin masih jauh dari puncaknya. Sejak mencapai rekor lebih dari 126.000 dollar AS pada awal Oktober, Bitcoin telah turun sekitar 40 persen.
Penurunan tersebut dipengaruhi ketidakpastian geopolitik serta belum jelasnya rencana regulasi kripto baru di Amerika Serikat.
Data CoinGecko menunjukkan lebih dari 1,8 triliun dollar AS nilai pasar seluruh aset kripto telah menguap sejak Bitcoin mencapai level tertingginya.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah indikator mulai menunjukkan tanda pemulihan minat investor. Setelah berbulan-bulan mengalami arus keluar dana, exchange-traded fund (ETF) berbasis Bitcoin di Amerika Serikat mencatat arus masuk lebih dari 1,1 miliar dollar AS sepanjang Maret.
WIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO Ilustrasi bitcoin.Bahkan pada Rabu (4/3/2026) saja, produk ETF tersebut mencatat inflow sekitar 462 juta dollar AS, menurut data yang dihimpun Bloomberg. Arus dana ke ETF kripto sering dipandang sebagai indikator penting tingkat kepercayaan investor terhadap pasar.
Co-founder Orbit Markets Caroline Mauron mengatakan sentimen di pasar kripto mulai kembali positif.
“Sentimen di dunia kripto kembali berubah menjadi bullish,” ujarnya.
Dalam beberapa hari terakhir, Bitcoin juga tercatat mengungguli emas, aset yang kerap dibandingkan dengan mata uang kripto tersebut.
Sejak Jumat lalu, atau sehari sebelum serangan militer terjadi, harga emas turun hampir 2 persen. Sebaliknya, Bitcoin justru naik lebih dari 10 persen pada periode yang sama.
Tren ini berbanding terbalik dengan beberapa bulan sebelumnya, ketika harga emas berulang kali mencetak rekor baru sementara Bitcoin justru mengalami penurunan tajam.
Di luar Bitcoin, sejumlah aset kripto lain juga menunjukkan ketahanan relatif di tengah gejolak perang Iran.
Analis kripto CryptoQuant Sylvain Olive mencatat indikator Total 3, yang mengukur total kapitalisasi pasar seluruh altcoin di luar Ether, naik sekitar 12 persen sejak awal Februari.
Menurut Olive, perkembangan ini cukup menonjol mengingat kondisi global yang masih rapuh.
“Dalam situasi yang penuh ketidakpastian seperti ini, investor perlu lebih selektif dalam memilih posisi dengan mengandalkan sinyal pasar yang mulai muncul,” tulisnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangBitcoin Kembali ke Level US$ 71.000, Cermati Agenda Penting Bulan Maret
Kenaikan Bitcoin di awal minggu mulai memudar setelah pasar AS dibuka pada hari Kamis (5/3), menyebabkan mata uang kripto ini turun hampir 2% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 71.400 (Rp 1,21 miliar). [729] url asal
Reli Bitcoin terhenti sejenak, harga mata uang kripto itu kembali ke level US$ 71.000 (Rp 1,2 miliar, kurs Rp 16.920/US$) setelah sempat mendekati US$ 74.000 (Rp 1,25 miliar), pada Kamis (5/3).
Kenaikan Bitcoin di awal minggu mulai memudar setelah pasar AS dibuka pada hari Kamis (5/3), menyebabkan mata uang kripto ini turun hampir 2% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 71.400 (Rp 1,21 miliar).
Pergerakan ini terjadi bersamaan dengan penurunan di pasar saham yang lebih luas karena perang Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir, mengirim harga minyak naik 5,3% menjadi US$ 78,70 per barel. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,4% dan S&P 500 turun 0,7%.
Namun, Nasdaq hanya turun 0,4% karena sektor perangkat lunak yang sebelumnya terpukul kini mengalami kenaikan yang signifikan. iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV) naik 2% kemudian naik sekitar 9% selama lima sesi terakhir.
Menurut laporan Coindesk, indikator-indikator tersebut penting, karena Bitcoin memiliki kaitan erat dengan sektor perangkat lunak. Bitcoin dan saham-saham sector perangkat lunak jatuh bersamaan sejak Oktober di tengah kekhawatiran investor atas disrupsi AI dan masing-masing bangkit dari posisi terendah secara bersamaan dalam beberapa hari terakhir.
"Bitcoin belum sepenuhnya aman," kata Arthur Hayes, CIO dari Maelstrom, seperti dikutip Coindesk, Jumat (6/3). Meskipun ada reli ke US$ 74.000, korelasinya dengan ETF IGV tetap ada. Para pelaku pasar kripto yang bullish tidak ingin melihat Bitcoin turun ketika saham-saham perangkat lunak naik lebih tinggi.
Agenda Penting Kripto pada Bulan Maret
Platform pertukaran aset kripto global, Luno, menyebut ada beberapa agenda penting pada Maret 2026 yang akan menjadi perhatian para pelaku pasar kripto karena akan menentukan pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya. Berikut ini rinciannya.
1. Upgrade Lisovo Polygon
Pada 4 Maret terjadi upgrade Lisovo Polygon yang dirancang untuk mempercepat transaksi antaragen dalam jaringan Polygon. Pembaruan ini mencakup biaya gas senilai US$ 1 miliar atau Rp 16,92 triliun, peningkatan kinerja dompet kripto, serta dukungan smart contact untuk meningkatkan adopsi, likuiditas, dan aktivitas pengguna secara keseluruhan di jaringan.
2. Rilis angka pengangguran AS
Data angka pengangguran AS akan dirilis pada 6 Maret 2026. Data resmi menunjukkan angka pengangguran AS turun ke 4,3% pada Januari 2026 dari 4,4% pada Desember 2025. Non-farm payroll juga menunjukkan penambahan 130 ribu pekerjaan, angka tertinggi dalam setahun terakhir. Hal ini menunjukkan kestabilan pasar tenaga kerja dan menurunkan kekhawatiran terhadap resesi ekonomi.
3. Angka inflasi AS
Angka inflasi AS akan diumumkan pada 11 Maret 2026. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Februari lalu naik 2,4% (year on year) yang merupakan level terendah sejak Mei 2025. Data inflasi akan memengaruhi keputusan The Fed (bank sentral AS) untuk menentukan suku bunga acuannya pada Maret ini.
4. Pengumuman suku bunga The Fed
Bank sentral AS atau The Fed akan mengumumkan keputusan suku bunga acuannya pada 18 Maret mendatang. Berdasarkan FeWatch Tool dari CME Group, lebih dari 90% pialang berjangka memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada bulan ini.
Gubernur The Fed Christopher Waller pada Februari lalu mengatakan dukungannya terhadap pemangkasan suku bunga tergantung pada penguatan data tenaga kerja pada 6 Maret. Angka yang rendah akan mendukung pelonggaran moneter. Waller hanya satu dari tujuh anggota dewan gubernur The Fed yang akan mengambil keputusan.
5. Pengumuman suku bunga Bank of Japan
Bank sentral Jepang atau Bank of Japan akan mengumumkan suku bunga acuannya pada 19 Maret 2026. Sejumlah analis berpendapat volatilitas di pasar pada Februari Sebagian didorong oleh potensi kenaikan suku bunga Bank of Japan.
Suku bunga yang lebih tinggi akan menurunkan keuntungan carry trade yen, di mana investor meminjam yen dengan bunga murah untuk diinvestasikan ke aset-aset yang memberikan imbal hasil lebih tinggi di luar negeri.
Angka inflasi tahunan pada bulan Februari melambat di bawah target 2% BoJ untuk pertama kalinya. Namun, analis menunjukkan perbedaan pendapat apakah angka inflasi yang rendah ini akan mengubah arah suku bunga bank sentral Jepang itu.
6. Kunjungan Presiden Donald Trump ke Cina
Presiden AS Donald Trump akan mengunjungi Cina untuk pertama kali setelah delapan tahun pada 31 Maret-2 April 2026. Menurut Gedung Putih, rencana kunjungan tersebut muncul setelah tarif Trump, termasuk yang menargetkan Cina, dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS.
Kunjungan tersebut diperkirakan akan membahas soal tarif sebagai agenda utama. Para analis mencermati setiap perubahan alam hubungan dagang antara kedua negara tersebut karena berdampak besar terhadap pasar keuangan global.
Nasib Harga Bitcoin (BTC) Hari Ini (6/4): Waspadai Dead Cat Bounce
Investor juga menunggu data ekonomi terbaru dan perkembangan geopolitik, membuat harga bitcoin bergerak dalam rentan area ini. [283] url asal
(WE Finance - New Economy) 06/03/26 05:20
v/156582/
Warta Ekonomi, Jakarta -Harga bitcoin mulai kehilangan momentum pada perdagangan akhir pekan di Jumat (6/3). Ia kehilangan momentum relinya baru-baru ini, seiring penurunan pasar saham global menyusul perang dari Iran dan Amerika Serikat (AS).
Dikutip dari Coinmarketcap, harga bitcoin berada dalam kisaran US$71.000. Ia sebelumnya sempat mendekati level psikologis yang lebih tinggi dalam beberapa hari terakhir di US$74.000.
Chief Investment Officer Maelstrom, Arthur Hayes mengatakan reli bitcoin belum sepenuhnya aman meskipun harga sempat menguat sebelumnya. Tekanan pada pasar kripto juga muncul bersamaan dengan pelemahan indeks saham global, khususnya pada sektor teknologi dan perangkat lunak.
Menurut Hayes, bitcoin masih menunjukkan korelasi dengan sektor teknologi, terutama melalui pergerakan exchange traded funds perangkat lunak seperti iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV).
Ia menilai kondisi ini dapat menjadi sinyal bahwa kenaikan sebelumnya belum tentu menandakan tren bullish yang kuat.
“Bitcoin belum sepenuhnya aman. Bisa saja ini hanya dead cat bounce,” kata Hayes.
Selain faktor geopolitik, investor juga cenderung berhati-hati menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat di Februari 2026. Data ekonomi belakangan ini banyak menunjukkan hasil lebih kuat dari perkiraan, yang berpotensi membuat bank sentral menunda rencana pemangkasan suku bunga.
Berdasarkan Chicago Mercantile Exchange, para trader kini memperkirakan akan adanya peluang besar untuk suku bunga ditahan pada pertemuan bulan ini dan April.
Adapun bitcoin masih mendapat dukungan dari aliran dana ke produk investasi berbasis kripto. Arus dana yang lebih stabil ke bitcoin spot serta volume perdagangan yang relatif terjaga dinilai membantu menahan penurunan harga yang lebih dalam.
Selain itu, reaksi pasar kripto terhadap gangguan geopolitik sejauh ini relatif terbatas. Jika sentimen pasar kembali positif, sejumlah analis menilai bitcoin masih berpeluang naik menuju kisaran US$74.000 hingga US$75.000.
CEO Tokocrypto: Gejolak Geopolitik Tekan Bitcoin, Investor Tetap "Buy the Dip"
Konflik geopolitik global memicu guncangan di pasar kripto, namun Bitcoin menunjukkan ketahanan kuat. Apa rahasia di balik daya tahannya di tengah ketidakpastian? [1,051] url asal
#tokocrypto #etf-bitcoin #harga-bitcoin #bitcoin-btc
(Kompas.com - Money) 05/03/26 13:33
v/155983/
JAKARTA, KOMPAS.com - Memanasnya konflik Israel, Amerika Serikat (AS) dengan Iran memicu gejolak di pasar kripto global.
Harga Bitcoin (BTC) sempat melemah ke kisaran 63.000 hingga 64.000 dollar AS.
Namun, tekanan tersebut tidak berkembang menjadi tren penurunan yang berkepanjangan.
Unsplash/kanchanara Ilustrasi aset kripto Bitcoin.CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai pasar justru menunjukkan adanya permintaan yang cukup kuat untuk menahan penurunan harga Bitcoin.
Menurutnya, setiap kali konflik geopolitik memanas, pasar global biasanya memasuki fase risk-off, di mana investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Dalam kondisi tersebut, investor global biasanya menarik dana dari aset yang dianggap berisiko tinggi.
Hal itu membuat harga BTC mengalami koreksi cepat ketika ketegangan geopolitik meningkat.
“Saat konflik Timur Tengah memanas, terutama yang melibatkan Iran dan AS, pasar kripto seperti Bitcoin umumnya bereaksi dengan volatilitas jangka pendek. Polanya sering dimulai dari sentimen risk-off di pasar global, pelaku pasar mengurangi eksposur pada aset berisiko, sehingga BTC bisa terkoreksi cepat,” ujar Calvin saat dihubungi Kompas.com, Kamis (5/3/2026).
“Dalam situasi terbaru BTC sempat melemah ke area sekitar 63.000-64.000 dollar AS ketika ketegangan meningkat dan pasar ikut gelisah,” paparnya.
Meski demikian, Calvin menilai penurunan tersebut tidak secara otomatis berkembang menjadi tren turun jangka panjang.
Sebaliknya, pasar justru menunjukkan adanya pembeli yang aktif menyerap penurunan harga melalui strategi buy the dip.
WIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO Ilustrasi bitcoin.“Namun yang menarik adalah penurunan tersebut tidak otomatis berlanjut menjadi tren turun panjang. BTC justru terlihat bertahan dan memantul karena ada pembeli yang aktif menyerap penurunan (buy the dip),” beber Calvin.
Itu menandakan bahwa di level tertentu, permintaan riil di pasar spot cukup kuat untuk menahan tekanan jual.
Dengan kata lain, meski headline geopolitik memicu kepanikan sesaat, ada lapisan demand yang membuat BTC tetap bergerak dalam kisaran alih-alih jatuh bebas.
Lebih jauh, ia menilai kondisi pasar kripto saat ini berbeda dibandingkan periode sebelumnya, terutama karena semakin besarnya peran investor institusional melalui ETF Bitcoin spot.
Arus masuk dana ke ETF dipandang memberikan dorongan beli yang lebih stabil dibandingkan siklus pasar kripto sebelumnya, yang banyak ditopang oleh perdagangan berbasis leverage.
“Peran ETF Bitcoin spot juga menjadi faktor kunci yang membedakan kondisi sekarang dibanding banyak periode sebelumnya. Ketika ada arus masuk ETF dan pembelian institusional, dorongan beli cenderung lebih stabil dan tidak semata mengandalkan leverage,” tukasnya.
Bahkan ketika harga Bitcoin sempat mengalami penurunan, data menunjukkan adanya indikasi akumulasi dari investor yang memanfaatkan pelemahan harga untuk menambah posisi.
“Bahkan ketika harga sempat turun, data yang kamu berikan menunjukkan adanya indikasi akumulasi, baik dari sisi aliran dana ETF maupun perilaku investor yang cenderung menambah posisi saat harga melemah,” lanjut Calvin.
Dari sisi data on-chain dan perilaku investor di bursa kripto, tren netflow negatif, di mana jumlah Bitcoin yang keluar dari bursa lebih besar dibandingkan yang masuk-umumnya dipandang sebagai sinyal bahwa para pemegang aset memilih untuk menyimpan Bitcoin dalam jangka menengah hingga panjang.
DOK. Shutterstock. Ilustrasi Bitcoin.Kondisi tersebut menunjukkan investor tidak sedang bersiap untuk melakukan penjualan cepat, melainkan cenderung menahan kepemilikannya.
Fenomena ini membantu menjelaskan mengapa Bitcoin masih mampu menunjukkan daya tahan meskipun pasar global sedang diwarnai ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak.
Risiko gangguan perdagangan energi di kawasan seperti Selat Hormuz memang dapat menekan sentimen pasar secara umum.
Namun, adanya aktivitas akumulasi oleh investor membuat tekanan tersebut tidak langsung mendorong harga kripto keluar dari kisaran pergerakannya.
Dengan kata lain, meskipun sentimen global memicu volatilitas, dukungan permintaan di pasar tetap menjaga Bitcoin bergerak dalam rentang harga tertentu alih-alih mengalami penurunan tajam.
Ke depan, Calvin memperkirakan pergerakan Bitcoin masih akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global.
Jika upaya diplomasi berhasil meredakan konflik, maka sentimen pasar diperkirakan akan membaik.
Dalam skenario tersebut, Bitcoin berpotensi menguat untuk menguji area resistance di kisaran 73.000 hingga 75.000 dollar AS.
Sebaliknya, jika ketegangan geopolitik kembali meningkat dan memicu gelombang risk-off baru di pasar global, maka Bitcoin masih berpotensi kembali terkoreksi menuju area pertengahan 60.000 dollar AS sebelum menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Meski demikian, selama arus dana dari ETF Bitcoin, serta aktivitas akumulasi di pasar spot masih berlanjut, BTC dinilai lebih berpeluang bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan menguat dibandingkan mengalami penurunan tajam dalam jangka panjang.
FREEPIK/FABRIKASIMF Ilustrasi bitcoin.“Jadi proyeksinya cenderung volatilitas tetap tinggi, tetapi selama arus ETF dan akumulasi spot bertahan, BTC lebih berpeluang bergerak konsolidasi dengan bias menguat ketimbang anjlok berkepanjangan,” ucap Calvin.
Investor alirkan 700 juta dollar AS ke ETF
Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, investor telah mengalirkan hampir 700 juta dollar AS ke dalam exchange-traded fund (ETF) Bitcoin di Amerika Serikat sepanjang Maret ini.
Stabilisasi harga Bitcoin terjadi ketika pasar global mulai pulih, setelah sempat dilanda kekhawatiran akibat konflik antara Iran, Israel dan AS, di mana konflik ini berpotensi mengganggu perdagangan global dan meningkatkan tekanan inflasi.
Pada awal pekan ini, Bitcoin terlihat relatif lebih stabil dibandingkan sejumlah aset lain yang mengalami aksi jual besar-besaran ketika pasar kembali dibuka sesudah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu.
Namun pada Kamis, pasar saham mulai menunjukkan pemulihan.
Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 11 persen, sementara indeks Nikkei 225 Jepang menguat 4,2 persen.
Dalam beberapa hari terakhir, Bitcoin bahkan mampu mengungguli kinerja emas yang sering dibandingkan dengan aset kripto tersebut.
Sejak Jumat akhir pekan lalu, sehari sebelum serangan terjadi, harga emas tercatat turun hampir 2 persen, sementara Bitcoin justru naik hampir 12 persen dalam periode yang sama.
Padahal dalam beberapa bulan terakhir tren yang terjadi justru sebaliknya, di mana harga emas berulang kali mencetak rekor tertinggi, sementara Bitcoin mengalami penurunan.
Reli kripto sendiri sempat terhenti setelah aksi jual besar pada Oktober lalu, tidak lama setelah Bitcoin mencapai rekor harga di atas 126.000 dollar AS.
Sejak saat itu, nilai Bitcoin telah turun lebih dari 40 persen.
Sebelum konflik terbaru di Timur Tengah, investor cenderung mengalihkan dana ke berbagai aset lain.
Namun ketidakpastian mengenai durasi perang membuat sebagian pelaku pasar kembali mencari aset lindung nilai.
Sepanjang Maret ini saja, investor telah mengalirkan hampir 700 juta dollar AS ke ETF Bitcoin di Amerika Serikat, menurut data yang dihimpun Bloomberg.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual kripto/BTC. Seluruh rekomendasi berasal dari analis. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Bitcoin Melonjak Hampir 7 Persen, Harga Bertahan di Atas 72.000 Dollar AS
Bitcoin meroket melampaui $72.000, didorong pemulihan pasar global dan aliran dana ETF AS. Sentimen bullish kembali di tengah ketidakpastian makroekonomi. [490] url asal
#btc #harga-bitcoin #konflik-geopolitik #etf-bitcoin-as #kospi
(Kompas.com - Money) 05/03/26 11:29
v/155820/
JAKARTA, KOMPAS.com - Harga Bitcoin (BTC) melonjak dan bertahan di atas level 72.000 dollar AS dalam 24 jam terakhir.
Mengutip CoinMarketCap, Kamis (5/3/2026) pukul 11.03 WIB, harga aset kripto terbesar di dunia itu menguat 6,96 persen ke level 72.495,75 dollar AS, setelah sebelumnya sempat bergerak di kisaran 67.800 dollar AS.
Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan bahwa investor telah mengalirkan hampir 700 juta dollar AS ke dalam exchange-traded fund (ETF) Bitcoin di Amerika Serikat sepanjang Maret ini.
WIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO Ilustrasi bitcoin.Stabilisasi harga Bitcoin terjadi ketika pasar global mulai pulih, setelah sempat dilanda kekhawatiran akibat konflik antara Iran, Israel dan AS, di mana konflik ini berpotensi mengganggu perdagangan global dan meningkatkan tekanan inflasi.
Pada awal pekan ini, Bitcoin terlihat relatif lebih stabil dibandingkan sejumlah aset lain yang mengalami aksi jual besar-besaran ketika pasar kembali dibuka sesudah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu.
Namun pada Kamis, pasar saham mulai menunjukkan pemulihan.
Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 11 persen, sementara indeks Nikkei 225 Jepang menguat 4,2 persen.
CEO bursa kripto OKX SG, Gracie Lin, mengatakan ketidakpastian makroekonomi dan meningkatnya konflik di Timur Tengah membuat pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kondisi keuangan yang lebih longgar.
“Ketika ekspektasi likuiditas berubah, Bitcoin biasanya merespons secara lebih kuat. Itu menjelaskan mengapa kita melihat penguatan harga pada level ini,” ujar Lin.
UNSPLASH/TRAXER Ilustrasi kripto.Sementara itu, salah satu pendiri hedge fund DACM, Richard Galvin, menilai premium harga Bitcoin di platform Coinbase, yang sebelumnya berada pada posisi diskon pada Minggu, menjadi sinyal bahwa sentimen bullish mulai kembali muncul di pasar Amerika Serikat.
Dalam beberapa hari terakhir, Bitcoin bahkan mampu mengungguli kinerja emas yang sering dibandingkan dengan aset kripto tersebut.
Sejak Jumat, sehari sebelum serangan terjadi, harga emas tercatat turun hampir 2 persen, sementara Bitcoin justru naik hampir 12 persen dalam periode yang sama.
Padahal dalam beberapa bulan terakhir tren yang terjadi justru sebaliknya, di mana harga emas berulang kali mencetak rekor tertinggi, sementara Bitcoin mengalami penurunan.
Reli kripto sendiri sempat terhenti setelah aksi jual besar pada Oktober lalu, tidak lama setelah Bitcoin mencapai rekor harga di atas 126.000 dollar AS.
Sejak saat itu, nilai Bitcoin telah turun lebih dari 40 persen.
Sebelum konflik terbaru di Timur Tengah, investor cenderung mengalihkan dana ke berbagai aset lain.
Namun ketidakpastian mengenai durasi perang membuat sebagian pelaku pasar kembali mencari aset lindung nilai.
Sepanjang Maret ini saja, investor telah mengalirkan hampir 700 juta dollar AS ke ETF Bitcoin di Amerika Serikat, menurut data yang dihimpun Bloomberg.
Salah satu pendiri Orbit Markets, Caroline Mauron, mengatakan sentimen di pasar kripto mulai kembali membaik.
“Sentimen di dunia kripto kembali bullish. Perdagangan mungkin masih bergejolak karena ketegangan geopolitik dan ketidakpastian makro, tetapi untuk saat ini pasar tampaknya sudah mulai berbalik arah,” katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Waspadai Potensi Bull Trap, Begini Proyeksi Harga Bitcoin (BTC) Hari Ini (5/3)
Banyak analis memperingatkan potensi bull trap, harga bitcoin masih terancam guncangan ketidakpastian geopolitik [361] url asal
(WE Finance - New Economy) 05/03/26 07:18
v/155600/
Warta Ekonomi, Jakarta -Harga bitcoin kembali menguat pada perdagangan pagi dari di Kamis (5/3). Meski demikian, investor diminta waspada terhadap potensi bull trap, yaitu kondisi ketika harga terlihat menembus resistensi penting dan menarik minat beli, namun kemudian berbalik turun tajam.
Berdasarkan data terbaru Coinmarketcap, harga bitcoin naik tajam dan hampir menyentuh level US$74.000. Ia merupakan sebuah level psikologis penting yang selama beberapa pekan terakhir membatasi pergerakan pasar kripto.
Kenaikan harga bitcoin ini memicu optimisme baru dalam pasar aset digital. Namun menariknya, reli tersebut justru disambut dengan skeptisisme luas dari para trader dan analis kripto.
Sejumlah analis menilai masih terdapat tekanan jual besar di atas level harga saat ini. Hal tersebut berasal dari suplai koin yang belum terserap serta posisi di pasar derivatif yang berpotensi memicu volatilitas.
Menurut mereka, reli saat ini justru bisa menarik lebih banyak penjual daripada mengonfirmasi tren naik yang berkelanjutan.
Kekhawatiran ini juga dipicu oleh pengalaman sebelumnya pada awal tahun ini. Saat itu, bitcoin sempat terlihat menembus fase konsolidasi, namun kemudian berbalik turun tajam hingga sekitar US$60.000.
Pergerakan tersebut menjebak banyak trader momentum dan memicu likuidasi besar di pasar derivatif kripto.
Meski banyak analis memprediksi bull trap, situasi ini justru menciptakan paradoks dalam pasar. Dalam media sosial, banyak analis dan chartist secara serempak memperingatkan potensi penurunan harga.
Namun konsensus bearish yang terlalu kuat justru dapat memicu skenario sebaliknya, yakni short squeeze, ketika para trader yang memasang posisi jual terpaksa menutup posisi mereka karena harga terus naik.
Dalam pasar dengan leverage tinggi seperti kripto, kesepakatan arah yang terlalu kuat sering kali menciptakan likuiditas bagi pergerakan harga ke arah berlawanan.
Ketidakpastian global juga menjadi faktor yang memperumit prospek pasar kripto. Guncangan geopolitik sering memainkan peran dalam koreksi besar pasar.
Saat ini, reli bitcoin berhasil menghidupkan kembali momentum bullish di pasar kripto. Namun arah harga dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu apakah pasar benar-benar telah mencapai titik dasar.
Untuk mengembalikan struktur bullish jangka panjang, bitcoin perlu menembus level resistensi penting dan menghapus pola lower high yang terbentuk setelah bull trap sebelumnya pada Januari.
Jika gagal mempertahankan level ini, reli terbaru berisiko berubah menjadi bull trap yang kembali menekan harga Bitcoin dalam jangka pendek.
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)