Bisnis.com, CIREBON — Industri batik di Kabupaten Cirebon menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil dalam lima tahun terakhir meskipun laju perkembangannya masih tergolong moderat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Cirebon mencatat sektor batik tetap bertahan sebagai salah satu penopang ekonomi kreatif dan industri padat karya daerah di tengah tekanan ekonomi dan persaingan produk tekstil modern.
Berdasarkan data Kabupaten Cirebon Dalam Angka 2026, jumlah perusahaan batik di Kabupaten Cirebon pada 2025 mencapai 605 unit. Angka itu naik dibanding periode 2021 hingga 2024 yang stagnan di level 597 unit usaha.
Kepala BPS Kabupaten Cirebon, Januarto Wibowo mengatakan, industri batik Cirebon memiliki daya tahan yang cukup kuat karena ditopang karakter usaha berbasis budaya dan pasar yang sudah terbentuk sejak lama.
"Kalau dilihat dari data lima tahun terakhir, pertumbuhan industri batik memang tidak terlalu agresif, tetapi relatif stabil. Ini menunjukkan sektor batik masih mampu bertahan di tengah berbagai tekanan ekonomi," kata Januarto dikutip pada Jumat (22/5/2026).
Selain jumlah usaha, peningkatan juga terlihat dari sisi tenaga kerja. Pada 2021, industri batik menyerap 4.688 pekerja. Jumlah itu terus meningkat menjadi 4.828 pekerja pada 2025.
Menurut Januarto, kenaikan jumlah tenaga kerja menunjukkan industri batik masih menjadi sumber penghidupan penting bagi masyarakat, terutama di kawasan sentra batik Trusmi dan sekitarnya.
"Karena sifatnya padat karya, industri batik masih berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja lokal. Meski kenaikannya bertahap, trennya tetap positif," ujarnya.
Dari sisi produksi, kapasitas industri batik juga mengalami peningkatan. Pada 2021, produksi batik tercatat 42.272 kodi dan naik menjadi 43.711 kodi pada 2025.
Kenaikan produksi paling besar terjadi pada 2025. BPS menilai kondisi tersebut berkaitan dengan mulai pulihnya aktivitas perdagangan, pariwisata, dan permintaan pasar setelah beberapa tahun terdampak perlambatan ekonomi.
Meski demikian, laju pertumbuhan industri batik masih tertinggal dibanding sejumlah sektor industri unggulan lain di Kabupaten Cirebon seperti konveksi dan makanan ringan yang tumbuh lebih cepat dalam aspek produksi maupun investasi.
Data BPS menunjukkan nilai investasi industri batik pada 2025 mencapai Rp39,95 miliar, naik tipis dibanding 2021 sebesar Rp39,28 miliar. Selama lima tahun, kenaikan investasi sektor batik tercatat kurang dari Rp 1 miliar.
Januarto menilai kondisi tersebut menunjukkan pelaku usaha batik masih cenderung berhati-hati melakukan ekspansi usaha.
"Investasinya naik, tetapi tidak terlalu signifikan. Bisa dikatakan pertumbuhannya lebih organik. Pelaku usaha tampaknya masih menyesuaikan dengan kondisi pasar dan daya beli," katanya.
Di sisi lain, industri batik dinilai menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari persaingan produk batik printing murah, regenerasi perajin, hingga perubahan pola konsumsi masyarakat.
Namun, Januarto menilai batik Cirebon tetap memiliki peluang besar berkembang apabila didukung penguatan pemasaran digital, wisata budaya, dan perluasan pasar ekspor.
"Batik Cirebon punya kekuatan pada identitas budaya dan pasar wisata. Tinggal bagaimana inovasi dan adaptasi terhadap pasar terus dilakukan," ujarnya.