JAKARTA, KOMPAS.com — Aktivitas transaksi merger dan akuisisi (merger and acquisition/M&A) segmen mid-market global tercatat mengalami penurunan sepanjang 2025 di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik serta ketidakpastian tarif perdagangan.
Meski demikian, sejumlah transaksi yang sempat tertunda masih berada dalam pipeline karena investor memilih menunggu kondisi pasar yang lebih kondusif.
Laporan BDO’s M&A Horizons 2026 menunjukkan penurunan aktivitas transaksi mid-market global pada tahun lalu juga dipengaruhi oleh terbatasnya horizon perencanaan strategis di tengah ketidakpastian ekonomi.
PIXABAY/RONALD CARRENO Ilustrasi bisnis.Kondisi tersebut dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan perlambatan permanen, mengingat banyak pemilik bisnis dan investor tetap mempertahankan rencana transaksi mereka.
Mid-market tetap menjadi fokus investor
Di kawasan Asia Pasifik, transaksi mid-market semakin menjadi fokus utama aktivitas private equity.
Investor cenderung memprioritaskan transaksi berskala lebih kecil yang berfokus pada peningkatan operasional dibandingkan dengan akuisisi besar.
Di Asia Tenggara, private equity mencatat investasi sekitar 9,1 miliar dollar AS melalui 59 transaksi sepanjang 2025. Angka ini mencerminkan lingkungan investasi yang semakin selektif.
Indonesia sendiri tetap menjadi pasar M&A yang aktif dengan nilai sekitar 6,2 miliar dollar AS dari 102 transaksi. Data tersebut menunjukkan minat investor yang tetap kuat, meskipun penempatan modal dilakukan secara lebih berhati-hati.
Pertumbuhan konsumen serta percepatan adopsi digital terus menjadi faktor yang menarik investor domestik maupun internasional.
Freepik Ilustrasi bisnis yang mengadopsi AI dan cloud.Selain itu, dinamika sektoral seperti konsolidasi di jasa keuangan serta meningkatnya minat terhadap sektor teknologi, manufaktur, dan energi berkelanjutan turut mendorong aktivitas transaksi.
Marvin Camangeg, Partner (Advisory) BDO di Indonesia, menilai investor ke depan akan semakin menuntut standar due diligence yang lebih tinggi dan struktur transaksi yang lebih kreatif.
“Jika kondisi perdagangan global menjadi lebih jelas, arus transaksi diperkirakan akan kembali meningkat, meskipun dengan tingkat selektivitas yang lebih ketat,” ujar Marvin dalam siaran pers, Senin (16/3/2026).
Pentingnya menilai keberlanjutan komersial
Secara konvensional, proses uji tuntas dalam transaksi M&A lebih banyak berfokus pada verifikasi aspek keuangan, pajak, dan legal perusahaan.
Evaluasi ini bertujuan memastikan informasi historis yang disampaikan kepada investor akurat dan dapat dipercaya.
Namun dalam praktiknya, investor tidak hanya menilai kinerja masa lalu, melainkan juga potensi masa depan perusahaan.
Sebuah perusahaan dapat memiliki laporan keuangan yang baik, tetapi tetap menghadapi risiko pasar yang menurun, potensi penurunan jumlah pelanggan, atau perubahan tingkat persaingan yang tidak sepenuhnya tercermin dalam laporan keuangan.
Dalam konteks tersebut, commercial due diligence atau uji tuntas komersial menjadi komponen penting dalam proses pengambilan keputusan investasi.
“Memastikan keandalan kinerja historis memang penting, namun menilai apakah pasar yang mendasarinya mampu menopang pertumbuhan di masa depan sama pentingnya. Dalam transaksi M&A, nilai terbesar sering muncul dari kemampuan mengidentifikasi bagaimana dinamika pasar dapat membuka peluang ekspansi di luar kinerja saat ini,” kata Marvin.
FREEPIK/DC STUDIO Ilustrasi bisnis.Ia menambahkan, relevansi analisis komersial semakin meningkat di Indonesia seiring percepatan adopsi digital, perubahan perilaku konsumen, serta perkembangan regulasi.
“Hal ini semakin relevan di Indonesia, di mana percepatan adopsi digital, perubahan perilaku konsumen, serta perkembangan regulasi menuntut perusahaan untuk memastikan strategi bisnis yang mampu menjaga pertumbuhan jangka panjang. Evaluasi investasi yang komprehensif biasanya menggabungkan analisis keuangan dengan analisis komersial untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai prospek bisnis,” lanjutnya.
Selain menilai kinerja historis, commercial due diligence juga mencakup analisis berbagai faktor eksternal seperti kondisi pasar, potensi pertumbuhan, tren industri, tingkat persaingan, serta stabilitas permintaan pelanggan.
Analisis tersebut membantu memastikan bahwa proyeksi pertumbuhan dalam rencana bisnis realistis dan didukung kondisi pasar yang memadai.
Disrupsi industri dorong validasi pasar
Di tengah meningkatnya disrupsi industri, investor menghadapi tekanan yang lebih besar untuk memvalidasi kondisi pasar di balik setiap transaksi.
Digitalisasi, perubahan rantai pasok global, serta pergeseran perilaku konsumen dinilai memperpendek siklus hidup model bisnis tradisional.
Pada saat yang sama, valuasi perusahaan semakin bergantung pada proyeksi pertumbuhan masa depan, terutama di sektor teknologi dan digital.
Kondisi ini membuat kesalahan dalam asumsi pasar berpotensi menimbulkan risiko yang signifikan bagi investor.
Bagi investor asing yang memasuki pasar Indonesia, kompleksitas dinamika lokal, regulasi, serta tingkat persaingan juga menjadi tantangan tambahan.
Dalam situasi tersebut, validasi pasar secara independen dipandang sebagai langkah penting untuk memastikan keputusan investasi yang lebih informatif.
Temuan dalam evaluasi transaksi manufaktur
Dalam salah satu evaluasi transaksi di sektor manufaktur di Indonesia, investor asing menemukan kinerja keuangan perusahaan target yang stabil dengan margin yang sehat.
Namun, melalui proses commercial due diligence, terungkap bahwa bisnis tersebut sangat bergantung pada sejumlah kecil pelanggan.
Selain itu, volume pesanan dinilai lebih fluktuatif dibandingkan tren pendapatan yang terlihat. Analisis pasar juga menunjukkan proyeksi pertumbuhan yang digunakan dalam rencana bisnis cenderung terlalu optimistis.
Temuan tersebut membantu investor menyesuaikan valuasi transaksi sekaligus menyusun strategi pasca-akuisisi yang lebih realistis.
Integrasi analisis komersial dalam transaksi
Dalam praktik M&A, akuisisi yang berhasil tidak hanya bergantung pada laporan keuangan yang telah diverifikasi.
Investor juga perlu memahami keberlanjutan model bisnis perusahaan serta apakah kondisi pasar mendukung ekspektasi pertumbuhan yang menjadi dasar valuasi transaksi.
Pengalaman menunjukkan bahwa transaksi yang mampu menciptakan nilai jangka panjang umumnya merupakan transaksi di mana pertanyaan-pertanyaan komersial telah dijawab secara jelas sebelum kesepakatan ditandatangani.
Dengan meningkatnya standar due diligence, investor yang mengintegrasikan analisis komersial dalam proses evaluasi dinilai berada pada posisi yang lebih kuat untuk menangkap peluang nilai jangka panjang di pasar mid-market Asia Tenggara yang terus berkembang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang