#30 tag 24jam
Satgas PASTI Blokir CANTVR dan YUDIA, Diduga Lakukan Penipuan Investasi
Satgas Pasti menghentikan usaha CANTVR dan YUDIA, lantaran diduga melakukan penipuan berkedok investasi. [559] url asal
#perusahaan-asing #investasi #penipuan #saham-ipo #satgas-pasti
(Kompas.com - Money) 21/05/26 20:33
v/228241/
JAKARTA, KOMPAS.com - Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) menghentikan kegiatan usaha yang diduga melakukan penipuan dengan modus impersonasi atau penyalahgunaan nama perusahaan asing berizin, yakni CANTVR.
Selain itu, Satgas PASTI juga menghentikan kegiatan usaha YUDIA yang diduga menjalankan penipuan berkedok penawaran pekerjaan paruh waktu dan pembelian hak cipta film drama China untuk memperoleh pendapatan harian dan bonus tambahan.
Dalam siaran pers yang diterima Kamis (21/5/2026), Satgas PASTI menjelaskan, CANTVR dan Monexplora (MEX) diduga merupakan entitas yang saling berkaitan karena penawaran investasi melalui platform CANTVR diperoleh dari MEX.
DOK. Freepik/rawpixel.com. Ilustrasi penipuan digital. Global Fraud Index 2025: Ini Negara-Negara yang Paling Rentan Terhadap Penipuan“CANTVR melakukan impersonasi terhadap Cantor Fitzgerald, yaitu perusahaan yang telah berizin di Amerika Serikat dan Singapura,” tulis Satgas PASTI.
Berdasarkan hasil klarifikasi dan verifikasi, CANTVR diketahui melakukan kegiatan usaha yang tidak sesuai dengan izin yang diterbitkan oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.
Selain itu, aplikasi maupun website yang digunakan juga tidak tercatat sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Kementerian Komunikasi dan Digital RI.
Sementara itu, MEX disebut tidak memiliki badan hukum di Indonesia. Aplikasi dan website yang digunakan juga tidak tercatat sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Kementerian Komunikasi dan Digital RI.
Satgas PASTI mengungkapkan, CANTVR terindikasi menjalankan skema penipuan dengan modus investasi saham melalui aplikasi.
Dalam praktiknya, pengguna diminta melakukan penyetoran deposit untuk kegiatan investasi saham dengan janji pemberian sejumlah benefit dan keuntungan lebih besar berdasarkan level keanggotaan.
“Selain itu CANTVR memberikan alokasi pembelian saham IPO fiktif secara acak para anggotanya. Alokasi acak tersebut mengharuskan anggota untuk melakukan pembayaran terhadap saham IPO fiktif tersebut,” tulis Satgas PASTI.
PIXABAY/NATTANAN KANCHANAPRAT Ilustrasi investasi. Surat Berharga Negara. SBN 2026. Sukuk Tabungan. Sukuk Wakaf. Obligasi Negara Ritel. SBN Ritel 2026. Savings Bond Ritel. Jadwal SBN 2026. Cara beli SBN Ritel 2026.Adapun YUDIA diduga menjalankan penipuan modus investasi melalui skema penyetoran dana deposit, pengerjaan tugas harian berupa menonton film drama China, pembelian hak cipta film drama China, serta perekrutan anggota baru atau member get member untuk memperoleh pendapatan harian dan bonus tambahan.
Berdasarkan hasil klarifikasi dan verifikasi, YUDIA diketahui melakukan kegiatan usaha tanpa mengajukan perizinan lanjutan kepada Kementerian Investasi dan Hilirisasi RI/BKPM.
Selain itu, aplikasi maupun website yang digunakan juga tidak tercatat sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Kementerian Komunikasi dan Digital RI.
Sehubungan dengan temuan tersebut, Satgas PASTI menghentikan kegiatan CANTVR dan YUDIA serta akan melakukan pemblokiran akses terhadap aplikasi maupun tautan terkait.
Satgas PASTI juga menyatakan akan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk proses penindakan lebih lanjut.
“Masyarakat yang merasa dirugikan diminta segera melaporkan kepada aparat penegak hukum setempat guna mempercepat proses penanganan,” tulis Satgas PASTI.
Satgas PASTI kembali mengimbau masyarakat agar waspada terhadap tawaran investasi atau kegiatan keuangan yang menjanjikan keuntungan tinggi dan tidak logis, terutama yang menggunakan nama perusahaan asing berizin tanpa kejelasan legalitas di Indonesia.
Apabila menemukan indikasi penawaran investasi atau pinjaman online ilegal, masyarakat dapat melaporkannya melalui website sipasti.ojk.go.id atau melalui Kontak OJK 157, WhatsApp 081157157157, dan e-mail konsumen@ojk.go.id.
Sementara itu, masyarakat yang menjadi korban penipuan transaksi keuangan dapat melapor melalui website Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) di iasc.ojk.go.id untuk mendukung upaya pemblokiran rekening pelaku secara cepat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
16 Perusahaan Antre IPO di Bursa, BEI Ungkap Sektornya
BEI menyebut sebanyak 16 perusahaan tengah mengantre untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). [306] url asal
#ipo #bei #saham-ipo #ipo-2026
(Kompas.com - Money) 20/04/26 05:39
v/196154/
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut sebanyak 16 perusahaan tengah mengantre untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Jumlah itu tercatat hingga 17 April 2026.
Namun di tengah ramainya antrean tersebut, realisasi IPO sepanjang tahun ini masih terbilang minim. Baru satu emiten yang resmi melantai di bursa, yakni PT BSA Logistic Indonesia Tbk (WBSA), dengan dana yang dihimpun sebesar Rp 0,30 triliun.
Berdasarkan dokumen pipeline BEI 2026, mayoritas calon emiten berasal dari perusahaan beraset besar. Sebanyak 11 perusahaan tercatat memiliki aset di atas Rp 250 miliar, sementara lima lainnya berada pada kategori aset menengah dengan rentang Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar.
Dari sisi sektor, pipeline IPO memperlihatkan dominasi sektor konsumsi. Masing-masing tiga perusahaan berasal dari sektor consumer cyclicals, tiga perusahaan consumer non-cyclicals.
Selain itu, terdapat empat perusahaan sektor kesehatan, dua perusahaan infrastruktur, dua perusahaan teknologi, serta masing-masing satu perusahaan dari sektor energi dan finansial.
Tak hanya IPO, aktivitas penghimpunan dana melalui obligasi juga menunjukkan tren yang cukup baik. BEI mencatat sektor finansial menjadi penyumbang terbesar dalam pipeline efek bersifat utang dan sukuk (EBUS), dengan 15 perusahaan.
Disusul sektor infrastruktur sebanyak tujuh perusahaan dan sektor energi lima perusahaan. Lalu, dua perusahaan basic materials, dua lainnya perusahaan consumer non cyclicals.
"Hingga saat ini telah diterbitkan 52 emisi dari 35 penerbit EBUS dengan dana dihimpun sebesar Rp57,16 triliun," tulis BEI, Minggu (19/4/2026).
Sementara itu, aksi korporasi melalui rights issue masih relatif terbatas. Pipeline mencatat hanya satu perusahaan dari sektor properti dan real estate yang berencana melakukan rights issue.
Sepanjang tahun berjalan, baru tiga perusahaan yang telah mengeksekusi aksi tersebut dengan total dana sebesar Rp 3,75 triliun.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangIPO Perdana 2026, Ini Jadwal dan Rincian Penawaran Saham BSA Logistics (WBSA)
BSA Logistics (WBSA) akan IPO di BEI pada 10 April 2026, menawarkan 1,8 miliar saham dengan harga Rp150-Rp170 per saham, menargetkan dana Rp306 miliar. [501] url asal
#ipo-wbsa #penawaran-saham-wbsa #jadwal-ipo-wbsa #harga-saham-wbsa #saham-bsa-logistics #investasi-saham-ipo #wbsa-di-bei #saham-logistik-indonesia #ekspansi-wbsa #akuisisi-bil #peluang-investasi-logis
(Bisnis.Com - Market) 02/04/26 13:37
v/179997/
Bisnis.com, JAKARTA — Calon emiten yang segera melantai di Bursa Efek Indonesia atau BEIPT BSA Logistics Indonesia Tbk. (WBSA) pada 10 April 2026.
WBSA akan melepas sebanyak 1,8 miliar saham atau setara 20,75% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh, dengan kisaran harga penawaran Rp150 hingga Rp170 per saham. Dari aksi korporasi ini, perusahaan menargetkan dana segar hingga Rp306 miliar.
Berdasarkan prospektus, perencanaan alokasi dana hasil IPO akan difokuskan untuk ekspansi anorganik, termasuk akuisisi PT Bermuda Inovasi Logistik (BIL) guna memperkuat lini bisnis angkutan laut. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat posisi WBSA di industri logistik nasional.
IPO WBSA dinilai menjadi salah satu peluang strategis bagi investor untuk melakukan diversifikasi portofolio ke sektor logistik yang tengah berkembang pesat di Indonesia.
Chief Marketing Officer PT Indo Premier Sekuritas Sergio Ticoalu menilai momentum penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) kembali menghadirkan peluang menarik bagi investor pasar modal Indonesia.
"Khususnya bagi investor yang memburu potensi Auto Reject Atas atau ARA di saham IPO. Berburu saham IPO juga menjadi cara investasi saham untuk pemula," ujarnya melalui keterangan resmi, Kamis (2/4/2026).
Adapun sebelum memutuskan untuk berinvestasi, informasi berikut penting bagi investor untuk mencatat jadwal dan struktur penawaran saham WBSA:
- Jumlah Saham: Maksimal 1,80 miliar saham
- Harga Penawaran: Rp150 – Rp170 per saham
- Target Dana: Hingga Rp306 miliar
- Kepemilikan Publik: 20,75%
- Masa Bookbuilding: 25 – 27 Maret 2026
- Masa Penawaran Umum: 1 – 8 April 2026
- Tanggal Listing (BEI): 10 April 2026
Mengacu pada SEOJK No. 25/2025, investor ritel kini mendapatkan jaminan penjatahan minimum 10 lot per SID untuk emisi tertentu, termasuk WBSA yang masuk dalam kategori Golongan III. Hal ini akan memperluas akses dan peluang yang lebih besar bagi para investor retail di bursa saham Indonesia.
Meski kondisi seperti itu, investor tetap perlu memperhatikan batas maksimal pemesanan sebesar 10% dari total nilai IPO atau Rp30,6 miliar per SID, serta memastikan ketersediaan dana dalam sistem no funds, no order.
Sejauh ini, dia pun melihat minat investor ritel terhadap saham IPO terus meningkat.
Dia menyarankan investor ritel dapat membeli saham IPO melalui aplikasi sehingga dapat memastikan akses yang lebih inklusif, cepat, dan berbasis teknologi agar investor dapat mengambil keputusan investasi secara lebih tepat.
Melalui aplikasi online, seperti Ipot, kini investor dapat melakukan pemesanan saham IPO WBSA secara langsung dan praktis tanpa harus berpindah aplikasi. Prosesnya meliputi registrasi akun, pengisian dana RDN, hingga pemesanan saham melalui fitur e-IPO yang terintegrasi. Kemudahan cara beli saham di aplikasi ini dirancang untuk memangkas birokrasi bagi investor ritel.
Fitur real time indikator juga menjadi diferensiasi penting, terutama untuk saham IPO yang belum memiliki data historis. Ini membantu investor membaca pergerakan pasar sejak awal.
Kondisi tersebut akan mempermudah akses Investor untuk dapat memantau status penjatahan secara real-time melalui aplikasi.
“Kami mendorong investor untuk memanfaatkan momentum IPO ini dengan strategi yang matang dan berbasis informasi," jelasnya.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Menilik Minat Investor di Tengah Peluang Lahirnya Saham-saham Baru pada 2026
Pada 2026, BEI menargetkan 50 IPO baru dengan minat investor tinggi. Meski saham IPO 2025 mencatat kenaikan signifikan, seleksi fundamental tetap penting. [587] url asal
#ipo-2026 #saham-baru #minat-investor #emiten-baru #pasar-positif #saham-moncer #pipeline-ipo #perusahaan-tercatat #saham-ipo #valuasi-saham #fundamental-saham #konglomerasi-saham #sektor-bisnis #kiner
(Bisnis.Com - Market) 03/01/26 03:00
v/91958/
Bisnis.com, JAKARTA — Terdapat sejumlah perusahaan yang akan menjajal penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) pada 2026. Bagaimana kemudian minat investor seiring dengan potensi kehadiran saham-saham pendatang baru tahun ini?
BEI mencatat telah terdapat 26 emiten baru atau perusahaan yang menjajal aksi IPO pada 2025 dengan dana yang dihimpun sebanyak Rp18,11 triliun. Deretan emiten baru itu pun mencatatkan kinerja saham moncer usai IPO.
Saham PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) misalnya melonjak 574,22% sejak IPO pada Januari 2025 hingga saat ini, Jumat (2/1/2026). Kemudian, harga saham PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) terbang 569,9% sejak IPO pada 2025. Bahkan, harga saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk. (COIN) melesat 2.818,52% sejak IPO pada 2025.
Tahun ini, sejumlah perusahaan pun akan menjajal IPO. BEI sendiri menargetkan 50 perusahaan tercatat baru pada 2026. Adapun, mengacu data terakhir dari BEI, terdapat 9 perusahaan yang antre atau dalam pipeline pencatatan saham BEI.
Analis Kiwoom Sekuritas Miftahul Khaer mengatakan seiring dengan peluang lahirnya deretan emiten baru tahun ini, respons pasar akan positif.
"Bisa diekspektasikan kalau tahun ini pun kemungkinan besar demand masih akan sangat tinggi. Terlebih lagi beberapa track record saham IPO terakhir masih bertahan di atas nilai offering-nya yang artinya sahamnya masih positif secara return," kata Miftahul kepada Bisnis pada Jumat (2/1/2026).
Selain itu, dengan target BEI sekitar 50 perusahaan tercatat baru dan pipeline yang relatif padat, pasar masih terbuka bagi IPO berkualitas, terutama dari sektor yang memiliki visibilitas laba jelas, struktur permodalan sehat, serta cerita ekspansi yang kredibel.
"Namun, investor perlu lebih disiplin karena tidak semua IPO akan mengulang kinerja moncer 2025," ujar Miftahul.
Aspek yang perlu diperhatikan dalam mengincar saham IPO antara lain valuasi saat penawaran, penggunaan dana IPO, rekam jejak pemegang saham pengendali, free float dan likuiditas, serta ketahanan model bisnis terhadap siklus ekonomi. Dengan begitu, peluang cuan dari saham IPO tetap ada di 2026, tetapi berbasis seleksi fundamental, bukan sekadar euforia pencatatan.
Sebelumnya, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto mengatakan mengacu lonjakan harga saham emiten baru IPO yang telah terjadi pada 2025, terdapat kecenderungan investor akan menilai kekuatan dari konglomerasi atau pengendali di balik emiten baru IPO.
Sejumlah saham IPO tahun ini memang merupakan bagian dari konglomerasi besar. Saham CDIA misalnya merupakan afiliasi dari konglomerasi taipan Prajogo Pangestu. Lalu, RATU merupakan besutan taipan Happy Hapsoro.
"Jadi orang kembali lagi lihat pemiliknya, karena nanti ketahuan grup-grup yang mempertahankan harga. Lihat siapa di balik perusahaan IPO," kata Rully pada beberapa waktu lalu.
Associate Director Pilarmas Investindo Maximilianus Nicodemus mengatakan lonjakan harga saham COIN, CDIA, hingga RATU setelah penawaran saham perdana ke publik atau IPO didorong oleh narasi yang dibangun oleh emiten kepada pelaku pasar. Lalu, fundamental pun dinilai penting. Pasar akan menilai kinerja bisnis, valuasi, serta kinerja secara sektoral.
"Kemudian, ada ekspetasi terhadap saham baru. Karena kalau bicara narasi yang dibangun kuat, fundamental mendukung, otomatis ekspektasi tinggi. Misal CDIA semuanya kuat," ujar Nico kepada Bisnis pada beberapa waktu lalu.
Selain itu, terdapat dukungan dari sosok di belakang emiten tersebut, seperti konglomerat atau entitas induk yang kuat. Namun, menurutnya investor juga akan menilai valuasi di masa mendatang.
"Kalau sektornya bagus, bisnisnya bagus, apalagi unik. Kemudian fundamentalnya mesti dilihat. Kalau jangka pendek saat ini memang sudah mahal. Tapi kalau jangka panjang fundamental masih meyakinkan bisa saja masih ada penguatan," ujar Nicodemus.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Top Losers Saham IPO 2025, Ada BRRC-KAQI
Jumlah saham debutan dengan kinerja terburuk sepanjang 2025 lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. [817] url asal
#ipo-2025 #top-losers #saham-ipo #kaleidoskop #kaleidoskop2025 #ipo-terboncos
(IDX-Channel - Market News) 29/12/25 09:08
v/86968/
IDXChannel - Jumlah saham debutan dengan kinerja terburuk sepanjang 2025 lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.
Perbaikan ini sejalan dengan cemerlangnya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 24 Desember yang berhasil mencetak all-time high sebanyak 23 kali.
IHSG melesat hampir 20 persen secara year to date (ytd) atau naik 1.458 poin ke level 8.537,91. Dari sisi aktivitas perdagangan, IHSG membukukan volume transaksi sebesar 28,79 miliar saham sepanjang tahun, jauh melampaui rata-rata harian sebesar 17,44 miliar saham.
Berdasarkan data Bursa, 26 emiten melakukan penawaran umum perdana saham atau sepanjang 2025 dengan dana yang dihimpun mencapai Rp18,11 triliun.
Dari jumlah itu, 17 emiten berhasil memanen cuan di antaranya PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) mencetak kenaikan paling tinggi sebesar 3.000 persen. Disusul PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) yang naik masing-masing 700 persen sejak listing perdana.
Sementara sisanya 9 emiten membukukan kinerja negatif dengan penurunan rata-rata 20-48 persen per 24 Desember 2025.
Raja Roti (BRRC) Anjlok 48,57 Persen
Ada tiga saham IPO yang menempati posisi paling boncos dan merupakan anggota papan pengembangan. Posisi pertama dihuni oleh PT Raja Roti Cemerlang Tbk (BRRC).
BRRC menjadi saham debutan terburuk 2025 dengan penurunan harga sebesar 48,57 persen secara year to date (ytd). Sahamnya anjlok dari harga Rp294 ke harga Rp108 per 24 Desember 2025.
Saat listing pada 9 Januari 2025, saham Raja Roti sempat dibuka auto reject atas (ARA) ke level Rp262 per saham, atau melesat 24,76 persen dari harga penawaran awal yang ditetapkan sebesar Rp210 per saham.
Kondisi tersebut tak berlangsung lama. Saham Raja Roti beberapa kali nyaris menyentuh Auto Rejection Bawah (ARB) hingga disuspensi Bursa. Bahkan, belum sebulan listing, BRRC sudah masuk papan pemantauan khusus full-call auction (FCA).
Dalam gelaran IPO, produsen tepung roti merek Royal ini melepas 291,5 juta saham atau maksimal 30,01 persen dari modal ditempatkan dan disetor perseroan. Dengan mematok harga IPO sebesar Rp210 per saham, BRRC mengantongi dana maksimal Rp61,21 miliar.
Bersamaan dengan penawaran saham perdana, perseroan juga menerbitkan 145,75 juta Waran Seri I atau 21,43 persen dari total jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh dengan harga pelaksanaan Rp210.
Seluruh dana hasil IPO digunakan untuk modal kerja yang penggunaannya, meliputi peningkatan stok bahan baku, termasuk biaya operasional yang terdiri dari biaya tenaga kerja dan energi (gas, listrik).
Sedangkan dana yang diperoleh dari pelaksanaan Waran Seri I, seluruhnya akan digunakan untuk modal kerja, yaitu persediaan bahan baku dan biaya operasional.
KAQI Turun 42,37 Persen
Posisi saham IPO kedua terbawah ditempati oleh PT Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI). Emiten yang melantai pada 10 Maret 2025 ini mencatatkan penurunan harga sebesar 42,37 persen ytd sejak debut perdana dari harga Rp118 ke harga Rp68.
Padahal saat listing, saham KAQI sempat dibuka melesat 18,64 persen ke harga Rp140. Sepekan kemudian, saham Jantra Grupo itu turun ke level gocap hingga masuk dalam pantauan Bursa.
Emiten yang berada di papan pengembangan ini melepas 450 juta saham atau 21,68 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga penawaran Rp118 per saham. Dengan demikian, perseroan meraup dana segar sebesar Rp53,10 miliar.
Dalam prospektusnya, pengelola bengkel spesialis kaki-kaki mobil itu bakal menggunakan dana hasil IPO untuk belanja modal (capex) pembelian lahan seluas 1.940 m2 di Bona Indah, Jakarta Selatan serta membuka lima cabang cabang bengkel baru yang terletak di Kota Bandung, Bekasi, Surabaya, dan Semarang, serta bengkel yang akan didirikan di lahan Bona Indah.
Selain itu, dana IPO juga dipakai untuk kegiatan operasional, termasuk namun tidak terbatas pada pembelian persediaan suku cadang, sewa kendaraan operasional, dan pengembangan aplikasi, serta keperluan pemberian pinjaman kepada anak-anak usaha perseroan.
DKHH Minus 40,15 persen
Peringkat ketiga terbawah saham debutan jatuh kepada PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH). Pengelola rumah sakit DKH ini menjadi emiten ke-14 yang resmi melantai di Bursa pada 2025.
Saham DKHH terkoreksi 40,15 persen sejak listing perdana pada 8 Mei 2025 dari harga Rp132 menjadi Rp79. Saham tersebut sempat merah selama sepekan usai IPO hingga disuspensi Bursa selama dua minggu.
DKHH pun menjadi penghuni Papan Pemantauan Khusus Full Call Auction (PPK FCA) setelah dua bulan listing.
Dalam gelaran IPO, DKHH melepas 530 juta saham baru atau 20,78 persen dari modal ditempatkan dan disetor dengan harga pelaksanaan Rp132 per saham. Dengan demikian, perseroan meraup dana segar sebesar Rp69,96 miliar.
Sebagai pemanis, Cipta Sarana juga menerbitkan 265 juta Waran Seri I (DKHH-W) di harga pelaksanaan Rp175 per saham. Dari hasil penerbitan waran ini, perseroan meraup dana tambahan Rp46,37 miliar.
Dana hasil IPO digunakan perseroan untuk pembangunan gedung baru di area RS DKH Cibadak termasuk fasilitas poliklinik, rawat inap eksekutif, dan kelas rawat inap standar.
Kemudian untuk pembelian peralatan medis dan non-medis seperti CT-Scan dan fasilitas penunjang lainnya, renovasi gedung rumah sakit yang sudah ada, serta modal kerja, mencakup biaya pemasaran dan pembayaran vendor farmasi.
(DESI ANGRIANI)
Tantangan Free Float 10% untuk Saham IPO, Ini Kata Pengamat
Wacana menaikkan batas minimal free float saham IPO menjadi 10% dinilai sulit, karena banyak emiten belum memenuhi aturan 7,5%. Fokus perbaikan diperlukan. [280] url asal
#free-float-saham #saham-ipo #batas-minimal-free-float #emiten-pasar-modal #kepemilikan-saham-publik #ojk-bei #regulasi-pasar-modal #investor-publik #pemodal-besar #distribusi-saham #indeks-harga-saham
(Bisnis.Com - Market) 27/12/25 07:19
v/85838/
Bisnis.com, JAKARTA — Wacana kenaikan batas minimal free float saham perdana menjadi 10% dinilai bakal sulit terealisasikan. Pasalnya, saat ini saja banyak emiten yang belum mampu memenuhi aturan free float minimal 7,5% yang berlaku di pasar modal Indonesia.
Pengamat Pasar Modal Teguh Hidayat mengatakan menilai persentase kepemilikan saham publik di beberapa emiten hanya berada di kisaran 4% –5 %.
Kondisi ini menandakan bahwa masih banyak perusahaan yang harus diperbaiki struktur kepemilikan sahamnya sebelum regulasi dinaikkan.
"Sebelum batasnya dinaikkan, lebih baik OJK atau BEI fokus dulu pada perusahaan yang sudah ada karena banyak yang belum mencapai 7,5%," ujarnya kepada Bisnis baru-baru ini.
Menurutnya persoalan menjadi lebih kompleks karena sebagian porsi free float justru masih dikuasai pihak satu grup, bukan investor publik murni.
"Harus dicek lagi juga. Beberapa yang sudah memenuhi juga pemegang saham publiknya masih sesama grupnya. Itu harus diperbaiki dulu,” imbuhnya.
Lebih jauh, pasar juga masih melihat kuatnya peran pemodal besar atau “bandar” dalam menentukan arah harga saham. Meski secara teori peningkatan free float akan menambah kedalaman pasar, kenyataannya distribusi saham bisa berjalan tidak seragam.
Tak hanya itu pelepasan kepemilikan juga harus dilakukan secara bertahap supaya Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG tidak langsung jeblok.
Teguh menilai pasar saham Indonesia juga masih kesulitan untuk menyerap pelepasan saham tersebut. Hal ini dengan melihat komposisi investor domestik yang menjadi penopang IHSG. Sementara investor asing masih melakukan aksi keluar pasar.
"Nilainya Rp21 triliun bagi investor asing mungkin kecil tapi kalau bagi investor domestik yang mendominasi itu berat," imbuhnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
IPO Paling Moncer 2025, COIN Melejit 3.000 Persen
26 emiten tercatat melakukan IPO dengan dana yang dihimpun mencapai Rp18,11 triliun. [1,284] url asal
#ipo #coin #ipo-2025 #listing #saham-ipo #cdia #ratu
(IDX-Channel - Market News) 26/12/25 16:19
v/85519/
IDXChannel - Sebanyak 26 emiten tercatat melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) sepanjang 2025 dengan dana yang dihimpun mencapai Rp18,11 triliun.
Sektor yang mendominasi antara lain barang baku, kesehatan, siklikal dan infrastruktur. Meski jumlah emiten baru lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 41 perusahaan, nilai penghimpunan dana tetap tergolong signifikan.
Kondisi ini mencerminkan minat investor yang masih solid terhadap saham-saham baru, terlebih sejumlah emiten IPO merupakan anak usaha dari perusahaan-perusahaan besar dan saham favorit pasar.
Berdasarkan data Bursa yang dihimpun Jumat (26/12/2025) delapan emiten melantai pada awal tahun, di antaranya PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK). Keduanya masing-masing merupakan entitas dari PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI).
Memasuki Maret, pasar menyambut pencatatan saham PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI), yang kemudian disusul oleh PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) pada bulan berikutnya.
Antusiasme pasar berlanjut pada pertengahan tahun dengan IPO delapan emiten, termasuk debut PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), anak usaha PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) milik taipan Prajogo Pangestu.
Selain itu, IPO PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) dan PT Merry Riana Edukasi Tbk (MERRY) turut menambah warna pada pasar perdana saham 2025. Pesta IPO berlanjut pada akhir September dengan kehadiran PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
Menjelang penutupan tahun, dua emiten lainnya, yakni PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) dan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), menjadi penutup rangkaian IPO sepanjang 2025.
Seiring dengan maraknya aksi korporasi tersebut, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menunjukkan penguatan signifikan. Hingga 24 Desember 2025, IHSG tercatat melesat hampir 20 persen secara year to date (ytd) atau naik 1.458 poin ke level 8.537,91.
Dari sisi aktivitas perdagangan, sepanjang tahun IHSG membukukan volume transaksi sebesar 28,79 miliar saham, jauh melampaui rata-rata harian sebesar 17,44 miliar saham.
Bahkan, indeks saham acuan tersebut telah mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) sebanyak 23 kali, menegaskan solidnya sentimen pasar modal Indonesia sepanjang 2025.
COIN Pimpin Saham IPO 2025
Terdapat tiga saham pemimpin IPO yang menorehkan kinerja terbaik sepanjang 2025. Posisi pertama ditempati oleh PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), perusahaan kripto pertama di Indonesia yang go-public.
COIN dalam sekejap memberikan cuan ke investor dengan terbang 3.490 persen secara year to date (ytd). Dari harga Rp100 saat listing pada 9 Juli 2025 menjadi Rp3.590 per 24 Desember 2025, menjadikannya jawara dalam daftar top gainers saham IPO tahun ini.
COIN listing di Papan Pengembangan dengan melepas 2,2 miliar saham, setara 15 persen dari total modal ditempatkan dan disetor. Dalam proses penawaran umum, terdapat kelebihan permintaan hingga 27,42 kali atau 60,48 miliar saham.
Saat penawaran umum (offering), COIN menetapkan harga IPO sebesar Rp100, berada di batas bawah dari penawaran awal (book building) Rp100-Rp105. Dengan harga tersebut, perseroan mendapatkan dana Rp220,6 miliar, sedangkan nilai kapitalisasi pasarnya mencapai Rp1,47 triliun.
Dana IPO tersebut rencananya digunakan sebagai setoran modal untuk anak usaha, PT Central Financial X (CFX) dan PT Kustodian Koin Indonesia (ICC) masing-masing 85 persen dan 15 persen.
Sejak debut perdana, COIN sudah disuspensi sebanyak tiga kali, di antaranya dua kali pada Juli dan satu kali pada Agustus. Saham Indokripto itu juga sempat masuk papan pemantauan khusus dengan skema full call auction (FCA).
Dari sisi laporan keuangan, emiten pendatang baru di sektor aset digital tersebut berhasil membalikkan kerugian menjadi laba bersih sebesar Rp25,6 miliar hingga akhir Juni 2025, dari posisi rugi Rp1,99 miliar per 31 Desember 2024.
Lonjakan laba didorong oleh kenaikan pendapatan signifikan sebesar 88 persen menjadi Rp113,14 miliar, dibandingkan hanya Rp600 juta pada akhir tahun lalu.
Perbaikan kinerja tak lepas dari kontribusi anak usaha, PT Central Finansial X (CFX), yang merupakan bursa aset kripto. CFX secara bertahap terus melakukan onboarding terhadap para Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) sebagai anggota Bursa CFX, yang turut mendorong pertumbuhan pendapatan.
CDIA Terbang 768 Persen
Posisi runner-up ditempati oleh emiten konglomerat Prajogo Pangestu, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA). Saham anak usaha TPIA ini melesat 768,42 persen ytd dari Rp160 per saham sejak debut pada 9 Juli 2025 menjadi Rp1.650 per 24 Desember 2025.
CDIA melantai di Papan Pengembangan dengan melepas 12,48 miliar saham ke publik atau setara 10 persen dari total saham yang dicatatkan di Bursa Efek. Dalam proses IPO, CDIA juga mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed sebanyak 15,06 kali atau mencapai 187,98 miliar saham.
Emiten investasi infrastruktur ini menetapkan harga IPO sebesar Rp190 per saham, sehingga nilai kapitalisasi pasarnya menembus Rp23,72 triliun. Dengan melepas 10 persen saham, CDIA memperoleh dana IPO sebesar Rp2,37 triliun.
Seluruh dana IPO tersebut digunakan untuk menyetorkan modal kepada anak usaha yang bergerak di segmen logistik. Sebesar 36,76 persen untuk PT Chandra Shipping International (CSI) dan 63,24 persen diberikan ke PT Chandra Samudera Port (CSP).
Usai listing di Bursa, saham CDIA sempat disuspensi sebanyak dua kali pada 17 dan 23 Juli hingga menetap sementara di Papan Pemantauan Khusus alias Full Call Auction (FCA).
Dari sisi kinerja, perusahaan bagian dari Chandra Asri Group itu mengantongi laba bersih USD83,5 juta atau setara Rp1,38 triliun (kurs Rp16.500 per USD) hingga kuartal III-2025.
Laba tersebut melonjak 269,6 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya USD22,6 juta, ditopang oleh segmen logistik sebagai motor pertumbuhan utama dengan peningkatan pendapatan 14 kali lipat atau mencapai USD24,6 juta dari total pendapatan sebesar USD104,8 juta.
Akuisisi PT Chandra Investa Prima dan peluncuran fasilitas cold storage melalui Chandra Cold Chain sebelum IPO turut mendorong peningkatan kinerja. Termasuk penambahan 20 truk baru di wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, dan Bali.
RATU Masuk Top Gainers 3
Posisi ketiga dihuni oleh PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU). Saham anak usaha RAJA ini melambung 723,91 persen ytd dari Rp1.150 sejak listing pada 8 Januari menjadi Rp9.475 per 24 Desember 2025.
RATU melantai di Papan Pengembangan dengan melepas maksimal 543,01 juta saham atau 20 persen dari modal disetor dan ditempatkan. IPO RATU mencatatkan kelebihan permintaan hingga 313,15 kali. Jumlah pemesanan tercatat berasal dari 139.899 investor ritel dan 6.291 investor non-ritel.
Harga IPO yang ditetapkan sebesar Rp1.150 per saham sehingga perusahaan energi yang terlibat dalam Blok Cepu dan Blok Jabung itu meraup dana IPO sebesar Rp624,46 miliar dengan nilai kapitalisasi pasar Rp3,1 triliun.
Dana IPO sebesar Rp157,36 miliar dipinjamkan kepada anak perusahaan, PT Raharja Energi Tanjung Jabung, untuk memenuhi kewajiban pembayaran Cash Call dari PetroChina International Jabung Ltd terkait pengelolaan Blok Jabung. Jumlah kebutuhan dana untuk Cash Call ini sekitar USD10 juta atau setara Rp159,42 miliar, sehingga terdapat kekurangan sekitar Rp2,05 miliar yang akan ditutup dengan dana dari kas internal perseroan.
Kemudian sebesar Rp34,96 miliar dipinjamkan kepada perusahaan asosiasi, yaitu PT Petrogas Jatim Utama Cendana, yang akan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional melalui pemenuhan kewajiban pembayaran cash call dari ExxonMobil Cepu Ltd. Lalu sisanya untuk modal kerja, termasuk remunerasi karyawan, pengurus dan pengawas, serta biaya operasional perseroan.
Tak lama usai debut, saham RATU juga sempat dihentikan sementara sebanyak tiga kali setelah mencatatkan auto reject atas (ARA) berjilid-jilid. Di antaranya dua kali pada Januari dan sekali pada November. Saham tersebut juga pernah menjadi penghuni Papan Pemantauan Khusus Full Call Auction (FCA).
Adapun kinerja emiten migas milik Happy Hapsoro ini mencatat laba bersih USD11,76 juta hingga kuartal III-2025, naik 28,1 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar USD9,18 juta.
Kenaikan laba bersih terjadi meski perseroan mencatatkan penurunan pendapatan. Hingga September 2025, pendapatan RATU mencapai USD37,61 juta, turun 12,97 persen dari USD43,21 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
(DESI ANGRIANI)
Ambisi Bursa Kejar 50 Emiten Baru 2026 & Kecemasan Ritel jadi Exit Strategy Founder
BEI menargetkan 50 emiten baru pada 2026, namun analis menilai target ini ambisius dan menekankan pentingnya kualitas emiten untuk menjaga kepercayaan investor. [874] url asal
#ipo-2026 #bursa-efek-indonesia #emiten-baru #saham-ipo #harga-saham #penurunan-saham #analisis-pasar-modal #target-ambisius #kualitas-emiten #investor-ritel #free-float-saham #likuiditas-pasar #seleks
(Bisnis.Com - Market) 22/12/25 21:04
v/81712/
Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan analis menilai target Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengantarkan 50 perusahaan melantai di BEI pada 2026 mendapat sejumlah catatan dari kalangan analis pasar modal.
Sebagai gambaran, sepanjang 2025 BEI mencatat 26 perusahaan baru resmi menjadi emiten. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 10 emiten mencatatkan kinerja harga saham yang lesu dalam waktu kurang dari satu tahun perdagangan. Beberapa saham bahkan mengalami penurunan signifikan dalam waktu singkat setelah pencatatan.
Saham PT Raja Roti Cemerlang Tbk. (BRRC) misalnya, yang semula ditawarkan seharga Rp210 per saham, tercatat melemah tajam setelah lima hari melantai di BEI. Saat ini, harga saham BRRC berada di level Rp110 per saham.
Kondisi serupa terjadi pada saham produsen permen PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk. (YUPI). Saham ini semula dibanderol Rp2.390 per saham dan kini tercatat di level Rp1.610. Harga saham YUPI telah terkoreksi 32,64% sepanjang tahun berjalan 2025 (year to date/YtD).
Di tengah target BEI untuk menghadirkan 50 emiten baru, analis menekankan pentingnya penyelenggara untuk lebih memprioritaskan kualitas emiten ketimbang mengejar kuantitas. Dengan demikian, target tersebut dinilai lebih agresif dibandingkan realistis.
“Menurut saya, target 50 emiten IPO pada 2026 itu lebih merupakan target ambisius daripada sesuatu yang realistis. Apalagi kalau kita bandingkan dengan bursa lain di dunia,” kata Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan kepada Bisnis, Senin (22/12/2025).
Dorongan agar BEI lebih selektif bukan tanpa alasan. Pada pertengahan tahun lalu, Bisnis mencatat setidaknya 14 dari 25 emiten baru saat itu mengalami penurunan harga saham setelah melantai di Bursa. Sejumlah emiten bahkan masih mencatatkan kinerja serupa hingga saat ini.
Sebagai contoh, saham PT Mitra Pedagang Indonesia Tbk. (MPIX) yang semula dilepas seharga Rp268 per saham, kini berada di level Rp70. Adapun saham PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk. (ATLA) kini diperdagangkan di kisaran Rp62 per saham, setelah sebelumnya melantai dengan harga Rp100 per saham.
“Tidak masalah jumlahnya tidak terlalu banyak, asalkan kualitas dan sustainabilitas kinerjanya terjaga, bukan sekadar mengejar euforia jangka pendek yang rentan diikuti koreksi tajam setelah hype hilang,” katanya.
Pandangan senada disampaikan Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi. Ia menilai target pencatatan saham yang dipatok Bursa untuk 2026 cenderung ambisius dan bahkan dinilai kontradiktif dengan rencana Bursa untuk memperketat seleksi calon emiten.
KISI menilai regulator perlu lebih selektif agar tidak memperbesar ketidakpercayaan investor ritel terhadap saham IPO yang kerap mengalami auto rejection bawah (ARB) secara beruntun.
“Kalau target kuantitas dipaksakan, khawatir bisa jebol lagi dan pasar dibanjiri emiten papan akselerasi atau UKM yang fundamentalnya rapuh. Idealnya target diturunkan tapi bobot kapitalisasi pasar dinaikkan,” kata Wafi kepada Bisnis, Senin (22/12/2025).
KISI memproyeksikan tren IPO pada 2026 akan lebih semarak dibandingkan 2025. Namun, hal tersebut mensyaratkan penurunan suku bunga yang dapat menekan cost of fund (CoF) dan membuat valuasi saham lebih menarik.
IPO yang Sehat
Memasuki 2026, analis lain memprediksi kondisi IPO akan membaik dibandingkan 2025. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia memperkirakan jumlah IPO pada 2026 akan berada di kisaran 35–45 emiten, dan hanya mendekati 50 emiten jika sejumlah prasyarat terpenuhi, mulai dari penurunan suku bunga, kinerja pasca-IPO yang konsisten, hingga arus dana asing yang membaik.
Di sisi lain, aturan baru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait porsi investor ritel sebesar 50% dalam proses IPO dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan struktural di pasar perdana. Kiwoom menilai peningkatan porsi ritel tidak otomatis menyelesaikan persoalan mendasar IPO di Indonesia.
“Selama IPO masih supply driven, anchor investor terlalu dominan dan tidak memiliki insentif kuat menjaga harga pasca-listing, serta ritel sering dijadikan sumber likuiditas hari pertama, maka risiko harga amblas tetap tinggi,” kata Liza kepada Bisnis, Senin (22/12/2025).
Dalam kondisi tersebut, peningkatan porsi investor ritel justru berpotensi membuat IPO semakin sepi atau menempatkan investor ritel pada risiko yang lebih besar jika harga saham tidak mengalami kenaikan.
Oleh karena itu, Liza menekankan pentingnya kebijakan regulator yang tidak semata berorientasi pada jumlah IPO, melainkan pada kualitas emiten, struktur pemegang saham, serta likuiditas saham.
“IPO yang sehat mensyaratkan anchor investor yang benar-benar strategis dan dikunci lebih lama, valuasi yang rasional, serta alokasi ritel yang bermakna tanpa menjadikan investor ritel sebagai penyangga risiko,” kata Liza.
Free Float Saham
Sementara itu, Infovesta Utama menilai rencana peningkatan free float saham pada 2026 berpotensi berdampak positif terhadap likuiditas pasar dan perlindungan investor.
“Konsekuensinya proses IPO memang akan terasa lebih menantang bagi emiten yang belum siap dari sisi governance dan struktur kepemilikan,” tegas Ekky.
Meski demikian, Ekky menilai risiko IPO tetap perlu diantisipasi melalui seleksi yang lebih ketat terhadap calon emiten, khususnya yang memiliki kualitas laba dan arus kas belum stabil. Selain itu, pengawasan terhadap rencana penggunaan dana hasil IPO juga dinilai krusial.
“Pengetatan bukan sekadar memperbanyak checklist, melainkan benar-benar mengurangi emiten yang kualitas laba dan arus kasnya belum stabil, tata kelolanya lemah, struktur utangnya berat, atau penggunaan dana yang terlalu dominan untuk menutup kewajiban lama tanpa prospek pertumbuhan yang jelas,” tegas Ekky.
Pandangan serupa disampaikan KISI yang menilai pentingnya regulator memperhatikan rekam jejak calon emiten sebelum melantai di bursa guna menjaga keberlanjutan kepercayaan investor.
“Jangan sampai bursa hanya menjadi tempat exit strategy founder untuk cash out meninggalkan investor ritel yang nyangkut,” katanya.
Saham AMMN, PANI hingga SUPA Menggeliat, IHSG Menguat Sentuh Level 8.701
IHSG menguat ke 8.701,32 didorong saham AMMN, PANI, dan SUPA. Saham RLCO, SUPA dan ESTA jadi top gainers, sementara BBRM dan CTTH top losers. [498] url asal
#ihsg-menguat #saham-ammn #saham-pani #saham-supa #saham-ipo #saham-big-caps #kapitalisasi-pasar #saham-tlkm #saham-bbri #saham-unvr #saham-bbca #top-gainers-saham #top-losers-saham #saham-cbdk #rights
(Bisnis.Com - Market) 17/12/25 09:25
v/75398/
Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat ke level 8.701,32 pada perdagangan, Rabu (17/12/2025). Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan sejumlah saham big caps serta saham IPO.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG tumbuh 0,17% atau 14,85 poin ke level 8.701,32 hingga pukul 09.02 WIB. Hari ini, IHSG bergerak pada level terendah 8.696,06 dan sempat ke posisi tertingginya di 8.717,61.
Tercatat, sebanyak 304 saham menguat, lalu 165 saham terkoreksi, dan 190 saham stagnan. Adapun kapitalisasi pasar mencapai Rp15.989,94 triliun.
Saham dengan kapitalisasi pasar jumbo yang menguat antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) sebesar 1,50% ke Rp6.750 dan saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) tumbuh 1,48% ke Rp13.675.
Sementara itu, saham emiten pelat merah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) meningkat 1,14% menuju level Rp3.560 per saham dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) tumbuh 0,81% menjadi Rp3.720 per saham.
Sebaliknya saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) melemah sebesar 1,48% menjadi Rp2.670 per saham, sementara PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) terkoreksi sebesar 0,93% ke level Rp8.000 per saham.
Lebih lanjut, saham yang masuk jajaran top gainers hari ini meliputi saham IPO PT Abadi Lestari Indonesia Tbk. (RLCO) yang melesat 24,82% ke Rp855 dan saham PT Esta Multi Usaha Tbk. (ESTA) terapresiasi 24,69% ke Rp404.
Adapun saham PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) yang listing perdana hari ini dibuka menguat 24,41% menuju level Rp790 per saham.
Di sisi lain, saham dengan penurunan paling besar atau top losers dihuni oleh saham PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk. (BBRM) yang turun 10,69% menjadi Rp142 dan saham PT Citatah Tbk. (CTTH) terkoreksi 10,22%.
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, menyampaikan IHSG berpeluang bergerak dalam kisaran 8.620–8.720 hari ini, setelah ditutup menguat 0,43% atau 36,80 poin ke level 8.686 pada perdagangan kemarin.
Ratih menjelaskan penguatan IHSG kemarin terjadi di tengah tekanan dari aksi jual investor asing dan koreksi saham-saham perbankan besar. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih di seluruh pasar senilai Rp934,6 miliar.
Di sisi lain, aktivitas perdagangan kemarin didominasi oleh saham PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK) dengan nilai transaksi mencapai Rp5,21 triliun atau sekitar 17,65% dari total nilai transaksi pasar.
Menurut Ratih, pergerakan saham CBDK dipengaruhi oleh aksi korporasi induk usahanya, PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PANI), yang tengah menjalani periode rights issue untuk meningkatkan kepemilikan saham CBDK hingga maksimal 87,27% dari sebelumnya 45,9% pada harga rata-rata Rp6.450 per saham.
“Sementara itu, pekan hari ini pelaku pasar mencermati keputusan suku bunga BI Rate yang saat ini di level 4,75%,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
__________
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Rekor Permintaan Saham IPO Superbank (SUPA) kala Harga Tak Optimal
Superbank (SUPA) akan IPO di BEI pada 17 Desember 2025 dengan harga saham Rp635, menargetkan dana Rp2,79 triliun dari 4,4 miliar saham. [1,380] url asal
#saham-ipo #superbank-ipo #harga-saham-supa #superbank-di-bei #harga-ipo-superbank #bookbuilding-superbank #saham-superbank #ekosistem-grab-emtek #dana-ipo-superbank #saham-supa #superbank-indonesia-tb
(Bisnis.Com - Finansial) 16/12/25 08:50
v/74122/
Bisnis.com, JAKARTA — Bank digital PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) atau Superbank akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) besok, Rabu (17/12/2025). Saham SUPA ditawarkan di harga Rp635.
Perseroan memasang harga indikatif Rp525 hingga Rp695 per saham dalam masa penawaran awal (bookbuilding). Berdasarkan hasil bookbuilding yang dipublikasikan dalam prospektus di harian Bisnis Indonesia edisi 9 Oktober 2025, harga IPO Superbank resmi ditetapkan sebesar Rp635 per saham dengan proses penawaran umum pada 10 Desember—15 Desember 2025.
Melalui aksi korporasi tersebut, calon emiten yang didukung ekosistem Grab dan Emtek Group ini menargetkan penghimpunan dana sekitar Rp2,79 triliun melalui pelepasan 4,4 miliar saham atau setara 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan nilai nominal Rp100 per saham.
Manajemen menyampaikan bahwa saham hasil IPO akan memiliki hak yang sama dengan saham lain yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Ketentuan ini mengacu pada Undang-Undang Perseroan Terbatas sebagaimana telah diperbarui melalui Undang-Undang Nomor 6/2023.
Perseroan menghitung bahwa dengan harga saham Rp635 per saham, maka rasio price to earnings (PE) SUPA sebesar 913,13 kali, atau menjadi 456,56 kali bila disetahunkan. Sementara itu, rasio price to book value (PBV) SUPA dikalkulasi sebesar 3,51 kali.
Kedua indikator tersebut biasanya digunakan untuk mengukur harga wajar sebuah saham. PE dihitung dengan membandingkan harga saham dengan laba per saham atau earning per sahre (EPS).
Sederhananya, PE tinggi berarti pasar menilai perusahaan punya prospek yang besar, dan harga saham cenderung mahal. Sedangkan, PE rendah menunjukkan harga saham sedang murah, atau bisa jadi labanya sedang turun.
Sementara itu, PBV dihitung dengan membandingkan harga saham dengan nilai buku per saham atau book value per share (BVPS). BVPS dapat dihitung dengan membandingkan ekuitas perusahaan dengan jumlah saham beredar.
PBV biasanya digunakan untuk mengukur kewajaran harga saham dibandingkan dengan nilai buku perusahaan. Interpretasi sederhananya, PBV kurang dari 1 kemungkinan saham undervalued (murah), PBV lebih dari 1 berarti harga saham overvalued (mahal), kemungkinan pasar mengapresiasi proyeksi pertumbuhan, sedangkan PBV sama dengan 1 berarti harga pasar sama dengan nilai buku.
Kembali ke SUPA, perseroan melaporkan bahwa per 30 Juni 2025 jumlah laba bersih perseroan mencapai Rp20,51 miliar (Rp41,02 miliar disetahunkan), dengan ekuitas Rp5,33 triliun, laba per saham Rp0,70 (Rp1,39 disetahunkan), dan BVPS Rp180,68.
Dengan demikian, PE SUPA untuk periode yang berakhir tengah tahun sebesar 913,13 kali dengan PBV di level 3,51 kali. Sedangkan bila menggunakan angka yang disetahunkan, PE SUPA sebesar 456,56 kali dengan PBV 3,51 kali.
Superbank (SUPA) akan menjadi emiten bank digital ketujuh yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Valuasi SUPA pun dapat dibandingkan dengan saham-saham bank digital lainnya.
Valuasi Kompetitor SUPA
Dalam kelas bank digital ini terdapat sejumlah pemain lawas yang sudah melantai, yaitu PT Bank Jago Tbk. (ARTO), PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB), PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI), PT Bank Aladin Syariah Tbk. (BANK), dan PT Krom Bank Indonesia Tbk. (BBSI).
Apabila menggunakan acuan laporan keuangan masing-masing emiten per 30 Juni 2025 didapatkan bahwa PE ARTO berada di level 193,57 (96,76 kali disetahunkan), BBYB 10,83 kali (5,42 kali disetahunkan), BBHI 37,56 kali (18,78 kali disetahunkan), BANK 131,49 kali (65,75 kali disetahunkan), dan BBSI 39,25 kali (19,63 kali disetahunkan).
Secara rata-rata PE dari saham emiten bank digital per semester I 2025 berada di level 82,54 kali, atau 41,27 kali bila disetahunkan.
Sementara itu, PBV ARTO per 30 Juni 2025 berada di level 2,84 kali, BBYB 0,77 kali, BBHI 2,34 kali, BANK 3,57 kali, dan BBSI 4,36 kali. Rara-rata PBV saham emiten bank digital sebesar 2,78 kali.
Dengan melihat perbandingan tersebut, PE saham SUPA jauh berada di atas PE rata-rata industri bank digital. Sedangkan nilai PBV meskipun di atas rata-rata tetapi tidak terlalu signifikan, bahkan masih ada di bawah level PBV saham BANK dan BBSI.
CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijayan memandang bahwa Superbank berada pada level valuasi yang sangat kompetitif dibandingkan emiten di sektor serupa.
Dengan harga penawaran di level Rp635 per saham, valuasi Superbank merefleksikan PBV sekitar 2,64 kali, menjadikannya salah satu bank digital dengan valuasi paling rendah dibandingkan kompetitor.
“Jika dibandingkan dengan ARTO, BBHI, atau Aladin yang PBV-nya jauh lebih tinggi, maka secara valuasi Superbank berada pada level yang sangat menarik bagi investor,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (9/12/2025).
Bernadus menambahkan bahwa valuasi yang rendah saat IPO justru membuka peluang rerating atau penyesuaian kenaikan valuasi ke depan. Adapun re-rating tersebut akan bergantung pada kemampuan Superbank dalam mengeksekusi strategi pertumbuhan dan mengoptimalkan ekosistem digitalnya.
“Bank digital biasanya diperdagangkan dengan premi karena ekspektasi pertumbuhan yang besar. Namun, Superbank saat ini justru berada di valuasi konservatif. Ini memberi peluang bagi investor yang ingin masuk lebih awal sebelum valuasinya menyesuaikan dengan kinerja dan ekspansi,” tuturnya.
Kinerja Superbank
Sepanjang tahun ini hingga kuartal III/2025, Superbank mulai mencatatkan laba. Pada kuartal pertama 2025, Superbank mencatat laba bersih senilai Rp251 juta pada kuartal I/2025. Jumlah itu berbalik dari rugi bersih senilai Rp105,06 miliar pada kuartal I/2024 atau laba pertama kalinya sejak aplikasi perbankan Superbank diluncurkan secara luas pada Juni 2024.
“Pencapaian ini mencerminkan keberhasilan strategi pertumbuhan yang berfokus pada ekspansi nasabah digital, efisiensi operasional, dan penyaluran kredit yang prudent,” tulis manajemen Superbank dalam laporan keuangan.
Laba tersebut didorong oleh pendapatan bunga bersih yang naik 135,9% (year on year/YoY) dari Rp111,94 miliar menjadi Rp264,06 miliar. Namun, beban pencadangan alias impairment berada pada level Rp55,9 miliar atau naik 63,20% (YoY) per kuartal I/2025.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit Superbank tumbuh 144,53% (YoY) dari Rp3,11 triliun menjadi Rp7,6 triliun per Maret 2025. Aset perseroan pun meningkat 125% hingga mencapai Rp14,04 triliun dari sebelumnya Rp6,24 triliun.
Kemudian, pada semester pertama 2025 bank digital ini mencatatkan laba bersih senilai Rp20,1 miliar. Dari sisi penyaluran kredit, tercatat senilai Rp8,4 triliun atau melonjak 123% secara tahunan. Peningkatan ini seiring dengan strategi akuisisi nasabah dan ekspansi produk pinjaman yang tepat sasaran.
Adapun, pertumbuhan kredit ini turut mendorong kenaikan total aset menjadi Rp15,0 triliun, atau tumbuh 122% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada kuartal III/2025 Superbank juga membukukan laba bersih sebesar Rp60,12 miliar pada kuartal III/2025, membalikkan rugi pada kuartal III tahun sebelumnya senilai Rp285,73 miliar.
Laba itu dibarengi dengan pendapatan bunga sebesar Rp1,49 triliun atau meningkat 69,63% secara tahunan dari periode yang sama tahun lalu Rp455,02 miliar. Pada saat yang sama, beban bunga perseroan tercatat meningkat 85,90% (YoY) menjadi Rp397,09 miliar.
Dengan realisasi tersebut, Superbank membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp1,10 triliun tumbuh 63,76% (YoY) dari periode yang sama tahun lalu Rp399,01 miliar. Beban operasional lainnya tercatat meningkat dibanding kuartal III/2024.
Superbank mencatat, beban operasional lainnya meningkat 32,35% (YoY) menjadi Rp 1,01 triliun dari sebelumnya Rp689,74 miliar pada kuartal III/2024. Beban lainnya meningkat 46,30% (YoY) menjadi Rp445,95 miliar pada kuartal III/2025.
Analis RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya mengatakan bahwa prospek pertumbuhan bank digital memang menarik, tetapi investor perlu mencermati beberapa risiko fundamental yang masih mengemuka.
Pertama, profitabilitas Superbank dinilai masih berada pada tahap awal. Meski bank berhasil membalikkan posisi rugi menjadi laba Rp20 miliar pada paruh pertama 2025, tingkat pengembalian ekuitas (return on equity/ROE) masih berada di kisaran 1% hingga 2%.
Kedua, percepatan ekspansi kredit ke segmen ritel dan UMKM membawa risiko eksekusi serta risiko kredit yang perlu dikelola secara ketat.
Dengan pertumbuhan penyaluran kredit mencapai 30% secara tahunan, kualitas underwriting dan kemampuan bank menjaga tingkat gagal bayar akan menjadi titik krusial saat portofolio semakin membesar.
Selain itu, Superbank akan masuk ke pasar yang kian kompetitif. Sejumlah bank digital seperti Bank Jago, Bank Neo Commerce, Allo Bank Indonesia, dan Bank Raya Indonesia telah lebih dulu menghadapi dinamika valuasi yang fluktuatif, seiring perubahan sentimen investor terhadap sektor perbankan digital.
Jadwal Penting IPO Superbank (SUPA):
- Tanggal efektif: 8 Desember 2025
- Masa penawaran umum perdana saham: 10–15 Desember 2025
- Tanggal penjatahan: 15 Desember 2025
- Distribusi saham secara elektronik: 16 Desember 2025
- Pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia: 17 Desember 2025
***
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Rapor Kinclong Saham IPO 2025, dari RATU, CDIA, hingga EMAS
Saham IPO 2025 di BEI, seperti RATU dan EMAS, alami lonjakan harga signifikan. Fokus pada kualitas emiten, bukan jumlah, dorong peningkatan nilai IPO. [701] url asal
#ipo-2025 #saham-ipo #harga-saham #bursa-efek-indonesia #saham-emiten-baru #pt-raharja-energi-cepu #pt-merdeka-gold-resources #kenaikan-harga-saham #otoritas-jasa-keuangan #fundamental-emiten #konglome
(Bisnis.Com - Market) 16/12/25 08:31
v/74081/
Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah saham emiten baru yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2025 mencatat kenaikan harga saham yang signifikan, seperti PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) hingga PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS).
Berdasarkan data Bloomberg, harga saham RATU melonjak 819,57% sejak initial public offering (IPO) pada Januari 2025 ke level Rp10.575 per saham pada perdagangan Senin (15/12/2025). Harga saham PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK) juga melonjak 114,90% sejak IPO ke Rp8.725 per lembar.
Kemudian, harga saham PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) melonjak 868,42% sejak IPO ke level Rp1.840 per lembar. Harga saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk. (COIN) bahkan terbang 3.700% sejak IPO ke level Rp3.800 per lembar.
PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) yang baru IPO pada September 2025 mencatatkan penguatan harga saham 89,24% ke level Rp5.450 per lembar pada perdagangan hari ini.
Mengacu data BEI, sampai dengan 5 Desember 2025, telah terdapat 24 perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa dengan dana yang dihimpun Rp15,21 triliun. Meskipun jumlah realisasi IPO itu masih di bawah capaian 2024 sebanyak 41 perusahaan, nilai raupan dana IPO tahun ini lebih tinggi dibandingkan capaian keseluruhan 2024 sebesar Rp14,3 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi mengatakan pada tahun ini memang terdapat fokus penguatan kualitas emiten, bukan semata mengejar jumlah.
“OJK bersama BEI menekankan agar emiten yang melakukan IPO memiliki fundamental yang kuat, tata kelola yang baik, serta keberlanjutan usaha yang memadai, sehingga kredibilitas emiten tetap terjaga dan kepentingan investor terlindungi,” kata Inarno dalam jawaban tertulis akhir pekan lalu, Jumat (12/12/2025).
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna juga mengatakan secara umum, kondisi geopolitik global telah memengaruhi minat perusahaan untuk IPO.
“Di belahan dunia itu yang terjadi memang penurunan dari sisi jumlah perusahaan tercatat di Bursa. Di Indonesia tetap bertumbuh, 1% sampai dengan saat ini. Sementara di tempat lain itu malah turun,” kata Nyoman pada beberapa waktu lalu (6/11/2025) di Gedung BEI.
Berdasarkan dari data World Federation of Exchanges, jumlah perusahaan tercatat di BEI tumbuh 0,95% sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD) per Agustus 2025, lebih tinggi dibandingkan bursa di Thailand, Filipina, Vietnam, maupun Singapura yang justru mencatat penurunan pertumbuhan jumlah perusahaan tercatat.
“Yang menarik di Bursa Efek Indonesia ini adalah dari sisi jumlah memang kami turun, namun ingat, dari sisi average fundraising-nya meningkat,” ujar Nyoman.
Nyoman mengatakan peningkatan nilai IPO pada tahun ini terdorong oleh ramainya IPO dengan kategori mercusuar atau lighthouse seperti RATU hingga CDIA.
Adapun, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto mengatakan mengacu lonjakan harga saham emiten baru IPO itu, terdapat kecenderungan investor akan menilai kekuatan dari konglomerasi atau pengendali di balik emiten baru IPO.
Sejumlah saham IPO tahun ini memang merupakan bagian dari konglomerasi besar. Saham CDIA misalnya merupakan afiliasi dari konglomerasi taipan Prajogo Pangestu. Lalu, RATU merupakan besutan taipan Happy Hapsoro.
"Jadi orang kembali lagi liat owner, karena nanti ketahuan grup-grup yang maintain harga. Lihat siapa di balik perusahaan IPO," kata Rully.
Associate Director Pilarmas Investindo Maximilianus Nicodemus mengatakan lonjakan harga saham COIN, CDIA, hingga RATU setelah penawaran saham perdana ke publik atau IPO didorong oleh narasi yang dibangun oleh emiten kepada pelaku pasar. Lalu, fundamental pun dinilai penting. Pasar akan menilai kinerja bisnis, valuasi, serta kinerja secara sektoral.
"Kemudian, ada ekspetasi terhadap saham baru. Karena kalau bicara narasi yang dibangun kuat, fundamental mendukung, otomatis ekspektasi tinggi. Misal CDIA semuanya kuat," ujar Nico kepada Bisnis pada beberapa waktu lalu.
Selain itu, terdapat dukungan dari sosok di belakang emiten tersebut, seperti konglomerat atau entitas induk yang kuat.
Adapun, ke depan setidaknya sampai akhir tahun ini dia menilai saham CDIA, RATU, dan lainnya masih mempunyai potensi penguatan. Namun, harus diimbangi valuasi di masa mendatang.
"Kalau sektornya bagus, bisnisnya bagus, apalagi unik. Kemudian findamentalnya mesti dilihat. Kalau jangka pendek saat ini memang sudah mahal. Tapi kalau jangka panjang fundamental masih meyakinkan bisa saja masih ada penguatan," ujar Nicodemus.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Produsen Sarang Burung Walet Resmi Melantai di Bursa, Incar Laba Rp40 Miliar Tahun Depan
Perseroan menargetkan pendapatan mencapai Rp 600 miliar pada tahun ini. [312] url asal
#emiten-burung-walet #sarang-burung-walet #ipo #investasi-saham #saham-ipo #bursa-efek-indonesia
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perusahaan pengolahan sarang burung walet, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), menargetkan laba bersih mencapai Rp 30 miliar pada tahun ini dan Rp 40 miliar pada 2026. Seiring target itu, perseroan menargetkan pendapatan mencapai Rp 600 miliar pada tahun ini dan Rp 700 miliar pada 2026.
"Tahun ini, net revenue-nya sekitar Rp600-an miliar, kalau net income-nya sekitar Rp30-an miliar. Tahun depannya kita omzetnya mungkin sudah sekitar Rp700-an miliar, profitnya sekitar Rp40-an miliar," ujar Direktur Keuangan RLCO Dwiadi Prastian Hadi di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (8/12/2025).
Abadi Lestari Indonesia resmi melangsungkan initial public offering (IPO) di pasar modal Indonesia dengan menawarkan sebanyak 625 juta saham atau setara 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Perseroan menetapkan harga penawaran umum sebesar Rp 168 per saham sehingga meraih dana segar senilai Rp 105 miliar.
Direktur Utama RLCO Edwin Pranata mengungkapkan, dana hasil IPO setelah dikurangi biaya emisi akan dialokasikan sebesar 56,33 persen sebagai modal kerja untuk pembelian bahan baku sarang burung walet. Kemudian, sebesar 43,67 persen akan disalurkan sebagai tambahan modal ke entitas anak, PT Realfood Winta Asia, untuk kebutuhan pembelian bahan baku.
"Kami bangga sebagai perusahaan yang lahir dari Bojonegoro, Jatim, dan kini membawa produk bernilai tambah Indonesia ke berbagai pasar global. Dari perusahaan lokal menjadi perusahaan global, kami akan terus memperluas kehadiran produk kami ke China, Hong Kong, Amerika Serikat (AS), dan ke depan ke negara-negara Asia lainnya seperti Vietnam dan Thailand," ujar Dwiadi.
Dalam aksinya, perseroan menunjuk PT Samuel Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek dengan kesanggupan penuh.
Per Mei 2025, perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp 231,3 miliar, atau meningkat 47,56 persen year on year (yoy), dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Seiring dengan itu, laba periode berjalan meningkat signifikan sejalan dengan peningkatan volume penjualan ekspor dan perluasan kanal distribusi domestik.
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)