Ekonom nilai target pertumbuhan ekonomi China 2026 realistis
Sejumlah ekonom menilai target pertumbuhan ekonomi China pada 2026 di kisaran 4,5–5 persen merupakan target yang realistis dan pragmatis, sekaligus ...
(Antara) 11/03/26 21:09 162426
Target ini mencerminkan pendekatan yang pragmatis, yaitu berupaya mencapai hasil yang lebih baik namun tetap melangkah secara mantap,
Jakarta (ANTARA) - Sejumlah ekonom menilai target pertumbuhan ekonomi China pada 2026 di kisaran 4,5–5 persen merupakan target yang realistis dan pragmatis, sekaligus mencerminkan upaya pemerintah menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Target tersebut diumumkan dalam sidang tahunan “Dua Sesi” yang dibuka di Beijing pada Rabu (4/3). Agenda politik tahunan tersebut menjadi forum penting bagi pemerintah China untuk menetapkan arah kebijakan ekonomi dan sosial negara itu, termasuk pada tahun pertama pelaksanaan Rencana Lima Tahun ke-15.
Kepala Tim Penyusun Laporan Kerja Pemerintah China sekaligus Direktur Kantor Penelitian Dewan Negara, Shen Danyang dikutip dari Xinhua pada Rabu mengatakan, target pertumbuhan tersebut ditetapkan dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi domestik serta dinamika lingkungan eksternal.
Menurut dia, pemerintah berupaya menyeimbangkan antara kebutuhan dan kemampuan ekonomi sehingga sasaran pertumbuhan tetap ambisius namun tetap realistis.
“Target ini mencerminkan pendekatan yang pragmatis, yaitu berupaya mencapai hasil yang lebih baik namun tetap melangkah secara mantap,” kata Shen.
China sebelumnya menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen dalam tiga tahun terakhir. Penetapan target dalam bentuk kisaran dinilai memberikan fleksibilitas kebijakan dalam menghadapi risiko global, termasuk ketegangan geopolitik dan meningkatnya proteksionisme perdagangan.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan New Asia Strategy Research Center, Koh King Kee, menilai target tersebut menunjukkan stabilitas kebijakan ekonomi China sekaligus memberi ruang penyesuaian terhadap dinamika global.
“Target yang pragmatis ini mencerminkan stabilitas dan fleksibilitas kebijakan China,” ujarnya.
Sementara itu, ekonom senior Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), Liang Guoyong, menilai penggunaan kisaran pertumbuhan memberikan ruang yang lebih luas bagi pemerintah dalam mengantisipasi tantangan eksternal.
Menurut dia, pendekatan tersebut juga mencerminkan kehati-hatian dalam pengelolaan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Dari Indonesia, Profesor Ekonomi Universitas Airlangga, Rahma Gafmi menilai, makna utama dari target tersebut tidak semata terletak pada angkanya, tetapi pada arah pembangunan ekonomi China dalam lima tahun ke depan.
Ia mengatakan, pertumbuhan yang moderat memberi ruang bagi reformasi struktural, transformasi ekonomi, serta pengelolaan risiko.
Landasan pertumbuhan ke depan akan semakin bertumpu pada permintaan domestik, peningkatan produktivitas, serta penguatan inovasi sains dan teknologi, kata Rahma.
Selain target pertumbuhan ekonomi, perhatian internasional juga tertuju pada rencana penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi APEC 2026 di Shenzhen, Provinsi Guangdong.
Pertemuan para pemimpin ekonomi APEC ke-33 yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026 mengusung tema “Building an Asia-Pacific Community for Shared Prosperity” dengan fokus pada keterbukaan, inovasi, dan kerja sama.
Ekonom menilai penyelenggaraan KTT tersebut berpotensi memperkuat keterbukaan ekonomi China serta meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi di kawasan Asia-Pasifik.
Melalui momentum tersebut, China juga diharapkan dapat memperluas kolaborasi teknologi, industri, dan perdagangan dengan negara-negara anggota APEC, sekaligus memperkuat peran kawasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi global.
Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026