Dari Catur Dharma ke Masa Depan, Begini Langkah Astra Menyongsong Tujuh Dekade Bersama Indonesia
Di tengah strategi ekspansi dan transformasi, Astra tetap berpegang pada satu prinsip utama, yaitu memberikan manfaat bagi bangsa.
(Kompas.com) 18/03/26 17:38 168434
JAKARTA, KOMPAS.com –“Enam puluh sembilan tahun bukan sekadar hitungan waktu, melainkan kisah tentang jutaan langkah yang tumbuh dan bergerak bersama bangsa.”
Refleksi itu disampaikan Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro saat menatap perjalanan panjang perusahaan yang telah menjadi bagian dari dinamika pembangunan Indonesia.
Bagi Astra, tujuh dekade bukan sekadar rentang waktu, melainkan perjalanan penuh tantangan, pembelajaran, dan kontribusi yang terus berlanjut.
Sejak berdiri, Astra tidak hanya tumbuh sebagai entitas bisnis, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem ekonomi nasional.
Dalam berbagai fase, mulai dari ekspansi industri, krisis ekonomi, hingga disrupsi global, Astra secara konsisten beradaptasi dengan tetap menjaga arah dan jati dirinya.
“Selama hampir tujuh dekade, Astra senantiasa berkarya dan memberikan kontribusi bagi negeri untuk menjadi perusahaan kebanggaan bangsa,” ujar Djony.
Di balik konsistensi tersebut, terdapat fondasi yang membentuk Astra sejak awal, yakni filosofi Catur Dharma dan kekuatan sumber daya manusia yang dikenal sebagai people legacy. Keduanya menjadi penopang utama yang menjaga keberlanjutan perusahaan di tengah perubahan zaman.
Catur Dharma, arah yang tak berubah
Perjalanan Astra tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai yang diwariskan oleh pendirinya, William Soeryadjaya.
Sejak awal, Astra dibangun dengan cita-cita menjadi “pohon rindang”, yakni perusahaan yang tidak hanya tumbuh kuat, tetapi juga mampu menaungi dan memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
Nilai tersebut kemudian terwujud dalam Catur Dharma yang menjadi pedoman dalam setiap langkah perusahaan.
Bagi Astra, Catur Dharma bukan sekadar prinsip yang tertulis, melainkan nilai yang dihidupi dalam setiap keputusan, kerja sama, dan strategi bisnis.
Pada praktiknya, nilai itu diterjemahkan ke dalam arah strategis melalui 3P Roadmap yang terdiri dari Portfolio, People, dan Public Contribution. Kerangka ini memastikan bahwa Astra tidak hanya berfokus pada kinerja bisnis, tetapi juga pada keberlanjutan dan dampak sosial.
Dengan fondasi tersebut, Astra memiliki kompas yang jelas dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks. Nilai kuat ini menjadi penopang agar perusahaan tetap relevan, tanpa kehilangan identitasnya.
“People”, kekuatan yang terus dibangun
Selain nilai, Astra menempatkan manusia sebagai elemen kunci dalam keberlanjutan organisasi. Perusahaan meyakini bahwa strategi dan sistem tidak dapat berjalan tanpa dukungan sumber daya manusia yang berkualitas dan berkarakter.
“People menjadi kekuatan Grup Astra. Kalau bicara people, perjalanan ini tidak akan pernah selesai,” kata Djony.
Untuk itu, pengembangan talenta menjadi fokus yang terus dijaga. Astra secara aktif mendorong pembelajaran berkelanjutan melalui berbagai program, mulai dari pengembangan individu, rotasi lintas bisnis, hingga penugasan dengan tanggung jawab yang lebih besar.
Tujuannya bukan hanya menciptakan profesional yang kompeten, melainkan juga pemimpin yang memiliki integritas, karakter, dan kepedulian terhadap organisasi.
Dalam konteks ini, regenerasi kepemimpinan menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang. Proses suksesi tidak dilakukan secara instan, tetapi juga dipersiapkan jauh hari melalui perencanaan yang matang.
“Setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya,” ujar Djony.
Pendekatan tersebut memastikan bahwa setiap pergantian kepemimpinan tetap menjaga kesinambungan nilai dan arah perusahaan.
Ketangguhan di tengah ujian
Dalam enam tahun terakhir, Astra menghadapi berbagai tantangan yang menguji ketahanan perusahaan. Pandemi Covid-19 pada 2020 menjadi salah satu momen paling krusial yang mengubah lanskap bisnis secara signifikan.
Astra Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro (kedua kiri), Direksi Astra, beserta Eksekutif Astra dalam perayaan HUT ke-69 Astra pada 20 Februari 2026.Djony tak menampik bahwa hampir seluruh lini usaha terdampak. Akibatnya, aktivitas ekonomi melambat, daya beli masyarakat menurun, dan ketidakpastian meningkat.
Di sisi lain, Astra juga harus memastikan keselamatan dan kesehatan lebih dari 190.000 karyawan.
Tantangan tersebut berlanjut dengan fluktuasi harga komoditas, peningkatan persaingan industri, serta perubahan perilaku konsumen.
Di tengah tekanan tersebut, Astra tetap menunjukkan ketangguhan. Salah satu kunci utamanya adalah diversifikasi portofolio bisnis yang dikelola secara terukur.
Djony merinci, dari 236 anak usaha pada 2020, Astra kini berkembang menjadi lebih dari 321 perusahaan yang tersebar di berbagai sektor, mulai dari otomotif dan mobilitas, jasa keuangan, alat berat, hingga infrastruktur dan teknologi informasi.
Menurutnya, ketahanan tersebut tidak lepas dari pengalaman operasional puluhan tahun, komitmen terhadap kualitas produk dan layanan, serta sinergi kuat dalam ekosistem bisnis Astra.
“Semua itu dilandasi dengan penerapan filosofi perusahaan, Catur Dharma, secara konsisten dan dilaksanakan dengan etos kerja hands-on yang fokus pada kecermatan analisis, perencanaan yang tepat, dan eksekusi yang baik,” jelas Djony.
Diversifikasi yang tepat memungkinkan Astra menjaga stabilitas kinerja di tengah siklus ekonomi yang dinamis.
Menjaga pertumbuhan, membangun masa depan
Bagi Astra, mempertahankan kinerja yang baik saja tidak cukup. Perusahaan harus terus bertumbuh dan bertransformasi agar tetap relevan di masa depan.
“Kinerja yang baik dan solid tidaklah cukup. Kinerja yang ada harus bertumbuh kembang,” tegas Djony.
Astra Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro dalam upacara bendera peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia di Menara Astra, Jakarta.Strategi tersebut diwujudkan melalui penguatan bisnis yang sudah ada sekaligus ekspansi ke sektor-sektor baru yang memiliki potensi jangka panjang.
Astra secara selektif memasuki bidang baru, seperti layanan kesehatan, mineral non-batubara, dan pengembangan ekosistem digital.
Djony memastikan bahwa setiap langkah dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam alokasi modal. Dengan pendekatan ini, Astra tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga stabilitas dan keberlanjutan bisnis.
“Diversifikasi portofolio yang kuat menjadi salah satu keunggulan Astra dalam menghadapi perubahan pasar. Dengan sensitivitas terhadap berbagai sektor ekonomi, Astra mampu menjaga keseimbangan antara kinerja jangka pendek dan transformasi jangka panjang,” jelas Djony.
Bisnis dan bangsa, dua hal yang tak terpisahkan
Di tengah strategi ekspansi dan transformasi tersebut, Astra tetap berpegang pada satu prinsip utama, yaitu memberikan manfaat bagi bangsa.
Djony menjelaskan, selama 69 tahun perjalanan Astra, setiap langkah yang ditempuh selalu bermuara pada gagasan sederhana William Soeryadjaya untuk menjadikan Astra sebagai pohon rindang.
Astra, lanjutnya, harus tetap menjadi entitas yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.
“(Kami) menjalankan usaha dengan taat hukum dan peraturan, memperhatikan etika dan norma moral dan sosial, serta salah satu yang terpenting adalah empati," ujar Djony.
Komitmen itu pun diwujudkan melalui berbagai program kontribusi sosial yang berkelanjutan. Salah satu inisiatif utama adalah Desa Sejahtera Astra yang berfokus pada pengembangan masyarakat desa melalui empat pilar utama, yakni kesehatan, pendidikan, kewirausahaan, dan lingkungan.
Program tersebut dirancang untuk memberikan manfaat langsung sekaligus dampak jangka panjang bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Astra Menara Astra.Selain itu, Astra juga menghadirkan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU) Awards sebagai bentuk apresiasi bagi generasi muda yang memberikan kontribusi positif bagi komunitasnya.
Melalui program tersebut, Astra tidak hanya mendukung individu inspiratif, tetapi juga mendorong lahirnya perubahan sosial yang lebih luas.
Ada pula program Nurani Astra yang menjadi komitmen Astra dalam memberikan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat yang terdampak bencana dan kondisi darurat.
Melangkah ke dekade ketujuh
Memasuki usia ke-70, Astra dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks. Perubahan teknologi, dinamika global, hingga isu keberlanjutan menuntut perusahaan untuk terus beradaptasi.
Namun, dengan fondasi nilai yang kuat dan komitmen terhadap pembelajaran berkelanjutan, Astra optimistis dapat menghadapi masa depan.
Ia menegaskan bahwa kekuatan Astra tidak hanya terletak pada skala bisnis, tetapi pada nilai-nilai yang dijaga bersama. Nilai tersebut menjadi pengikat yang memastikan perusahaan tetap memiliki arah, sekaligus fleksibilitas untuk beradaptasi.
“Continuity gives stability, but values give eternity. Great companies are not built in a year, but across generations that honour their values, sharpen their core, and embrace the future with courage.”
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#otomotif #teknologi-informasi #grup-astra #astra #desa-sejahtera-astra #william-soeryadjaya #portofolio-bisnis