ITS hasilkan bensin sawit efisien dukung kemandirian energi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menghasilkan bensin sawit efisien berbasis kelapa sawit guna mendukung kemandirian energi nasional serta ...
(Antara) 07/04/26 18:31 184286
Surabaya (ANTARA) - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menghasilkan bensin sawit efisien berbasis kelapa sawit guna mendukung kemandirian energi nasional serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak fosil di tengah isu krisis energi global.
“Ini kesempatan bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif di tengah isu krisis bahan bakar akibat konflik di wilayah Timur Tengah saat ini,” kata Rektor ITS Bambang Pramujati di Surabaya, Jatim, Selasa.
Dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS Dr Eng Hosta Ardhyananta bersama tim mengembangkan bensin nabati atau biogasoline berbasis Crude Palm Oil (CPO) melalui metode catalytic cracking atau pemecahan molekul menggunakan katalis.
“Fokus dari inovasi kami ini adalah bagaimana mengonversi minyak mentah kelapa sawit yang padat menjadi produk bensin biogasoline yang siap digunakan,” ujar Hosta.
Pada tahap awal, proses menggunakan katalis berbasis alumina (γ-Al₂O₃) yang mampu mengonversi biogasoline hingga sekitar 60 persen, namun memerlukan suhu operasi tinggi mencapai 420 derajat Celsius.
Pengembangan selanjutnya memanfaatkan katalis bimetalik nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO) yang meningkatkan efisiensi reaksi, menurunkan suhu operasi menjadi 380 derajat Celsius, serta meningkatkan rendemen hingga 83 persen.
Produk yang dihasilkan didominasi hidrokarbon rantai pendek C5 hingga C11 yang merupakan komponen utama bensin komersial, sementara gas hasil samping dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar pemanas reaktor.
Selain itu, residu cair yang menyerupai minyak dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif lain sehingga mendukung konsep produksi minim limbah.
“Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor,” katanya.
Ia menambahkan penelitian ini juga mempertimbangkan life cycle assessment (LCA) atau analisis daur hidup yang menunjukkan jejak karbon rendah sehingga sejalan dengan prinsip energi bersih dan berkelanjutan.
Inovasi tersebut mendukung sustainable development goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya poin energi bersih dan konsumsi bertanggung jawab, serta berkontribusi pada upaya penanganan perubahan iklim.
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Fadlilatul Taufany menyatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia untuk uji coba sebagai proyek nasional.
“Minimal dengan adanya inovasi ini akan mengurangi beban Indonesia akan ketergantungan ekspor impor,” katanya.
Pewarta: Willi Irawan
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026