Harga Minyak Dunia Anjlok 10 Persen Usai Selat Hormuz Dibuka

Harga Minyak Dunia Anjlok 10 Persen Usai Selat Hormuz Dibuka

Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam hingga lebih dari 10 persen pada Jumat (17/4/2026).

(Kompas.com) 17/04/26 23:03 195130

JAKARTA, KOMPAS.com — Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam hingga lebih dari 10 persen pada Jumat (17/4/2026).

Ini seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global setelah Selat Hormuz dinyatakan kembali terbuka untuk pelayaran komersial.

Penurunan harga minyak dunia terjadi setelah pernyataan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan otoritas Iran yang menyebut jalur strategis tersebut kini dapat dilalui kembali oleh kapal-kapal tanker minyak.

AFP/KARIM JAAFAR Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi saat berbicara di acara Forum Al Jazerra ke-17 di Doha, Qatar, 7 Februari 2026.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Selat Hormuz dibuka sepenuhnya untuk pelayaran komersial selama masa gencatan senjata berlangsung.

Respons pasar berlangsung cepat. Dikutip dari The Guardian, harga minyak mentah Brent dilaporkan turun hingga di bawah 90 dollar AS per barrel, sementara minyak mentah AS (WTI) juga merosot signifikan.

Penurunan ini mencerminkan perubahan sentimen pasar dari kondisi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan menjadi ekspektasi bahwa distribusi energi global akan kembali normal, meskipun hanya bersifat sementara.

Jalur vital energi dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis dalam perdagangan energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia yang diperdagangkan melalui laut melewati jalur ini setiap harinya.

Selama konflik geopolitik yang meningkat sejak akhir Februari 2026, jalur ini sempat mengalami gangguan signifikan.

Penutupan atau pembatasan akses di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak hingga menembus 100 dollar AS per barrel, bahkan sempat mencapai sekitar 126 dollar AS pada puncaknya.

FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi kilang minyak.

Gangguan tersebut disebut sebagai salah satu disrupsi pasokan energi terbesar sejak krisis minyak tahun 1970-an, dengan dampak luas terhadap inflasi global, biaya energi, dan stabilitas ekonomi berbagai negara importir minyak.

Dengan dibukanya kembali jalur ini, pasar langsung merespons dengan menurunkan premi risiko yang sebelumnya melekat pada harga minyak.

Efek gencatan senjata dan pernyataan politik

Pembukaan Selat Hormuz tidak terlepas dari dinamika geopolitik di Timur Tengah. Keputusan tersebut terjadi dalam konteks gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang berdampak pada meredanya ketegangan regional.

Dalam pernyataannya, Araghchi menegaskan bahwa pembukaan jalur pelayaran dilakukan “sesuai dengan gencatan senjata di Lebanon,” serta berlaku selama periode gencatan senjata.

Trump juga menyampaikan bahwa Selat Hormuz kini “terbuka dan siap untuk dilewati sepenuhnya,” menandakan bahwa jalur tersebut kembali dapat digunakan oleh kapal-kapal komersial.

Namun demikian, kondisi ini tidak sepenuhnya mencerminkan stabilitas jangka panjang. AS masih mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara aspek keamanan di wilayah tersebut masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Selain itu, mengutip New York Post, pembukaan jalur pelayaran disebut dilakukan melalui rute yang telah dikoordinasikan dengan otoritas maritim Iran, menunjukkan bahwa kontrol terhadap arus kapal masih berada dalam pengawasan ketat.

Respons pasar keuangan global

Penurunan harga minyak dunia tidak hanya berdampak pada pasar energi, tetapi juga memicu reaksi luas di pasar keuangan global.

Indeks saham utama di Amerika Serikat dan Eropa mencatat penguatan signifikan. Dow Jones Industrial Average dilaporkan naik lebih dari 900 poin, sementara indeks S&P 500 dan Nasdaq juga mencatat kenaikan.

NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.

Kenaikan ini mencerminkan meredanya kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi.

Ketika harga minyak turun, ekspektasi terhadap biaya produksi dan transportasi ikut menurun, sehingga memberikan sentimen positif bagi pasar saham.

Di sisi lain, saham perusahaan energi justru mengalami tekanan seiring penurunan harga minyak.

Kondisi ini menunjukkan adanya rotasi sektor di pasar, dari sektor energi ke sektor yang lebih sensitif terhadap biaya bahan bakar, seperti maskapai penerbangan.

Sejumlah maskapai bahkan mencatat kenaikan harga saham yang signifikan, mencerminkan ekspektasi bahwa biaya bahan bakar jet akan menurun.

Dampak terhadap harga energi dan inflasi

Penurunan harga minyak global berpotensi memberikan dampak terhadap harga energi di berbagai negara, termasuk harga bahan bakar.

Di AS, harga bensin dilaporkan turun sekitar 7 sen menjadi 4,09 dollar AS per galon, meskipun masih lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Penurunan ini menunjukkan, transmisi harga minyak ke harga konsumen dapat terjadi relatif cepat, meskipun dipengaruhi oleh faktor lain seperti persediaan dan permintaan domestik.

Dalam konteks yang lebih luas, turunnya harga minyak juga berpotensi meredakan tekanan inflasi global. Sebelumnya, lonjakan harga energi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan inflasi di berbagai negara.

Namun demikian, sejumlah analis menilai bahwa dampak ini masih bersifat sementara, mengingat kondisi geopolitik yang belum sepenuhnya stabil.

Risiko yang masih membayangi

SHUTTERSTOCK/GAS-PHOTO Ilustrasi harga minyak mentah.

Meskipun pasar merespons positif pembukaan Selat Hormuz, sejumlah risiko masih membayangi.

Pertama, status pembukaan jalur tersebut sangat bergantung pada keberlanjutan gencatan senjata. Jika konflik kembali meningkat, potensi gangguan pasokan energi dapat kembali terjadi.

Kedua, aspek keamanan pelayaran masih menjadi perhatian.

Meskipun jalur telah dinyatakan terbuka, tidak semua perusahaan pelayaran serta-merta kembali beroperasi secara normal, mengingat risiko yang masih ada di kawasan tersebut.

Ketiga, kebijakan geopolitik yang belum sepenuhnya terselesaikan, termasuk blokade dan sanksi, dapat kembali memicu ketidakpastian di pasar energi.

Analis juga menilai, volatilitas harga minyak masih akan tinggi dalam jangka pendek, seiring perkembangan situasi geopolitik yang cepat berubah.

Ketergantungan global pada Selat Hormuz

Peristiwa ini kembali menegaskan besarnya ketergantungan dunia terhadap Selat Hormuz sebagai jalur distribusi energi utama.

Sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara produsen di Teluk Persia, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Qatar, bergantung pada jalur ini untuk menjangkau pasar global, terutama di Asia.

Gangguan pada jalur ini tidak hanya berdampak pada harga minyak, tetapi juga pada berbagai komoditas lain, termasuk gas alam cair (LNG) dan pupuk, yang juga melewati kawasan tersebut.

Dengan demikian, setiap perkembangan geopolitik di kawasan ini memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas ekonomi global.

Dinamika pasar energi ke depan

Penurunan harga minyak lebih dari 10 persen dalam satu hari mencerminkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik, khususnya yang berkaitan dengan pasokan energi.

Selama beberapa pekan terakhir, pasar sempat berada dalam tekanan akibat kekhawatiran akan gangguan pasokan, yang mendorong harga minyak naik tajam.

Namun, perubahan situasi yang relatif cepat menunjukkan bahwa faktor geopolitik tetap menjadi penentu utama pergerakan harga energi.

Dengan kondisi yang masih dinamis, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan di Timur Tengah, termasuk keberlanjutan gencatan senjata dan kebijakan yang diambil oleh negara-negara terkait.

Pergerakan harga minyak dalam waktu dekat diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh kombinasi antara faktor geopolitik, kondisi pasokan global, serta respons kebijakan dari negara produsen dan konsumen energi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#harga-minyak #harga-minyak-dunia #indepth #kapal-tanker #selat-hormuz #selat-hormuz-dibuka

https://money.kompas.com/read/2026/04/17/230305326/harga-minyak-dunia-anjlok-10-persen-usai-selat-hormuz-dibuka